Tetangga Yang Baik

Beberapa waktu ini, kita lebih sering mendengar istilah Pancasila, toleransi, keberagaman, kebhinnekaan. Pun sebaliknya, kita juga disuguhi istilah macam intoleran ataupun radikal. Ada apa dengan keadaan kita sekarang?

Dibanding membahasnya dengan analisa yang njelimet, saya lebih suka melihatnya secara sederhana. Kalau saja kita bisa menjadi tetangga yang baik, rasanya ‘perseteruan’ ini tak perlu terjadi.

Saya masih ingat ketika dulu masih kuliah di Sulawesi Utara. Pernah suatu hari, sejak sebelum subuh speaker gereja di dekat kos saya sudah lantang bersuara. Nyanyian-nyanyian diputar. Tepat beberapa waktu sebelum adzan subuh, speaker gereja tersebut dimatikan. Beberapa saat kemudian gantilah adzan yang berkumandang dari masjid yang hanya berjarak sekitar 200 meteran.

Ketika saya hendak ke masjid dan melewati jalan depan gereja, rupanya sudah banyak orang berdiri di jalan depan gereja tersebut. Mereka berbaris rapi sambil membawa obor. Saya juga agak kikuk kala itu melewati kerumunan orang, tapi dari mereka pun mempersilahkan dan memberikan jalan. Saya jadi teringat dengan sepasang calon pengantin yang hendak menikah di katedral kala sedang berlangsung aksi damai 212 di Jakarta.

Toleransi. Saya kira sudah mendarah daging dalam praktik bertetangga kita sejak lama. Di pasar kita biasa jual beli tanpa memandang agama. Bahkan di kota asal saja Jombang, yang dikenal banyak pesantrennya, toko penjual kain yang terkenal juga lebih banyak dimiliki oleh saudara kita keturunan tionghoa.

Di Sulawesi Utara dulu, bahkan saya bersebelahan rumah, bertransaksi di pasar, bertemu di angkot, di jalan dengan orang-orang non muslim. Masjid dan Gereja juga berdiri tidak terlalu jauh.

Namun, rasanya juga tidak perlu sampai saya ikut kerja bakti di gereja mereka dengan alasan toleransi. Toh, mereka juga tidak kekurangan pemuda untuk melakukan itu. Bagi saya, toleransi adalah bertetangga yang baik. Yang tidak menggangu mereka dengan lisan dan perbuatan kita.

***

Kemudian, ketika dihadapkan pada persoalan seperti kemarin dan sekarang ini, haruskah kita menjadi “netral”?

Saya lebih cenderung pada istilah “obyektif” daripada “netral”. Karena netral bukanlah hal yang selamanya baik di setiap keadaan. Tetapi obyektif, berusaha melihat sesuatu secara keseluruhan dengan kacamata terbuka. Tidak menutup mata dari fakta-fakta yang ada. Melihat dan mencermati untuk kemudian menentukan langkah.

Maka, bagi yang muslim, ada satu doa yang hendaknya kita perbanyak, doa yang masyhur, terutama diajarkan ke kita waktu di TPQ dulu.

اللهم أرنا الحق حقاً وارزقنا اتباعه وأرنا الباطل باطلاً وارزقنا اجتنابه

“Allahumma arinal haqqan haqqaa, warzuqnat tibaa’ah. wa arinal baathilan baathilaa, warzuqnaj tinaabah.”

“Ya Allah, tampakkanlah kepada kami yang benar adalah benar dan anugerahi kami untuk mengikutinya. Dan tampakkanlah kepada kami yang batil adalah batil, dan anugerahi kami untuk menjauhinya.”

Iklan

Kejutan

Langit sore terlihat menawan. Hamparan areal persawahan tampak hijau menyegarkan. Belum lagi angin sepoi-nya yang selalu membuat rindu akan kampung halaman. Ah,. aku tersenyum, kembali kulihat arloji di pergelangan tangan. Sepertinya sudah saatnya aku menelpon Ibu. Kemarin ayah bilang bahwa beliau tidak bisa menjemputku di stasiun. Aku sudah mengatakan akan naik ojek saja, toh hanya setengah jam dari stasiun ke rumah. Ayah bilang jangan. Akhirnya setelah diskusi alot, diputuskan bahwa Ibu-lah yang akan menjemputku.

“InsyaAllah setengah jam lagi sampai di stasiun”, kataku menyampaikan.

“Nanti Ibu tunggu di mesjid alun-alun aja ya. Belum sholat ashar juga soalnya.”, tambahku.

“Ngga usah, gpp nanti Ibu langsung ke stasiun aja. Wong deket aja kok.”, kata beliau. Aku memutuskan untuk tidak menolak, mengatakan iya. Tidak ada salahnya beliau menjemput langsung ke stasiun, setelahnya baru sama-sama ke masjid.

Setengah jam berlalu, speaker pengumuman kereta mengatakan akan segera tiba di stasiun yang aku tuju. Penumpang diminta bersiap. Sejurus kemudian, aku sudah berjalan menuju pintu keluar. Menggendong tas ransel besar, jaket dan tas plastik berisi oleh-oleh di tangan. Aku bersiap menemui Ibu.

-asal teman-teman tahu, momen pulang kampung selalu menjadi momen yang mengharukan bagi kami yang mungkin hanya bisa pulang beberapa bulan sekali-

Aku berjalan melewati pintu keluar, bergegas menuju bangku-bangku di depan stasiun yang biasanya ditempati mereka yang sedang menunggu. Aku melewati beberapa mobil yang terparkir. Samar seperti kulihat adik perempuanku. Iya, adik perempuanku. Ibu kemarin bilang bisa kok nanti aku naik motor ke stasiun. Itu berarti Ibu ke sini ngga (jadi) naik motor. Karena ayah sedang ke luar kota, jadi siapa yang mengantar Ibu ke sini. Aku mulai curiga.

Dan, terbukti. Kamu. Kamu yang kulihat tersenyum duduk di samping Ibu. Mataku bersitatap sejenak dengan Ibu. Tatapanku mengatakan “Ibu,. kok bisa sih?”. Alih-alih menanggapi, Ibu malah tertawa lebar. Kejutannya berhasil. Aku yang -demi melihatmu- lalu mengusap wajahku dengan jaket. Berusaha tidak terlihat terlalu berantakan. Juga berusaha merapikan rambut yang, ah sudahlah. It’s okay, aku baru beberapa waktu lalu bangun tidur. Aku rasa kamu tahu itu.

***

Aku sering senyum-senyum sendiri ketika mengingat ‘kejutan’ itu. Tahukah kamu, saat itu aku diam-diam juga bahagia mengetahui kalau kamu -bersama ibu- menyiapkan skenario kejutan kala itu. Aku bahagia sebab itu berarti ada kedekatan yang mulai dibangun antara kamu dengan Ibu. Aku tidak membayangkan bagaimana kamu merencanakannya, tapi aku bahagia karenanya. Terimakasih ya. 🙂

Dan kejutan serupa pun nampaknya kamu rencanakan siang ini. Kala tadi pagi aku lupa membawa baju olahraga buat sore nanti. Lalu menjelang siang hari, aku memintamu untuk mengirimkan baju itu lewat go send. Sekitar jam 11 barangnya sudah diambil pengantar. Setengah jam kemudian sudah sampai sini. Aku yang memang sedang melakukan ini itu hanya menyempatkan mengambil bungkusan bajunya dan langsung aku letakkan di meja kerja.

“Dicek dulu mas udah bener kan barangnya?”, katamu ketika aku bilang alhamdulillah udah sampe. Dan aku berpikir bahwa ga ada masalah kalau misal kamu ‘salah’mengambilkan -ngga ada kaus kakinya- atau apapun itu. Tapi ternyata aku kurang peka menangkap maksud ‘dicek dulu mas‘ yang bahkan kamu bilang sampe tiga kali. Ada sesuatu di bungkusan itu selain baju olahraga. Ya, bekal makanan yang aku baru tahu -sayangnya- setelah kembali dari istirahat siang. Maaf sayang ya,. akan tetap mas makan kok, tapi nanti sore ya. 🙂

Kejutan
Ianya sebuah tanda cinta
yang membuat aku makin cinta
meski tak seperti yang kamu rencanakan Adinda
Ia akan tetap jadi kisah terindah
dan sekali lagi
Terimakasih ya
maaf mas ngga peka XD

Makasih sayang.. 😀

Terimakasih Adinda

Matahari sudah agak meninggi, perlahan menampakkan teriknya pada setiap mereka yang beraktifitas di luar rumah. Dalam perjalanan ke sini tadi pun demikian. Jalanan yang ramai seolah menjadi saksi atas semua kesibukan mereka yang berlalu lalang. Kesibukan dengan tujuan masing-masing, perjuangan masing-masing.

Aku meneguk pelan teh hangat yang tersaji di hadapan, mengambil jeda sembari meyakinkan diri bahwa aku sudah berada di tahap ini. Bila kamu bertanya apakah aku nervous, grogi dan semacamnya. Tentu saja. Mungkin kamu tidak perlu bertanya karena sudah mengetahui itu sejak pertama kali aku membuka suara.

Baik sangka, mungkin itu yang menjadi modal buatku setelah mengucap bismillah. Dan aku bersyukur bahwa aku tidak harus memulainya dari awal. Terimakasih ya sudah berusaha mengenalkan aku pada beliau berdua.

Aku juga bersyukur bahwa pembicaraan ini tidak serumit yang aku khawatirkan. Pertanyaan demi pertanyaan yang mengalir begitu saja. Sungguh, terimakasih untuk suasana yang nyaman ini. Terimakasih sudah bersikap begitu baik padaku. Aku merasa sudah dianggap seperti anak sendiri di rumah kamu. Atau, barangkali orangtua kamu kasihan ya, berusaha begitu pengertian pada aku yang datang sendirian. 😀

Baik sangka, itu pula mungkin pegangan yang membuat orangtua kamu percaya. Percaya pada aku yang bukan siapa-siapa. Mm, aku saja masih terus berusaha untuk meyakinkan diriku sendiri. Ya, bismillah. InsyaAllah dengan niat yang baik, tujuan yang baik, pun dengan cara-cara yang diupayakan baik pula, hasilnya juga insyaAllah baik.

Aku juga menangkap sebuah empati yang begitu besar pada orangtua kamu. Empati seorang ayah pada laki-laki yang memberanikan diri mengetuk pintu rumahnya. Empati yang berdasar ukhuwah, juga saling tolong menolong dalam kebaikan. Jazakumullahu khairan, semoga Allah beri balasan dengan sebaik-baik balasan.

Membangun empati, itu pula yang harus aku lakukan. Menyadari sepenuhnya bahwa kamu adalah mutiara paling berharga di mata seorang ayah. Mutiara yang dijaga, yang dibesarkan dan dididik dengan penuh cinta, pun senantiasa dihujani dengan doa-doa terindah. Maka sudah semestinya, bila Allah takdirkan kita untuk bersama, Allah karuniakan kamu kepadaku sebagai sebuah anugerah terindah sekaligus amanah, akulah yang harus berusaha menjagamu dengan sebaik-baiknya. Bismillah, laa haula wa laa quwwata illaa billah.

***

Matahari belum sepenuhnya terbit bersinar. Semburat jingga masih tampak menyala dalam naungan awan-awan yang meneduhkan. Orang-orang sibuk berlalu lalang, berdatangan. Pengeras suara beberapa kali memberikan pengumuman.

Pulang, selalu mendatangkan haru kebahagiaan. Juga kesyukuran bahwa kita tidak sendiri di dunia ini. Ada mereka orang-orang tercinta, yang Allah datangkan mereka sebagai anugerah, pemberian terindah. Begitupun kita bagi mereka.

You don’t choose your family. They’re Allah’s gift to you, as you are to them
~Anonymous

Tahukah kamu, apa yang membuat para ayah tetap bersemangat dalam penat dan letih, memacu motor tua mereka membelah jalanan menuju rumah sepulang kerja?

Barangkali harapan. Bahwa ada yang menunggunya di sana. Bahwa kepulangannya pun memberi bahagia pada sosok-sosok yang ia cinta. Dan lelah, barangkali menguap begitu saja entah kemana, tatkala senyum-senyum itu menyambutnya.

Pulanglah. Karena bukan hanya kau yang merindu. Namun ada mereka yang juga merindukanmu

Apalagi ini kepulangan yang istimewa. Kepulangan yang penuh doa-doa, insyaAllah. Ucapan tahniah, barakallah, semoga lancar sampai acara juga setelahnya. Alhamdulillah.

Ya, kepulangan yang bukan hanya melepas rindu pada keluarga tercinta. Namun juga insyaAllah akan menambah satu anggota keluarga.

“Horee.. dapat mbak besar.”, seru si kecil kala aku dan ibu bercerita tentangmu. Aamin. Semoga lancar, semoga Allah karuniakan berkah selalu. Aku jadi bagian dari keluargamu, kamu pun jadi bagian dari keluargaku. Keluarga kita, insyaAllah 🙂

Sudah ada panggilan boarding, Mas berangkat dulu ya. Doakan semuanya lancar, insyaAllah kita ketemu dalam kesempatan yang jauh lebih baik, lebih berkah.

***

“Bismillah. Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, la haula wa la quwwata illa billah.” Aku mengulang-ulang kalimat itu. Ada debar yang tak bisa kujelaskan, ada haru penuh kesyukuran sekaligus juga kekhawatiran. Mungkin lebih tepatnya memohon kekuatan, bahwa selepas ini akan ada tanggungjawab yang tidak ringan.

Khutbah nikah dibacakan. Beberapa ayat al-Quran yang dibacakan, kurasakan memberi ketenangan juga keyakinan. Keyakinan bahwa ini semua terjadi atas kehendak-Nya, atas perkenaan-Nya. Bahwa aku, bahwa kita tidak akan dibiarkan sendiri oleh-Nya.

Dan saat itu pun, saat yang dinanti pun tiba. Ketika ayahmu -yang akan menjadi ayahku juga- mengulurkan tangannya, erat menggenggam tanganku. Dan beliau sangat tenang, lancar dan tegas, dengan suara beratnya mengucap “Ankahtuka…” hingga akhir kalimat. Dan tanpa jeda, segera aku ucap sebaris jawab. Suara yang terdengar bergetar. Petugas KUA, juga para saksi mengangguk pelan, “Sah..”. Alhamdulillah, alhamdulillah 🙂

Dan doa-doa pun dipanjatkan. Doa-doa memohon keberkahan untuk keluarga kita, untuk bersamanya kita.

Barakallahu laka, wa baraka ‘alaika, wa jama’a bainakuma fi khair.

image
alhamdulillah 🙂

Alhamdulillah..
Alhamdulillahi alladzi bini’matihi tatimmus shalihat..
Segala puji bagi Allah, yang berkat nikmat dan karunia-Nya kebaikan-kebaikan menjadi sempurna. Niat-niat baik kita dapat terlaksana, juga diberikan kemudahan oleh-Nya..
Alhamdulillah 🙂

Betapa banyak doa-doa yang tercurah pada kita. Doa dari lisan-lisan yang mulia. Dari ketulusan kedua orangtua kita, ustadz-ustadz kita, guru-guru kita, juga keluarga besar kita seluruhnya. Juga dari para tamu undangan, belum lagi dari saudara saudari kita fillah yang kita berharap lebih dari yang kita kira. Dinda, tiada lain yang bisa kita lakukan tentunya selain mengaminkannya. Aamiin, aamiin,. Ya Robbal Alamin. Tidak lupa juga rasa syukur dan terimakasih kita pada semuanya. “Jazakumullahu khairan, Semoga Allah beri balasan dengan sebaik-baik balasan.”

Jodoh adalah rizki. Yang terbaik adalah pilihan Allah. Engkau, dinda adalah pilihan-Nya untukku. Begitu pun aku yang telah dipilih-Nya untuk mendampingimu. Maka, rizki membutuhkan kesyukuran, juga penjagaan. Bahwa bersatunya kita semakin menguatkan langkah kita dalam kebaikan. Engkau, separuh agamaku, penjaga ketaatanku.

Barakallahu fiik,.
Barakallahu fiik. Uhibbuki fillah dinda.
“Titip dek eva ya nak.”
“Titip adekku ya dek.”
“Titip mbakku ya mas.”
“Titip ponakanku ya mas.”

Ini keluarga kita. Kita yang bangun, kita yang jaga, kita yang rawat. Doakan mas bisa jadi imam yang baik buat adinda ya. Apapun yang terjadi setelah ini, kita akan hadapi bersama. Hingga surga, hingga surga, insyaAllah. 🙂

image
barakallah 🙂

Mensyukurimu

Aku masih teringat di awal masa kuliah dulu ayah sering berpesan, “Kamu di situ sendiri, semuanya diatur sendiri. Kamu mau jadi apapun, ya itu kamu yang tentukan. Ayah sama ibu di sini hanya bisa mendoakan, semoga kamu baik-baik di sana, selalu dijaga.”

Tahukah kamu, mendapatkan pesan seperti itu rasanya membuat tingkat kedewasaan ini naik selevel lebih tinggi. Menyadari bahwa ada yang begitu menyayangi, ada yang begitu mengharapkan diri ini untuk berhasil. Maka satu yang kemudian menjadi tekad dalam diri, bahwa aku tidak boleh mengecewakan mereka. Bahwa aku harus berusaha sebaik-baiknya.

Mendapatkan kepercayaan, adalah sesuatu yang harus dijaga dan dipertanggungjawabkan. Bahwa ada sesal yang lebih ketika aku kembali terjatuh dalam kesalahan. Juga ada semangat yang berlipat buatku untuk meraih hal-hal yang membanggakan.

Tiba-tiba, perasaan itu kembali hadir. Ketika sebelumnya aku sempat mengatakan bahwa masih ada kekhawatiran yang terkadang muncul. Kekhawatiran untuk mengemban tanggungjawab yang besar. Dan kamu, kemudian dengan tenang menyampaikan bahwa kita adalah dua orang yang sama-sama dewasa. Mengerti apa yang harus dilakukan, juga apa yang seharusnya tidak dilakukan. Bahwa aku bisa berusaha dengan sebaik-baiknya.

Kemenkeu Mengajar, SD Inpres Perumnas Makassar

Kemenkeu Mengajar: Dari Kami, Untuk Negeri

Dalam jeda di antara kesibukan pekerjaan, mari merenung sejenak. Mengapa tidak kita berbuat untuk negeri, sedikit lebih banyak lagi?

Senin, 24 Oktober 2016 kemarin menjadi hari yang begitu istimewa bagi kami, para Relawan Kemenkeu Mengajar. Hari yang ditunggu-ditunggu, yang telah dipersiapkan segala sesuatunya dengan sebaik-baiknya. Tentunya, menyiapkan konsep dan juga apa-apa yang akan dilakukan di kelas menjadi hal yang wajib untuk dilakukan. Meski pas hari mengajar kemarin, hampir semua konsep harus disesuaikan karena banyaknya kejutan-kejutan di kelas. Kejutan yang membuat kewalahan dan keringat bercucuran. Haha 😀

Kemenkeu Mengajar dilaksanakan untuk pertama kalinya di tahun ini. Mengambil enam kota sebagai lokasi, Jakarta, Banda Aceh, Denpasar, Balikpapan, Makassar dan Sorong. Alhamdulillah, kemarin saya sempat mengambil bagian di salah satu tim sebagai dokumentator. Tergabung dalam tim Djuanda Kartawidjaya, kami bertugas di SD Inpres Perumnas Makassar. Ternyata, dalam satu tim kami, ada juga beberapa kawan yang datang dari jauh demi bisa berpartisipasi dalam acara ini. Ada yang datang dari Palu, Pamekasan hingga Cilacap. Saya benar-benar salut 🙂 . Perlu diketahui bahwa acara ini tidak menggunakan anggaran kantor, namun murni dari dana pribadi kami masing-masing. Mulai dari transportasi dan akomodasi hingga pada pernak-pernik yang kami gunakan pada saat mengajar.

Senin pagi, tim kami berkumpul di Gedung Keuangan Negara Makassar untuk sama-sama berangkat menuju sekolah. Kami harus bersiap lebih pagi dari biasanya karena akan ikut serta dalam upacara bendera.

01
bersiap berangkat 🙂

Sampai di lokasi, kami langsung bersiap-siap. Tim dokumentator yang terdiri dari 3 orang, termasuk saya pun segera menyiapkan semua yang diperlukan. Tidak lama kemudian, upacara dimulai.

02
Ikut menyiapkan upacara bendera
03
tim paduan suara
04
ada polisi bandara, eh :mrgreen:

Jadi kemarin teman saya yang dari bea cukai sempat disapa oleh seorang siswa. “Eh, kakak polisi bandara ya?” Hehe 😆

Usai upacara, tim pun kemudian segera bersiap untuk mengajar di kelas. Apa yang diajarkan? Matematika atau Bahasa Indonesia? Bukan, kami ‘hanya’ bercerita tentang profesi kami di Kementerian Keuangan, dikaitkan dengan fungsi pengelolaan ekonomi; membangun jalan, rumah sakit juga sekolah tentunya. Membuka cakrawala sambil bermain bersama 🙂

06
suasana di kelas
08
seluruh siswa memakai ‘topi’ berisi nama dan cita-cita
09
ada yang sadar kamera 😀
20
minta apa ya kira2 adeknya? :mrgreen:
10
ngga tau lagi bahas apa :mrgreen:

Kemarin juga ada, salah satu pengajar yang -mungkin karena mukanya baby face banget- kemana mana dicariin sama anak-anak. Haha 😆 Pas istirahat, mereka sampe ngumpul di depan ruang guru, nyariin :mrgreen: Nih fotonya.

14
kakak, kakak.. 😀
13
foto bareng dulu.. 😀
12
kehebohan mereka 😀
15
masih isirahat, nyobain kameranya ‘kak polisi’ 😀

Setelah istirahat, maka anak-anak kembali ke kelas untuk melanjutkan sesi berikutnya. Oh iya, kegiatan mengajar ini terdiri dari 3 sesi yang selesai sekitar pukul 11.15 WITA dan kemudian dilanjutkan dengan acara penutupan.

17
menulis cita-cita pada selembar kertas
21
kertas digulung dan dimasukkan ke botol
11
saatnya main di luar kelas 🙂

Di sesi ketiga kemarin, anak-anak juga diminta untuk menuliskan cita-cita mereka pada kertas warna-warni yang dibagikan. Kertas tersebut kemudian digulung dan dimasukkan ke dalam botol yang nantinya akan digantung di taman sekolah. Ya semacam menjadi pengingat dan penyemangat buat mereka untuk meraih cita-citanya.

Ada juga pengajar yang kemudian mengajak anak-anak bermain di halaman sekolah. Kebetulan cuaca juga agak mendung, jadi sangat mendukung untuk permainan-permainan lapangan. Sesi ketiga usai dan kami pun bersiap untuk penutupan acara.

22
aku bisa! kamu bisa! kita bisa!!!
23
Kemenkeu Mengajar: Dari Kami, Untuk Negeri

“Semoga tahun depan ada lagi kegiatan seperti ini.”, jawab Ibu Kepala Sekolah ketika kami tanya tentang harapan dan masukan untuk kegiatan Kemenkeu Mengajar. Beliau juga menyampaikan terimakasih, karena selain kami juga bisa merasakan bagaimana menjadi guru SD meski cuma sehari, kegiatan seperti ini juga dapat memotivasi serta memberikan semangat pada anak-anak untuk lebih giat belajar dan meraih cita-citanya.

Semoga ke depan kegiatan Kemenkeu Mengajar dapat dilanjutkan serta disempurnakan, untuk terus menebar manfaat dan semangat, membuka cakrawala dan cita-cita. Aku bisa, kamu bisa, kita bisa! 😀

***

Seluruh foto yang saya digunakan di sini adalah hasil jepretan Pak Janis Heriyanto. Di tim kami kemarin ada 3 dokumentator, Pak Heri, Mas Imam, dan saya. Kebetulan saya bagian videografer jadi ngga ngambil foto 😀 . Karya Mas Imam juga ada di steller stories, dapat dilihat di sini: dari kami untuk negeri.