Jual Komik Pengen Jadi Baik 123 Makassar (Sulawesi – Indonesia Timur)

Apa kabar teman-teman? Mudah-mudahan semuanya sehat wal afiat, aamiin.

Sudah lama ngga buka wordpress, hehe. Sejak postingan saya yang terakhir tentang pernikahan saya dengan adinda,. uhuk :mrgreen: kayaknya memang sudah jarang buka wordpress. Hanya sesekali lihat sekilas di news feed, beberapa juga saya baca tulisan teman-teman yang saya follow.

Ok, baiklah. Di tulisan kali ini saya ingin memberikan informasi, kabar, lebih tepatnya ngiklan. Haha 😆 Ya kan siapa tahu lagi ada teman-teman yang pengen sama Komik PJB ini. Apalagi memang untuk sekarang, kayaknya sudah susah dicari di toko buku juga. Alhamdulillah di saya masih ada stoknya.

Barang ready di Makassar, sesuai tempat domisili saya sekarang. Jadi kalau teman-teman ada yang dari Makassar pengen beli, COD juga bisa. Di luar itu, saya juga melayani pemesanan dari seluruh Indonesia. Hehe 😀

Baiklah, komik yang dijual adalah:
1. Pengen Jadi Baik 1
2. Pengen Jadi Baik 2
3. Pengen Jadi Baik 3
Harga tiap komik sama yakni 45.000, tapi kalau beli sepaket PJB 123 harganya 125.000. InsyaAllah untuk pembelian lebih dari itu akan ada diskon lainnya, Hehe.

Ini Komiknya
Ini Komiknya

Ok,. selamat beraktifitas teman-teman. Buat teman blogger jangan males menulis kayak saya ya,. Hehe. Tetap semangat, selamat berjuang untuk orang-orang tersayang.. tsaah 😀

Untuk yang mau pesan, silahkan whastapp saya di nomor 0812-4550-6469

karena pengen jadi baik adalah fitrah, kecenderungan nurani manusia
maka memupuknya, menyemangatinya juga besungguh-sungguh di dalamnya adalah sebuah niscaya

Kuis Pengen Jadi Baik 3

Assalamualaikum.. 🙂

Apa kabar teman-teman? InsyaAllah baik ya. Kali ini saya mau mengadakan kuis alias give away yang hadiahnya berupa buku komik, Pengen Jadi Baik 3 (PJB 3). Akan ada 3 buku yang saya bagikan untuk 3 orang yang beruntung.

Ini adalah give away pertama saya di blog ini. Ini juga gara-garanya saya jadi reseller komik ini, jadi ya sekalian promosi. Hehe 😀 Tapi kalau untuk teman-teman yang di luar makassar, sebaiknya cari reseller yang di daerah masing-masing, supaya tidak mahal ongkos kirimnya.

image
Ini nih komiknya 🙂

Oiya, sekedar info. Ini adalah komik ketiga berjudul Pengen Jadi Baik yang dibuat omsqu. Jadi sebelumnya, sudah ada PJB 1 dan PJB 2. Tapi bukan serial yang ceritanya bersambung, bisa tetap dibaca masing-masing buku.

Ok, jadi untuk mengikuti give away ini mudah saja. Silahkan tulis di kolom komentar jawaban atas pertanyaan ini.

Mengapa kamu pengen membaca dan memiliki komik PJB3?

Jawaban terserah teman-teman. Bisa sebaris kalimat, satu alinea, atau justru sebait puisi indah. Haha, ini asli ngayal 😆 Ya, dijawab ya biar rame give away-nya :mrgreen:

Oiya, untuk teman-teman yang comment pake email, komentar ngga langsung muncul ya, nunggu saya approve dulu. Termasuk juga teman blogger yang baru pertama comment di blog saya ini. Tapi ngga usah khawatir, akan langsung saya approve kok. Hehe 🙂

Update: kuis sudah ditutup ya. Selamat buat praditalia alias dita, mbak ira dan mas jauharry. Masing-masing dapat satu buah komik PJB3. Terimakasih kepada semua teman-teman yang ikutan kuis ini. Terimakasih juga buat semua teman-teman yang sudah mampir dan baca-baca di blog saya. Selamat beraktifitas, tetap semangat 😀

burung kutilang, burung kenari
hinggap di atas pohon jambu
cukup sekian dan terimakasih
wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh 😀

Beban Cicilan dan Gaya Hidup

Pernah ada teman yang bilang, mumpung masih muda dan belum menikah, puas-puasin aja mau jalan-jalan kemana, atau mau beli apa. Soalnya kalau sudah berkeluarga bakal banyak kebutuhan yang lain, banyak cicilannya. Hehe

Sepakat sih dalam pikiran yang saya sesuaikan dengan keadaan saya. Maksudnya kalimat itu saya pahami versi saya sendiri. Menurut saya, puas-puasin di sini pun tetap harus ada kontrolnya, ada batasannya. Ngga pelit, tapi juga jangan boros. Tahu prioritas lah, mana yang memang kebutuhan pokok, mana yang dalam cakupan kesenangan tapi juga masih dibutuhkan, mana yang sudah menjurus ke menghambur-hamburkan.

Saya sepakat sih ketika ada yang mengatakan kebutuhan hidup itu selalu terpenuhi, keinginan dan gaya hidup tidak akan tercukupi. Lebih bijaksana saja dalam mengatur pengeluaran. Jangan pelit juga, apalagi sama diri sendiri. Kalau memang Allah beri kita karunia berupa kecukupan rizki, ya tunjukkan itu dalam penampilan dan perilaku sehari-hari. Tentunya dalam takaran yang wajar dan tidak mencolok. Ingat kan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah menegur salah seorang sahabat yang pakaiannya lusuh, padahal Allah sudah karuniakan kepadanya nikmat berupa harta. Dan merupakan salah satu bentuk syukur, yakni menampakkan sebagian dari karunia yang Allah berikan kepada kita.

Jadi, silahkan jalan-jalan, belanja pakaian atau beli apa saja yang diinginkan. Namun tetap ada batasan kewajaran, ada skala prioritas yang harus kita perhatikan. Masing-masing kita tahu akan hal itu.

Satu lagi yang menggelitik saya dari kalimat di awal tadi, yakni tentang cicilan. Ketika berbicara cicilan, bayangan kita langsung mengarah pada cicilan rumah atau cicilan mobil. Seolah itu memang sebuah hal yang lumrah dan wajar dalam pos pengeluaran sebuah keluarga.

Saya dibesarkan dalam keluarga sederhana yang tinggal di desa. Saya anak pertama, jadi saya mengalami keadaan dimana keluarga saya baru tumbuh dan memulai perjuangannya. Saya masih ingat, waktu kecil rumah saya (ini rumah pertama kami) adalah rumah semi permanen berbahan anyaman bambu (gedeg). Bahkan pernah, saat itu lagi ada acara pernikahan salah seorang saudara. Nah, ketika malam saya sudah minta pulang dan akhirnya saya pulang sama ibuk, diantar saudara lain. Ketika sampai di rumah, ternyata kunci gembok masih dibawa ayah, lupa diminta. Akhirnya kami (saya dan ibuk) mbrobos pintu dapur yang memang tidak bisa tertutup sempurna. Haha 😀

Dibesarkan dalam keluarga seperti itu membuat saya memiliki pola pikir yang sederhana. Bahwa jangan terlalu membebani diri pada hal-hal yang memang tidak bisa diraih. Ketika berkeluarga, yang diperlukan adalah tempat tinggal. Meskipun dalam wujud yang sangat sederhana, meskipun hanya rumah sewa alias ngontrak. Pun demikian juga dengan kendaraan. Kalau bahasa jawanya, isane nggo motoran ya motoran, isane ngontrak ya ngontrak, syukuri apa sing ana, ora usah neka-neka. 🙂

image
syukuri wae lah

Sadar atau tidak, sepertinya kita memang sudah terpengaruh dengan gaya hidup serba pengen. Uangnya belum ada, banyak maunya. Akhirnya cicilan jadi pilihannya. Pola pikir kita dari dulu untuk bersabar dengan prinsip “hemat pangkal kaya” dan itu membuat kita termotivasi untuk menabung mulai digeser dengan prinsip “cicilan adalah solusinya”.

Sadarkah kita, ketika sekarang harga properti terus naik seolah tidak terkendali kita juga yang ikut berperan membuatnya seperti itu. Ingatkah kita saat pelajaran ekonomi kala SMP atau SMA dulu, bahwa harga komoditas itu berbanding lurus dengan tingkat permintaan pasar. Kini kita ‘ditakut-takuti’, bahwa harga rumah akan terus naik dan KPR adalah satu-satunya solusi. Lalu kita merasa was-was, kita belum punya tabungan tapi memaksakan diri untuk hutang bank buat beli rumah.

Belum lagi tuntutan gaya hidup lain, mobil. Padahal kemana-mana naik motor juga masih bisa. Kadang hanya keinginan atau juga mungkin sudah kebutuhan tapi uangnya belum ada. Ada sih sedikit, cukupnya buat beli mobil bekas keluaran lama. Ngga ah, beli baru aja, hutang dulu gapapa. Hiks.

Saya tidak anti cicilan. Pembelian secara kredit pun ada yang diperbolehkan. Namun yang saya sayangkan adalah terlalu memaksakan diri. Tidak cukup bersabar dengan apa yang sudah dipunyai. Selalu ingin lebih dan kemudian memilih jalan instan. Hidup ini hidup kita sendiri, kita yang jalani, kita yang nikmati, kita yang usahakan. Orang lain hanya melihat kita dari luar, tidak benar-benar tahu akan keadaan kita. Cukup syukuri, cintai, nikmati, juga usahakan dan perjuangkan dengan sebaik-baiknya. 🙂

Tentang Kucing dan Kelucuannya

Siapa di antara teman-teman yang suka kucing? cat lover? 🙂 Setuju ngga sih kalau misalnya saya bilang kucing itu binatang paling imut. Sudah macam gadis berlesung pipit saja. Haha, abaikan 😆 Ngga tau ya, kenapa sih di beberapa novel, penulis seneng banget menggambarkan sosok perempuan cantik dan imut itu pake lesung pipit. Ya, walaupun emang ngga salah sih, novel-novel mereka. Okelah, bukan itu bahasannya.

Tentang kucing. Dari kecil memang saya termasuk di antara mereka yang suka dengan kucing. Namun, saya tidak pernah memelihara kucing di rumah. Ngga dibolehin sama orangtua. Bikin repot, belum lagi kalau dia buang air besar sembarangan. Seingat saya, pernah beberapa kali saya mohon ijin ke orangtua untuk melihara kucing dan selalu ditolak. Bukan secara sengaja sih mau melihara, biasanya karena ada kucing yang suka main ke rumah. Ngga tahu kucing siapa. Mungkin juga kucing yang dibuang orang. Tiba-tiba saja dia kelihatan main-main di sekitar rumah. Takut-takut mendekat ke dapur. Biasanya saya kasih apalah gitu pas saya makan. Hari-hari berikutnya dia jadi sering datang. Sekali dua saya usap kepalanya, dia juga suka main-main di kaki. Terus saya bilang sama ibu, “Buk, kita pelihara ya?”. “Ngga, ngga usah.” , begitu biasanya jawab ibu. Begitu dia masih sering datang, terus biasanya tiba-tiba saja dia hilang entah kemana. Ngga pernah datang lagi. Mungkin benar juga sih, seperti halnya pertemuan yang ngga pernah direncanakan, begitu pun dengan kepergian. Haha 😀

Banyak sih kemungkinannya buat dia. Mungkin saja ada orang lewat, terus lihat dia lagi jalan-jalan. Orangnya nanya warga itu kucing siapa, dijawab kucing liar, ngga ada yang punya. Lantas orang itu punya niat baik untuk membawanya pulang. Atau juga misalnya dia berkelana entah kemana, demi mencari kehidupan yang lebih baik. Yang jelas, semoga dia baik-baik saja. 🙂

Lain di keluarga saya, lain di keluarga ibu saya dulu. Maksudnya di rumah nenek. Nenek saya suka banget sama kucing. Dari waktu ibu saya masih anak-anak, di rumah nenek memang banyak kucing. Sampai ibu saya menikah, sampai saya besar masih ada peliharaan kucing nenek saya. Nenek saya sampai sering beli ikan asin khusus buat kucing-kucingnya. Ya kan kucing kampung, paling banter makan kepala ikan. Hehe :mrgreen: Tapi kucing nenek gemuk-gemuk dan sehat. Juga jago nangkap tikus 😀 Ya, salah satu tujuan punya kucing bagi nenek saya adalah untuk alasan keamanan. Menjaga dapur, juga ruang penyimpanan padi biar ngga diganggu tikus.

Pernah ibu saya cerita. Dulu sempat peliharaan kucing nenek banyak sekali jumlahnya. Alasannya, sang betina produktif sekali beranak. Sekali lahiran anaknya banyak, tidak lama hamil lagi. Mungkin juga si jantan lagi semangat-semangatnya. Haha 😆 Maka ketika itu diputuskan untuk mengasingkan (baca: membuang) beberapa kucing agar mereka mencari kehidupan sendiri. Kakek saya lah yang bertugas dalam misi ini. Kucing-kucing dimasukkan ke dalam karung dan kakek saya berangkat dengan berjalan kaki. Singkat cerita kucing-kucing itu dibawa kakek sampai ke desa sebelah. Setelah dilepaskan semua di sana, kakek saya memastikan bahwa beliau tidak diikuti kucing. Dan beliau mengambil jalan pulang yang berbeda. Beliau pulang lewat pematang sawah. Sesampainya di rumah, nenek saya berkata,” Buruan dibuang itu kucing-kucingnya”. “Kucing apa? Wong barusan sudah kubuang kok”. “Lha yang di dapur itu apa?” Rupanya, kucing-kucing yang tadi dibuang telah tiba di rumah dengan selamat dan lengkap semua jauh sebelum kakek saya tiba. Memang penuh misteri mereka ini. Haha 😆

Dan tahu ngga sih, kucing itu sering mengekspresikan rasa sukanya sama kita dengan ndusel-ndusel di kaki. Kucing nenek saya juga begitu. Nenek saya ke dapur, ikut ke dapur. Masuk ke ruang tengah, ikut juga. Pas nenek saya lagi ngatur apa gitu di meja makan, pasti dia berputar-putar di kakinya. Bahkan mungkin terkadang agak nyrimpeti, if you know what i mean. Itu kucing disuruh menjauh, masih juga nyeruduk-nyeruduk kaki. 🙂

Saya jadi ingat waktu di Surabaya dulu. Waktu masih magang di sana. Pernah ketika di masjid, waktu melepas sepatu saya melihat kucing dan dia pun melihat ke arah saya. Lalu ia takut-takut mendekat. Dari tatapannya, kayak orang yang pengen kenal. Eh, kucing yang pengen kenal maksudnya. 😀 Saya pun tersenyum, terus saya dekati. Saya usap kepalanya dan dia pun langsung nyeruduk-nyeruduk di telapak tangan saya. Saya usap lagi sampai dia terguling dan kelihatan bulu perutnya yang putih. Lalu saya tinggal wudhu. Nah pas saya keluar mesjid, ternyata dia masih di situ, di dekat sepatu. Demi melihat saya, dia langsung bergegas menyambut. Saya pake sepatu kanan, dia nyeruduk, putar-putar di kaki kiri. Pas pake sepatu kiri, gantian ndusel di kaki kanan. Setelah saya usap kepala dan punggungnya, saya bilang,” Sudah, aku mau balik dulu.” Saya jalan ke kantor dan dia ternyata ngikutin. Sampai saya di pintu masuk dia tetap ngikutin. Akhirnya saya suruh dia pergi. Saya hush hush. Tetap saja ngga mau. Tapi emang saya sendiri ngga tega sih ngusir. Saya maunya dia pergi, tapi saya ngga ingin dia sakit hati. Saya cuma ingin dia ngerti kalau sekarang bukan saatnya bagi kita untuk bersama. Apaan sih. Oke, ini pembawaannya lebay. 😆 Akhirnya dia mau pergi dan langsung saya tinggal lari masuk ruangan.

Intinya begitulah, kucing itu makhluk yang lucu. Juga bisa jadi teman yang baik. Nih, saya kasih bonus foto-foto mereka yang unyu pol. Oiya, teman-teman juga suka kucing?

image
ciluk ba 🙂
image
mungkin dia lagi rindu
image
suka kalo merem gitu 🙂

Hati-Hati Kalau Mendaki

Pagi ini lihat berita duka di timeline facebook, musibah di Taman Nasional Gunung Merbabu. Seorang pendaki meninggal dunia saat sedang beristirahat di pos Watu Gubug. Musibah yang kembali membuat kita semua pecinta alam berduka. Innalillahi wa inna ilaihi rooji’uun. Semoga Allah mengampuni kesalahannya serta mencurahkan rahmat dan kasih sayang kepadanya. Semoga Allah tabahkan juga keluarga yang ditinggalkannya. Aamiin.

Saya belum pernah mendaki Merbabu. Teman saya bilang, memang cuaca di sana termasuk ekstrim kalau malam. Dingin sekali sehingga rawan akan hipotermia. Hipotermia inilah yang merupakan ancaman yang harus diwaspadai oleh semua pendaki. Apa itu hipotermia dan bagaimana cara mencegah dan menanganinya. Silahkan baca artikel di sini. Semoga bermanfaat.

Saya baru dua kali naik gunung. Terakhir di Gunung Bawakaraeng dan itu sudah lebih dari setahun yang lalu. Ya, sudah lama sekali. Saya cuma ingin cerita saja, karena waktu di Bawakaraeng pendakian tidak berjalan sesuai rencana.

Kami serombongan berangkat dari Makassar sabtu pagi. Sampai di lokasi (tempat berkemas sebelum naik) sudah agak siang. Mungkin hampir pukul 10.00. Kami segera repack untuk bersiap berangkat. Sekitar pukul 10.30 kami memulai perjalanan.

Alhamdulillah, perjalanan lancar. Di perjalanan itulah kemudian cuaca berubah. Gerimis mulai turun. Beberapa teman memakai jas hujan, sementara yang lain tetap bertahan pada jaket anti air-nya. Rintik gerimis terus menemani perjalanan kami sehari itu. Kadang berhenti sebentar, sempat juga terlihat matahari meski lebih sering tertutup awan dan kabut tebal.

Kondisi pakaian yang basah baik itu celana, jaket, juga kaos kaki dan sepatu membuat tubuh kami dingin. Ditambah beban keril dan kaki yang sudah lelah berjalan berjam-jam membuat beberapa diantara kami mengalami kram otot. Ketika itu perjalanan dari pos 6 ke pos 7. Saya termasuk yang mengalami kram ringan, alhamdulillah hanya butuh istirahat sebentar.

Perjalanan ke pos 7 inilah yang begitu terasa berat. Medannya memang cukup menanjak. Ditambah lelah dan juga basah. Beberapa kali perjalanan harus terhenti karena ada rekan yang mengalami kram. Belum lagi cuaca dingin dan angin yang bertiup cukup kencang.

Akhirnya, alhamdulillah kami sampai di pos 7. Keadaan semuanya sehat. Dengan berbagai pertimbangan kala itu, perjalanan tidak dilanjutkan. Kami memutuskan untuk istirahat dan mendirikan tenda. Keadaan fisik anggota juga cuaca yang ada saat itu tidak memungkinkan bagi kami untuk melanjutkan pendakian. Ditambah lagi hari sudah beranjak gelap.

Kami mendirikan tenda dengan susah payah. Ya, serius, susah payah. Anginnya kencang dan luar biasa dingin. Sendi-sendi kami rasanya susah untuk digerakkan. Dingin sekali pokoknya.

Selesai mendirikan tenda, kami sama-sama mengingatkan untuk segera mengganti baju yang basah. Di sini kegaduhan muncul dari tenda sebelah. Ketika mengganti pakaian, ada teman yang kram. Entah kakinya atau perutnya. Dia sampai jerit-jerit kesakitan. Teman yang lain heboh menolong. Ada yang kasih minyak tawon. Dan ternyata bukan hanya satu orang yang jerit karena kram. Ya namanya orang kram. Tanpa sebab apa-apa, sekedar geser posisi saja bisa nyeri luar biasa. Jadinya malah heboh ngga karuan. Sambil ketawa-tawa karena jeritnya lucu. 😀

Sempat khawatir juga waktu itu. Jangan sampai ada teman yang kenapa-napa. Alhamdulillah, setelah ganti baju semua, keadaan tenda sudah mulai hangat. Kemudian kami membuat makanan untuk mengisi energi sekaligus juga menghangatkan badan dari dalam.

Semula, kami berencana akan kembali naik dini hari bila cuaca sudah bersahabat. Namun ternyata angin dingin tetap berhembus kencang. Anggota juga masih banyak yang kelelahan. Akhirnya, kami putuskan untuk turun di pagi minggu itu. Ngga sampai puncak? Iya, kami belum berhasil kala itu. Kami tahu, pendakian bukan semata tentang mencapai puncak. Namun yang lebih utama adalah bisa kembali sebagai tim yang utuh dengan selamat.

Keterbatasan waktu dan logistik menjadi alasan utama kami untuk turun kala itu. Tidak mungkin kami menginap dua kali. Satu-satunya kesempatan adalah tadi malam dan itu sudah terlewat.

Meski tidak sampai puncak, saya sungguh menikmati perjalanannya. Tentang kebersamaan dan saling menguatkan. Saat berbagi makanan. Memberikan semangat, dan semuanya. Bahwa melakukan perjalanan bersama bukan tentang siapa yang paling cepat. Namun bagaimana kita bisa sama-sama melangkah, menyesuaikan langkah kaki dengan rekan seperjalanan.

Intinya ya kembali ke judul yang saya tulis di atas. Hati-hati kalau mendaki. Melakukan persiapan yang matang. Persiapan fisik dan juga kelengkapan kebutuhan. Juga yang paling penting tidak memaksakan keadaan. Tekad dan semangat itu penting, namun keselamatan kita jauh lebih penting.

image
nikmati perjalanannya

Kita mungkin merasakan, beberapa tahun ini memang mendaki gunung seperti menjadi sebuah tren anak muda. Mungkin tidak hanya mendaki gunung, namun wisata alam pada umumnya. Apalagi setelah film 5 cm, kemudian juga ada film Everest. Gerakan menjelajah alam seperti kebanjiran peminat baru.

Tentunya kita mengapresiasi antusiasme anak muda pecinta alam yang semakin tinggi. Dengan catatan bahwa menjelajah alam bukan semata buat gaya-gayaan. Bahwa memang benar kita menikmati perjalanan. Dan tentunya juga dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan serta mengutamakan keselamatan dengan cara persiapan dan pengetahuan yang matang.

Beberapa tahun terakhir juga barangkali, banyak kita jumpai pendaki perempuan. Ukhti-ukhti berkeril teman saya bilang 😀 Ya, mereka juga memiliki kecintaan terhadap alam dan penjelajahan. Terkadang saya agak heran juga dengan mereka ini. Bagaimana mereka meyakinkan orangtuanya ketika meminta izin berangkat naik gunung. Sedang saya yang laki-laki saja sering dikhawatirkan orangtua kalau pas pamitan. Hehe :mrgreen:

Yang pasti, setiap orangtua pasti punya kekhawatiran. Apalagi terhadap anak perempuan yang bukan hanya keselamatan fisiknya yang dikhawatirkan. Namun juga keselamatan hatinya dengan siapa dia berangkat, bagaimana dia nanti di tengah hutan yang jauh dari mana-mana. Ya, bahkan kalau saya nantinya punya anak perempuan, saya akan berpikir seribu kali untuk mengizinkannya berangkat menjelajah alam (dan saya pikir semua ayah seperti itu).

Mereka para ukhti yang diizinkan naik gunung ini pastilah memiliki sikap-sikap yang membuat orangtuanya yakin untuk memberikan kepercayaan penuh. Orangtua mereka yakin bahwa mereka bisa menjaga diri dengan sebaik-baiknya. Menjaga diri pun bukan hanya ketika berada di gunung kan?

Saya juga pernah naik gunung di Manado dulu. Ada satu anggota kami yang perempuan. Dan ketika seperti itu, kami para anggota laki-laki seperti mempunyai tanggungjawab tambahan. Memastikan keselamatan dia dunia akhirat. Abaikan 😆

Saya jadi teringat, salah satu teman perempuan yang sering camping bareng pernah cerita. Dia sering ditanya sama temannya kalau camping tuh ngapain aja, apa aja yang dilakukan dan seterusnya. Dia bertanya begitu dengan intonasi yang seolah-olah kami melakukan apaaa gitu waktu camping. Saya pikir kekhawatiran dia cukup beralasan. Dan justru seorang teman yang mengkhawatirkan keadaan temannya itulah sebenar-benar teman.

Barangkali memang dia sekali-kali perlu diajak camping bareng. Hehe. Bahwa kami di sana menikmati pemandangan, menikmati suasana sore, matahari terbenam. Lalu bareng-bareng menyiapkan makan malam seadanya yang itu juga sudah terasa enak luar biasa. 😀 Ya, cuma gitu aja. Oiya, dan tenda kami terpisah :mrgreen: Iyalah, kecuali yang berangkat sama keluarga. Ada? Ada, mereka satu tenda sekeluarga. 🙂 Kapan-kapan kita gitu ya? (ngomong sama tembok). 😆

Kembali pada kekhawatiran seorang teman tadi. Mengapa saya katakan beralasan? Ya, karena manusia itu berbeda-beda. Kita tidak bisa membuat jaminan bahwa semua yang naik gunung, semua yang camping punya tujuan baik. Menenangkan pikiran, menikmati keindahan alam. Tidak kita pungkiri, ada juga yang merusaknya dengan tindakan tercela. Memanfaatkan keadaan yang sepi untuk melakukan hal yang tidak baik. Semoga Allah jauhkan kita semua dari yang semacam itu.

Menutup tulisan kali ini, bahwa melakukan perjalanan selalu menghadirkan cerita yang berkesan. Pada pepohonan hijau nan rindang. Jalinan akar dan pohon besar yang berlumut. Batu-batu tempat menjejakkan langkah. Bunyi gemericik air yang mengalun indah. Sampai pada butiran pasir yang terasa lembut di telapak kaki. Deburan ombak yang selalu membuat rindu untuk kembali. Ya, lakukanlah perjalanan dan semoga ada hal berharga yang kita bawa pulang. 🙂