Terimakasih Adinda

Matahari sudah agak meninggi, perlahan menampakkan teriknya pada setiap mereka yang beraktifitas di luar rumah. Dalam perjalanan ke sini tadi pun demikian. Jalanan yang ramai seolah menjadi saksi atas semua kesibukan mereka yang berlalu lalang. Kesibukan dengan tujuan masing-masing, perjuangan masing-masing.

Aku meneguk pelan teh hangat yang tersaji di hadapan, mengambil jeda sembari meyakinkan diri bahwa aku sudah berada di tahap ini. Bila kamu bertanya apakah aku nervous, grogi dan semacamnya. Tentu saja. Mungkin kamu tidak perlu bertanya karena sudah mengetahui itu sejak pertama kali aku membuka suara.

Baik sangka, mungkin itu yang menjadi modal buatku setelah mengucap bismillah. Dan aku bersyukur bahwa aku tidak harus memulainya dari awal. Terimakasih ya sudah berusaha mengenalkan aku pada beliau berdua.

Aku juga bersyukur bahwa pembicaraan ini tidak serumit yang aku khawatirkan. Pertanyaan demi pertanyaan yang mengalir begitu saja. Sungguh, terimakasih untuk suasana yang nyaman ini. Terimakasih sudah bersikap begitu baik padaku. Aku merasa sudah dianggap seperti anak sendiri di rumah kamu. Atau, barangkali orangtua kamu kasihan ya, berusaha begitu pengertian pada aku yang datang sendirian. 😀

Baik sangka, itu pula mungkin pegangan yang membuat orangtua kamu percaya. Percaya pada aku yang bukan siapa-siapa. Mm, aku saja masih terus berusaha untuk meyakinkan diriku sendiri. Ya, bismillah. InsyaAllah dengan niat yang baik, tujuan yang baik, pun dengan cara-cara yang diupayakan baik pula, hasilnya juga insyaAllah baik.

Aku juga menangkap sebuah empati yang begitu besar pada orangtua kamu. Empati seorang ayah pada laki-laki yang memberanikan diri mengetuk pintu rumahnya. Empati yang berdasar ukhuwah, juga saling tolong menolong dalam kebaikan. Jazakumullahu khairan, semoga Allah beri balasan dengan sebaik-baik balasan.

Membangun empati, itu pula yang harus aku lakukan. Menyadari sepenuhnya bahwa kamu adalah mutiara paling berharga di mata seorang ayah. Mutiara yang dijaga, yang dibesarkan dan dididik dengan penuh cinta, pun senantiasa dihujani dengan doa-doa terindah. Maka sudah semestinya, bila Allah takdirkan kita untuk bersama, Allah karuniakan kamu kepadaku sebagai sebuah anugerah terindah sekaligus amanah, akulah yang harus berusaha menjagamu dengan sebaik-baiknya. Bismillah, laa haula wa laa quwwata illaa billah.

***

Matahari belum sepenuhnya terbit bersinar. Semburat jingga masih tampak menyala dalam naungan awan-awan yang meneduhkan. Orang-orang sibuk berlalu lalang, berdatangan. Pengeras suara beberapa kali memberikan pengumuman.

Pulang, selalu mendatangkan haru kebahagiaan. Juga kesyukuran bahwa kita tidak sendiri di dunia ini. Ada mereka orang-orang tercinta, yang Allah datangkan mereka sebagai anugerah, pemberian terindah. Begitupun kita bagi mereka.

You don’t choose your family. They’re Allah’s gift to you, as you are to them
~Anonymous

Tahukah kamu, apa yang membuat para ayah tetap bersemangat dalam penat dan letih, memacu motor tua mereka membelah jalanan menuju rumah sepulang kerja?

Barangkali harapan. Bahwa ada yang menunggunya di sana. Bahwa kepulangannya pun memberi bahagia pada sosok-sosok yang ia cinta. Dan lelah, barangkali menguap begitu saja entah kemana, tatkala senyum-senyum itu menyambutnya.

Pulanglah. Karena bukan hanya kau yang merindu. Namun ada mereka yang juga merindukanmu

Apalagi ini kepulangan yang istimewa. Kepulangan yang penuh doa-doa, insyaAllah. Ucapan tahniah, barakallah, semoga lancar sampai acara juga setelahnya. Alhamdulillah.

Ya, kepulangan yang bukan hanya melepas rindu pada keluarga tercinta. Namun juga insyaAllah akan menambah satu anggota keluarga.

“Horee.. dapat mbak besar.”, seru si kecil kala aku dan ibu bercerita tentangmu. Aamin. Semoga lancar, semoga Allah karuniakan berkah selalu. Aku jadi bagian dari keluargamu, kamu pun jadi bagian dari keluargaku. Keluarga kita, insyaAllah 🙂

Sudah ada panggilan boarding, Mas berangkat dulu ya. Doakan semuanya lancar, insyaAllah kita ketemu dalam kesempatan yang jauh lebih baik, lebih berkah.

***

“Bismillah. Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, la haula wa la quwwata illa billah.” Aku mengulang-ulang kalimat itu. Ada debar yang tak bisa kujelaskan, ada haru penuh kesyukuran sekaligus juga kekhawatiran. Mungkin lebih tepatnya memohon kekuatan, bahwa selepas ini akan ada tanggungjawab yang tidak ringan.

Khutbah nikah dibacakan. Beberapa ayat al-Quran yang dibacakan, kurasakan memberi ketenangan juga keyakinan. Keyakinan bahwa ini semua terjadi atas kehendak-Nya, atas perkenaan-Nya. Bahwa aku, bahwa kita tidak akan dibiarkan sendiri oleh-Nya.

Dan saat itu pun, saat yang dinanti pun tiba. Ketika ayahmu -yang akan menjadi ayahku juga- mengulurkan tangannya, erat menggenggam tanganku. Dan beliau sangat tenang, lancar dan tegas, dengan suara beratnya mengucap “Ankahtuka…” hingga akhir kalimat. Dan tanpa jeda, segera aku ucap sebaris jawab. Suara yang terdengar bergetar. Petugas KUA, juga para saksi mengangguk pelan, “Sah..”. Alhamdulillah, alhamdulillah 🙂

Dan doa-doa pun dipanjatkan. Doa-doa memohon keberkahan untuk keluarga kita, untuk bersamanya kita.

Barakallahu laka, wa baraka ‘alaika, wa jama’a bainakuma fi khair.

image
alhamdulillah 🙂

Alhamdulillah..
Alhamdulillahi alladzi bini’matihi tatimmus shalihat..
Segala puji bagi Allah, yang berkat nikmat dan karunia-Nya kebaikan-kebaikan menjadi sempurna. Niat-niat baik kita dapat terlaksana, juga diberikan kemudahan oleh-Nya..
Alhamdulillah 🙂

Betapa banyak doa-doa yang tercurah pada kita. Doa dari lisan-lisan yang mulia. Dari ketulusan kedua orangtua kita, ustadz-ustadz kita, guru-guru kita, juga keluarga besar kita seluruhnya. Juga dari para tamu undangan, belum lagi dari saudara saudari kita fillah yang kita berharap lebih dari yang kita kira. Dinda, tiada lain yang bisa kita lakukan tentunya selain mengaminkannya. Aamiin, aamiin,. Ya Robbal Alamin. Tidak lupa juga rasa syukur dan terimakasih kita pada semuanya. “Jazakumullahu khairan, Semoga Allah beri balasan dengan sebaik-baik balasan.”

Jodoh adalah rizki. Yang terbaik adalah pilihan Allah. Engkau, dinda adalah pilihan-Nya untukku. Begitu pun aku yang telah dipilih-Nya untuk mendampingimu. Maka, rizki membutuhkan kesyukuran, juga penjagaan. Bahwa bersatunya kita semakin menguatkan langkah kita dalam kebaikan. Engkau, separuh agamaku, penjaga ketaatanku.

Barakallahu fiik,.
Barakallahu fiik. Uhibbuki fillah dinda.
“Titip dek eva ya nak.”
“Titip adekku ya dek.”
“Titip mbakku ya mas.”
“Titip ponakanku ya mas.”

Ini keluarga kita. Kita yang bangun, kita yang jaga, kita yang rawat. Doakan mas bisa jadi imam yang baik buat adinda ya. Apapun yang terjadi setelah ini, kita akan hadapi bersama. Hingga surga, hingga surga, insyaAllah. 🙂

image
barakallah 🙂
Iklan

Kamu Jadi Baik karena Doa Mereka

Sungguh, rizki itu bukan hanya uang
Kedua orangtua, terlebih doa-doa beliau berdua,
kesempatan untuk belajar, dari kecil dulu hingga sekarang
bertemunya kita dengan teman, kawan juga sahabat-sahabat yang baik
hingga pada kebaikan-kebaikan yang Allah mudahkan bagi kita untuk melaksanakan

Alhamdulillah

Saya ingat sekali dulu, waktu masih kecil, sudah SD kelas 1 sih :mrgreen: tiap hari saya diantar sekolah dan ditunggui oleh ibu. Waktu itu memang saya masih 5 tahun dan tidak sekolah TK sebelumnya, jadi ya masih takut-takut ketemu orang banyak. Karena terus-terusan seperti itu dan saya ngga mau ditinggal sama sekali, akhirnya diputuskan belajar di rumah dulu saja, tahun depan (saya sudah 6 tahun, usia ideal masuk SD) baru sekolah lagi.

Di rumah juga begitu, pas belajar nulis, berhitung, kan saya diajar ibu saya sendiri kalau di rumah, pasti ngeluhnya capek. “Udah buk, besok lagi ya..”, selalu rengek saya. Ya mungkin memang bawaannya anak pertama, belum punya adik lagi, manja 😀 Alhamdulillah, ya bisa belajar dikit-dikit, tulisan juga udah lumayan, lumayan ngga terlalu jelek maksudnya 😆 Alhamdulillah 🙂

Pas sorenya alhamdulillah di kampung saya ada TPQ, Taman Pendidikan al-Quran bertempat di masjid kampung. Semua yang sudah sekolah dihimbau agar belajar ngaji di situ. Ya pertama-pertama saya diantar ibu, hari pertama, kedua sampai kemudian berani berangkat sendiri. Alhamdulillah dari sejak kecil sudah dapat pendidikan agama seperti itu. Ya belajar mulai dari iqra, belajar wudhu sampai sholat, kemudian mulai membaca al-Quran, ada selingan juga hafalan surat pendek. Alhamdulillah dulu hafalan surat pendeknya mulai Ad-Dhuha, jadinya memang yang paling hafal sampai sekarang ya surat ini. Hehe. Ya kan biasanya yang pertama itu paling semangat, selanjutnya apalagi pas dapat surat yang agak panjang (read: al-‘Alaq), sudah mulai kena hukuman semua. :mrgreen: Semoga Allah balas kebaikan para Ustadzah saya dengan kebaikan yang berlimpah, Aamiin. 🙂

Yang paling teringat juga dulu, adalah ketika kegiatan praktik sholat. Jadi ada jadwalnya, saya lupa tiap hari apa. Kami berbaris rapi di teras masjid, sampai beberapa shaf karena memang kami yang mengaji jumlahnya banyak. Dan mulai dari takbiratul ihram sampai salam kita baca dengan bacaan yang keras. Itupun harus pelan-pelan, ngga boleh cepat, sembari para Ustadzah kami membenahi gerakan kami, posisi kami yang kurang tepat. Sampai satu gerakan saja bisa lama dulu itu, gara-garanya masih banyak yang salah-salah. Maka hingga hari ini, bahkan hingga kami meninggal dunia nanti, pada setiap sholat yang kami lakukan, insyaAllah Allah hadirkan pula pahala untuk beliau-beliau yang dengan sabar memegang tangan kami, meluruskan punggung kami ketika ruku’, hingga pada bacaan sholat yang kami hafalkan. Apalagi bila kemudian kami, murid-murid beliau mengajarkan pula hal ini kepada anak-anak kami, atau siapapun itu, pun pahalanya akan sampai pula kepada beliau-beliau. Semoga Allah kumpulkan kita di surga-Nya, tempat yang jauh lebih baik dari keadaan kita di dunia.

Itu tadi baru setitik kebaikan beliau-beliau yang telah banyak berjasa pada hidup kita. Bagaimana lagi dengan orangtua kita. Ibu kita yang kita tumbuh dan hidup dalam rahimnya selama sembilan bulan, yang air susunya menjadi nutrisi utama pembentuk tulang dan daging kita, yang dengan kasih sayangnya merawat kita dengan penuh cinta, mengenalkan kata pertama hingga kita bisa ini dan itu. Sungguh, kita di mata ibu tetaplah anak kecil yang baru kemarin digendongnya. Maka pun kita sungguh memohon agar Allah mengaruniakan kebersamaan dengan orangtua kita, mereka yang kita cinta, bukan hanya di dunia, namun hingga ke surga-Nya.

Sungguh, orangtua kita telah mengupayakan segalanya demi kebaikan kita. Memberikan pendidikan yang terbaik bagi kita, yang barangkali kita jarang berfikir bagaimana kesusahan beliau untuk dapat selalu memenuhi apa yang kita butuhkan, bahkan terkadang sekedar apa yang kita inginkan.

Berbuat baik kepada keduanya.
Berbuat baik kepada keduanya.
Berbuat baik kepada keduanya.

Rendahkan diri kita di hadapan keduanya.

Ketika dengan sedikit pendidikan yang lebih tinggi, lebih banyak mengerti, atau misalnya sudah ngaji dan lebih paham dalam agama ini lantas membuat kita memandang orangtua dengan pandangan yang kurang hormat atau bahkan pandangan merendahkan. Sadari bahwa ada yang salah dengan pendidikan kita, ada yang salah dengan ngaji kita.

Semoga Allah mudahkan kita semua untuk menjadi anak yang berbakti kepada orangtua kita, yang dapat membahagiakannya, di dunia dan di akhirat kelak.

Salah seorang menasihatkan, “Apapun yang ibuku inginkan dan aku bisa memenuhinya niscaya akan segera aku penuhi. Karena ada saatnya ibuku menginginkan sesuatu, namun aku tidak bisa mewujudkannya.”

Terimakasih sudah membaca. Selamat berakhir pekan. Jangan lupa mengunjungi orangtua, atau menelponnya. Kehadiran kita, meski hanya berupa suara adalah kado terindah bagi mereka. 🙂

Barakallahu fiikum 🙂

Menikah Muda

Ada yang tahu pada umur berapa Ali bin Abi Thalib dan Fatimah dinikahkan oleh Rasulullah saw? Imam Adz-Dzahabi menuturkan bahwa usia Ali ketika itu adalah 21,5 tahun dan Fatimah 15,5 tahun. Mari berhenti sejenak, apa yang kira-kira ada di pikiran kita mendapati fakta ini?

Kebanyakan kita akan berpikir, “Ah, itu kan zaman dulu. Sekarang kan sudah beda.” Sungguh disayangkan, peristiwa yang begitu banyak hikmah ini kita sikapi demikian. Padahal intinya bukan pada ‘zaman dulu’ atau ‘zaman sekarang’ sebagaimana dijelaskan oleh Ustadz Budi Ashari, namun pertanyaan besarnya adalah, “Bagaimana menyiapkan generasi yang pada usia sebelia itu sudah mampu mengemban amanat dan tanggungjawab untuk membangun sebuah keluarga.”

Agaknya memang kita jauh, sangat jauh tertinggal dari generasi terbaik umat ini. Mereka yang masa kecilnya dipenuhi dengan al-Quran, kecintaan kepada Nabi saw, serta semangat dalam memperjuangkan agama islam.

Kembali ke bahasan nikah tadi. Pernikahan adalah tanggungjawab besar, tanggungjawab dunia akhirat. Maka menikah berarti menambah peran tanpa menghilangkan peran yang sudah ada sebelumnya. Peran sebagai anak, kakak, adik akan tetap ada ditambah dengan peran baru, suami atau istri. Menikah bukan pelarian atas beragam tanggungjawab yang belum selesai. Lari dari hubungan yang kurang harmonis dengan orangtua, atau mungkin tugas kuliah yang sering membuat sakit kepala. Hehe. Tidak usah terlalu serius bacanya ya, yang nulis juga belum mengalami soalnya 😀

Tentang judul yang saya pilih di atas, sengaja memang biar bikin penasaran 😆 Ya memang kan akhir-akhir ini banyak berseliweran beragam motivasi untuk nikah muda. Sebuah hal yang menggembirakan tentu saja mengingat begitu banyaknya pintu kebaikan yang terbuka dengan menikah. Namun tentu yang harus pula diperhatikan adalah bagaimana persiapannya. Karena mendukung untuk segera menikah bila tanpa ada persiapan sepertinya malah akan menimbulkan kekhawatiran.

Saya sangat setuju bila ada yang mengingatkan bahwa pernikahan bukan semata happily ever after sebagaimana dalam cerita-cerita dongeng yang dulu kita baca. Bahwa menikah berarti banyak belajar, meluaskan kesabaran, mengontrol ego dan seterusnya. Dan tentu saja di dalamnya akan banyak kejutan-kejutan yang bila kita tidak cukup ilmu dan mental dalam menghadapinya, mungkin bisa membuat pernikahan menjadi goyah. Namun bila kemudian kita bisa belajar memahami, memandang tidak hanya dari satu sisi, berbesar hati untuk bersabar, maka semoga kejutan-kejutan yang hadir justru akan membuat hari-hari semakin indah. Asli, ini ngayal 😆

Mempersiapkan, barangkali itulah yang menjadi pekerjaan rumah. Bahwa langkah nyata baru akan diambil bila memang sudah siap untuk mengemban tanggungjawabnya.

Bila memang ia telah mengetahui bahwa ada mutiara istimewa di tengah lautan sana. Namun ia sendiri belum memiliki kapal, peralatan selam dan ilmu yang cukup yang bisa ia gunakan untuk menjemputnya, maka apa gunanya bila ia hanya berteriak dari tepi pantai?

Maka meminjam istilah Mas Gun, tentang jarak samudera. Bahwa jarak yang tercipta haruslah seluas samudera. Tidak perlu tanggung-tanggung, dekat tidak, jauh juga tidak. Jauhlah sekalian, sebab jarak yang jauh dan rintangan yang besar akan membuat mundur mereka yang tidak punya keberanian. Namun bila ada yang berani datang, tolong dimudahkan ya,. Haha 😀

Karena berproses sebelum bersiap tidak akan membuahkan apa-apa. Apalagi bila dua pihak sudah saling menerima, namun pintu pernikahan masih jauh di depan sana, bahkan tidak tahu kapan datangnya. Kita khawatir bahwa hati kita terlalu lemah untuk menghadapi godaan-godaan yang membuat kita jauh dari ridha-Nya.

Dan di atas semuanya tentu saja tugas kita sebagai manusia hanya mampu berupaya dan berdoa dengan sebaik-baiknya. Adapun hasil tentu kita serahkan semuanya pada Sang Maha Pembuat Rencana.

image
tetap husnudzan ya 🙂

Tiba-tiba pengen nulis ini setelah tadi siang saya sempat main ke rumah seorang teman yang baru menikah beberapa waktu lalu. Saya main ke sana juga dengan teman-teman yang lain. Sesampai di sana, kami pun rame-rame ngobrol santai, karena memang dari kuliah dulu sudah teman sepermainan. Tiba waktu makan, ini masakannya istimewa, baru matang soalnya. Yang buat juga istri teman saya ini bersama istri teman satunya lagi yang sama-sama bertamu di sana.

Dan kami pun makan bersama, duduk bersila sambil ngobrol di depan tivi. Tiba-tiba dia nanya, “Enak mas?”

“Iya, enak banget.”, jawab saya segera.

“Tiap hari gini lo,” lanjutnya sambil tersenyum yang saya dengan jelas bisa menerjemahkannya.

“Alhamdulillah.”, ucap saya kemudian yang berlanjut dengan tawa.

Barakallahu laka, wa baraka alaika, wa jama’a bainakuma fii khair. Terimakasih untuk semuanya,. doakan kami juga bisa segera nyusul 😀 Pada teman-teman saya yang sudah menikah ini, saya teringat ketika Ustadz Salim A Fillah bercerita bagaimana berimprovisasi kala mengakhiri dongeng yang dibacakan kepada putrinya.

“Dan pangeran dan putri pun menikah. Kadang mereka diberi nikmat maka mereka bersyukur, kadang mereka diberi ujian maka mereka bersabar. Hidup senantiasa berusaha istiqomah hingga meninggal dalam keadaan husnul khatimah.”

Karena kebersamaan yang dinanti bukan hanya di dunia, namun hingga ke surga Allah Ta’ala

Membangun Empati

Masih dalam suasana idul fitri, izinkan saya mengucapkan minal aidzin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin 🙂 Masih dalam suasana syawal juga, mungkin banyak diantara teman atau justru sanak saudara kita yang menggenapkan separuh agama alias menikah. Memang ada sunnahnya menikah di bulan syawal. Bagi kita yang mungkin belum dipertemukan dengan jodohnya, semoga tetap sabar. Tentu juga dijemput dengan ikhtiar, bila kita memang sudah ada kesiapan. 😀

Bicara tentang kesiapan menikah, bagi kami laki-laki mungkin kadang yang lebih sering disoroti adalah kesiapan finansial. Sebabnya tentu saja karena setelah menikah, merekalah yang akan menanggung nafkah keluarga. Namun tidak jarang, ini juga kemudian menjadi penyebab para laki-laki minder duluan sebelum mengajukan diri (hanya) karena mereka belum memiliki pekerjaan tetap. Atau dalam bahasa sederhananya, belum mapan.

Pernah suatu ketika, Ustadz Salim A. Fillah ditanya tentang bagaimana menyikapi orangtua calon istri yang menanyakan perihal pekerjaan aka kesiapan finansial sedangkan mungkin kita yang mengajukan diri berada dalam posisi baru saja bekerja dengan penghasilan pas-pasan, baru merintis usaha, atau justru masih kuliah sembari nyambi bekerja untuk memenuhi kebutuhannya.

Dan jawaban beliau ketika itu agaknya penting untuk kita renungkan. Mari membangun empati kepada calon mertua kita, begitu beliau menyampaikan. Seorang gadis yang dibesarkan dari kecil, dididik dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Disekolahkan dari mulai jenjang paling awal hingga pendidikan tertinggi yang bisa diberikan. Selalu diusahakan untuk mendapatkan yang terbaik selama kedua orangtuanya bisa mengupayakan. Lalu, kita yang bukan siapa-siapa, datang untuk meminta, dengan pembawaan yang jauh dari kata meyakinkan. Bukankah itu memang mengkhawatirkan?

Ya, mari membangun empati pada beliau-beliau ini. Bahwa tidak ada yang mereka harapkan, kecuali yang terbaik bagi putri kesayangannya. Bahwa mungkin ketika kita berada dalam posisi mereka, kita pun akan mengalami kekhawatiran yang sama. Maka berusaha untuk meyakinkan orangtua si dia, adalah sebuah tahapan penting setelah berusaha untuk meyakinkan orangtua sendiri.

Dan apa sih yang terpenting bagi beliau-beliau ini, hal yang harus ada pada kita yang sedang mengajukan diri. Kesungguhan dan kemauan untuk berjuang, setidaknya itu menurut saya. Sebab ini adalah amanah yang besar, tanggungjawab yang tidak ringan.

Kalau dikatakan bahwa mapan adalah kondisi dimana kita sudah punya rumah, mobil, usaha maju atau penghasilan besar. Sepertinya kok bukan itu yang terpenting bagi para ayah kita, ini pun menurut saya. Kenapa? Ya karena untuk mereka yang seumuran kita, semua baru saja dimulai, baru diawali, baru bisa menabung sedikit-sedikit. Maka yang lebih penting adalah karakter, bahwa memang kita orang yang sungguh-sungguh, yang (dilihat akan) bisa menjaga putrinya dengan sebaik-baiknya.

Ditambah lagi, kebanyakan orangtua kita pun dulu mengawali membangun keluarganya tidak langsung sukses seperti sekarang. Mungkin ada beberapa yang mendapatkan banyak fasilitas dari orangtuanya, tapi kebanyakan mengawalinya dari tidak punya apa-apa. Maka para ayah kita ini juga yang paling memahami bahwa hidup adalah perjuangan. Dan yang terpenting bukan seberapa banyak hal yang bisa kita berikan sekarang, berapa banyak fasilitas dan kemudahan yang kita punya sekarang. Namun yang terpenting adalah beliau bisa melihat bahwa kita bisa menjaga putrinya, kita berjuang untuk berusaha memberikan yang terbaik bagi putri kesayangannya.

Dan kita pun harus ingat, kewajiban nafkah bukanlah satu-satunya kewajiban kita setelah menyandang predikat suami nantinya. Berusaha untuk mendidik anggota keluarga, berakhlak baik dengan mereka, membentengi dari hal-hal yang tidak baik, serta mengarahkan dan mengajak serta dalam kebaikan. Berusaha memastikan keselamatan seluruh anggota keluarga di dunia, terlebih nanti di akhirat. Berat ya wahai pemuda? Memang, makanya belajar 🙂

Mari membangun empati dan semoga para ayah kita juga memahami bahwa pemuda yang datang ke rumahnya adalah ia yang sudah berusaha untuk memberanikan diri.

Pada hati-hati yang berdebar
Pada keringat yang entah bagaimana tiba-tiba datang
Pada lisan, yang meski sudah berusaha tenang, tetap saja terdengar bergetar
Pada pikiran yang sibuk memilih kata yang tepat untuk disampaikan
Semoga para ayah semakin menjadi bijaksana, dan memudahkan langkah-langkah kita untuk menjemput buah hati mereka 🙂

Mobil Pick Up

Assalamualaikum,.
Apa kabar teman-teman? 😀
Saya mau cerita. Ya, tentang mobil pick up. Apa yang terlintas di pikiran kita saat melihat mobil pick up di pinggir jalan, yang biasanya ada tulisannya “Disewakan”. Tentu kita punya pengalaman atau juga kenangan yang berbeda tentang sebuah hal yang disebut sebagai pick up ini.

Pick up. Saya teringat belasan tahun silam. Halah, bahasanya :mrgreen: Ya, waktu saya kecil, ayah saya punya mobil pick up aka tepak L300 🙂 . Seingat saya, sebelumnya ayah kerja di koperasi. Kemudian, karena sepi akhirnya beliau mengundurkan diri. Dan saya ngga tahu bagaimana prosesnya, saya ingatnya ayah beli mobil itu. Bekas dan tampilannya juga ya begitulah. Namanya juga mobil angkutan barang.

Ya, inilah pekerjaan ayah saya yang baru. Jasa pengangkutan barang. Hehe. Paling sering pesanan pasir atau tanah urug. Kadang juga ngangkut batu bata. Pokoknya tergantung yang order. Jadi, tiap hari ayah saya berangkat berdua. Ciee. Ngga, sama kulinya 😆 Jadi ayah saya yang bawa mobil, temennya yang naikkan pasir sekaligus nurunin pasirnya kalau sudah sampai di tempat tujuan.

Saya ingat, dulu kalau pas libur sekolah sering ikut buat antar pasir. Mungkin waktu itu masih kelas satu atau dua SD. Saya pakai topi dan naik mobilnya selalu di bak belakang. Berdiri tepat di belakang ruang kemudi, dengan berpegang pada palang besi di belakang kepala mobil. Seru sekali, kena angin semilir. Tinggal dipeluk dari belakang sudah macam film Titanic. Haha. Abaikan. 😆

Dan sampailah kami di tempat penambangan pasir. Lokasinya di dekat sungai kali brantas. Saya jadi tahu bagaimana pasir diambil. Bapak-bapaknya bawa keranjang sebesar ember yang terbuat dari aluminium atau mungkin seng. Rangkanya dari bambu. Ada tangga bambu yang masuk ke air. Jadi, bapak-bapaknya turun tangga, menyelam sambil bawa keranjang. Beberapa detik kemudian, naik dengan keranjang yang sudah penuh dengan pasir. Terus naik ke darat dan ditaruh pasirnya.

Kalau sampai biasanya sudah ada gundukan-gundukan pasir yang siap dijual. Jadi, tinggal dibeli, naikkan mobil, terus dibawa ke pemesan.

Pernah suatu kali, ketika perjalanan. Seperti biasa saya berdiri di bak belakang ala titanic. Tengok sana tengok sini. Tiba-tiba di depan ada palang bambu/portal. Portalnya ini agak tinggi. Kalau yang lewat truk, portalnya harus dibuka. Namun kalau mobil kecil termasuk pick up, masih bisa lewat. Sedang santai tengok kanan kiri, tiba-tiba saya lihat depan dan palang bambu itu sudah berada di depan saya. Ngga, saya ngga kena. Alhamdulillah. 🙂

Beberapa saat kemudian, ayah saya seperti menyadari sesuatu. Sepertinya beliau nengok saya dari kaca belakang. Dan mungkin beliau lihat saya baik-baik saja. Tidak ada masalah. Waktu di rumah, baru beliau nanya, sekaligus cerita sama ibu. “Tadi aku lupa ngga ngasih tau kalo ada palang.”, wajahnya serius. “Iya, ngga papa. Tadi saya pas liat.”, saya jawab waktu itu. “Alhamdulillah, ngga kena.” Dan ibu saya pun ikut bicara, entah bicara apa.

Apa ya? Sederhana. Kita tahu dan merasakan seseorang itu begitu sayang sama kita ketika orang itu begitu mengkhawatirkan keadaan kita. 🙂

Thanks for reading :). Punya cerita tentang pick up?