Mensyukurimu

Aku masih teringat di awal masa kuliah dulu ayah sering berpesan, “Kamu di situ sendiri, semuanya diatur sendiri. Kamu mau jadi apapun, ya itu kamu yang tentukan. Ayah sama ibu di sini hanya bisa mendoakan, semoga kamu baik-baik di sana, selalu dijaga.”

Tahukah kamu, mendapatkan pesan seperti itu rasanya membuat tingkat kedewasaan ini naik selevel lebih tinggi. Menyadari bahwa ada yang begitu menyayangi, ada yang begitu mengharapkan diri ini untuk berhasil. Maka satu yang kemudian menjadi tekad dalam diri, bahwa aku tidak boleh mengecewakan mereka. Bahwa aku harus berusaha sebaik-baiknya.

Mendapatkan kepercayaan, adalah sesuatu yang harus dijaga dan dipertanggungjawabkan. Bahwa ada sesal yang lebih ketika aku kembali terjatuh dalam kesalahan. Juga ada semangat yang berlipat buatku untuk meraih hal-hal yang membanggakan.

Tiba-tiba, perasaan itu kembali hadir. Ketika sebelumnya aku sempat mengatakan bahwa masih ada kekhawatiran yang terkadang muncul. Kekhawatiran untuk mengemban tanggungjawab yang besar. Dan kamu, kemudian dengan tenang menyampaikan bahwa kita adalah dua orang yang sama-sama dewasa. Mengerti apa yang harus dilakukan, juga apa yang seharusnya tidak dilakukan. Bahwa aku bisa berusaha dengan sebaik-baiknya.

Iklan

Di Sini

pada kerlip gemintang yang memukau
cahaya yang jauh namun teduh
diam dan menenangkan

pada semilir angin yang memberisik pelan
terkadang membawa butiran air yang membasah
atau hanya hawa dingin yang menyegarkan mata
membuatnya terjaga menyambut fajar tiba

pada cahaya keemasan yang membelai hangat
lembut menyapa siapapun yang menyambutnya
ranting, dedaunan
bunga-bunga yang bermekaran
juga burung-burung kecil yang riang berkejaran
ah, indahnya

tapi itu di sana
di sini
sepi

Ucapkan Alhamdulillah

Alhamdulillah..
Menjadi kritis dan bersemangat untuk melakukan perbaikan adalah sebuah sikap hidup yang baik sekali. Bagaimana Nabi Ibrahim alaihissalam yang begitu kritis pada ayahnya, juga masyarakatnya. Dan kitapun tahu, bagaimana pula mulianya akhlak beliau pada sang ayah, meski beliau sungguh sangat mengkritisinya.

Alhamdulillah, mari kita bersyukur dengan segala karunia dan kebaikan yang Allah berikan kepada kita, keluarga juga lingkungan masyarakat kita. Dengan bersyukurnya kita, semoga Allah menambah kebaikan dan keberkahan di setiap lini kehidupan kita, insyaAllah 🙂

Tentang jilbab misalnya. Saya masih ingat sekali waktu saya masih SD, kemudian SMP, jilbab atau kerudung belum bertebaran seperti sekarang. Padahal itu bukan puluhan tahun yang lalu, baru kemaren rasanya, sekitar 10 tahun ke belakang. Saya dulu sekolah di SD negeri, SMP juga negeri. Ketika SD, tidak ada siswi yang pake jilbab seingat saya. Paling ketika kegiatan keagamaan, atau ketika pondok ramadhan dan semisalnya. SMP pun tidak jauh beda, di kelas 1 misalnya, saya dulu sekelas 40 orang, hampir separuhnya perempuan dan yang memakai jilbab hanya seorang saja. Saya dulu bahkan ketika SMP masih memakai celana pendek. Iya, serius. 😀

Namun alhamdulillah, di generasi adik saya sudah ada perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik. Alhamdulillah 🙂 Ketika SD, adik saya yang laki-laki sudah mengenakan celana panjang. Adik saya yang perempuan juga gitu, bahkan sejak TK sudah diajarkan memakai pakaian yang sopan, seragam TK-nya juga sudah pake jilbab. Alhamdulillah 🙂

Kita berdoa semoga negara kita ini semakin hari semakin baik. Baik masyarakatnya, baik pemimpinnya, juga baik pegawai-pegawai yang bertugas melayani masyarakatnya. Indonesia memang tidak sempurna, namun sungguh kita harus mensyukurinya. Adzan-adzan yang menggema berkumandang dimana-mana sebagai panggilan sholat, masjid-masjid yang bertebaran dimana-mana. Belum lagi alhamdulillah kita dikaruniai negeri yang damai, aman dan juga memberikan kebebasan untuk beribadah dengan sebaik-baiknya.

Di kantor-kantor pemerintahan pun juga demikian. Rapat yang dihentikan dan ditunda kala adzan berkumandang insyaAllah sudah banyak diterapkan. Alhamdulillah, alhamdulillahi alladzii bini’matihi tatimmus shaalihaat. 🙂

Ketika idul fitri kemarin pun demikian. Lebaran yang identik dengan baju baru juga diwarnai dengan busana-busana muslimah yang sopan dan terlihat adem. Dari mulai anak-anak kecil pun sudah dipakaikan baju-baju panjang lengkap dengan kerudungnya. InsyaAllah semangat untuk belajar lebih baik lagi semakin meningkat di masyarakat kita. Alhamdulillah 🙂

Kita bersyukur namun juga tetap berusaha terus belajar dan belajar lagi. Bahwa banyak perkara dalam agama kita ini yang kita belum tahu. Semoga kita selalu diberikan hidayah dan istiqomah untuk bisa terus belajar dan memperbaiki diri. Semoga juga negeri kita Indonesia senantiasa mendapat rahmat dan keberkahan sehingga menjadi negeri yang penuh dengan kebaikan. Aamiin 🙂

Tanpa Visi

Sejenak terpikir betapa pentingnya sebuah visi, sebuah tujuan. Ketika bersekolah dulu, tujuannya untuk belajar agar bisa lulus serta mendapatkan prestasi akademik yang bagus. Di sini kita bisa melihat, lain tujuan lain pula upayanya. Ada yang sekolah ya cuma sekedarnya, rutinitas harian biasa, yang penting nanti lulus. Ada lagi yang punya tujuan lebih, sekolah untuk benar-benar belajar, mencari ilmu, meluaskan wawasan dan interaksi pertemanan. Banyak mengambil kegiatan ekstra untuk menambah keterampilan dan pengalaman. Kesibukannya beda.

Saya dulu bukan termasuk aktivis sekolah (siswa yang aktif banget dan banyak kegiatannya). Ektra kurikuler juga ngga ikut, sempat ikut beladiri tapi tidak terlalu aktif juga, akhirnya vakum. Jadi ya sekolah biasa. Kalau belajarnya kadang saya belajar bareng sama teman-teman yang lain.

Apa ya? Memang beda sih hasilnya.Mereka yang cuma sekolah kayak saya dibanding teman-teman lain yang banyak sekali kegiatannya. Makanya saya sering bilang ke adik saya yang SMP biar dia banyak ambil kegiatan di sekolahnya. Kegiatan yang bermanfaat dan dia juga suka. Biar lelah asal bahagia. Tsaah, bijaksana banget yak. 😆

Jujur saya salut sama teman-teman yang banyak aktivitas. Waktunya habis untuk kegiatan yang bermanfaat. Apalagi kalau tidak hanya membawa kebaikan bagi diri sendiri, tapi juga bagi lingkungan sekitarnya. Semoga kita bisa belajar sama mereka 🙂

Pun demikian sekarang ketika sudah di dunia kerja. Kesibukan kita juga sangat ditentukan oleh tujuan dan apa-apa yang ingin kita raih. Apa ya? Rasanya rugi kalau cuma kerja tok, sekedar melaksanakan tugas, terus pulang kerja ya langsung ke rumah. Ngga ada yang ekstra. Tapi memang sih, saya kan jam pulang kerjanya jam lima sore. Itu juga seringnya malah saya baru pulang ke rumah habis maghrib, kadang habis isya juga. Tapi nanti kalau sudah ada adek ya ngga gitu, jam lima aku langsung pulang. Halah, ngomong apa ini. Haha 😀 Males aja sih, kan masih macet juga jalanan. Kalau pas lagi rajin sih saya olahraga lari, sayang rajinnya jarang. Atau kadang pas jadwalnya main bulutangkis, ya bulutangkis dulu agak malam baru pulang.

Kegiatan ekstra itu kan pilihan ya. Dilakukan boleh, ngga juga gapapa, tapi rugi. Makanya memang kadang harus dipaksa. Baca buku aja misalnya, seringnya malas mengawali padahal bukunya bagus dan bermanfaat. Atau kadang juga mandek di tengah jalan, biasanya yang bukunya tebal. Tapi lain kalau novel, maunya cepet-cepet soalnya penasaran. Hehe.

Tapi yang jelas, harus lebih bisa memanfaatkan waktu. Mengisinya dengan kegiatan-kegiatan positif. Biar lelah sekalian ngga papa, daripada waktu kosong percuma. Tekuni hobi, selami hal-hal yang menarik minat. Syukur bila bisa berbagi manfaat.

Nulis ini soalnya lagi kangen ngajar. Sempat dulu waktu selesai lulus saya di rumah ngajar adik saya dan teman-temannya yang masih SD. Senang lihat mereka mencerna penjelasan, lalu antusias bertanya. Kadang juga di luar materi. Mungkin bagi mereka orang dewasa itu tahu segalanya. Ada beberapa juga yang semangat bercerita, tentang apa saja. Ada lagi yang pendiam, suka menyimak dan mendengarkan. Ah, istimewa memang.

Antara Kita

image

Aku tidak tahu
Apakah kesalahan termasuk juga bagian dari takdir-Mu
yang aku tahu
apapun yang terjadi padaku, itulah yang terbaik untukku
pembelajaran
akan kesalahan yang berulang

hanya saja aku takut
akan harapan
lebih tepatnya angan-angan yang terlalu panjang
aku takut

aku tahu
Kau tak pernah meninggalkanku
mungkin aku yang perlahan menjauhi-Mu

menemukan diriku sendiri
seperti berada di persimpangan jalan yang begitu ramai
bersiap akan melangkahkan kaki

Engkaulah yang menguasai segalanya
dan aku tidak punya apa-apa
tolonglah hamba
agar tidak tersesat ke jalan yang salah