Manusia, Makhluk Dinamis

Dulu aku bertanya-tanya, bagaimana kiranya bisa kita membenci perbuatan seseorang, namun tetap mencintai orangnya. Hingga aku tersadar, bahwa hal tersebut telah lama aku lakukan pada seseorang. Terkadang aku begitu membenci apa yang dilakukannya, namun di saat yang sama aku juga begitu menyayanginya, berharap yang lebih baik untuknya, sangat berharap agar ia bisa berubah. Ya, seseorang itu adalah diriku sendiri.

Mengharapkan kebaikan, barangkali itulah definisi cinta. Seorang ibu, pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Seorang ayah, pasti ingin yang terbaik untuk keluarganya, pasti berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk mereka.

Tentang judul di atas, bahwa manusia adalah makhluk dinamis, senantiasa berubah. Tersebab memang dari asalnya, hati kita senantiasa berbolak-balik. Ditambah lagi dengan beragam aktivitas yang kita lakukan, dengan siapa kita berteman, dengan siapa kita menghabiskan banyak waktu, buku-buku apa yang kita baca, bagaimana kita membentuk kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan setiap harinya.

Tidak ada perubahan besar bila tidak diawali dari yang kecil. Ingin jadi lebih baik, maka mari kita ubah sedikit demi sedikit keseharian kita untuk jadi lebih positif. Semangat. 😀

Menyadari bahwa kita adalah makhluk dinamis menjaga kita agar tidak putus asa ketika melakukan kesalahan. Bahwa hal yang baik, kesempatan untuk melakukan perbaikan itu selalu terbuka selama nafas kita masih ada. Pun demikian ketika sudah melakukan kebaikan, kita tidak lantas berpuas diri, namun bersyukur bahwa Allah memampukan kita untuk melakukannya. Juga berdoa, agar selalu dijaga dalam kebaikan, diistiqamahkan.

Selain itu, juga untuk menjaga sikap kita pada sesama. Keluarga, teman, sahabat, dan semuanya. Senantiasa mengharapkan kebaikan untuk mereka, mendoakan kebaikan untuk mereka. Ikut bahagia ketika berkah dan kebaikan menghampiri, juga ikut merasa hal yang sama ketika mereka dirundung musibah.

Tidak ada manusia yang sempurna. Maka semoga dengan mensyukuri kebaikan-kebaikan yang sudah ada pada mereka, Allah karuniakan nikmat berupa berkah dan kebaikan untuk kita semua. Pada keluarga, teman, juga masyarakat kita.

image
termasuk teman hidup ya 😀

Bentar-bentar, kok termasuk teman hidup? Iya benar, tidak ada yang sempurna. Maka perlu bagi kita untuk menentukan prioritas. Mana hal-hal yang benar-benar penting dan utama yang harus ada, juga mana hal-hal yang harus bisa kita terima untuk kemudian kita bisa belajar sama-sama. Kok bahasannya jadi kesini ya, ya gitulah maksudnya :mrgreen:

Nih saya kasih lagi wejangan buat kita menentukan prioritas.

image
ini ya.. 🙂

Kalau kata Ustadz Salim A Fillah dulu, lihat bagaimana hubungannya dengan empat hal. Hubungan dengan Allah, dengan kedua orangtua, dengan teman-temannya, dan dengan anak kecil. Ada juga yang menambahkan, bagaimana amanahnya terhadap muamalah yang berhubungan dengan harta.

Sekian, terimakasih sudah membaca. Tentang makhluk dinamis, semoga kita selalu bisa berusaha untuk jadi lebih baik. 🙂

Iklan

Di Sini

pada kerlip gemintang yang memukau
cahaya yang jauh namun teduh
diam dan menenangkan

pada semilir angin yang memberisik pelan
terkadang membawa butiran air yang membasah
atau hanya hawa dingin yang menyegarkan mata
membuatnya terjaga menyambut fajar tiba

pada cahaya keemasan yang membelai hangat
lembut menyapa siapapun yang menyambutnya
ranting, dedaunan
bunga-bunga yang bermekaran
juga burung-burung kecil yang riang berkejaran
ah, indahnya

tapi itu di sana
di sini
sepi

Bersaudara Meski Tak Sewarna

Saya masih ingat dulu ketika SMP, saat itu kami akan melakukan praktik sholat yang merupakan salah satu materi dalam mata pelajaran agama islam. Saat itu ketika berbincang dengan salah seorang teman, dia mengatakan kalau ada yang berbeda dari tata cara sholat yang kami lakukan. Dia mencontohkan doa iftitah, lalu saya minta dia membacakan doa iftitah ‘versi’ dia yang ternyata memang berbeda dan sama sekali belum saya dengar sebelumnya.

Teman saya ini memang lulusan MI Muhammadiyah, sedangkan saya secara lingkungan, baik ketika belajar di guru ngaji di masjid maupun di sekolah sebelumnya, adalah Nahdlatul Ulama alias NU. Teman saya waktu itu pun praktik sholat dengan melafalkan bacaan-bacaan sholat sebagaimana yang dia pelajari. Guru agama kami pun tidak mempermasalahkannya. Saat itu saya hanya berpikir, ya memang saya belajarnya begini, dia belajarnya begitu, makanya beda. Yang jelas, baik guru saya maupun guru dia pasti punya pegangan dan dasar tentang apa yang diajarkan ini.

Tahun demi tahun pun berlalu, hingga hari ini ternyata dari sedikit yang saya tahu, memang agama islam ini begitu luas. Beberapa kali ketika membaca di kolom konsultasi syariah di rumah fiqih indonesia, ternyata memang hampir di semua hal yang bersifat cabang (bukan pokok) ada pendapat yang berbeda di kalangan ulama. Dan para ulama pun sepakat bahwa perbedaan-perbedaan itu adalah hal yang diperbolehkan.

Adalah Umar bin Abdul Aziz yang diceritakan begitu gembira ketika mendapati para sahabat Nabi berlainan pendapat tentang sebuah perkara. Alasannya? karena dengan demikian, umat memiliki keluasan pilihan, juga kemudahan yang mungkin disesuaikan dengan kondisi dan keadaan. Alhamdulillah, betapa islam adalah agama yang mudah.

Satu hal yang saya garis bawahi tadi, bahwa berbeda bukan berarti salah. Sederhana, karena kita belajarnya begini, dan saudara kita belajarnya begitu. Maka kita amalkan yang kita pelajari, saudara kita pun mengamalkan yang dipelajarinya. InsyaAllah masing-masing Ustadz yang mengajarkan punya dasar dan pegangan. Maka sebagai muslim, pun wajib bagi kita untuk terus belajar dan belajar. Karena terlalu banyak hal yang kita tidak tahu, yang itu penting dan kita butuhkan untuk bekal kehidupan kita.

Ada perbedaan yang hanya memberi warna dan bukan sebab terpecah. Maka sebagai orang yang jauh dari kata faqih, mari kita tahan lisan kita dari mengomentari apa yang bukan menjadi keahlian kita. Karena apa yang kita tahu barangkali hanya dari satu sisi, satu rujukan sedang saudara kita memiliki rujukan yang lain. Jangan mudah mencap salah, mengatakan bid’ah karena bisa jadi ada begitu banyak pembahasan ulama yang mungkin memang tidak satu kata.

Berbeda itu bukan cela, namun berpecah tentu musibah. Ketika kita dapati hari ini, lisan kita terlalu ringan untuk berkomentar, bahkan mendebat dan saling menyalahkan. Padahal faqih bukan, ahli ilmu apalagi, hafal satu hadits sanad beserta matannya dalam bahasa arab saja tidak. Mari menyadari posisi, sebagai penuntut ilmu maka bersikaplah sebagai penuntut ilmu, bukan sebagai ulama. Arahkan semangat untuk beragama itu dengan belajar sebanyak-banyaknya. Bukan mendebat dan menyalahkan dengan selantang-lantangnya.

Menjaga ukhuwah, hal yang utama. Janganlah kita salah prioritas, meributkan hal-hal yang remeh temeh namun justru mengabaikan hal yang begitu penting dan utama, yakni persatuan umat. Betapa kita rasakan umat ini yang kian terkotak, kian tersekat. Semoga Allah lembutkan hati-hati kita untuk menjadi hamba-Nya yang bersaudara. Yang saling menjaga dan mendoakan, saling menasihati dalam kebaikan.

Di sini pun saya rasakan hal yang sama, ketika menghadiri pengajian, tabligh akbar misalnya. Ketika saya dapati secara penampilan, saudara-saudara saya di sini mungkin agak berbeda. Yang laki-laki kebanyakan mengenakan celana di atas mata kaki, begitu juga dengan istri-istri mereka, kebanyakan berpakaian warna gelap atau juga mengenakan cadar. Berbeda? iya, tapi bukan masalah. Begitulah yang mereka pelajari, yang mereka yakini keutamaannya. Dan kita pun tahu, bahwa yang sunnah akan tetap menjadi sunnah. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita tetap terikat sebagai saudara, saling menghormati, saling mendoakan dan mengharapkan kebaikan bagi saudara kita. Karena bersaudara tak mesti sewarna.

Semoga Allah persatukan hati-hati kaum muslimin. Semoga Allah jaga kaum muslimin. Semoga Allah balas makar mereka yang berusaha memecah belah kaum muslimin. Semoga Allah balas mereka yang berniat jahat pada kaum muslimin.

Terakhir, izinkan saya menuliskan kembali hal yang semoga menjadi pengingat bagi kita, khususnya saya sendiri. Bahwa mungkin kita memiliki peran yang berbeda, juga fokus yang berbeda. Namun bukankah itu berarti kita dapat saling melengkapi?

belajar memahami
belajar rukun
belajar melihat secara utuh
bahwa kita adalah umat yang satu
bahwa mukmin itu bersaudara
bahkan ibarat satu tubuh
adapun bila ada peran yang berbeda, barangkali memang disanalah Allah lebih memberi kemampuan untuk berkhidmah

Ucapkan Alhamdulillah

Alhamdulillah..
Menjadi kritis dan bersemangat untuk melakukan perbaikan adalah sebuah sikap hidup yang baik sekali. Bagaimana Nabi Ibrahim alaihissalam yang begitu kritis pada ayahnya, juga masyarakatnya. Dan kitapun tahu, bagaimana pula mulianya akhlak beliau pada sang ayah, meski beliau sungguh sangat mengkritisinya.

Alhamdulillah, mari kita bersyukur dengan segala karunia dan kebaikan yang Allah berikan kepada kita, keluarga juga lingkungan masyarakat kita. Dengan bersyukurnya kita, semoga Allah menambah kebaikan dan keberkahan di setiap lini kehidupan kita, insyaAllah 🙂

Tentang jilbab misalnya. Saya masih ingat sekali waktu saya masih SD, kemudian SMP, jilbab atau kerudung belum bertebaran seperti sekarang. Padahal itu bukan puluhan tahun yang lalu, baru kemaren rasanya, sekitar 10 tahun ke belakang. Saya dulu sekolah di SD negeri, SMP juga negeri. Ketika SD, tidak ada siswi yang pake jilbab seingat saya. Paling ketika kegiatan keagamaan, atau ketika pondok ramadhan dan semisalnya. SMP pun tidak jauh beda, di kelas 1 misalnya, saya dulu sekelas 40 orang, hampir separuhnya perempuan dan yang memakai jilbab hanya seorang saja. Saya dulu bahkan ketika SMP masih memakai celana pendek. Iya, serius. 😀

Namun alhamdulillah, di generasi adik saya sudah ada perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik. Alhamdulillah 🙂 Ketika SD, adik saya yang laki-laki sudah mengenakan celana panjang. Adik saya yang perempuan juga gitu, bahkan sejak TK sudah diajarkan memakai pakaian yang sopan, seragam TK-nya juga sudah pake jilbab. Alhamdulillah 🙂

Kita berdoa semoga negara kita ini semakin hari semakin baik. Baik masyarakatnya, baik pemimpinnya, juga baik pegawai-pegawai yang bertugas melayani masyarakatnya. Indonesia memang tidak sempurna, namun sungguh kita harus mensyukurinya. Adzan-adzan yang menggema berkumandang dimana-mana sebagai panggilan sholat, masjid-masjid yang bertebaran dimana-mana. Belum lagi alhamdulillah kita dikaruniai negeri yang damai, aman dan juga memberikan kebebasan untuk beribadah dengan sebaik-baiknya.

Di kantor-kantor pemerintahan pun juga demikian. Rapat yang dihentikan dan ditunda kala adzan berkumandang insyaAllah sudah banyak diterapkan. Alhamdulillah, alhamdulillahi alladzii bini’matihi tatimmus shaalihaat. 🙂

Ketika idul fitri kemarin pun demikian. Lebaran yang identik dengan baju baru juga diwarnai dengan busana-busana muslimah yang sopan dan terlihat adem. Dari mulai anak-anak kecil pun sudah dipakaikan baju-baju panjang lengkap dengan kerudungnya. InsyaAllah semangat untuk belajar lebih baik lagi semakin meningkat di masyarakat kita. Alhamdulillah 🙂

Kita bersyukur namun juga tetap berusaha terus belajar dan belajar lagi. Bahwa banyak perkara dalam agama kita ini yang kita belum tahu. Semoga kita selalu diberikan hidayah dan istiqomah untuk bisa terus belajar dan memperbaiki diri. Semoga juga negeri kita Indonesia senantiasa mendapat rahmat dan keberkahan sehingga menjadi negeri yang penuh dengan kebaikan. Aamiin 🙂

Tugas Belajar, Belum Rezeki Tahun Ini

Kembali menjadi mahasiswa, melanjutkan kuliah tanpa diberikan lagi tanggungjawab beragam tugas kantor tentu menjadi impian tersendiri bagi kami-kami para lulusan STAN. Apalagi bagi kami yang lulusan D I, melanjutkan pendidikan ke jenjang D III dibawah naungan almamater yang sama pastinya menjadi sebuah harapan serta hal yang dicita-citakan. Ini juga yang saya rasakan beberapa waktu yang lalu ketika dibuka penerimaan mahasiswa tugas belajar di instansi kami, kementerian keuangan.

Sedikit cerita, di DJP khususnya, kami mengenal 2 sarana yang bisa digunakan untuk melanjutkan pendidikan. Tugas Belajar dan Ijin Belajar. Perbedaan keduanya adalah pada Tugas Belajar, kita sudah tidak lagi masuk kantor dan hanya belajar saja, kembali menjadi mahasiswa. Adapun ketika ijin belajar, tidak ada yang berubah pada aktifitas dan tanggungjawab kita di kantor. Hanya menambah kegiatan untuk kuliah, disyaratkan kuliah malam selepas pulang kantor, nanti perkembangan kuliah dan hasilnya akan dilaporkan secara berkala lewat kepegawaian.

Satu hal juga yang menjadi semacam magnet mengapa tugas belajar menjadi idaman, adalah karena setelah lulus dari sana, akan ada penempatan ulang tempat kerja. Jadi tidak mesti kembali ke kantor asal. Maka sudah dipastikan, bagi mereka-mereka yang penempatannya jauh dari kampung halaman, tugas belajar ini seakan menjadi angin segar untuk mencoba peruntungan dengan dengan dua kelebihan sekaligus: meng-upgrade pendidikan dan juga penempatan ulang.

Oh, satu hal juga yang menjadi kelebihan tugas belajar dibandingkan ijin belajar adalah setelah lulus dari tugas belajar, pangkat dan jabatan pegawai akan langsung menyesuaikan. Jadi misalnya saya yang golongan IIa ikut tugas belajar D III Khusus, maka ketika lulus nanti pangkat dan golongan saya otomatis berubah menjadi IIc. Berbeda dengan ijin belajar yang ‘hanya’ meng-upgrade pendidikan terakhir saja, pangkat dan jabatan tidak berubah kecuali kalau nanti ikut ujian penyesuaian kenaikan pangkat (UPKP) yang itupun sangat ketat dan tidak mudah.

Ok, saya sekedar mau cerita saja tentang seleksi mahasiswa tugas belajar yang beberapa waktu lalu saya ikuti. Sebagai pegawai baru yang tinggal di seberang pulau, terpisah samudera dengan keluarga nun jauh di sana. Halah, lebay.. 😀 Ya intinya dengan berbagai pertimbangan yang ada, meliputi: keinginan untuk kembali belajar yang cukup besar, lokasi kantor sekarang yang jauh dari kampung halaman, take home pay nanti akan dipotong ketika tugas belajar tapi insya Allah tetap cukup untuk kebutuhan saya, dan kesempatan tugas belajar yang hanya bisa saya dapatkan 2 kali (ini pun kalau ada pendaftaran), akhirnya saya putuskan untuk ikut mendaftar. Bismillah.

Sebagai persiapan, saya juga mulai buka-buka buku TPA, latihan soal serta mempelajari soal-soal seleksi penerimaan tugas belajar tahun-tahun sebelumnya. Tidak lupa juga, buka-buka lagi materi-materi bahasa inggris yang sebagian besarnya sudah pada lupa. Haha 😆 Teman-teman seangkatan juga terlihat antusias menyambut pendaftaran tugas belajar kala itu. Kalau dilihat-lihat sih, hampir semua teman seangkatan saya ikut mendaftar, kecuali ada beberapa kelompok. Pertama, mereka yang sudah nyaman berada di kantor sekarang dan tidak ingin penempatan ulang. Misalnya, lokasi kantor berada di kampung halaman (kami biasa menyebutnya homebase) atau tidak jauh dari homebase. Kedua, ada beberapa teman perempuan yang sudah menikah dan tentu tidak mau berpisah dengan keluarganya. Termasuk dalam hal ini pun, laki-laki. Misalnya istri/suami bekerja di daerah kantor yang sekarang dan tidak menginginkan harus menempuh ldm (long distance marriage) bila ikut tugas belajar.

Alhamdulillah, tibalah saatnya bagi saya untuk ujian tulis kala itu. Ujian tulis ini dilaksanakan sekitar akhir bulan Mei. Materi yang diujikan cukup sederhana, hanya tes potensi akademik (TPA) dan bahasa inggris saja. Alhamdulillah bisa dilalui dengan baik. Tiba waktunya pengumuman seleksi, alhamdulillah nama saya muncul, saya lulus tes pertama. Para peserta yang lulus tes pertama ini akan menjalani tes berikutnya (sekaligus tes terakhir) pada akhir juni, beberapa hari sebelum libur hari raya kala itu.

Tidak banyak persiapan yang dilakukan, karena menurut saya Psikotes ya seperti itu macamnya. Ya belajar dikit-dikit untuk menggambar, termasuk latihan juga tes Wartegg yang melanjutkan gambar di 8 kotak itu. Kemudian coba-coba juga tes Pauli atau yang populer dengan sebutan tes koran, melakukan penghitungan pada kolom-kolom berisi angka satuan. Alhamdulillah, tes dapat dilalui dengan baik. Tidak lama setelah itu, pulang libur lebaran dan menikmati suasana berkumpul dengan keluarga.

Beberapa waktu yang lalu, 8 Agustus 2016 pengumuman final penerimaan mahasiswa tugas belajar STAN muncul. Di beberapa grup WhatsApp ada yang share file pengumuman ini. Sebelum buka pengumuman sudah ada yang memberi kabar sih kalau nama saya tidak ada. Tapi ya tetap saya buka saja, sekalian lihat siapa-siapa diantara teman-teman saya yang diterima. Iya, benar tidak ada nama saya. Sedih? pasti lah ya, ya kan saya juga punya harapan bisa melanjutkan kuliah di sana. Tapi over all, ya Alhamdulillah, insyaAllah ini yang terbaik bagi saya dan juga bagi teman-teman saya semuanya.

Saya juga ikut senang karena beberapa teman yang saya kenal berhasil diterima, termasuk juga teman sekamar kost waktu dulu di Manado. Alhamdulillah, semoga bisa nyusul tahun depan (dan semoga ada penerimaan tugas belajar lagi). Tetap semangat dan berusaha stay positive. Yang jelas dan harus diyakini, bahwa apapun yang terjadi saat ini pastilah anugerah yang terbaik. Terlalu banyak hal yang tidak kita tahu, jadi ya husnudzan saja. Semua sudah ada rizkinya masing-masing, insyaAllah saya ada rizki yang lain tahun ini. :mrgreen: Eh, ya maksudnya kalau kita hitung nikmat dan rizki yang Allah berikan kan banyak sekali ya. Bahkan ngga terhitung, gitu maksudnya. 😀

Satu hal yang ingin saya bagi tentang pekerjaan, kuliah atau apapun itu yang kita dapatkan saat ini. Syukuri, cintai dan tekuni. Kemudian tersenyumlah dan ucapkan Alhamdulillah 🙂