Kejutan

Langit sore terlihat menawan. Hamparan areal persawahan tampak hijau menyegarkan. Belum lagi angin sepoi-nya yang selalu membuat rindu akan kampung halaman. Ah,. aku tersenyum, kembali kulihat arloji di pergelangan tangan. Sepertinya sudah saatnya aku menelpon Ibu. Kemarin ayah bilang bahwa beliau tidak bisa menjemputku di stasiun. Aku sudah mengatakan akan naik ojek saja, toh hanya setengah jam dari stasiun ke rumah. Ayah bilang jangan. Akhirnya setelah diskusi alot, diputuskan bahwa Ibu-lah yang akan menjemputku.

“InsyaAllah setengah jam lagi sampai di stasiun”, kataku menyampaikan.

“Nanti Ibu tunggu di mesjid alun-alun aja ya. Belum sholat ashar juga soalnya.”, tambahku.

“Ngga usah, gpp nanti Ibu langsung ke stasiun aja. Wong deket aja kok.”, kata beliau. Aku memutuskan untuk tidak menolak, mengatakan iya. Tidak ada salahnya beliau menjemput langsung ke stasiun, setelahnya baru sama-sama ke masjid.

Setengah jam berlalu, speaker pengumuman kereta mengatakan akan segera tiba di stasiun yang aku tuju. Penumpang diminta bersiap. Sejurus kemudian, aku sudah berjalan menuju pintu keluar. Menggendong tas ransel besar, jaket dan tas plastik berisi oleh-oleh di tangan. Aku bersiap menemui Ibu.

-asal teman-teman tahu, momen pulang kampung selalu menjadi momen yang mengharukan bagi kami yang mungkin hanya bisa pulang beberapa bulan sekali-

Aku berjalan melewati pintu keluar, bergegas menuju bangku-bangku di depan stasiun yang biasanya ditempati mereka yang sedang menunggu. Aku melewati beberapa mobil yang terparkir. Samar seperti kulihat adik perempuanku. Iya, adik perempuanku. Ibu kemarin bilang bisa kok nanti aku naik motor ke stasiun. Itu berarti Ibu ke sini ngga (jadi) naik motor. Karena ayah sedang ke luar kota, jadi siapa yang mengantar Ibu ke sini. Aku mulai curiga.

Dan, terbukti. Kamu. Kamu yang kulihat tersenyum duduk di samping Ibu. Mataku bersitatap sejenak dengan Ibu. Tatapanku mengatakan “Ibu,. kok bisa sih?”. Alih-alih menanggapi, Ibu malah tertawa lebar. Kejutannya berhasil. Aku yang -demi melihatmu- lalu mengusap wajahku dengan jaket. Berusaha tidak terlihat terlalu berantakan. Juga berusaha merapikan rambut yang, ah sudahlah. It’s okay, aku baru beberapa waktu lalu bangun tidur. Aku rasa kamu tahu itu.

***

Aku sering senyum-senyum sendiri ketika mengingat ‘kejutan’ itu. Tahukah kamu, saat itu aku diam-diam juga bahagia mengetahui kalau kamu -bersama ibu- menyiapkan skenario kejutan kala itu. Aku bahagia sebab itu berarti ada kedekatan yang mulai dibangun antara kamu dengan Ibu. Aku tidak membayangkan bagaimana kamu merencanakannya, tapi aku bahagia karenanya. Terimakasih ya. πŸ™‚

Dan kejutan serupa pun nampaknya kamu rencanakan siang ini. Kala tadi pagi aku lupa membawa baju olahraga buat sore nanti. Lalu menjelang siang hari, aku memintamu untuk mengirimkan baju itu lewat go send. Sekitar jam 11 barangnya sudah diambil pengantar. Setengah jam kemudian sudah sampai sini. Aku yang memang sedang melakukan ini itu hanya menyempatkan mengambil bungkusan bajunya dan langsung aku letakkan di meja kerja.

“Dicek dulu mas udah bener kan barangnya?”, katamu ketika aku bilang alhamdulillah udah sampe. Dan aku berpikir bahwa ga ada masalah kalau misal kamu ‘salah’mengambilkan -ngga ada kaus kakinya- atau apapun itu. Tapi ternyata aku kurang peka menangkap maksud ‘dicek dulu mas‘ yang bahkan kamu bilang sampe tiga kali. Ada sesuatu di bungkusan itu selain baju olahraga. Ya, bekal makanan yang aku baru tahu -sayangnya- setelah kembali dari istirahat siang. Maaf sayang ya,. akan tetap mas makan kok, tapi nanti sore ya. πŸ™‚

Kejutan
Ianya sebuah tanda cinta
yang membuat aku makin cinta
meski tak seperti yang kamu rencanakan Adinda
Ia akan tetap jadi kisah terindah
dan sekali lagi
Terimakasih ya
maaf mas ngga peka XD

Makasih sayang.. πŸ˜€

Tanyakan

HP-ku berdering pelan, sebuah pesan whats app masuk. Kulihat, ternyata dari kamu. Diam-diam aku tersenyum saat membacanya, lalu teringat pengalamanku beberapa tahun lalu.

Saat itu aku sedang mendampingi adik-adik yang sedang belajar dalam rangka persiapan ujian nasional tingkat SD. Bertempat di ruang tamu yang tidak terlalu luas, mereka belajar bersama, mendiskusikan banyak hal dalam pelajaran mereka.

Saat itu ada diantara adik-adik yang perempuan yang memakai celana pendek. Ya, di atas lutut. Sementara pada umumnya anak perempuan lain mengenakan bawahan celana santai yang tidak terlalu panjang. Mungkin kalau di kami laki-laki, semacam celana tiga perempat.

Karena tempatnya sempit dan anak-anak juga campur laki-laki perempuan, aku melihatnya juga agak risih. Apalagi kemudian ada anak laki-laki yang nyebut-nyebut celana pendek. Mengejek, bercanda, biasalah anak-anak. Akhirnya saat itu aku putuskan untuk bicara sama mereka.

“Mm,. mulai besok, kalau les pakai pakaian sore ya, yang lebih sopan. Atasan pake kaos gapapa. Bawahannya pake yang panjang, yang perempuan pake rok silahkan, celana panjang juga gapapa.”, kurang lebih begitu saat itu aku bilang.

Dan tahukah kamu, aku mengatakan hal itu sebelum isya’, jeda istirahat sholat isya’ dan ketika aku balik dari masjid dan bersiap lanjut mengajar, mereka sudah rapi dengan rok panjang masing-masing. Menyambut dengan ekspresi manis mereka. Haha. Yang laki juga? Ngga lah, kan yang laki-laki ikut sholat di masjid. Hehe.

Apa ya? Seperti itu rasanya adem di hati, senang sekali. Ibarat kata, ada bahagia yang hadir tiba-tiba. Ya, ada bahagia yang hadir tiba-tiba, persis seperti yang aku rasakan sekarang. Saat membaca pesanmu.

“Eh, nantinya aku masih boleh pake celana ngga? Kalo pake celana nanti atasannya panjang kok.”

Pertama membacanya, aku sempat berpikir kok tanya begini. Dan kemudian aku pun teringat pada status facebook entah siapa yang sempat ku share entah kapan, sudah lama sekali sepertinya. Dan kamu, rupanya sedang membacanya. Mengumpulkan informasi tentangku, yang aku pun telah melakukan hal yang sama beberapa waktu yang lalu.

Dan demi status itu, yang aku menganggapnya sepintas lalu, kamu menanyakannya. Menanyakan hal yang mungkin kecil namun bagimu itu penting. Diam-diam aku tersenyum. Ingin sekali aku katakan, “Sampaikan, apa yang ingin kamu sampaikan. Tanyakan, apa yang ingin kamu tanyakan. Ya, tanyakan. Karena kamu berhak tahu kepada siapa akan meletakkan ketaatan.”

10 Jam Makassar – Rantepao

Lakukanlah perjalanan agar wawasan kita lebih terbuka, melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dan semoga ada yang kita bawa pulang setelahnya.

Ini adalah kali pertama saya mengunjungi Kabupaten Toraja Utara. Saya mengikuti Workshop Publishing Organization yang diadakan oleh Kanwil DJP Sultanbatara. Hampir dua tahun saya tinggal di Makassar dan ini adalah perjalanan terjauh di Sulawesi Selatan yang pernah saya lakukan. Bisa dibayangkan, kami serombongan berangkat senin pagi (30/11/2015) dari Makassar pukul 9 pagi dan baru sampai di lokasi pada pukul 7 malam. Itu artinya, 10 jam perjalanan.

Menjelang keberangkatan di bus
Menjelang keberangkatan di bus

Kami berangkat menggunakan bus yang nyaman, teramat nyaman malah. Bus yang memang sengaja disiapkan untuk perjalanan jauh. Kursinya nyaman dan dapat diposisikan untuk merebahkan badan. Meski begitu, saya tidak dapat menikmati perjalanan tersebut. Saya memang tidak terbiasa melakukan perjalanan jauh menggunakan bus. Mabuk kendaraan, itulah alasannya.

Di awal perjalanan berangkat dari Makassar, perjalanan cukup menyenangkan bagi saya. Jalanan lurus dan juga mulus. Sesekali saya bisa melihat laut lepas yang ada di sisi kiri jalan. Sampai masuk Pare-Pare jalanan masih β€˜aman’ bagi saya. Memasuki kabupaten Enrekang, jalanan mulai berkelok, lengkap dengan turunan dan tanjakannya. Saya yang dari awal sudah agak pusing akhirnya menyerah. Akhirnya, saya melalui perjalanan sekitar 4 jam kemudian dengan terbaring lemah di tempat duduk saya.

Melakukan perjalanan ini mengingatkan saya pada atasan saya yang belum lama ini dimutasi ke jawa. Beliau adalah mantan salah satu kepala seksi di KPP Pratama Palopo selama hampir empat tahun. Beliau melakukan perjalanan seperti ini mungkin tiap bulan atau bahkan lebih dari sekali dalam sebulan. Untungnya, beliau tidak mabuk kendaraan seperti saya.

Saya pun kemudian ingat dengan teman-teman saya yang lain. Teman yang juga sebagian ikut dalam acara workshop ini. Mereka yang datang dari tempat yang jauh. Pulau Selayar, Raha, Toli-toli, Tidore, Talaud, Sanana dan masih banyak yang lainnya (meski teman-teman juara olimpiade Geografi sekalipun, saya yakin masih banyak yang asing dengan tempat-tempat tadi kan? πŸ˜† ). Bahwa meski sama-sama jauh dari keluarga, tentu perjuangan mereka lebih bila dibandingkan dengan yang saya alami. Sungguh salut dengan mereka semua. Merekalah para ujung tombak Direktorat Jenderal Pajak, yang terus berjuang di tengah keterbatasan. Yang terus berkarya meski tanpa pemberitaan media. Tetap semangat kawan, DJP Bisa!

Tempat workshopnya :)
Tempat workshopnya πŸ™‚
Bergaya di depan Tongkonan
Bergaya di depan Tongkonan

Note:
InsyaAllah akan saya usahakan menulis kisah selangkapnya sepulang saya dari Toraja. Hehe,. Mudah-mudahan ada foto yang bisa saya tampilkan nanti. πŸ™‚

Posyandu Balita

Suara tangis bayi di teras depan meramaikan suasana pagi ini. Ya, para bayi dan balita yang rutin tiap bulan dipantau pertumbuhannya. Ditimbang berat badannya, diukur panjang tubuh (untuk bayi) atau tinggi badannya. Suasana posyandu yang tidak lain adalah teras depan rumah pun semakin ramai, ditambah dengan suara ibu-ibu yang ya begitulah kalau sudah ketemu teman-temannya. Haha πŸ˜€

Biasanya juga datang bidan desa untuk memantau, memberikan penyuluhan kesehatan, terutama tentang kebersihan dan kesehatan rumah juga pemantauan terhadap tumbuh kembang anak. Ada juga memang satu dua balita yang harus dipantau secara intensif, terutama yang berat badannya kurang. Istilahnya, BGM atau bawah garis merah.

Saya ingat sering ibu saya cerita, dulu waktu kecil saya selalu menangis ketika ditimbang. Entah ya, wong cuma ditimbang saja kok nangis, ngga diapa-apain sih sebenarnya. Tapi ya begitulah anak-anak. Sampai akhirnya, karena selalu menangis dan ibu saya selalu cerita ke ayah kalau saya menangis saat ditimbang, ayah jadi ngga ngebolehin saya buat ditimbang. “Udah, ngga usah ditimbang. Ngga ditimbang juga ngga papa”, begitu ayah saya bilang. Ya ibu saya ikut saja akhirnya. Padahal namanya anak kecil nangis kan biasa. Tapi ibu saya juga sih, ngapain coba diceritakan ke ayah kalau saya nangis. Kan beliau juga ngga tau sebenarnya. Hehe :mrgreen:

Meski begitu, sebenarnya ngga khawatir juga karena secara kasat mata saya waktu itu memang tumbuh sehat. Bahkan, track record hasil timbangan saya (sebelum berhenti ditimbang) juga selalu berada di wilayah hijau (artinya sehat dan berat badan ideal, yeey πŸ˜† ).

Salut deh buat ibu-ibu yang rajin bawa anaknya ke posyandu. Kan juga demi kebaikan anaknya biar kondisinya terpantau. Ya kaaan. Semangat buk ya.. πŸ˜€

Memang namanya anak-anak, ada-ada saja tingkahnya. Ada yang baru datang udah nangis, ada yang waktu naik timbangan nangis, ada juga yang ketawa-ketawa. Ada lagi yang semangat banget mau ngambil buah atau makanan lainnya. πŸ˜†
Ya, anak-anak yang selalu istimewa πŸ™‚

*Pagi ketiga di rumah. Dengan buku bersampul biru dan berkas-berkas cahaya mentari dari jendela. Alhamdulillah.

Takut Kehilangan

Mungkin memang sudah tabiat manusia, suka menggenggam sesuatu dengan erat. Apa yang ada dalam tangannya, sulit baginya untuk melepaskannya.

Hal yang demikian juga ada pada masalah hati dan perasaan. Bagi laki-laki, seringkali muncul kekhawatiran dan kegelisahan dalam hatinya ketika ia sudah menjatuhkan pilihan. Bahkan mungkin belum sepenuhnya tepat bila disebut sebagai pilihan. Hanya sebuah kecenderungan yang kemudian menumbuhkan benih-benih harapan. Ya, bagaimanapun hati seorang laki-laki memiliki kecenderungan kepada perempuan.

Baca lebih lanjut