Mensyukurimu

Aku masih teringat di awal masa kuliah dulu ayah sering berpesan, “Kamu di situ sendiri, semuanya diatur sendiri. Kamu mau jadi apapun, ya itu kamu yang tentukan. Ayah sama ibu di sini hanya bisa mendoakan, semoga kamu baik-baik di sana, selalu dijaga.”

Tahukah kamu, mendapatkan pesan seperti itu rasanya membuat tingkat kedewasaan ini naik selevel lebih tinggi. Menyadari bahwa ada yang begitu menyayangi, ada yang begitu mengharapkan diri ini untuk berhasil. Maka satu yang kemudian menjadi tekad dalam diri, bahwa aku tidak boleh mengecewakan mereka. Bahwa aku harus berusaha sebaik-baiknya.

Mendapatkan kepercayaan, adalah sesuatu yang harus dijaga dan dipertanggungjawabkan. Bahwa ada sesal yang lebih ketika aku kembali terjatuh dalam kesalahan. Juga ada semangat yang berlipat buatku untuk meraih hal-hal yang membanggakan.

Tiba-tiba, perasaan itu kembali hadir. Ketika sebelumnya aku sempat mengatakan bahwa masih ada kekhawatiran yang terkadang muncul. Kekhawatiran untuk mengemban tanggungjawab yang besar. Dan kamu, kemudian dengan tenang menyampaikan bahwa kita adalah dua orang yang sama-sama dewasa. Mengerti apa yang harus dilakukan, juga apa yang seharusnya tidak dilakukan. Bahwa aku bisa berusaha dengan sebaik-baiknya.

Manusia, Makhluk Dinamis

Dulu aku bertanya-tanya, bagaimana kiranya bisa kita membenci perbuatan seseorang, namun tetap mencintai orangnya. Hingga aku tersadar, bahwa hal tersebut telah lama aku lakukan pada seseorang. Terkadang aku begitu membenci apa yang dilakukannya, namun di saat yang sama aku juga begitu menyayanginya, berharap yang lebih baik untuknya, sangat berharap agar ia bisa berubah. Ya, seseorang itu adalah diriku sendiri.

Mengharapkan kebaikan, barangkali itulah definisi cinta. Seorang ibu, pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Seorang ayah, pasti ingin yang terbaik untuk keluarganya, pasti berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk mereka.

Tentang judul di atas, bahwa manusia adalah makhluk dinamis, senantiasa berubah. Tersebab memang dari asalnya, hati kita senantiasa berbolak-balik. Ditambah lagi dengan beragam aktivitas yang kita lakukan, dengan siapa kita berteman, dengan siapa kita menghabiskan banyak waktu, buku-buku apa yang kita baca, bagaimana kita membentuk kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan setiap harinya.

Tidak ada perubahan besar bila tidak diawali dari yang kecil. Ingin jadi lebih baik, maka mari kita ubah sedikit demi sedikit keseharian kita untuk jadi lebih positif. Semangat. 😀

Menyadari bahwa kita adalah makhluk dinamis menjaga kita agar tidak putus asa ketika melakukan kesalahan. Bahwa hal yang baik, kesempatan untuk melakukan perbaikan itu selalu terbuka selama nafas kita masih ada. Pun demikian ketika sudah melakukan kebaikan, kita tidak lantas berpuas diri, namun bersyukur bahwa Allah memampukan kita untuk melakukannya. Juga berdoa, agar selalu dijaga dalam kebaikan, diistiqamahkan.

Selain itu, juga untuk menjaga sikap kita pada sesama. Keluarga, teman, sahabat, dan semuanya. Senantiasa mengharapkan kebaikan untuk mereka, mendoakan kebaikan untuk mereka. Ikut bahagia ketika berkah dan kebaikan menghampiri, juga ikut merasa hal yang sama ketika mereka dirundung musibah.

Tidak ada manusia yang sempurna. Maka semoga dengan mensyukuri kebaikan-kebaikan yang sudah ada pada mereka, Allah karuniakan nikmat berupa berkah dan kebaikan untuk kita semua. Pada keluarga, teman, juga masyarakat kita.

image
termasuk teman hidup ya 😀

Bentar-bentar, kok termasuk teman hidup? Iya benar, tidak ada yang sempurna. Maka perlu bagi kita untuk menentukan prioritas. Mana hal-hal yang benar-benar penting dan utama yang harus ada, juga mana hal-hal yang harus bisa kita terima untuk kemudian kita bisa belajar sama-sama. Kok bahasannya jadi kesini ya, ya gitulah maksudnya :mrgreen:

Nih saya kasih lagi wejangan buat kita menentukan prioritas.

image
ini ya.. 🙂

Kalau kata Ustadz Salim A Fillah dulu, lihat bagaimana hubungannya dengan empat hal. Hubungan dengan Allah, dengan kedua orangtua, dengan teman-temannya, dan dengan anak kecil. Ada juga yang menambahkan, bagaimana amanahnya terhadap muamalah yang berhubungan dengan harta.

Sekian, terimakasih sudah membaca. Tentang makhluk dinamis, semoga kita selalu bisa berusaha untuk jadi lebih baik. 🙂

Ucapkan Alhamdulillah

Alhamdulillah..
Menjadi kritis dan bersemangat untuk melakukan perbaikan adalah sebuah sikap hidup yang baik sekali. Bagaimana Nabi Ibrahim alaihissalam yang begitu kritis pada ayahnya, juga masyarakatnya. Dan kitapun tahu, bagaimana pula mulianya akhlak beliau pada sang ayah, meski beliau sungguh sangat mengkritisinya.

Alhamdulillah, mari kita bersyukur dengan segala karunia dan kebaikan yang Allah berikan kepada kita, keluarga juga lingkungan masyarakat kita. Dengan bersyukurnya kita, semoga Allah menambah kebaikan dan keberkahan di setiap lini kehidupan kita, insyaAllah 🙂

Tentang jilbab misalnya. Saya masih ingat sekali waktu saya masih SD, kemudian SMP, jilbab atau kerudung belum bertebaran seperti sekarang. Padahal itu bukan puluhan tahun yang lalu, baru kemaren rasanya, sekitar 10 tahun ke belakang. Saya dulu sekolah di SD negeri, SMP juga negeri. Ketika SD, tidak ada siswi yang pake jilbab seingat saya. Paling ketika kegiatan keagamaan, atau ketika pondok ramadhan dan semisalnya. SMP pun tidak jauh beda, di kelas 1 misalnya, saya dulu sekelas 40 orang, hampir separuhnya perempuan dan yang memakai jilbab hanya seorang saja. Saya dulu bahkan ketika SMP masih memakai celana pendek. Iya, serius. 😀

Namun alhamdulillah, di generasi adik saya sudah ada perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik. Alhamdulillah 🙂 Ketika SD, adik saya yang laki-laki sudah mengenakan celana panjang. Adik saya yang perempuan juga gitu, bahkan sejak TK sudah diajarkan memakai pakaian yang sopan, seragam TK-nya juga sudah pake jilbab. Alhamdulillah 🙂

Kita berdoa semoga negara kita ini semakin hari semakin baik. Baik masyarakatnya, baik pemimpinnya, juga baik pegawai-pegawai yang bertugas melayani masyarakatnya. Indonesia memang tidak sempurna, namun sungguh kita harus mensyukurinya. Adzan-adzan yang menggema berkumandang dimana-mana sebagai panggilan sholat, masjid-masjid yang bertebaran dimana-mana. Belum lagi alhamdulillah kita dikaruniai negeri yang damai, aman dan juga memberikan kebebasan untuk beribadah dengan sebaik-baiknya.

Di kantor-kantor pemerintahan pun juga demikian. Rapat yang dihentikan dan ditunda kala adzan berkumandang insyaAllah sudah banyak diterapkan. Alhamdulillah, alhamdulillahi alladzii bini’matihi tatimmus shaalihaat. 🙂

Ketika idul fitri kemarin pun demikian. Lebaran yang identik dengan baju baru juga diwarnai dengan busana-busana muslimah yang sopan dan terlihat adem. Dari mulai anak-anak kecil pun sudah dipakaikan baju-baju panjang lengkap dengan kerudungnya. InsyaAllah semangat untuk belajar lebih baik lagi semakin meningkat di masyarakat kita. Alhamdulillah 🙂

Kita bersyukur namun juga tetap berusaha terus belajar dan belajar lagi. Bahwa banyak perkara dalam agama kita ini yang kita belum tahu. Semoga kita selalu diberikan hidayah dan istiqomah untuk bisa terus belajar dan memperbaiki diri. Semoga juga negeri kita Indonesia senantiasa mendapat rahmat dan keberkahan sehingga menjadi negeri yang penuh dengan kebaikan. Aamiin 🙂

Mensyukuri Kemerdekaan

Tidak bersyukur kepada Allah siapa yang tidak berterimakasih pada manusia

Ketika banyak pihak mempertanyakan, benarkah kita sudah merdeka? Maka ijinkan saya menjawab, “Sudah, namun perjuangan belum usai.” Kita bersyukur kepada Allah, kemudian berterimakasih pada para pahlawan yang telah mengorbankan segalanya, waktu, tenaga, harta, bahkan nyawa untuk memperjuangkan kemerdekaan ini.

Para pahlawan yang ketika kita membaca cerita perjuangan mereka, kita dibuat malu, apa yang kita lakukan untuk negeri ini tidak ada apa-apanya. Panglima besar Jenderal Sudirman yang dalam sakitnya yang kian parah, memimpin perang gerilya sampai harus berada dalam tandu. Masuk hutan keluar hutan. Apa yang dicari? jabatan, harta, kemewahan? Tidak sedikitpun muncul dari hati dan pikiran beliau. Beliaulah, beserta rekan-rekan seperjuangannya yang benar-benar mewujudkan sebuah prinsip agung dalam agama kita, “Hidup mulia, atau mati syahid.” Semoga Allah karuniakan kehidupan di alam kekal untuk mereka semua, kehidupan yang jauh lebih baik.

Para pahlawan kita inilah, yang sudah tidak lagi terikat hatinya pada dunia. Bahwa kemuliaan itu ada dalam kehidupan merdeka atau kesyahidan di medan perang. Maka pun kita tahu, betapa dulu rasa cinta tanah air di dada mereka, serta semangat untuk melawan kedzaliman, berjuang keluar dari belenggu penjajahan telah mempersatukan bangsa ini, dari mulai petani di desa-desa, para pemuda terpelajar, hingga para santri di pesantren-pesantren mereka, bahu membahu mengangkat senjata dalam pekik takbir yang menggema dimana-mana. Allahu Akbar!

Maka kita generasi muda, jangan lupakan sejarah. Jangan lupakan perjuangan mereka para pahlawan yang berkat mereka, setelah rahmat dan karunia Allah, kita bisa menikmati kemerdekaan di republik ini. Kita bisa sekolah, menjalankan ibadah dengan aman dan tenang, serta beragam aktivitas lainnya pun tak luput dari jasa mereka. Semoga Allah mengalirkan pahala yang tak putus-putus pada mereka atas segala kemudahan yang kita rasakan saat ini, sholat kita, puasa kita, serta ibadah-ibadah lainnya. Sungguh sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.

Pun kemudian, setelah kita meneladani kebaikan-kebaikan mereka yang begitu berlimpah, semoga kita menjadi lebih bersemangat untuk memberikan yang terbaik yang bisa kita lakukan untuk negeri ini. Yang masih bersekolah, belajar yang rajin dan sungguh-sungguh. Yang kuliah, belajar serta mengembangkan wawasan juga menyumbangkan ide-ide bagi kebaikan negara kita. Yang menjadi karyawan, sungguh-sungguh dalam bekerja dengan niat ibadah demi memajukan perekonomian bangsa. Yang PNS, berkomitmen untuk senantiasa menjalankan amanah yang diemban dengan sebaik-baiknya. Hingga pada para ibu rumah tangga, untuk terus mendidik dengan nilai-nilai kebaikan serta akhlak mulia mereka yang akan meneruskan perjuangan bangsa ini nantinya.

Aku cinta indonesia. Merdeka!

Berusaha

Mungkin kita pernah mengalami, kemudian menyadari bahwa memang tugas kita sebagai manusia adalah berusaha dengan sebaik-baiknya. Adapun hasil, sepenuhnya merupakan hadiah dari dari Sang Maha Penulis Cerita.

Saya ingat dulu ketika ikut ujian seleksi USM Stan, waktu itu saya tes pertama di Surabaya. Ya seperti biasa, saya datang beberapa saat sebelum ujian, biar lebih tenang. Sehari sebelumnya saya juga sudah meninjau lokasi, soalnya memang belum pernah tau alamat lokasi ujian waktu itu.

Alhamdulillah, saya bisa mengerjakan dengan tenang. Bagi saya waktu itu, selesai mengerjakan ya sudah. Tidak mikir nanti bagaimana, yang ikut seleksi ini kan juga banyak sekali, tipe soal TPA dan Bahasa Inggris yang diujikan juga umum seperti itu. Dibilang susah ya susah, kami cuma diberi waktu 150 menit untuk mengerjakan 180 soal. Alhamdulillah, selesai ujian ya tinggal menunggu hasilnya.

Pengumuman hasil tes pertama alhamdulillah saya lulus, saya pun kemudian menjalani tes kedua dan tes ketiga. Lagi-lagi, saya juga tidak punya gambaran hasilnya seperti apa, ya bismillah saja. Alhamdulillah, pengumuman final menyatakan saya diterima dan lokasi pendidikan saya adalah di Manado. Sesuatu yang bahkan tidak pernah terbayangkan sedikitpun sebelumnya.

Barangkali memang sering demikian, kita sering mendapatkan kejutan berupa hadiah-hadiah yang Allah berikan. Sesuatu yang bahkan sebelumnya tidak pernah kita bayangkan. Namun satu hal yang kita tahu, bahwa apapun yang Allah berikan pada kita, pasti itulah yang terbaik untuk kita.

Bukankah kita juga sering, ketika dihadapkan pada dua pilihan, atau dua buah keadaan. Dan kita pun terkadang bingung, mana yang akan kita minta dalam doa. Kita khawatir bila apa yang kita inginkan, yang hati kita lebih cenderung kepada pilihan itu, ternyata bukanlah yang terbaik untuk kita. Maka kita hanya bisa meminta yang terbaik menurut Allah, dengan keluasan ilmu dan kebijaksanaan-Nya. Juga tak lupa untuk meminta, agar apapun yang Ia berikan, kita selalu bisa menerimanya dengan sebaik-baik penerimaan.

Kita juga sebaiknya lebih bersyukur, bila kita memiliki orang-orang yang begitu peduli, mereka yang mencintai kita sepenuh hati. Ibu dan ayah, juga orang-orang terkasih lainnya. Karena mungkin berkat doa-doa mereka, Allah senantiasa menjaga kita. Allah meletakkan kita dalam lingkungan yang baik, meletakkan kita dalam lingkungan pertemanan juga pekerjaan yang baik. Mempertemukan kita dengan orang-orang yang baik. Teman, sahabat, rekan kerja, atasan sampai tetangga atau juga dengan mereka yang akan menemani perjalanan kita nanti. Ya, bisa jadi karena doa-doa mereka, Allah selalu menjaga kita, terlebih ketika kita jauh dari keluarga.

Ada sebuah kutipan bagus, “Kita bisa merasa nyaman ketika terbang dalam sebuah pesawat padahal kita tidak pernah kenal pilotnya. Seharusnya, dalam hidup ini kita lebih merasa nyaman karena kita tahu Dzat yang mengaturnya.”

image

Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmus shalihat
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat dan karunia-Nya,
kebaikan-kebaikan menjadi sempurna
niat-niat baik kita dapat terlaksana
dan apa yang sebelumnya kita khawatir terhadapnya, maka Allah jadikan ia mudah
Alhamdulillah 🙂