Tetangga Yang Baik

Beberapa waktu ini, kita lebih sering mendengar istilah Pancasila, toleransi, keberagaman, kebhinnekaan. Pun sebaliknya, kita juga disuguhi istilah macam intoleran ataupun radikal. Ada apa dengan keadaan kita sekarang?

Dibanding membahasnya dengan analisa yang njelimet, saya lebih suka melihatnya secara sederhana. Kalau saja kita bisa menjadi tetangga yang baik, rasanya ‘perseteruan’ ini tak perlu terjadi.

Saya masih ingat ketika dulu masih kuliah di Sulawesi Utara. Pernah suatu hari, sejak sebelum subuh speaker gereja di dekat kos saya sudah lantang bersuara. Nyanyian-nyanyian diputar. Tepat beberapa waktu sebelum adzan subuh, speaker gereja tersebut dimatikan. Beberapa saat kemudian gantilah adzan yang berkumandang dari masjid yang hanya berjarak sekitar 200 meteran.

Ketika saya hendak ke masjid dan melewati jalan depan gereja, rupanya sudah banyak orang berdiri di jalan depan gereja tersebut. Mereka berbaris rapi sambil membawa obor. Saya juga agak kikuk kala itu melewati kerumunan orang, tapi dari mereka pun mempersilahkan dan memberikan jalan. Saya jadi teringat dengan sepasang calon pengantin yang hendak menikah di katedral kala sedang berlangsung aksi damai 212 di Jakarta.

Toleransi. Saya kira sudah mendarah daging dalam praktik bertetangga kita sejak lama. Di pasar kita biasa jual beli tanpa memandang agama. Bahkan di kota asal saja Jombang, yang dikenal banyak pesantrennya, toko penjual kain yang terkenal juga lebih banyak dimiliki oleh saudara kita keturunan tionghoa.

Di Sulawesi Utara dulu, bahkan saya bersebelahan rumah, bertransaksi di pasar, bertemu di angkot, di jalan dengan orang-orang non muslim. Masjid dan Gereja juga berdiri tidak terlalu jauh.

Namun, rasanya juga tidak perlu sampai saya ikut kerja bakti di gereja mereka dengan alasan toleransi. Toh, mereka juga tidak kekurangan pemuda untuk melakukan itu. Bagi saya, toleransi adalah bertetangga yang baik. Yang tidak menggangu mereka dengan lisan dan perbuatan kita.

***

Kemudian, ketika dihadapkan pada persoalan seperti kemarin dan sekarang ini, haruskah kita menjadi “netral”?

Saya lebih cenderung pada istilah “obyektif” daripada “netral”. Karena netral bukanlah hal yang selamanya baik di setiap keadaan. Tetapi obyektif, berusaha melihat sesuatu secara keseluruhan dengan kacamata terbuka. Tidak menutup mata dari fakta-fakta yang ada. Melihat dan mencermati untuk kemudian menentukan langkah.

Maka, bagi yang muslim, ada satu doa yang hendaknya kita perbanyak, doa yang masyhur, terutama diajarkan ke kita waktu di TPQ dulu.

اللهم أرنا الحق حقاً وارزقنا اتباعه وأرنا الباطل باطلاً وارزقنا اجتنابه

“Allahumma arinal haqqan haqqaa, warzuqnat tibaa’ah. wa arinal baathilan baathilaa, warzuqnaj tinaabah.”

“Ya Allah, tampakkanlah kepada kami yang benar adalah benar dan anugerahi kami untuk mengikutinya. Dan tampakkanlah kepada kami yang batil adalah batil, dan anugerahi kami untuk menjauhinya.”

Manusia, Makhluk Dinamis

Dulu aku bertanya-tanya, bagaimana kiranya bisa kita membenci perbuatan seseorang, namun tetap mencintai orangnya. Hingga aku tersadar, bahwa hal tersebut telah lama aku lakukan pada seseorang. Terkadang aku begitu membenci apa yang dilakukannya, namun di saat yang sama aku juga begitu menyayanginya, berharap yang lebih baik untuknya, sangat berharap agar ia bisa berubah. Ya, seseorang itu adalah diriku sendiri.

Mengharapkan kebaikan, barangkali itulah definisi cinta. Seorang ibu, pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Seorang ayah, pasti ingin yang terbaik untuk keluarganya, pasti berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk mereka.

Tentang judul di atas, bahwa manusia adalah makhluk dinamis, senantiasa berubah. Tersebab memang dari asalnya, hati kita senantiasa berbolak-balik. Ditambah lagi dengan beragam aktivitas yang kita lakukan, dengan siapa kita berteman, dengan siapa kita menghabiskan banyak waktu, buku-buku apa yang kita baca, bagaimana kita membentuk kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan setiap harinya.

Tidak ada perubahan besar bila tidak diawali dari yang kecil. Ingin jadi lebih baik, maka mari kita ubah sedikit demi sedikit keseharian kita untuk jadi lebih positif. Semangat. 😀

Menyadari bahwa kita adalah makhluk dinamis menjaga kita agar tidak putus asa ketika melakukan kesalahan. Bahwa hal yang baik, kesempatan untuk melakukan perbaikan itu selalu terbuka selama nafas kita masih ada. Pun demikian ketika sudah melakukan kebaikan, kita tidak lantas berpuas diri, namun bersyukur bahwa Allah memampukan kita untuk melakukannya. Juga berdoa, agar selalu dijaga dalam kebaikan, diistiqamahkan.

Selain itu, juga untuk menjaga sikap kita pada sesama. Keluarga, teman, sahabat, dan semuanya. Senantiasa mengharapkan kebaikan untuk mereka, mendoakan kebaikan untuk mereka. Ikut bahagia ketika berkah dan kebaikan menghampiri, juga ikut merasa hal yang sama ketika mereka dirundung musibah.

Tidak ada manusia yang sempurna. Maka semoga dengan mensyukuri kebaikan-kebaikan yang sudah ada pada mereka, Allah karuniakan nikmat berupa berkah dan kebaikan untuk kita semua. Pada keluarga, teman, juga masyarakat kita.

image
termasuk teman hidup ya 😀

Bentar-bentar, kok termasuk teman hidup? Iya benar, tidak ada yang sempurna. Maka perlu bagi kita untuk menentukan prioritas. Mana hal-hal yang benar-benar penting dan utama yang harus ada, juga mana hal-hal yang harus bisa kita terima untuk kemudian kita bisa belajar sama-sama. Kok bahasannya jadi kesini ya, ya gitulah maksudnya :mrgreen:

Nih saya kasih lagi wejangan buat kita menentukan prioritas.

image
ini ya.. 🙂

Kalau kata Ustadz Salim A Fillah dulu, lihat bagaimana hubungannya dengan empat hal. Hubungan dengan Allah, dengan kedua orangtua, dengan teman-temannya, dan dengan anak kecil. Ada juga yang menambahkan, bagaimana amanahnya terhadap muamalah yang berhubungan dengan harta.

Sekian, terimakasih sudah membaca. Tentang makhluk dinamis, semoga kita selalu bisa berusaha untuk jadi lebih baik. 🙂

Mukmin itu Bersaudara

belajar memahami
belajar rukun
belajar melihat secara utuh
bahwa kita adalah umat yang satu
bahwa mukmin itu bersaudara
bahkan ibarat satu tubuh
adapun bila ada peran yang berbeda, barangkali memang disanalah Allah lebih memberi kemampuan untuk berkhidmah

teringat kisah suatu ketika Rasulullah saw dan para sahabat sedang berkemah dalam sebuah perjalanan. kemudian salah seorang sahabat berkata, “aku yang akan memotong domba itu.” sedang yang lain berkata pula, “aku yang akan mengulitinya,” dan sahabat yang lain lagi berkata, “aku yang akan memasaknya.”

lalu Rasulullah pun berkata, “dan aku yang akan mencari kayu bakarnya.” mendengar ini maka para sahabat pun segera berkata, “tidak usah ya Rasulullah, biar kami saja yang melakukan semuanya. Silahkan baginda beristirahat saja sampai masakan ini selesai.”

Rasulullah kemudian bersabda kepada mereka semua, “Demi Allah, aku tidak akan tinggal diam sementara kalian semua bekerja. Allah membenci hamba-Nya yang mengistimewakan dirinya dari saudara-saudaranya.” Setelah mengucapkan sabda-nya beliau pergi mencari dan memanggul sendiri kayu bakar yang didapatnya.

Masya Allah.. indahnya.. 🙂

pagi ini setelah baca tulisan dari Ustadz Salim A Fillah,. silahkan dibaca juga. semoga bermanfaat 🙂

***

PETIK CERI dan KEBUN YANG SERBA MENGERTI
oleh Salim A. Fillah dalam Inspirasi, Rajutan Makna. 25/05/2016

Kutub-Kutub Pemahaman dan Perpecahan

“..People believe what they want to believe..”

Pada umumnya kita cenderung mencari apa yang kita sukai, membaca apa yang menarik bagi diri, dan memerhatikan hanya hal-hal yang sesuai dengan ketakjuban pribadi. Hal ini wajar dan alami, selama kita tetap ingin mendapatkan kebenaran dengan meneliti, menelaah, membandingkan, dan memburu kesahihan meski dari sumber-sumber yang tak sewarna.

Tapi bagaimana jika ternyata pihak-pihak yang amat kuat di dunia ini bersekutu untuk membawa kita hanya pada pembenaran, dan bukan kebenaran? Yakni bahwa mereka bekerja keras untuk menyajikan hanya hal-hal yang sesuai dengan preferensi kita saja, dan dengan saringannya membuang berbagai keterangan yang tak kita favoritkan meski sebenarnya amat kita perlukan?

“Perlu kita ketahui”, tulis Yunda Ika Karlina Idris dalam anggitannya yang dimuat Harian Kompas 23 Mei 2016 bertajuk ‘Internet dan Ancaman Polarisasi Opini’, “Google dan Facebook sebagai mesin pencari dan situs jejaring sosial paling populer memiliki sistem rekomendasi yang menyesuaikan dengan perilaku berinternet kita.”

“Pada tahun 2011”, lanjut beliau, “Eli Pariser, seorang penggiat kampanye daring, dalam bukunya The Filter Bubble: What the Internet Is Hiding from You, menuliskan bahwa Google dan Facebook melakukan personalisasi informasi dalam sistem rekomendasi mereka. Setiap pencarian informasi di Google akan tercatat, setiap interaksi dan perubahan profil di Facebook akan tercatat. Nantinya, catatan inilah yang digunakan dalam merekomendasikan sebuah informasi. Pariser pernah menguji dengan cara meminta teman-temannya memasukkan kata yang sama di Google dan ternyata hasil yang diberikan mesin pencari tersebut berbeda ke setiap orang. Dengan kata lain, Google dan Facebook menciptakan gelembung informasi yang berbeda pada tiap penggunanya.”

Betapa berbahaya
Karena dengan demikian, sesungguhnya informasi, kabar, berita, dan pengetahuan yang akan kita asup memang hanya itu-itu saja, hanya yang meneguhkan pilihan kita, hanya yang mengokohkan sikap yang sudah kita ambil sejak semula. Subjektivitas kita dikuatkan habis-habisan dan objektivitas kita kian dicekik. Kita digiring menuju sebuah kutub ekstrem yang, -sayangnya-, memang kita syahwatkan.

Pada pemilihan Presiden Republik Indonesia tahun 2014 misalnya, mereka yang sejak awal memilih menjadi Prabowo Lover sekaligus Jokowi Hater akan terus digerojok tautan yang kian meneguhkan cinta dan benci itu, hingga menolak untuk mengakui bahwa di pihak seberangpun masih ada kebaikan. Sebaliknya, mereka yang sejak semua memproklamasikan diri sebagai Pro-Jokowi dan Anti-Prabowo juga akan dibanjiri berbagai rekomendasi artikel yang semakin membabibutakan pembelaannya dan menafikan sama sekali adanya keutamaan di pihak lawan.

Betapa berbahaya. Ia bisa membawa anak bangsa ini terkutubkan ke dua ekstrem yang saling berhadapan.

Tapi ia kian berbahaya jika terjadi dalam perilaku beragama dan bahkan berdakwah kita, para muballigh, dan para penyimaknya.

Dan janganlah kalian termasuk orang yang menyekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan adalah mereka bergolong-golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga hanya dengan apa yang ada pada golongannya.” (QS Ar Ruum [30]: 31-32)

“Yakni”, catat Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya, “Janganlah kalian menjadi seperti orang-orang musyrik yang memecah belah agama mereka dengan cara mengganti, mengubah, serta mengimani sebagian dan mengingkari yang lainnya.” “Maka”, simpul Ibn Taimiyah yang termaktub dalam kitab Dar’ut Ta’arudh, “Tidak boleh bagi siapapun mengangkat orang dan mengajak umat ini untuk mengikuti pola hidup dan peraturannya, senang dan membenci karena dia selain Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan ijma’ Ulama Sunnah.”

Dulu kita mengira, “memecah belah agama” adalah soal yang besarnya sebesar konspirasi jahat, sebesar upaya-upaya sistematis dan terstruktur untuk menghancurkan ummat ini dengan berbagai strategi yang dahsyat. Dalam bayangan kita, pelakunya terasa jauh dan tak terjamah. Dalam benak kita, kita adalah selalunya korban.

Subhaanallaah. Bagaimana jika sebenarnya kita adalah juga pelaku?

Bagaimana jika “farraquu diinahum” juga meliputi “membagi-bagi agama” ketika kita menyampaikan Islam yang sempurna dan menyeluruh ini dalam tema-tema khusus lagi terbatas, yang lalu membuat para penyimaknya mengidentifikasi Islam sebagai hanya apa yang kita sampaikan? Wajah daridiin yang syamil dan kamil ini telah sedemikian rupa dibentuk secara unik oleh apa yang disampaikan para penyerunya.

Bukankah sebagian dari kita telah memilih tema tarbiyah dan perwujudannya dalam politik sebagai arus utama pemahaman Islam; sehingga meski di kalangan para ’ulamanya pemahaman tentang kemenyeluruhan dan kesempurnaan Islam tampaknya mapan, di tingkat terbawah ia seakan membawa kesan bahwa bagian terpenting dari Islam adalah bersiyasah?

Bukankah sebagian dari kita memilih tema khilafah sebagai jawaban final atas berbagai persoalan ummat; sehingga meski di kalangan para ‘ulamanya pemahaman tentang kemenyeluruhan dan kesempurnaan Islam tampaknya mapan, di tingkat terbawah ia seakan membawa kesan bahwa yang paling harus diperjuangkan dari Islam adalah khilafah?

Bukankah sebagian dari kita memilih tema sunnah dan bid’ah sebagai hal yang terus diulang untuk menyadarkan ummat; sehingga meski di kalangan para ‘ulamanya pemahaman tentang kemenyeluruhan dan kesempurnaan Islam tampaknya mapan, di tingkat terbawah ia seakan membawa kesan bahwa Islam ini hanya hendak mengeluarkan orang-orang yang belum menginsyafi kebid’ahan diri dari barisannya?

Bukankah sebagian dari kita memilih tema fadhilah ‘amal sebagai hal yang harus ditekankan di tiap perjalanan dakwah 4 bulanan; sehingga meski di kalangan para ‘ulamanya pemahaman tentang kemenyeluruhan dan kesempurnaan Islam tampaknya mapan, di tingkat terbawah ia seakan membawa kesan bahwa perjuangan Islam ini hanya absah ditegakkan dengan meninggalkan berbagai urusan dalam jangka waktu yang panjang?

Bukankah sebagian dari kita memilih tema Rukun Iman, Rukun Islam, dan Rukun Tetangga yang berupa Yasinan, Tahlilan, hingga Manaqiban dalam menjaga harmoni ummat; sehingga meski di kalangan para ‘ulamanya pemahaman tentang kemenyuluruhan dan kesempurnaan Islam tampaknya mapan, di tingkat terbawah ia seakan membawa kesan bahwa Islam ini hanya hendak melestarikan apa yang sudah ada dan tak hendak bergerak lebih gesit menghadapi tantangan?

Bahkan bukankah secara pribadi-pribadi sebagian kita memilih tema yang khusus semacam shadaqah hingga ummat menduga seluruh masalah mereka akan selesai dengannya, memilih tema tazkiyatun nafs hingga ummatpun mengira segala persoalan akan selesai dengan sendirinya dengan itu, memilih tema dzikir dan shalawat hingga ummatpun mengira semua persoalan dunia ini terjawab damai-damai dengannya?

Kutub-kutub pemahaman keagamaan kita ternyata jauh lebih banyak dibanding soal terekstremkannya masyarakat antara memilih Prabowo atau mendukung Jokowi, dan bahkan lebih pelik dalam soal saling mengelirukan dan menganggap pihaknya paling sempurna.

Bukan. Memang salahnya bukan pada pilihan tema seperti telah kita sebut di atas kiranya.

Pilihan tema tertentu, jika memang di sanalah keahlian kita bukanlah kesalahan. Pilihan tema tertentu, jika disebabkan yang kita lihat menjadi prioritas ummat adalah hal itu juga bukanlah kesalahan. Bahkan pilihan untuk berada dalam sebuah harakah dakwah yang memiliki gerakan spesifik di bidang garap tertentu barangkali juga bukanlah kesalahan, sebab kita memang perlu beramal jama’i untuk menjawab tantangan yang kian rumit. Mungkin yang salah bukan itu semua. Yang keliru adalah jika:

“..keadaan mereka bergolong-golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga hanya dengan apa yang ada pada golongannya.” (QS Ar Ruum [30]: 32)

Maka tulisan ini adalah muhasabah diri kami, dan ajakan evaluasi bagi para da’i penebar ilmu dan cahaya Allah. Adakah kita punya peran bagi keadaan ummat yang kian terkotak-kotak? Adakah kita punya andil dalam menyuburkan semangat “inilah Islam” dalam wajah sempit tapi dianggap sebagai yang sejati hingga ummatpun bergolongan-golongan dan setiap golongan bangga hanya dengan apa yang ada di dalam kelompoknya? Adakah kita selalu menyampaikan ayat yang mulia dan hadits yang suci dengan rasa hati dan nada bahasa “kitalah yang berada di atas jalan haq sedang yang selain kita bathil adanya”?

Bagi kita yang awam penyimak pun demikian, karena kita semua berkecenderungan melakukan cherry picking arguments. Sebagaimana orang pilih-pilih ketika memetik ceri, ini adalah kesalahan logika di mana kita membangun argumentasi hanya berdasar pendapat atau data yang menyokong apa yang telah kita pilih sebagai sikap dan kita klaim sebagai kebenaran, tanpa mempertimbangkan keseluruhan data atau pendapat lain yang sebenarnya sebagiannya membantah klaim tersebut. Saat mengajipun, pertimbangan pilih-pilih kita bukan soal manakah yang benar dan keliru, melainkah manakah yang cocok dengan preferensi.

Dan dunia maya, seperti telah kita uraikan dalam pengantar tulisan ini, adalah penyubur dahsyat bagi ‘perhujjahan memetik ceri’ yang kita lakukan itu. Sebab mereka punya perkebunan ceri yang amat besar dan telah serta terus pula dengan teliti mencatat selera kita atas ceri; warnanya, tingkat kemanisannya, derajat keasamannya, kadar vitamin, bahkan seberapa kandungan bakteri di dalamnya, dan tentu juga racunnya.

Google dan Facebook misalnya, adalah kebun ceri yang serba mengerti itu.

Maka inilah saatnya kembali kepada jalan para pendahulu ummat ini dalam memahami Diin. Dengan belajar yang tiada henti. Dengan membuka diri seluas-luasnya pada semua sumber ilmu meski berbeda madzhab, berbeda harakah, dan berbeda jama’ah dakwah. Dalam kelompok, kita ini seperti berada di ujung-ujung jari, semakin tekun mengaji pemahaman dengan kejujuran ilmiah, kita akan makin bergerak ke arah telapak tangan dan mengerti betapa sempurna dan menyeluruhnya Islam dengan Al Quran dan Sunnah menjadi panduan yang difahami secara luas dan dalam.

Maka perbedaan itu justru akan menjadi kekuatan jika kita mau saling belajar dan mengakui keutamaan yang lain; sebab mana ada yang menandingi amal agung ribuan kyai dengan jutaan santri di pondok pesantrennya, ribuan aktivis berkemajuan dengan aset-aset ‘amal usaha yang melayani ummat, kader-kader tarbiyah yang menggeluti bidang layanan kemanusiaan, pendidikan, dan politik, kader-kader khilafah yang menyadarkan ummat akan kebobrokan sistem jahiliah, kader-kader tabligh yang setia mengetuk pintu-pintu mengajak ummat meramaikan masjid, dan para asatidz dengan langkah strategis bersama jama’ah setianya yang terus bergerak membina bidang-bidang strategis?

Allahu Akbar. Inilah potensi kebangkitan ummat yang tiada tara.

Maka kita harus menjaganya agar tetap menjadi potensi kebangkitan, bukan celah syaithan menuju kehancuran. Sebab sungguh peringatan ayat-ayat dalam Surat Ar Ruum ini berat, yakni agar kita tak mengikuti jalan kemusyrikan.

Mengakui Kesalahan

Barangkali kita masih harus bersyukur, ketika kita melakukan kesalahan dan kita sadar, kita tahu kita salah. Lantas kita pun menyesal. Ada beban, himpitan yang terasa di dalam dada. Ada kesempitan yang terasa yang kemudian berbuah perbaikan atas kesalahan yang telah dilakukan.

Sebab kita adalah manusia, yang tercipta dengan tabiat salah dan lupa. Maka sebaik-baik yang bersalah adalah yang bertaubat dan melakukan perbaikan. Maka kita pun meminta kepada Allah agar Ia karuniakan hati yang bersih, yang tersadar ketika bersalah, yang mudah diingatkan, mudah dinasihati. Hati yang mudah kembali kepada-Nya.

Ustadz Aan Chandra Thalib pernah memberikan nasihat dalam status facebooknya.
“Separoh hidup ini adalah nikmat, separohnya lagi adalah ujian, di antara keduanya itu manusia memetik pahala atau menuai dosa.
Nikmat membutuhkan syukur, ujian membutuhkan kesabaran, sementara dosa membutuhkan taubat.
Bila ketiga hal tersebut terkumpul pada diri seorang mukmin, dia pasti meraih bahagia.”

Maka inilah agama yang sempurna. Yang mengajarkan kita agar selalu berhati-hati. Bahwa tidak ada yang menjamin keselamatan kita, kecuali bila kita telah meninggal dalam keadaan beriman.

Inilah agama yang sempurna. Yang mengajarkan kita agar tidak takjub dan bangga dengan amal ibadah. Pun tidak tenggelam dalam lautan putus asa kala terjatuh ke dalam dosa. Bahwa selama pintu taubat masih terbuka, maka mari berlomba untuk sebuah akhir yang indah.

Penyambung Kebaikan

Pernah suatu kali, ketika saya sedang duduk di ruangan ada seorang teman yang lewat di koridor, lantas ia menoleh pada saya, “Ayo, sudah ashar.”, katanya. “Iya kak.”, jawab saya waktu itu.

“Diajak ko sholat itu tadi?”, seorang teman di ruangan saya bertanya memastikan. “Iya.”, jawab saya kemudian.

“Enaknya ya,. ada yang ngingetin sholat.”, lanjutnya. Iya, kakak yang tadi cuma ngajak saya aja. Kan teman saya yang nanya ini perempuan, jadi dia ngga diajak juga biar sholat ke masjid.

Tapi bener, kadang hal-hal yang mungkin kita anggap sepele, sekedar ajakan satu dua kata, namun dampaknya tidak sederhana. Ia yang mungkin awalnya sibuk dengan pekerjaan, sampai lupa sudah tiba waktunya sholat, tidak sempat mendengar sayup suara adzan. Lalu ada teman yang mengingatkan, baru kemudian, “Oiya, sudah waktunya sholat.” 🙂

Ya,. maka jangan pelit. Jangan pelit untuk sekedar menampilkan wajah yang ceria. Jangan pelit untuk mengajak teman dalam kebaikan dengan kalimat-kalimat sederhana. Mulai dari hal-hal yang kecil, hal-hal dalam keseharian, kebaikan-kebaikan yang mungkin luput dari perhatian.

Mengapa? Karena banyak diantara saudara-saudara kita yang menanti uluran tangan. Mereka yang hatinya condong pada kebaikan, namun bingung kemana harus merealisasikan. Yang tidak tahu, apa-apa yang harus didahulukan.

Maka jadilah para penyambung kebaikan. Karena dakwah tidak harus lewat mimbar, tidak harus jadi ustadz juga tidak harus lewat pengajian. Sampaikan dakwah sebagai seorang saudara yang sama-sama mau berbenah. Yang sebagaimana ingin dirinya jadi lebih baik, ia inginkan yang demikian juga bagi saudaranya.

Semoga Allah selalu menjaga kita dalam kebaikan, mempertemukan kita dengan orang-orang yang baik, meletakkan kita di lingkungan yang baik. Meski baik bukan berarti yang sempurna tanpa cela, namun yang mau berusaha untuk terus berbenah.