Terimakasih Adinda

Matahari sudah agak meninggi, perlahan menampakkan teriknya pada setiap mereka yang beraktifitas di luar rumah. Dalam perjalanan ke sini tadi pun demikian. Jalanan yang ramai seolah menjadi saksi atas semua kesibukan mereka yang berlalu lalang. Kesibukan dengan tujuan masing-masing, perjuangan masing-masing.

Aku meneguk pelan teh hangat yang tersaji di hadapan, mengambil jeda sembari meyakinkan diri bahwa aku sudah berada di tahap ini. Bila kamu bertanya apakah aku nervous, grogi dan semacamnya. Tentu saja. Mungkin kamu tidak perlu bertanya karena sudah mengetahui itu sejak pertama kali aku membuka suara.

Baik sangka, mungkin itu yang menjadi modal buatku setelah mengucap bismillah. Dan aku bersyukur bahwa aku tidak harus memulainya dari awal. Terimakasih ya sudah berusaha mengenalkan aku pada beliau berdua.

Aku juga bersyukur bahwa pembicaraan ini tidak serumit yang aku khawatirkan. Pertanyaan demi pertanyaan yang mengalir begitu saja. Sungguh, terimakasih untuk suasana yang nyaman ini. Terimakasih sudah bersikap begitu baik padaku. Aku merasa sudah dianggap seperti anak sendiri di rumah kamu. Atau, barangkali orangtua kamu kasihan ya, berusaha begitu pengertian pada aku yang datang sendirian. 😀

Baik sangka, itu pula mungkin pegangan yang membuat orangtua kamu percaya. Percaya pada aku yang bukan siapa-siapa. Mm, aku saja masih terus berusaha untuk meyakinkan diriku sendiri. Ya, bismillah. InsyaAllah dengan niat yang baik, tujuan yang baik, pun dengan cara-cara yang diupayakan baik pula, hasilnya juga insyaAllah baik.

Aku juga menangkap sebuah empati yang begitu besar pada orangtua kamu. Empati seorang ayah pada laki-laki yang memberanikan diri mengetuk pintu rumahnya. Empati yang berdasar ukhuwah, juga saling tolong menolong dalam kebaikan. Jazakumullahu khairan, semoga Allah beri balasan dengan sebaik-baik balasan.

Membangun empati, itu pula yang harus aku lakukan. Menyadari sepenuhnya bahwa kamu adalah mutiara paling berharga di mata seorang ayah. Mutiara yang dijaga, yang dibesarkan dan dididik dengan penuh cinta, pun senantiasa dihujani dengan doa-doa terindah. Maka sudah semestinya, bila Allah takdirkan kita untuk bersama, Allah karuniakan kamu kepadaku sebagai sebuah anugerah terindah sekaligus amanah, akulah yang harus berusaha menjagamu dengan sebaik-baiknya. Bismillah, laa haula wa laa quwwata illaa billah.

***

Matahari belum sepenuhnya terbit bersinar. Semburat jingga masih tampak menyala dalam naungan awan-awan yang meneduhkan. Orang-orang sibuk berlalu lalang, berdatangan. Pengeras suara beberapa kali memberikan pengumuman.

Pulang, selalu mendatangkan haru kebahagiaan. Juga kesyukuran bahwa kita tidak sendiri di dunia ini. Ada mereka orang-orang tercinta, yang Allah datangkan mereka sebagai anugerah, pemberian terindah. Begitupun kita bagi mereka.

You don’t choose your family. They’re Allah’s gift to you, as you are to them
~Anonymous

Tahukah kamu, apa yang membuat para ayah tetap bersemangat dalam penat dan letih, memacu motor tua mereka membelah jalanan menuju rumah sepulang kerja?

Barangkali harapan. Bahwa ada yang menunggunya di sana. Bahwa kepulangannya pun memberi bahagia pada sosok-sosok yang ia cinta. Dan lelah, barangkali menguap begitu saja entah kemana, tatkala senyum-senyum itu menyambutnya.

Pulanglah. Karena bukan hanya kau yang merindu. Namun ada mereka yang juga merindukanmu

Apalagi ini kepulangan yang istimewa. Kepulangan yang penuh doa-doa, insyaAllah. Ucapan tahniah, barakallah, semoga lancar sampai acara juga setelahnya. Alhamdulillah.

Ya, kepulangan yang bukan hanya melepas rindu pada keluarga tercinta. Namun juga insyaAllah akan menambah satu anggota keluarga.

“Horee.. dapat mbak besar.”, seru si kecil kala aku dan ibu bercerita tentangmu. Aamin. Semoga lancar, semoga Allah karuniakan berkah selalu. Aku jadi bagian dari keluargamu, kamu pun jadi bagian dari keluargaku. Keluarga kita, insyaAllah 🙂

Sudah ada panggilan boarding, Mas berangkat dulu ya. Doakan semuanya lancar, insyaAllah kita ketemu dalam kesempatan yang jauh lebih baik, lebih berkah.

***

“Bismillah. Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, la haula wa la quwwata illa billah.” Aku mengulang-ulang kalimat itu. Ada debar yang tak bisa kujelaskan, ada haru penuh kesyukuran sekaligus juga kekhawatiran. Mungkin lebih tepatnya memohon kekuatan, bahwa selepas ini akan ada tanggungjawab yang tidak ringan.

Khutbah nikah dibacakan. Beberapa ayat al-Quran yang dibacakan, kurasakan memberi ketenangan juga keyakinan. Keyakinan bahwa ini semua terjadi atas kehendak-Nya, atas perkenaan-Nya. Bahwa aku, bahwa kita tidak akan dibiarkan sendiri oleh-Nya.

Dan saat itu pun, saat yang dinanti pun tiba. Ketika ayahmu -yang akan menjadi ayahku juga- mengulurkan tangannya, erat menggenggam tanganku. Dan beliau sangat tenang, lancar dan tegas, dengan suara beratnya mengucap “Ankahtuka…” hingga akhir kalimat. Dan tanpa jeda, segera aku ucap sebaris jawab. Suara yang terdengar bergetar. Petugas KUA, juga para saksi mengangguk pelan, “Sah..”. Alhamdulillah, alhamdulillah 🙂

Dan doa-doa pun dipanjatkan. Doa-doa memohon keberkahan untuk keluarga kita, untuk bersamanya kita.

Barakallahu laka, wa baraka ‘alaika, wa jama’a bainakuma fi khair.

image
alhamdulillah 🙂

Alhamdulillah..
Alhamdulillahi alladzi bini’matihi tatimmus shalihat..
Segala puji bagi Allah, yang berkat nikmat dan karunia-Nya kebaikan-kebaikan menjadi sempurna. Niat-niat baik kita dapat terlaksana, juga diberikan kemudahan oleh-Nya..
Alhamdulillah 🙂

Betapa banyak doa-doa yang tercurah pada kita. Doa dari lisan-lisan yang mulia. Dari ketulusan kedua orangtua kita, ustadz-ustadz kita, guru-guru kita, juga keluarga besar kita seluruhnya. Juga dari para tamu undangan, belum lagi dari saudara saudari kita fillah yang kita berharap lebih dari yang kita kira. Dinda, tiada lain yang bisa kita lakukan tentunya selain mengaminkannya. Aamiin, aamiin,. Ya Robbal Alamin. Tidak lupa juga rasa syukur dan terimakasih kita pada semuanya. “Jazakumullahu khairan, Semoga Allah beri balasan dengan sebaik-baik balasan.”

Jodoh adalah rizki. Yang terbaik adalah pilihan Allah. Engkau, dinda adalah pilihan-Nya untukku. Begitu pun aku yang telah dipilih-Nya untuk mendampingimu. Maka, rizki membutuhkan kesyukuran, juga penjagaan. Bahwa bersatunya kita semakin menguatkan langkah kita dalam kebaikan. Engkau, separuh agamaku, penjaga ketaatanku.

Barakallahu fiik,.
Barakallahu fiik. Uhibbuki fillah dinda.
“Titip dek eva ya nak.”
“Titip adekku ya dek.”
“Titip mbakku ya mas.”
“Titip ponakanku ya mas.”

Ini keluarga kita. Kita yang bangun, kita yang jaga, kita yang rawat. Doakan mas bisa jadi imam yang baik buat adinda ya. Apapun yang terjadi setelah ini, kita akan hadapi bersama. Hingga surga, hingga surga, insyaAllah. 🙂

image
barakallah 🙂
Iklan

Kamu Jadi Baik karena Doa Mereka

Sungguh, rizki itu bukan hanya uang
Kedua orangtua, terlebih doa-doa beliau berdua,
kesempatan untuk belajar, dari kecil dulu hingga sekarang
bertemunya kita dengan teman, kawan juga sahabat-sahabat yang baik
hingga pada kebaikan-kebaikan yang Allah mudahkan bagi kita untuk melaksanakan

Alhamdulillah

Saya ingat sekali dulu, waktu masih kecil, sudah SD kelas 1 sih :mrgreen: tiap hari saya diantar sekolah dan ditunggui oleh ibu. Waktu itu memang saya masih 5 tahun dan tidak sekolah TK sebelumnya, jadi ya masih takut-takut ketemu orang banyak. Karena terus-terusan seperti itu dan saya ngga mau ditinggal sama sekali, akhirnya diputuskan belajar di rumah dulu saja, tahun depan (saya sudah 6 tahun, usia ideal masuk SD) baru sekolah lagi.

Di rumah juga begitu, pas belajar nulis, berhitung, kan saya diajar ibu saya sendiri kalau di rumah, pasti ngeluhnya capek. “Udah buk, besok lagi ya..”, selalu rengek saya. Ya mungkin memang bawaannya anak pertama, belum punya adik lagi, manja 😀 Alhamdulillah, ya bisa belajar dikit-dikit, tulisan juga udah lumayan, lumayan ngga terlalu jelek maksudnya 😆 Alhamdulillah 🙂

Pas sorenya alhamdulillah di kampung saya ada TPQ, Taman Pendidikan al-Quran bertempat di masjid kampung. Semua yang sudah sekolah dihimbau agar belajar ngaji di situ. Ya pertama-pertama saya diantar ibu, hari pertama, kedua sampai kemudian berani berangkat sendiri. Alhamdulillah dari sejak kecil sudah dapat pendidikan agama seperti itu. Ya belajar mulai dari iqra, belajar wudhu sampai sholat, kemudian mulai membaca al-Quran, ada selingan juga hafalan surat pendek. Alhamdulillah dulu hafalan surat pendeknya mulai Ad-Dhuha, jadinya memang yang paling hafal sampai sekarang ya surat ini. Hehe. Ya kan biasanya yang pertama itu paling semangat, selanjutnya apalagi pas dapat surat yang agak panjang (read: al-‘Alaq), sudah mulai kena hukuman semua. :mrgreen: Semoga Allah balas kebaikan para Ustadzah saya dengan kebaikan yang berlimpah, Aamiin. 🙂

Yang paling teringat juga dulu, adalah ketika kegiatan praktik sholat. Jadi ada jadwalnya, saya lupa tiap hari apa. Kami berbaris rapi di teras masjid, sampai beberapa shaf karena memang kami yang mengaji jumlahnya banyak. Dan mulai dari takbiratul ihram sampai salam kita baca dengan bacaan yang keras. Itupun harus pelan-pelan, ngga boleh cepat, sembari para Ustadzah kami membenahi gerakan kami, posisi kami yang kurang tepat. Sampai satu gerakan saja bisa lama dulu itu, gara-garanya masih banyak yang salah-salah. Maka hingga hari ini, bahkan hingga kami meninggal dunia nanti, pada setiap sholat yang kami lakukan, insyaAllah Allah hadirkan pula pahala untuk beliau-beliau yang dengan sabar memegang tangan kami, meluruskan punggung kami ketika ruku’, hingga pada bacaan sholat yang kami hafalkan. Apalagi bila kemudian kami, murid-murid beliau mengajarkan pula hal ini kepada anak-anak kami, atau siapapun itu, pun pahalanya akan sampai pula kepada beliau-beliau. Semoga Allah kumpulkan kita di surga-Nya, tempat yang jauh lebih baik dari keadaan kita di dunia.

Itu tadi baru setitik kebaikan beliau-beliau yang telah banyak berjasa pada hidup kita. Bagaimana lagi dengan orangtua kita. Ibu kita yang kita tumbuh dan hidup dalam rahimnya selama sembilan bulan, yang air susunya menjadi nutrisi utama pembentuk tulang dan daging kita, yang dengan kasih sayangnya merawat kita dengan penuh cinta, mengenalkan kata pertama hingga kita bisa ini dan itu. Sungguh, kita di mata ibu tetaplah anak kecil yang baru kemarin digendongnya. Maka pun kita sungguh memohon agar Allah mengaruniakan kebersamaan dengan orangtua kita, mereka yang kita cinta, bukan hanya di dunia, namun hingga ke surga-Nya.

Sungguh, orangtua kita telah mengupayakan segalanya demi kebaikan kita. Memberikan pendidikan yang terbaik bagi kita, yang barangkali kita jarang berfikir bagaimana kesusahan beliau untuk dapat selalu memenuhi apa yang kita butuhkan, bahkan terkadang sekedar apa yang kita inginkan.

Berbuat baik kepada keduanya.
Berbuat baik kepada keduanya.
Berbuat baik kepada keduanya.

Rendahkan diri kita di hadapan keduanya.

Ketika dengan sedikit pendidikan yang lebih tinggi, lebih banyak mengerti, atau misalnya sudah ngaji dan lebih paham dalam agama ini lantas membuat kita memandang orangtua dengan pandangan yang kurang hormat atau bahkan pandangan merendahkan. Sadari bahwa ada yang salah dengan pendidikan kita, ada yang salah dengan ngaji kita.

Semoga Allah mudahkan kita semua untuk menjadi anak yang berbakti kepada orangtua kita, yang dapat membahagiakannya, di dunia dan di akhirat kelak.

Salah seorang menasihatkan, “Apapun yang ibuku inginkan dan aku bisa memenuhinya niscaya akan segera aku penuhi. Karena ada saatnya ibuku menginginkan sesuatu, namun aku tidak bisa mewujudkannya.”

Terimakasih sudah membaca. Selamat berakhir pekan. Jangan lupa mengunjungi orangtua, atau menelponnya. Kehadiran kita, meski hanya berupa suara adalah kado terindah bagi mereka. 🙂

Barakallahu fiikum 🙂

Beban Cicilan dan Gaya Hidup

Pernah ada teman yang bilang, mumpung masih muda dan belum menikah, puas-puasin aja mau jalan-jalan kemana, atau mau beli apa. Soalnya kalau sudah berkeluarga bakal banyak kebutuhan yang lain, banyak cicilannya. Hehe

Sepakat sih dalam pikiran yang saya sesuaikan dengan keadaan saya. Maksudnya kalimat itu saya pahami versi saya sendiri. Menurut saya, puas-puasin di sini pun tetap harus ada kontrolnya, ada batasannya. Ngga pelit, tapi juga jangan boros. Tahu prioritas lah, mana yang memang kebutuhan pokok, mana yang dalam cakupan kesenangan tapi juga masih dibutuhkan, mana yang sudah menjurus ke menghambur-hamburkan.

Saya sepakat sih ketika ada yang mengatakan kebutuhan hidup itu selalu terpenuhi, keinginan dan gaya hidup tidak akan tercukupi. Lebih bijaksana saja dalam mengatur pengeluaran. Jangan pelit juga, apalagi sama diri sendiri. Kalau memang Allah beri kita karunia berupa kecukupan rizki, ya tunjukkan itu dalam penampilan dan perilaku sehari-hari. Tentunya dalam takaran yang wajar dan tidak mencolok. Ingat kan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah menegur salah seorang sahabat yang pakaiannya lusuh, padahal Allah sudah karuniakan kepadanya nikmat berupa harta. Dan merupakan salah satu bentuk syukur, yakni menampakkan sebagian dari karunia yang Allah berikan kepada kita.

Jadi, silahkan jalan-jalan, belanja pakaian atau beli apa saja yang diinginkan. Namun tetap ada batasan kewajaran, ada skala prioritas yang harus kita perhatikan. Masing-masing kita tahu akan hal itu.

Satu lagi yang menggelitik saya dari kalimat di awal tadi, yakni tentang cicilan. Ketika berbicara cicilan, bayangan kita langsung mengarah pada cicilan rumah atau cicilan mobil. Seolah itu memang sebuah hal yang lumrah dan wajar dalam pos pengeluaran sebuah keluarga.

Saya dibesarkan dalam keluarga sederhana yang tinggal di desa. Saya anak pertama, jadi saya mengalami keadaan dimana keluarga saya baru tumbuh dan memulai perjuangannya. Saya masih ingat, waktu kecil rumah saya (ini rumah pertama kami) adalah rumah semi permanen berbahan anyaman bambu (gedeg). Bahkan pernah, saat itu lagi ada acara pernikahan salah seorang saudara. Nah, ketika malam saya sudah minta pulang dan akhirnya saya pulang sama ibuk, diantar saudara lain. Ketika sampai di rumah, ternyata kunci gembok masih dibawa ayah, lupa diminta. Akhirnya kami (saya dan ibuk) mbrobos pintu dapur yang memang tidak bisa tertutup sempurna. Haha 😀

Dibesarkan dalam keluarga seperti itu membuat saya memiliki pola pikir yang sederhana. Bahwa jangan terlalu membebani diri pada hal-hal yang memang tidak bisa diraih. Ketika berkeluarga, yang diperlukan adalah tempat tinggal. Meskipun dalam wujud yang sangat sederhana, meskipun hanya rumah sewa alias ngontrak. Pun demikian juga dengan kendaraan. Kalau bahasa jawanya, isane nggo motoran ya motoran, isane ngontrak ya ngontrak, syukuri apa sing ana, ora usah neka-neka. 🙂

image
syukuri wae lah

Sadar atau tidak, sepertinya kita memang sudah terpengaruh dengan gaya hidup serba pengen. Uangnya belum ada, banyak maunya. Akhirnya cicilan jadi pilihannya. Pola pikir kita dari dulu untuk bersabar dengan prinsip “hemat pangkal kaya” dan itu membuat kita termotivasi untuk menabung mulai digeser dengan prinsip “cicilan adalah solusinya”.

Sadarkah kita, ketika sekarang harga properti terus naik seolah tidak terkendali kita juga yang ikut berperan membuatnya seperti itu. Ingatkah kita saat pelajaran ekonomi kala SMP atau SMA dulu, bahwa harga komoditas itu berbanding lurus dengan tingkat permintaan pasar. Kini kita ‘ditakut-takuti’, bahwa harga rumah akan terus naik dan KPR adalah satu-satunya solusi. Lalu kita merasa was-was, kita belum punya tabungan tapi memaksakan diri untuk hutang bank buat beli rumah.

Belum lagi tuntutan gaya hidup lain, mobil. Padahal kemana-mana naik motor juga masih bisa. Kadang hanya keinginan atau juga mungkin sudah kebutuhan tapi uangnya belum ada. Ada sih sedikit, cukupnya buat beli mobil bekas keluaran lama. Ngga ah, beli baru aja, hutang dulu gapapa. Hiks.

Saya tidak anti cicilan. Pembelian secara kredit pun ada yang diperbolehkan. Namun yang saya sayangkan adalah terlalu memaksakan diri. Tidak cukup bersabar dengan apa yang sudah dipunyai. Selalu ingin lebih dan kemudian memilih jalan instan. Hidup ini hidup kita sendiri, kita yang jalani, kita yang nikmati, kita yang usahakan. Orang lain hanya melihat kita dari luar, tidak benar-benar tahu akan keadaan kita. Cukup syukuri, cintai, nikmati, juga usahakan dan perjuangkan dengan sebaik-baiknya. 🙂

Tentang Kucing dan Kelucuannya

Siapa di antara teman-teman yang suka kucing? cat lover? 🙂 Setuju ngga sih kalau misalnya saya bilang kucing itu binatang paling imut. Sudah macam gadis berlesung pipit saja. Haha, abaikan 😆 Ngga tau ya, kenapa sih di beberapa novel, penulis seneng banget menggambarkan sosok perempuan cantik dan imut itu pake lesung pipit. Ya, walaupun emang ngga salah sih, novel-novel mereka. Okelah, bukan itu bahasannya.

Tentang kucing. Dari kecil memang saya termasuk di antara mereka yang suka dengan kucing. Namun, saya tidak pernah memelihara kucing di rumah. Ngga dibolehin sama orangtua. Bikin repot, belum lagi kalau dia buang air besar sembarangan. Seingat saya, pernah beberapa kali saya mohon ijin ke orangtua untuk melihara kucing dan selalu ditolak. Bukan secara sengaja sih mau melihara, biasanya karena ada kucing yang suka main ke rumah. Ngga tahu kucing siapa. Mungkin juga kucing yang dibuang orang. Tiba-tiba saja dia kelihatan main-main di sekitar rumah. Takut-takut mendekat ke dapur. Biasanya saya kasih apalah gitu pas saya makan. Hari-hari berikutnya dia jadi sering datang. Sekali dua saya usap kepalanya, dia juga suka main-main di kaki. Terus saya bilang sama ibu, “Buk, kita pelihara ya?”. “Ngga, ngga usah.” , begitu biasanya jawab ibu. Begitu dia masih sering datang, terus biasanya tiba-tiba saja dia hilang entah kemana. Ngga pernah datang lagi. Mungkin benar juga sih, seperti halnya pertemuan yang ngga pernah direncanakan, begitu pun dengan kepergian. Haha 😀

Banyak sih kemungkinannya buat dia. Mungkin saja ada orang lewat, terus lihat dia lagi jalan-jalan. Orangnya nanya warga itu kucing siapa, dijawab kucing liar, ngga ada yang punya. Lantas orang itu punya niat baik untuk membawanya pulang. Atau juga misalnya dia berkelana entah kemana, demi mencari kehidupan yang lebih baik. Yang jelas, semoga dia baik-baik saja. 🙂

Lain di keluarga saya, lain di keluarga ibu saya dulu. Maksudnya di rumah nenek. Nenek saya suka banget sama kucing. Dari waktu ibu saya masih anak-anak, di rumah nenek memang banyak kucing. Sampai ibu saya menikah, sampai saya besar masih ada peliharaan kucing nenek saya. Nenek saya sampai sering beli ikan asin khusus buat kucing-kucingnya. Ya kan kucing kampung, paling banter makan kepala ikan. Hehe :mrgreen: Tapi kucing nenek gemuk-gemuk dan sehat. Juga jago nangkap tikus 😀 Ya, salah satu tujuan punya kucing bagi nenek saya adalah untuk alasan keamanan. Menjaga dapur, juga ruang penyimpanan padi biar ngga diganggu tikus.

Pernah ibu saya cerita. Dulu sempat peliharaan kucing nenek banyak sekali jumlahnya. Alasannya, sang betina produktif sekali beranak. Sekali lahiran anaknya banyak, tidak lama hamil lagi. Mungkin juga si jantan lagi semangat-semangatnya. Haha 😆 Maka ketika itu diputuskan untuk mengasingkan (baca: membuang) beberapa kucing agar mereka mencari kehidupan sendiri. Kakek saya lah yang bertugas dalam misi ini. Kucing-kucing dimasukkan ke dalam karung dan kakek saya berangkat dengan berjalan kaki. Singkat cerita kucing-kucing itu dibawa kakek sampai ke desa sebelah. Setelah dilepaskan semua di sana, kakek saya memastikan bahwa beliau tidak diikuti kucing. Dan beliau mengambil jalan pulang yang berbeda. Beliau pulang lewat pematang sawah. Sesampainya di rumah, nenek saya berkata,” Buruan dibuang itu kucing-kucingnya”. “Kucing apa? Wong barusan sudah kubuang kok”. “Lha yang di dapur itu apa?” Rupanya, kucing-kucing yang tadi dibuang telah tiba di rumah dengan selamat dan lengkap semua jauh sebelum kakek saya tiba. Memang penuh misteri mereka ini. Haha 😆

Dan tahu ngga sih, kucing itu sering mengekspresikan rasa sukanya sama kita dengan ndusel-ndusel di kaki. Kucing nenek saya juga begitu. Nenek saya ke dapur, ikut ke dapur. Masuk ke ruang tengah, ikut juga. Pas nenek saya lagi ngatur apa gitu di meja makan, pasti dia berputar-putar di kakinya. Bahkan mungkin terkadang agak nyrimpeti, if you know what i mean. Itu kucing disuruh menjauh, masih juga nyeruduk-nyeruduk kaki. 🙂

Saya jadi ingat waktu di Surabaya dulu. Waktu masih magang di sana. Pernah ketika di masjid, waktu melepas sepatu saya melihat kucing dan dia pun melihat ke arah saya. Lalu ia takut-takut mendekat. Dari tatapannya, kayak orang yang pengen kenal. Eh, kucing yang pengen kenal maksudnya. 😀 Saya pun tersenyum, terus saya dekati. Saya usap kepalanya dan dia pun langsung nyeruduk-nyeruduk di telapak tangan saya. Saya usap lagi sampai dia terguling dan kelihatan bulu perutnya yang putih. Lalu saya tinggal wudhu. Nah pas saya keluar mesjid, ternyata dia masih di situ, di dekat sepatu. Demi melihat saya, dia langsung bergegas menyambut. Saya pake sepatu kanan, dia nyeruduk, putar-putar di kaki kiri. Pas pake sepatu kiri, gantian ndusel di kaki kanan. Setelah saya usap kepala dan punggungnya, saya bilang,” Sudah, aku mau balik dulu.” Saya jalan ke kantor dan dia ternyata ngikutin. Sampai saya di pintu masuk dia tetap ngikutin. Akhirnya saya suruh dia pergi. Saya hush hush. Tetap saja ngga mau. Tapi emang saya sendiri ngga tega sih ngusir. Saya maunya dia pergi, tapi saya ngga ingin dia sakit hati. Saya cuma ingin dia ngerti kalau sekarang bukan saatnya bagi kita untuk bersama. Apaan sih. Oke, ini pembawaannya lebay. 😆 Akhirnya dia mau pergi dan langsung saya tinggal lari masuk ruangan.

Intinya begitulah, kucing itu makhluk yang lucu. Juga bisa jadi teman yang baik. Nih, saya kasih bonus foto-foto mereka yang unyu pol. Oiya, teman-teman juga suka kucing?

image
ciluk ba 🙂
image
mungkin dia lagi rindu
image
suka kalo merem gitu 🙂

Bintang-Bintang Kecil

Bayi dan anak-anak. Rasanya selalu menyenangkan berinteraksi dengan mereka. Melihat senyumnya, juga tawanya. Dan menurut saya, anak-anak, terlebih yang masih dalam gendongan atau tertatih-tatih berjalan, melihat mereka saja membuat kita bahagia. They are so pure.

Mereka, para bintang kecil ini punya aura positif yang luar biasa. Dekat dengan mereka membuat sisi-sisi positif kita muncul. Sifat penyayang, juga sabar. Kita seperti belajar tentang cinta dan kasih sayang yang sesungguhnya.

Dan tahukah kita bahwa yang paling membahagiakan adalah ketika kita menatapnya, kita tersenyum. Dan kemudian dia juga ikut tersenyum pada kita. Atau bahkan tertawa. Itu bahagia banget, adem rasanya. Padahal ini baru anak orang lho. Gimana kalo anak sendiri ya. 😆 Ya, semoga Allah beri kesempatan suatu hari nanti. Aamiin 🙂

Ini tadi saya sempat main ke rumah teman. Senior di kantor. Kebetulan memang dia baru saja pindah rumah. Nah, dari pada saya cuma bengong ngga jelas di rumah. Akhirnya saya minta izin buat main ke rumahnya.

Teman saya ini (saya manggilnya mas) punya anak perempuan kecil. Umurnya sekitar satu tahun. Sudah bisa berjalan sedikit-sedikit. Masih suka pegangan di pinggir meja, atau sofa. Lucu banget pokoknya. 😀 Belum lagi karena termasuk baru ketemu saya meski bukan yang pertama. Dia agak malu-malu gitu. Hahaha

Itu anak masnya yang kedua. Kakaknya laki-laki, sudah sekolah TK. Kalau yang kakaknya sudah sering ketemu. Kadang juga kalau pas lagi acara ibu-ibu di kantor, dia diajak. Paling banter kalo manggil om hasan. Hahaha 😆

Apa ya. Kita bersyukur. Bersyukur karena Allah karuniakan kepada kita jiwa yang masih berada di atas fitrah. Alhamdulillah. Jiwa yang suka dengan anak-anak. Jiwa yang punya naluri ayah. Jiwa ingin berkeluarga, ingin mengayomi, melindungi, juga menyayangi.

Ya, kita harus bersyukur. Karena ada di antara saudara-saudara kita yang Allah uji dengan kecenderungan yang berbeda. Kecenderungan yang salah dan harus dilawan. Ya, kita sering dengar akhir-akhir ini. Tentang LGBT. Semoga Allah beri hidayah dan kemudahan untuk kembali ke jalan-Nya yang lurus.

Kembali ke bahasan anak-anak tadi. Ya, pada mata-mata yang jernih. Tangan-tangan mungil yang lucu. Barangkali benar, kita merasakan kenyamanan ketika berinteraksi dengan mereka tersebab jiwa-jiwa mereka yang hanif. Mata yang tidak pernah melihat yang haram. Tangan kecil yang tidak pernah melakukan hal terlarang. Jiwa yang bersih dan suci. Juga tentang ketulusan mereka. Tidak ada pura-pura. Tentang senyum yang sebenar-benar senyum. Atau juga tawa dengan sebab yang terlalu sederhana. Hal yang membuat kita sadar bahwa bahagia itu bukan ada dimana, terletak pada siapa. Namun bahagia ada di hati kita.

image
suka 🙂