Terimakasih Adinda

Matahari sudah agak meninggi, perlahan menampakkan teriknya pada setiap mereka yang beraktifitas di luar rumah. Dalam perjalanan ke sini tadi pun demikian. Jalanan yang ramai seolah menjadi saksi atas semua kesibukan mereka yang berlalu lalang. Kesibukan dengan tujuan masing-masing, perjuangan masing-masing.

Aku meneguk pelan teh hangat yang tersaji di hadapan, mengambil jeda sembari meyakinkan diri bahwa aku sudah berada di tahap ini. Bila kamu bertanya apakah aku nervous, grogi dan semacamnya. Tentu saja. Mungkin kamu tidak perlu bertanya karena sudah mengetahui itu sejak pertama kali aku membuka suara.

Baik sangka, mungkin itu yang menjadi modal buatku setelah mengucap bismillah. Dan aku bersyukur bahwa aku tidak harus memulainya dari awal. Terimakasih ya sudah berusaha mengenalkan aku pada beliau berdua.

Aku juga bersyukur bahwa pembicaraan ini tidak serumit yang aku khawatirkan. Pertanyaan demi pertanyaan yang mengalir begitu saja. Sungguh, terimakasih untuk suasana yang nyaman ini. Terimakasih sudah bersikap begitu baik padaku. Aku merasa sudah dianggap seperti anak sendiri di rumah kamu. Atau, barangkali orangtua kamu kasihan ya, berusaha begitu pengertian pada aku yang datang sendirian. 😀

Baik sangka, itu pula mungkin pegangan yang membuat orangtua kamu percaya. Percaya pada aku yang bukan siapa-siapa. Mm, aku saja masih terus berusaha untuk meyakinkan diriku sendiri. Ya, bismillah. InsyaAllah dengan niat yang baik, tujuan yang baik, pun dengan cara-cara yang diupayakan baik pula, hasilnya juga insyaAllah baik.

Aku juga menangkap sebuah empati yang begitu besar pada orangtua kamu. Empati seorang ayah pada laki-laki yang memberanikan diri mengetuk pintu rumahnya. Empati yang berdasar ukhuwah, juga saling tolong menolong dalam kebaikan. Jazakumullahu khairan, semoga Allah beri balasan dengan sebaik-baik balasan.

Membangun empati, itu pula yang harus aku lakukan. Menyadari sepenuhnya bahwa kamu adalah mutiara paling berharga di mata seorang ayah. Mutiara yang dijaga, yang dibesarkan dan dididik dengan penuh cinta, pun senantiasa dihujani dengan doa-doa terindah. Maka sudah semestinya, bila Allah takdirkan kita untuk bersama, Allah karuniakan kamu kepadaku sebagai sebuah anugerah terindah sekaligus amanah, akulah yang harus berusaha menjagamu dengan sebaik-baiknya. Bismillah, laa haula wa laa quwwata illaa billah.

***

Matahari belum sepenuhnya terbit bersinar. Semburat jingga masih tampak menyala dalam naungan awan-awan yang meneduhkan. Orang-orang sibuk berlalu lalang, berdatangan. Pengeras suara beberapa kali memberikan pengumuman.

Pulang, selalu mendatangkan haru kebahagiaan. Juga kesyukuran bahwa kita tidak sendiri di dunia ini. Ada mereka orang-orang tercinta, yang Allah datangkan mereka sebagai anugerah, pemberian terindah. Begitupun kita bagi mereka.

You don’t choose your family. They’re Allah’s gift to you, as you are to them
~Anonymous

Tahukah kamu, apa yang membuat para ayah tetap bersemangat dalam penat dan letih, memacu motor tua mereka membelah jalanan menuju rumah sepulang kerja?

Barangkali harapan. Bahwa ada yang menunggunya di sana. Bahwa kepulangannya pun memberi bahagia pada sosok-sosok yang ia cinta. Dan lelah, barangkali menguap begitu saja entah kemana, tatkala senyum-senyum itu menyambutnya.

Pulanglah. Karena bukan hanya kau yang merindu. Namun ada mereka yang juga merindukanmu

Apalagi ini kepulangan yang istimewa. Kepulangan yang penuh doa-doa, insyaAllah. Ucapan tahniah, barakallah, semoga lancar sampai acara juga setelahnya. Alhamdulillah.

Ya, kepulangan yang bukan hanya melepas rindu pada keluarga tercinta. Namun juga insyaAllah akan menambah satu anggota keluarga.

“Horee.. dapat mbak besar.”, seru si kecil kala aku dan ibu bercerita tentangmu. Aamin. Semoga lancar, semoga Allah karuniakan berkah selalu. Aku jadi bagian dari keluargamu, kamu pun jadi bagian dari keluargaku. Keluarga kita, insyaAllah 🙂

Sudah ada panggilan boarding, Mas berangkat dulu ya. Doakan semuanya lancar, insyaAllah kita ketemu dalam kesempatan yang jauh lebih baik, lebih berkah.

***

“Bismillah. Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, la haula wa la quwwata illa billah.” Aku mengulang-ulang kalimat itu. Ada debar yang tak bisa kujelaskan, ada haru penuh kesyukuran sekaligus juga kekhawatiran. Mungkin lebih tepatnya memohon kekuatan, bahwa selepas ini akan ada tanggungjawab yang tidak ringan.

Khutbah nikah dibacakan. Beberapa ayat al-Quran yang dibacakan, kurasakan memberi ketenangan juga keyakinan. Keyakinan bahwa ini semua terjadi atas kehendak-Nya, atas perkenaan-Nya. Bahwa aku, bahwa kita tidak akan dibiarkan sendiri oleh-Nya.

Dan saat itu pun, saat yang dinanti pun tiba. Ketika ayahmu -yang akan menjadi ayahku juga- mengulurkan tangannya, erat menggenggam tanganku. Dan beliau sangat tenang, lancar dan tegas, dengan suara beratnya mengucap “Ankahtuka…” hingga akhir kalimat. Dan tanpa jeda, segera aku ucap sebaris jawab. Suara yang terdengar bergetar. Petugas KUA, juga para saksi mengangguk pelan, “Sah..”. Alhamdulillah, alhamdulillah 🙂

Dan doa-doa pun dipanjatkan. Doa-doa memohon keberkahan untuk keluarga kita, untuk bersamanya kita.

Barakallahu laka, wa baraka ‘alaika, wa jama’a bainakuma fi khair.

image
alhamdulillah 🙂

Alhamdulillah..
Alhamdulillahi alladzi bini’matihi tatimmus shalihat..
Segala puji bagi Allah, yang berkat nikmat dan karunia-Nya kebaikan-kebaikan menjadi sempurna. Niat-niat baik kita dapat terlaksana, juga diberikan kemudahan oleh-Nya..
Alhamdulillah 🙂

Betapa banyak doa-doa yang tercurah pada kita. Doa dari lisan-lisan yang mulia. Dari ketulusan kedua orangtua kita, ustadz-ustadz kita, guru-guru kita, juga keluarga besar kita seluruhnya. Juga dari para tamu undangan, belum lagi dari saudara saudari kita fillah yang kita berharap lebih dari yang kita kira. Dinda, tiada lain yang bisa kita lakukan tentunya selain mengaminkannya. Aamiin, aamiin,. Ya Robbal Alamin. Tidak lupa juga rasa syukur dan terimakasih kita pada semuanya. “Jazakumullahu khairan, Semoga Allah beri balasan dengan sebaik-baik balasan.”

Jodoh adalah rizki. Yang terbaik adalah pilihan Allah. Engkau, dinda adalah pilihan-Nya untukku. Begitu pun aku yang telah dipilih-Nya untuk mendampingimu. Maka, rizki membutuhkan kesyukuran, juga penjagaan. Bahwa bersatunya kita semakin menguatkan langkah kita dalam kebaikan. Engkau, separuh agamaku, penjaga ketaatanku.

Barakallahu fiik,.
Barakallahu fiik. Uhibbuki fillah dinda.
“Titip dek eva ya nak.”
“Titip adekku ya dek.”
“Titip mbakku ya mas.”
“Titip ponakanku ya mas.”

Ini keluarga kita. Kita yang bangun, kita yang jaga, kita yang rawat. Doakan mas bisa jadi imam yang baik buat adinda ya. Apapun yang terjadi setelah ini, kita akan hadapi bersama. Hingga surga, hingga surga, insyaAllah. 🙂

image
barakallah 🙂
Iklan

Menikah Muda

Ada yang tahu pada umur berapa Ali bin Abi Thalib dan Fatimah dinikahkan oleh Rasulullah saw? Imam Adz-Dzahabi menuturkan bahwa usia Ali ketika itu adalah 21,5 tahun dan Fatimah 15,5 tahun. Mari berhenti sejenak, apa yang kira-kira ada di pikiran kita mendapati fakta ini?

Kebanyakan kita akan berpikir, “Ah, itu kan zaman dulu. Sekarang kan sudah beda.” Sungguh disayangkan, peristiwa yang begitu banyak hikmah ini kita sikapi demikian. Padahal intinya bukan pada ‘zaman dulu’ atau ‘zaman sekarang’ sebagaimana dijelaskan oleh Ustadz Budi Ashari, namun pertanyaan besarnya adalah, “Bagaimana menyiapkan generasi yang pada usia sebelia itu sudah mampu mengemban amanat dan tanggungjawab untuk membangun sebuah keluarga.”

Agaknya memang kita jauh, sangat jauh tertinggal dari generasi terbaik umat ini. Mereka yang masa kecilnya dipenuhi dengan al-Quran, kecintaan kepada Nabi saw, serta semangat dalam memperjuangkan agama islam.

Kembali ke bahasan nikah tadi. Pernikahan adalah tanggungjawab besar, tanggungjawab dunia akhirat. Maka menikah berarti menambah peran tanpa menghilangkan peran yang sudah ada sebelumnya. Peran sebagai anak, kakak, adik akan tetap ada ditambah dengan peran baru, suami atau istri. Menikah bukan pelarian atas beragam tanggungjawab yang belum selesai. Lari dari hubungan yang kurang harmonis dengan orangtua, atau mungkin tugas kuliah yang sering membuat sakit kepala. Hehe. Tidak usah terlalu serius bacanya ya, yang nulis juga belum mengalami soalnya 😀

Tentang judul yang saya pilih di atas, sengaja memang biar bikin penasaran 😆 Ya memang kan akhir-akhir ini banyak berseliweran beragam motivasi untuk nikah muda. Sebuah hal yang menggembirakan tentu saja mengingat begitu banyaknya pintu kebaikan yang terbuka dengan menikah. Namun tentu yang harus pula diperhatikan adalah bagaimana persiapannya. Karena mendukung untuk segera menikah bila tanpa ada persiapan sepertinya malah akan menimbulkan kekhawatiran.

Saya sangat setuju bila ada yang mengingatkan bahwa pernikahan bukan semata happily ever after sebagaimana dalam cerita-cerita dongeng yang dulu kita baca. Bahwa menikah berarti banyak belajar, meluaskan kesabaran, mengontrol ego dan seterusnya. Dan tentu saja di dalamnya akan banyak kejutan-kejutan yang bila kita tidak cukup ilmu dan mental dalam menghadapinya, mungkin bisa membuat pernikahan menjadi goyah. Namun bila kemudian kita bisa belajar memahami, memandang tidak hanya dari satu sisi, berbesar hati untuk bersabar, maka semoga kejutan-kejutan yang hadir justru akan membuat hari-hari semakin indah. Asli, ini ngayal 😆

Mempersiapkan, barangkali itulah yang menjadi pekerjaan rumah. Bahwa langkah nyata baru akan diambil bila memang sudah siap untuk mengemban tanggungjawabnya.

Bila memang ia telah mengetahui bahwa ada mutiara istimewa di tengah lautan sana. Namun ia sendiri belum memiliki kapal, peralatan selam dan ilmu yang cukup yang bisa ia gunakan untuk menjemputnya, maka apa gunanya bila ia hanya berteriak dari tepi pantai?

Maka meminjam istilah Mas Gun, tentang jarak samudera. Bahwa jarak yang tercipta haruslah seluas samudera. Tidak perlu tanggung-tanggung, dekat tidak, jauh juga tidak. Jauhlah sekalian, sebab jarak yang jauh dan rintangan yang besar akan membuat mundur mereka yang tidak punya keberanian. Namun bila ada yang berani datang, tolong dimudahkan ya,. Haha 😀

Karena berproses sebelum bersiap tidak akan membuahkan apa-apa. Apalagi bila dua pihak sudah saling menerima, namun pintu pernikahan masih jauh di depan sana, bahkan tidak tahu kapan datangnya. Kita khawatir bahwa hati kita terlalu lemah untuk menghadapi godaan-godaan yang membuat kita jauh dari ridha-Nya.

Dan di atas semuanya tentu saja tugas kita sebagai manusia hanya mampu berupaya dan berdoa dengan sebaik-baiknya. Adapun hasil tentu kita serahkan semuanya pada Sang Maha Pembuat Rencana.

image
tetap husnudzan ya 🙂

Tiba-tiba pengen nulis ini setelah tadi siang saya sempat main ke rumah seorang teman yang baru menikah beberapa waktu lalu. Saya main ke sana juga dengan teman-teman yang lain. Sesampai di sana, kami pun rame-rame ngobrol santai, karena memang dari kuliah dulu sudah teman sepermainan. Tiba waktu makan, ini masakannya istimewa, baru matang soalnya. Yang buat juga istri teman saya ini bersama istri teman satunya lagi yang sama-sama bertamu di sana.

Dan kami pun makan bersama, duduk bersila sambil ngobrol di depan tivi. Tiba-tiba dia nanya, “Enak mas?”

“Iya, enak banget.”, jawab saya segera.

“Tiap hari gini lo,” lanjutnya sambil tersenyum yang saya dengan jelas bisa menerjemahkannya.

“Alhamdulillah.”, ucap saya kemudian yang berlanjut dengan tawa.

Barakallahu laka, wa baraka alaika, wa jama’a bainakuma fii khair. Terimakasih untuk semuanya,. doakan kami juga bisa segera nyusul 😀 Pada teman-teman saya yang sudah menikah ini, saya teringat ketika Ustadz Salim A Fillah bercerita bagaimana berimprovisasi kala mengakhiri dongeng yang dibacakan kepada putrinya.

“Dan pangeran dan putri pun menikah. Kadang mereka diberi nikmat maka mereka bersyukur, kadang mereka diberi ujian maka mereka bersabar. Hidup senantiasa berusaha istiqomah hingga meninggal dalam keadaan husnul khatimah.”

Karena kebersamaan yang dinanti bukan hanya di dunia, namun hingga ke surga Allah Ta’ala

Membangun Empati

Masih dalam suasana idul fitri, izinkan saya mengucapkan minal aidzin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin 🙂 Masih dalam suasana syawal juga, mungkin banyak diantara teman atau justru sanak saudara kita yang menggenapkan separuh agama alias menikah. Memang ada sunnahnya menikah di bulan syawal. Bagi kita yang mungkin belum dipertemukan dengan jodohnya, semoga tetap sabar. Tentu juga dijemput dengan ikhtiar, bila kita memang sudah ada kesiapan. 😀

Bicara tentang kesiapan menikah, bagi kami laki-laki mungkin kadang yang lebih sering disoroti adalah kesiapan finansial. Sebabnya tentu saja karena setelah menikah, merekalah yang akan menanggung nafkah keluarga. Namun tidak jarang, ini juga kemudian menjadi penyebab para laki-laki minder duluan sebelum mengajukan diri (hanya) karena mereka belum memiliki pekerjaan tetap. Atau dalam bahasa sederhananya, belum mapan.

Pernah suatu ketika, Ustadz Salim A. Fillah ditanya tentang bagaimana menyikapi orangtua calon istri yang menanyakan perihal pekerjaan aka kesiapan finansial sedangkan mungkin kita yang mengajukan diri berada dalam posisi baru saja bekerja dengan penghasilan pas-pasan, baru merintis usaha, atau justru masih kuliah sembari nyambi bekerja untuk memenuhi kebutuhannya.

Dan jawaban beliau ketika itu agaknya penting untuk kita renungkan. Mari membangun empati kepada calon mertua kita, begitu beliau menyampaikan. Seorang gadis yang dibesarkan dari kecil, dididik dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Disekolahkan dari mulai jenjang paling awal hingga pendidikan tertinggi yang bisa diberikan. Selalu diusahakan untuk mendapatkan yang terbaik selama kedua orangtuanya bisa mengupayakan. Lalu, kita yang bukan siapa-siapa, datang untuk meminta, dengan pembawaan yang jauh dari kata meyakinkan. Bukankah itu memang mengkhawatirkan?

Ya, mari membangun empati pada beliau-beliau ini. Bahwa tidak ada yang mereka harapkan, kecuali yang terbaik bagi putri kesayangannya. Bahwa mungkin ketika kita berada dalam posisi mereka, kita pun akan mengalami kekhawatiran yang sama. Maka berusaha untuk meyakinkan orangtua si dia, adalah sebuah tahapan penting setelah berusaha untuk meyakinkan orangtua sendiri.

Dan apa sih yang terpenting bagi beliau-beliau ini, hal yang harus ada pada kita yang sedang mengajukan diri. Kesungguhan dan kemauan untuk berjuang, setidaknya itu menurut saya. Sebab ini adalah amanah yang besar, tanggungjawab yang tidak ringan.

Kalau dikatakan bahwa mapan adalah kondisi dimana kita sudah punya rumah, mobil, usaha maju atau penghasilan besar. Sepertinya kok bukan itu yang terpenting bagi para ayah kita, ini pun menurut saya. Kenapa? Ya karena untuk mereka yang seumuran kita, semua baru saja dimulai, baru diawali, baru bisa menabung sedikit-sedikit. Maka yang lebih penting adalah karakter, bahwa memang kita orang yang sungguh-sungguh, yang (dilihat akan) bisa menjaga putrinya dengan sebaik-baiknya.

Ditambah lagi, kebanyakan orangtua kita pun dulu mengawali membangun keluarganya tidak langsung sukses seperti sekarang. Mungkin ada beberapa yang mendapatkan banyak fasilitas dari orangtuanya, tapi kebanyakan mengawalinya dari tidak punya apa-apa. Maka para ayah kita ini juga yang paling memahami bahwa hidup adalah perjuangan. Dan yang terpenting bukan seberapa banyak hal yang bisa kita berikan sekarang, berapa banyak fasilitas dan kemudahan yang kita punya sekarang. Namun yang terpenting adalah beliau bisa melihat bahwa kita bisa menjaga putrinya, kita berjuang untuk berusaha memberikan yang terbaik bagi putri kesayangannya.

Dan kita pun harus ingat, kewajiban nafkah bukanlah satu-satunya kewajiban kita setelah menyandang predikat suami nantinya. Berusaha untuk mendidik anggota keluarga, berakhlak baik dengan mereka, membentengi dari hal-hal yang tidak baik, serta mengarahkan dan mengajak serta dalam kebaikan. Berusaha memastikan keselamatan seluruh anggota keluarga di dunia, terlebih nanti di akhirat. Berat ya wahai pemuda? Memang, makanya belajar 🙂

Mari membangun empati dan semoga para ayah kita juga memahami bahwa pemuda yang datang ke rumahnya adalah ia yang sudah berusaha untuk memberanikan diri.

Pada hati-hati yang berdebar
Pada keringat yang entah bagaimana tiba-tiba datang
Pada lisan, yang meski sudah berusaha tenang, tetap saja terdengar bergetar
Pada pikiran yang sibuk memilih kata yang tepat untuk disampaikan
Semoga para ayah semakin menjadi bijaksana, dan memudahkan langkah-langkah kita untuk menjemput buah hati mereka 🙂

Apa Iya?

Ini dia pesanannya sudah datang. Dua mangkuk soto ayam. Untuk minum, dia memesan es teh sementara aku es melon. Aku suka es melon di sini. Serutan melonnya terasa begitu manis dan menyegarkan. Alhamdulillah.

Sementara makan, kami pun berbincang ringan. Tentang kegiatan kami saat ini, tentang teman-teman kami dulu semasa kuliah. Hingga pada topik tentang beberapa teman kami yang sudah menikah.

“Kamu sendiri, sudah sampai mana prosesnya?”, tanyaku kemudian. Selain karena penasaran, aku juga berharap ada sesuatu yang bisa aku pelajari darinya. Ia hanya tersenyum lebar.
“Terkadang ada sih keinginan untuk menyegerakan,”, tuturnya. “tapi ya kadang muncul kembali pertanyaan. Apa iya?”, lanjutnya kemudian. Aku ikut tersenyum, mengangguk pelan.

Bukan. Aku tidak menangkap kalimatnya sebagai keraguan untuk memilih menunda pernikahan sebagai sebuah kebaikan. Hanya saja, lebih kepada sikap hati-hati dalam memandang pernikahan sebagai tanggung jawab yang besar.

“Sudah ada calon?”, tanyaku kemudian yang lagi-lagi hanya berbalas senyum.
“Belum. Kamu nih paling yang sudah mau segera.”, lanjutnya mencandai. Aku memilih tersenyum saja, daripada salah bicara.

Mungkin beginilah kami laki-laki. Selalu kesulitan kala bicara tentang perasaan. Tidak mudah bagi kami untuk bercerita, apalagi sampai menyebutkan nama. Toh, nantinya pun semua akan tahu bila sudah tiba saatnya.

Ya, aku pun kadang berpikir demikian. Mengatur diri sendiri saja sering kesulitan, mau nanggung anak orang. Hehe 🙂 Meski tidak selalu seperti itu sih. Bukankah pernikahan pun adalah sebuah proses pembelajaran. Belajar untuk memahami, menurunkan ego, juga belajar mengakui kesalahan. Aku pikir, kalau menunggu sampai benar-benar siap, kita tidak akan pernah sampai pada titik itu. Cukuplah dengan niat yang baik, tujuan yang baik, serta komitmen untuk sama-sama belajar dan berbenah. Semoga Allah mudahkan urusan lainnya.

Pun demikian bila nantinya aku mengajukan sebuah permintaan. Itu bukan karena aku merasa pantas untuk membersamaimu, untuk menjadi imammu. Bukan. Hanya saja aku berprasangka baik kepadamu, setelah kepada Tuhanku, bahwa kamu akan bersedia menolongku. Menolong untuk menyelamatkan agamaku.

Dan tentu saja tidak harus kamu orangnya. Aku pun tahu, Tuhan kita punya terlalu banyak cara untuk membuat pertemuan, untuk mempersatukan. Pun mudah bagi-Nya untuk menakdirkan sebuah perpisahan.

Nanti Bila Telah Menikah

Nanti bila telah menikah,
tidak lagi akan aku habiskan waktu dengan sia-sia

Nanti bila telah menikah,
akan ada teman hidup yang mendampingiku, yang mengingatkan ketika aku lupa, yang menyemangati kala malasku tiba

Nanti bila telah menikah,
akan aku tinggalkan semua perangai buruk yang aku punya, semua kebiasaan tidak baik yang selama ini ‘terpelihara’

Nanti bila telah menikah,
akan aku lepaskan semua jerat-jerat kemaksiatan, juga noda-noda yang ada di badan

Nanti bila telah menikah,
semua akan jadi lebih mudah, karena telah ada ia yang membersamai dalam langkah

Namun seseorang berkata,
tidak tahukah engkau

tidak tahukah engkau, bila istrimu pun seorang manusia biasa
seorang yang juga punya salah, khilaf juga lupa
seseorang yang juga mengharapkanmu agar membimbing ia menuju ridha-Nya
maka janganlah kau berharap pada manusia agar tak berujung pada kecewa

engkau berharap semuanya akan jadi mudah dengan menikah
lupakah engkau, bila menikah adalah amanah
yang berarti tugas dan tanggungjawab yang bertambah
yang berarti menuntut pula bertambahnya ilmu, kebijaksanaan dan kesabaran
maka semoga itulah yang engkau persiapkan

engkau katakan kebiasaan tak baik akan mudah kau tinggalkan bila telah menikah
aku katakan tidak takutkah engkau
tidak takutkah engkau bila ternyata kau tak mampu meninggalkan kebiasaan itu
tidak takutkah engkau bila nantinya kau justru akan melukai perasaan istrimu, atau juga merenggut hak-haknya

bagaimana kau berharap akan bisa menjaga pandangan setelah menikah, bila sekarang kau biarkan matamu berkeliaran entah kemana

berubahlah, berbenahlah tanpa menunggu bila dan bila
karena bila hanya akan membuatmu berangan
karena bila hanya akan membuatmu menunda kebaikan