Terimakasih Adinda

Matahari sudah agak meninggi, perlahan menampakkan teriknya pada setiap mereka yang beraktifitas di luar rumah. Dalam perjalanan ke sini tadi pun demikian. Jalanan yang ramai seolah menjadi saksi atas semua kesibukan mereka yang berlalu lalang. Kesibukan dengan tujuan masing-masing, perjuangan masing-masing.

Aku meneguk pelan teh hangat yang tersaji di hadapan, mengambil jeda sembari meyakinkan diri bahwa aku sudah berada di tahap ini. Bila kamu bertanya apakah aku nervous, grogi dan semacamnya. Tentu saja. Mungkin kamu tidak perlu bertanya karena sudah mengetahui itu sejak pertama kali aku membuka suara.

Baik sangka, mungkin itu yang menjadi modal buatku setelah mengucap bismillah. Dan aku bersyukur bahwa aku tidak harus memulainya dari awal. Terimakasih ya sudah berusaha mengenalkan aku pada beliau berdua.

Aku juga bersyukur bahwa pembicaraan ini tidak serumit yang aku khawatirkan. Pertanyaan demi pertanyaan yang mengalir begitu saja. Sungguh, terimakasih untuk suasana yang nyaman ini. Terimakasih sudah bersikap begitu baik padaku. Aku merasa sudah dianggap seperti anak sendiri di rumah kamu. Atau, barangkali orangtua kamu kasihan ya, berusaha begitu pengertian pada aku yang datang sendirian. 😀

Baik sangka, itu pula mungkin pegangan yang membuat orangtua kamu percaya. Percaya pada aku yang bukan siapa-siapa. Mm, aku saja masih terus berusaha untuk meyakinkan diriku sendiri. Ya, bismillah. InsyaAllah dengan niat yang baik, tujuan yang baik, pun dengan cara-cara yang diupayakan baik pula, hasilnya juga insyaAllah baik.

Aku juga menangkap sebuah empati yang begitu besar pada orangtua kamu. Empati seorang ayah pada laki-laki yang memberanikan diri mengetuk pintu rumahnya. Empati yang berdasar ukhuwah, juga saling tolong menolong dalam kebaikan. Jazakumullahu khairan, semoga Allah beri balasan dengan sebaik-baik balasan.

Membangun empati, itu pula yang harus aku lakukan. Menyadari sepenuhnya bahwa kamu adalah mutiara paling berharga di mata seorang ayah. Mutiara yang dijaga, yang dibesarkan dan dididik dengan penuh cinta, pun senantiasa dihujani dengan doa-doa terindah. Maka sudah semestinya, bila Allah takdirkan kita untuk bersama, Allah karuniakan kamu kepadaku sebagai sebuah anugerah terindah sekaligus amanah, akulah yang harus berusaha menjagamu dengan sebaik-baiknya. Bismillah, laa haula wa laa quwwata illaa billah.

***

Matahari belum sepenuhnya terbit bersinar. Semburat jingga masih tampak menyala dalam naungan awan-awan yang meneduhkan. Orang-orang sibuk berlalu lalang, berdatangan. Pengeras suara beberapa kali memberikan pengumuman.

Pulang, selalu mendatangkan haru kebahagiaan. Juga kesyukuran bahwa kita tidak sendiri di dunia ini. Ada mereka orang-orang tercinta, yang Allah datangkan mereka sebagai anugerah, pemberian terindah. Begitupun kita bagi mereka.

You don’t choose your family. They’re Allah’s gift to you, as you are to them
~Anonymous

Tahukah kamu, apa yang membuat para ayah tetap bersemangat dalam penat dan letih, memacu motor tua mereka membelah jalanan menuju rumah sepulang kerja?

Barangkali harapan. Bahwa ada yang menunggunya di sana. Bahwa kepulangannya pun memberi bahagia pada sosok-sosok yang ia cinta. Dan lelah, barangkali menguap begitu saja entah kemana, tatkala senyum-senyum itu menyambutnya.

Pulanglah. Karena bukan hanya kau yang merindu. Namun ada mereka yang juga merindukanmu

Apalagi ini kepulangan yang istimewa. Kepulangan yang penuh doa-doa, insyaAllah. Ucapan tahniah, barakallah, semoga lancar sampai acara juga setelahnya. Alhamdulillah.

Ya, kepulangan yang bukan hanya melepas rindu pada keluarga tercinta. Namun juga insyaAllah akan menambah satu anggota keluarga.

“Horee.. dapat mbak besar.”, seru si kecil kala aku dan ibu bercerita tentangmu. Aamin. Semoga lancar, semoga Allah karuniakan berkah selalu. Aku jadi bagian dari keluargamu, kamu pun jadi bagian dari keluargaku. Keluarga kita, insyaAllah 🙂

Sudah ada panggilan boarding, Mas berangkat dulu ya. Doakan semuanya lancar, insyaAllah kita ketemu dalam kesempatan yang jauh lebih baik, lebih berkah.

***

“Bismillah. Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, la haula wa la quwwata illa billah.” Aku mengulang-ulang kalimat itu. Ada debar yang tak bisa kujelaskan, ada haru penuh kesyukuran sekaligus juga kekhawatiran. Mungkin lebih tepatnya memohon kekuatan, bahwa selepas ini akan ada tanggungjawab yang tidak ringan.

Khutbah nikah dibacakan. Beberapa ayat al-Quran yang dibacakan, kurasakan memberi ketenangan juga keyakinan. Keyakinan bahwa ini semua terjadi atas kehendak-Nya, atas perkenaan-Nya. Bahwa aku, bahwa kita tidak akan dibiarkan sendiri oleh-Nya.

Dan saat itu pun, saat yang dinanti pun tiba. Ketika ayahmu -yang akan menjadi ayahku juga- mengulurkan tangannya, erat menggenggam tanganku. Dan beliau sangat tenang, lancar dan tegas, dengan suara beratnya mengucap “Ankahtuka…” hingga akhir kalimat. Dan tanpa jeda, segera aku ucap sebaris jawab. Suara yang terdengar bergetar. Petugas KUA, juga para saksi mengangguk pelan, “Sah..”. Alhamdulillah, alhamdulillah 🙂

Dan doa-doa pun dipanjatkan. Doa-doa memohon keberkahan untuk keluarga kita, untuk bersamanya kita.

Barakallahu laka, wa baraka ‘alaika, wa jama’a bainakuma fi khair.

image
alhamdulillah 🙂

Alhamdulillah..
Alhamdulillahi alladzi bini’matihi tatimmus shalihat..
Segala puji bagi Allah, yang berkat nikmat dan karunia-Nya kebaikan-kebaikan menjadi sempurna. Niat-niat baik kita dapat terlaksana, juga diberikan kemudahan oleh-Nya..
Alhamdulillah 🙂

Betapa banyak doa-doa yang tercurah pada kita. Doa dari lisan-lisan yang mulia. Dari ketulusan kedua orangtua kita, ustadz-ustadz kita, guru-guru kita, juga keluarga besar kita seluruhnya. Juga dari para tamu undangan, belum lagi dari saudara saudari kita fillah yang kita berharap lebih dari yang kita kira. Dinda, tiada lain yang bisa kita lakukan tentunya selain mengaminkannya. Aamiin, aamiin,. Ya Robbal Alamin. Tidak lupa juga rasa syukur dan terimakasih kita pada semuanya. “Jazakumullahu khairan, Semoga Allah beri balasan dengan sebaik-baik balasan.”

Jodoh adalah rizki. Yang terbaik adalah pilihan Allah. Engkau, dinda adalah pilihan-Nya untukku. Begitu pun aku yang telah dipilih-Nya untuk mendampingimu. Maka, rizki membutuhkan kesyukuran, juga penjagaan. Bahwa bersatunya kita semakin menguatkan langkah kita dalam kebaikan. Engkau, separuh agamaku, penjaga ketaatanku.

Barakallahu fiik,.
Barakallahu fiik. Uhibbuki fillah dinda.
“Titip dek eva ya nak.”
“Titip adekku ya dek.”
“Titip mbakku ya mas.”
“Titip ponakanku ya mas.”

Ini keluarga kita. Kita yang bangun, kita yang jaga, kita yang rawat. Doakan mas bisa jadi imam yang baik buat adinda ya. Apapun yang terjadi setelah ini, kita akan hadapi bersama. Hingga surga, hingga surga, insyaAllah. 🙂

image
barakallah 🙂

Kamu Jadi Baik karena Doa Mereka

Sungguh, rizki itu bukan hanya uang
Kedua orangtua, terlebih doa-doa beliau berdua,
kesempatan untuk belajar, dari kecil dulu hingga sekarang
bertemunya kita dengan teman, kawan juga sahabat-sahabat yang baik
hingga pada kebaikan-kebaikan yang Allah mudahkan bagi kita untuk melaksanakan

Alhamdulillah

Saya ingat sekali dulu, waktu masih kecil, sudah SD kelas 1 sih :mrgreen: tiap hari saya diantar sekolah dan ditunggui oleh ibu. Waktu itu memang saya masih 5 tahun dan tidak sekolah TK sebelumnya, jadi ya masih takut-takut ketemu orang banyak. Karena terus-terusan seperti itu dan saya ngga mau ditinggal sama sekali, akhirnya diputuskan belajar di rumah dulu saja, tahun depan (saya sudah 6 tahun, usia ideal masuk SD) baru sekolah lagi.

Di rumah juga begitu, pas belajar nulis, berhitung, kan saya diajar ibu saya sendiri kalau di rumah, pasti ngeluhnya capek. “Udah buk, besok lagi ya..”, selalu rengek saya. Ya mungkin memang bawaannya anak pertama, belum punya adik lagi, manja 😀 Alhamdulillah, ya bisa belajar dikit-dikit, tulisan juga udah lumayan, lumayan ngga terlalu jelek maksudnya 😆 Alhamdulillah 🙂

Pas sorenya alhamdulillah di kampung saya ada TPQ, Taman Pendidikan al-Quran bertempat di masjid kampung. Semua yang sudah sekolah dihimbau agar belajar ngaji di situ. Ya pertama-pertama saya diantar ibu, hari pertama, kedua sampai kemudian berani berangkat sendiri. Alhamdulillah dari sejak kecil sudah dapat pendidikan agama seperti itu. Ya belajar mulai dari iqra, belajar wudhu sampai sholat, kemudian mulai membaca al-Quran, ada selingan juga hafalan surat pendek. Alhamdulillah dulu hafalan surat pendeknya mulai Ad-Dhuha, jadinya memang yang paling hafal sampai sekarang ya surat ini. Hehe. Ya kan biasanya yang pertama itu paling semangat, selanjutnya apalagi pas dapat surat yang agak panjang (read: al-‘Alaq), sudah mulai kena hukuman semua. :mrgreen: Semoga Allah balas kebaikan para Ustadzah saya dengan kebaikan yang berlimpah, Aamiin. 🙂

Yang paling teringat juga dulu, adalah ketika kegiatan praktik sholat. Jadi ada jadwalnya, saya lupa tiap hari apa. Kami berbaris rapi di teras masjid, sampai beberapa shaf karena memang kami yang mengaji jumlahnya banyak. Dan mulai dari takbiratul ihram sampai salam kita baca dengan bacaan yang keras. Itupun harus pelan-pelan, ngga boleh cepat, sembari para Ustadzah kami membenahi gerakan kami, posisi kami yang kurang tepat. Sampai satu gerakan saja bisa lama dulu itu, gara-garanya masih banyak yang salah-salah. Maka hingga hari ini, bahkan hingga kami meninggal dunia nanti, pada setiap sholat yang kami lakukan, insyaAllah Allah hadirkan pula pahala untuk beliau-beliau yang dengan sabar memegang tangan kami, meluruskan punggung kami ketika ruku’, hingga pada bacaan sholat yang kami hafalkan. Apalagi bila kemudian kami, murid-murid beliau mengajarkan pula hal ini kepada anak-anak kami, atau siapapun itu, pun pahalanya akan sampai pula kepada beliau-beliau. Semoga Allah kumpulkan kita di surga-Nya, tempat yang jauh lebih baik dari keadaan kita di dunia.

Itu tadi baru setitik kebaikan beliau-beliau yang telah banyak berjasa pada hidup kita. Bagaimana lagi dengan orangtua kita. Ibu kita yang kita tumbuh dan hidup dalam rahimnya selama sembilan bulan, yang air susunya menjadi nutrisi utama pembentuk tulang dan daging kita, yang dengan kasih sayangnya merawat kita dengan penuh cinta, mengenalkan kata pertama hingga kita bisa ini dan itu. Sungguh, kita di mata ibu tetaplah anak kecil yang baru kemarin digendongnya. Maka pun kita sungguh memohon agar Allah mengaruniakan kebersamaan dengan orangtua kita, mereka yang kita cinta, bukan hanya di dunia, namun hingga ke surga-Nya.

Sungguh, orangtua kita telah mengupayakan segalanya demi kebaikan kita. Memberikan pendidikan yang terbaik bagi kita, yang barangkali kita jarang berfikir bagaimana kesusahan beliau untuk dapat selalu memenuhi apa yang kita butuhkan, bahkan terkadang sekedar apa yang kita inginkan.

Berbuat baik kepada keduanya.
Berbuat baik kepada keduanya.
Berbuat baik kepada keduanya.

Rendahkan diri kita di hadapan keduanya.

Ketika dengan sedikit pendidikan yang lebih tinggi, lebih banyak mengerti, atau misalnya sudah ngaji dan lebih paham dalam agama ini lantas membuat kita memandang orangtua dengan pandangan yang kurang hormat atau bahkan pandangan merendahkan. Sadari bahwa ada yang salah dengan pendidikan kita, ada yang salah dengan ngaji kita.

Semoga Allah mudahkan kita semua untuk menjadi anak yang berbakti kepada orangtua kita, yang dapat membahagiakannya, di dunia dan di akhirat kelak.

Salah seorang menasihatkan, “Apapun yang ibuku inginkan dan aku bisa memenuhinya niscaya akan segera aku penuhi. Karena ada saatnya ibuku menginginkan sesuatu, namun aku tidak bisa mewujudkannya.”

Terimakasih sudah membaca. Selamat berakhir pekan. Jangan lupa mengunjungi orangtua, atau menelponnya. Kehadiran kita, meski hanya berupa suara adalah kado terindah bagi mereka. 🙂

Barakallahu fiikum 🙂

Menikah Muda

Ada yang tahu pada umur berapa Ali bin Abi Thalib dan Fatimah dinikahkan oleh Rasulullah saw? Imam Adz-Dzahabi menuturkan bahwa usia Ali ketika itu adalah 21,5 tahun dan Fatimah 15,5 tahun. Mari berhenti sejenak, apa yang kira-kira ada di pikiran kita mendapati fakta ini?

Kebanyakan kita akan berpikir, “Ah, itu kan zaman dulu. Sekarang kan sudah beda.” Sungguh disayangkan, peristiwa yang begitu banyak hikmah ini kita sikapi demikian. Padahal intinya bukan pada ‘zaman dulu’ atau ‘zaman sekarang’ sebagaimana dijelaskan oleh Ustadz Budi Ashari, namun pertanyaan besarnya adalah, “Bagaimana menyiapkan generasi yang pada usia sebelia itu sudah mampu mengemban amanat dan tanggungjawab untuk membangun sebuah keluarga.”

Agaknya memang kita jauh, sangat jauh tertinggal dari generasi terbaik umat ini. Mereka yang masa kecilnya dipenuhi dengan al-Quran, kecintaan kepada Nabi saw, serta semangat dalam memperjuangkan agama islam.

Kembali ke bahasan nikah tadi. Pernikahan adalah tanggungjawab besar, tanggungjawab dunia akhirat. Maka menikah berarti menambah peran tanpa menghilangkan peran yang sudah ada sebelumnya. Peran sebagai anak, kakak, adik akan tetap ada ditambah dengan peran baru, suami atau istri. Menikah bukan pelarian atas beragam tanggungjawab yang belum selesai. Lari dari hubungan yang kurang harmonis dengan orangtua, atau mungkin tugas kuliah yang sering membuat sakit kepala. Hehe. Tidak usah terlalu serius bacanya ya, yang nulis juga belum mengalami soalnya 😀

Tentang judul yang saya pilih di atas, sengaja memang biar bikin penasaran 😆 Ya memang kan akhir-akhir ini banyak berseliweran beragam motivasi untuk nikah muda. Sebuah hal yang menggembirakan tentu saja mengingat begitu banyaknya pintu kebaikan yang terbuka dengan menikah. Namun tentu yang harus pula diperhatikan adalah bagaimana persiapannya. Karena mendukung untuk segera menikah bila tanpa ada persiapan sepertinya malah akan menimbulkan kekhawatiran.

Saya sangat setuju bila ada yang mengingatkan bahwa pernikahan bukan semata happily ever after sebagaimana dalam cerita-cerita dongeng yang dulu kita baca. Bahwa menikah berarti banyak belajar, meluaskan kesabaran, mengontrol ego dan seterusnya. Dan tentu saja di dalamnya akan banyak kejutan-kejutan yang bila kita tidak cukup ilmu dan mental dalam menghadapinya, mungkin bisa membuat pernikahan menjadi goyah. Namun bila kemudian kita bisa belajar memahami, memandang tidak hanya dari satu sisi, berbesar hati untuk bersabar, maka semoga kejutan-kejutan yang hadir justru akan membuat hari-hari semakin indah. Asli, ini ngayal 😆

Mempersiapkan, barangkali itulah yang menjadi pekerjaan rumah. Bahwa langkah nyata baru akan diambil bila memang sudah siap untuk mengemban tanggungjawabnya.

Bila memang ia telah mengetahui bahwa ada mutiara istimewa di tengah lautan sana. Namun ia sendiri belum memiliki kapal, peralatan selam dan ilmu yang cukup yang bisa ia gunakan untuk menjemputnya, maka apa gunanya bila ia hanya berteriak dari tepi pantai?

Maka meminjam istilah Mas Gun, tentang jarak samudera. Bahwa jarak yang tercipta haruslah seluas samudera. Tidak perlu tanggung-tanggung, dekat tidak, jauh juga tidak. Jauhlah sekalian, sebab jarak yang jauh dan rintangan yang besar akan membuat mundur mereka yang tidak punya keberanian. Namun bila ada yang berani datang, tolong dimudahkan ya,. Haha 😀

Karena berproses sebelum bersiap tidak akan membuahkan apa-apa. Apalagi bila dua pihak sudah saling menerima, namun pintu pernikahan masih jauh di depan sana, bahkan tidak tahu kapan datangnya. Kita khawatir bahwa hati kita terlalu lemah untuk menghadapi godaan-godaan yang membuat kita jauh dari ridha-Nya.

Dan di atas semuanya tentu saja tugas kita sebagai manusia hanya mampu berupaya dan berdoa dengan sebaik-baiknya. Adapun hasil tentu kita serahkan semuanya pada Sang Maha Pembuat Rencana.

image
tetap husnudzan ya 🙂

Tiba-tiba pengen nulis ini setelah tadi siang saya sempat main ke rumah seorang teman yang baru menikah beberapa waktu lalu. Saya main ke sana juga dengan teman-teman yang lain. Sesampai di sana, kami pun rame-rame ngobrol santai, karena memang dari kuliah dulu sudah teman sepermainan. Tiba waktu makan, ini masakannya istimewa, baru matang soalnya. Yang buat juga istri teman saya ini bersama istri teman satunya lagi yang sama-sama bertamu di sana.

Dan kami pun makan bersama, duduk bersila sambil ngobrol di depan tivi. Tiba-tiba dia nanya, “Enak mas?”

“Iya, enak banget.”, jawab saya segera.

“Tiap hari gini lo,” lanjutnya sambil tersenyum yang saya dengan jelas bisa menerjemahkannya.

“Alhamdulillah.”, ucap saya kemudian yang berlanjut dengan tawa.

Barakallahu laka, wa baraka alaika, wa jama’a bainakuma fii khair. Terimakasih untuk semuanya,. doakan kami juga bisa segera nyusul 😀 Pada teman-teman saya yang sudah menikah ini, saya teringat ketika Ustadz Salim A Fillah bercerita bagaimana berimprovisasi kala mengakhiri dongeng yang dibacakan kepada putrinya.

“Dan pangeran dan putri pun menikah. Kadang mereka diberi nikmat maka mereka bersyukur, kadang mereka diberi ujian maka mereka bersabar. Hidup senantiasa berusaha istiqomah hingga meninggal dalam keadaan husnul khatimah.”

Karena kebersamaan yang dinanti bukan hanya di dunia, namun hingga ke surga Allah Ta’ala

Beban Cicilan dan Gaya Hidup

Pernah ada teman yang bilang, mumpung masih muda dan belum menikah, puas-puasin aja mau jalan-jalan kemana, atau mau beli apa. Soalnya kalau sudah berkeluarga bakal banyak kebutuhan yang lain, banyak cicilannya. Hehe

Sepakat sih dalam pikiran yang saya sesuaikan dengan keadaan saya. Maksudnya kalimat itu saya pahami versi saya sendiri. Menurut saya, puas-puasin di sini pun tetap harus ada kontrolnya, ada batasannya. Ngga pelit, tapi juga jangan boros. Tahu prioritas lah, mana yang memang kebutuhan pokok, mana yang dalam cakupan kesenangan tapi juga masih dibutuhkan, mana yang sudah menjurus ke menghambur-hamburkan.

Saya sepakat sih ketika ada yang mengatakan kebutuhan hidup itu selalu terpenuhi, keinginan dan gaya hidup tidak akan tercukupi. Lebih bijaksana saja dalam mengatur pengeluaran. Jangan pelit juga, apalagi sama diri sendiri. Kalau memang Allah beri kita karunia berupa kecukupan rizki, ya tunjukkan itu dalam penampilan dan perilaku sehari-hari. Tentunya dalam takaran yang wajar dan tidak mencolok. Ingat kan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah menegur salah seorang sahabat yang pakaiannya lusuh, padahal Allah sudah karuniakan kepadanya nikmat berupa harta. Dan merupakan salah satu bentuk syukur, yakni menampakkan sebagian dari karunia yang Allah berikan kepada kita.

Jadi, silahkan jalan-jalan, belanja pakaian atau beli apa saja yang diinginkan. Namun tetap ada batasan kewajaran, ada skala prioritas yang harus kita perhatikan. Masing-masing kita tahu akan hal itu.

Satu lagi yang menggelitik saya dari kalimat di awal tadi, yakni tentang cicilan. Ketika berbicara cicilan, bayangan kita langsung mengarah pada cicilan rumah atau cicilan mobil. Seolah itu memang sebuah hal yang lumrah dan wajar dalam pos pengeluaran sebuah keluarga.

Saya dibesarkan dalam keluarga sederhana yang tinggal di desa. Saya anak pertama, jadi saya mengalami keadaan dimana keluarga saya baru tumbuh dan memulai perjuangannya. Saya masih ingat, waktu kecil rumah saya (ini rumah pertama kami) adalah rumah semi permanen berbahan anyaman bambu (gedeg). Bahkan pernah, saat itu lagi ada acara pernikahan salah seorang saudara. Nah, ketika malam saya sudah minta pulang dan akhirnya saya pulang sama ibuk, diantar saudara lain. Ketika sampai di rumah, ternyata kunci gembok masih dibawa ayah, lupa diminta. Akhirnya kami (saya dan ibuk) mbrobos pintu dapur yang memang tidak bisa tertutup sempurna. Haha 😀

Dibesarkan dalam keluarga seperti itu membuat saya memiliki pola pikir yang sederhana. Bahwa jangan terlalu membebani diri pada hal-hal yang memang tidak bisa diraih. Ketika berkeluarga, yang diperlukan adalah tempat tinggal. Meskipun dalam wujud yang sangat sederhana, meskipun hanya rumah sewa alias ngontrak. Pun demikian juga dengan kendaraan. Kalau bahasa jawanya, isane nggo motoran ya motoran, isane ngontrak ya ngontrak, syukuri apa sing ana, ora usah neka-neka. 🙂

image
syukuri wae lah

Sadar atau tidak, sepertinya kita memang sudah terpengaruh dengan gaya hidup serba pengen. Uangnya belum ada, banyak maunya. Akhirnya cicilan jadi pilihannya. Pola pikir kita dari dulu untuk bersabar dengan prinsip “hemat pangkal kaya” dan itu membuat kita termotivasi untuk menabung mulai digeser dengan prinsip “cicilan adalah solusinya”.

Sadarkah kita, ketika sekarang harga properti terus naik seolah tidak terkendali kita juga yang ikut berperan membuatnya seperti itu. Ingatkah kita saat pelajaran ekonomi kala SMP atau SMA dulu, bahwa harga komoditas itu berbanding lurus dengan tingkat permintaan pasar. Kini kita ‘ditakut-takuti’, bahwa harga rumah akan terus naik dan KPR adalah satu-satunya solusi. Lalu kita merasa was-was, kita belum punya tabungan tapi memaksakan diri untuk hutang bank buat beli rumah.

Belum lagi tuntutan gaya hidup lain, mobil. Padahal kemana-mana naik motor juga masih bisa. Kadang hanya keinginan atau juga mungkin sudah kebutuhan tapi uangnya belum ada. Ada sih sedikit, cukupnya buat beli mobil bekas keluaran lama. Ngga ah, beli baru aja, hutang dulu gapapa. Hiks.

Saya tidak anti cicilan. Pembelian secara kredit pun ada yang diperbolehkan. Namun yang saya sayangkan adalah terlalu memaksakan diri. Tidak cukup bersabar dengan apa yang sudah dipunyai. Selalu ingin lebih dan kemudian memilih jalan instan. Hidup ini hidup kita sendiri, kita yang jalani, kita yang nikmati, kita yang usahakan. Orang lain hanya melihat kita dari luar, tidak benar-benar tahu akan keadaan kita. Cukup syukuri, cintai, nikmati, juga usahakan dan perjuangkan dengan sebaik-baiknya. 🙂

Dia yang Datang Kemarin

Minggu pagi yang cerah. Mentari pagi perlahan mulai menampakkan teriknya. Ah, rasanya tidak ada yang lebih menyenangkan. Hari libur, rumah sudah bersih, pakaian juga sudah dicuci. Tinggal duduk manis menikmati buku bacaan yang telah separuh kutamatkan.

Kulihat ayah berjalan perlahan dari ruang tengah. Menghampiriku, lalu duduk di sebelahku. Wajahnya teduh. Ditambah semburat cahaya pagi dari jendela kaca. Semakin membuat beliau nampak lembut dan berwibawa.

“Gimana di sekolah?”, Ayah membuka suara.
“Alhamdulillah yah, semuanya lancar.”, jawabku kemudian.
“Aku bersyukur yah, bisa ngajar di sana. Melihat anak-anak yang riang, juga semangat belajar. Belum lagi bisa kenal sama guru-guru yang lain.”, jelasku.

Ya, sudah dua bulan ini aku mengajar di sebuah taman kanak-kanak. Menemani mereka belajar, juga bermain. Mengajari mereka doa-doa harian. Melihat mereka tertawa, atau juga menangis. Ada juga yang takut-takut karena baru pertama ketemu aku, gurunya kala itu. Ah, selalu menyenangkan bersama mereka.

“Temanmu yang datang kemarin, kamu suka sama dia?”, tanya beliau lagi. Aku sekilas memandang beliau.
“Belum. Tapi aku suka caranya menyampaikan.”, aku tersenyum. Aku merapikan ujung-ujung rambut yang mengenai mataku.

Dia. Aku juga belum begitu mengenalnya. Mungkin hanya sebatas tahu nama. Dia pun kemarin datang belum menyatakan apa-apa. Hanya meminta izin untuk bisa serius mengenal aku. Dengan harapan bisa menjadi bagian dari keluarga ini nantinya. Begitu katanya.

“Putri Ayah sudah besar.”, beliau tersenyum lebar, mungkin juga tertawa pelan. Aku ikut tersenyum. Sejenak mata kami bertemu.

“Kamu tahu, kami orangtua hanya ingin yang terbaik untuk anaknya. Apa yang membuatmu bahagia, kamipun ikut bahagia. Bahkan mungkin kami lebih berbahagia. Melihatmu tumbuh besar, tumbuh dewasa, hingga nantinya kamu berkeluarga. Membangun keluarga kecilmu sendiri.”

Aku hanya diam. Mengangguk pelan. Merasa itu adalah tanggapan paling pas yang bisa ku berikan.

“Berkeluarga itu saling. Saling memahami, mengerti, juga melengkapi. Dan yang paling penting menurut Ayah, adalah saling menerima. Menerima bahwa pasangan kita juga manusia biasa.

“Dia sudah datang ke sini, ke rumah kita. Dia sudah berprasangka baik kepada kita. Maka tahapan apapun yang sedang kalian jalani sekarang, jalani proses itu dengan sungguh-sungguh. Dan pikirkan matang-matang. Maka semoga apapun keputusannya nanti setelah kamu istikharah, meminta petunjuk juga kekuatan hati, itulah yang terbaik untuk kalian.”

“Iya yah, insyaAllah.”

“Dan satu hal lagi yang kamu perlu tahu. Orang-orang yang baik itu, yang awalnya terlihat biasa, lama-kelamaan akan nampak istimewa. Bukan karena wajahnya yang berubah. Namun karena kebaikannya telah mengubah hati orang yang memandangnya.”, beliau tersenyum jail. Aku rasa wajahku sudah bersemu merah. Ayah tertawa.