Bersaudara Meski Tak Sewarna

Saya masih ingat dulu ketika SMP, saat itu kami akan melakukan praktik sholat yang merupakan salah satu materi dalam mata pelajaran agama islam. Saat itu ketika berbincang dengan salah seorang teman, dia mengatakan kalau ada yang berbeda dari tata cara sholat yang kami lakukan. Dia mencontohkan doa iftitah, lalu saya minta dia membacakan doa iftitah ‘versi’ dia yang ternyata memang berbeda dan sama sekali belum saya dengar sebelumnya.

Teman saya ini memang lulusan MI Muhammadiyah, sedangkan saya secara lingkungan, baik ketika belajar di guru ngaji di masjid maupun di sekolah sebelumnya, adalah Nahdlatul Ulama alias NU. Teman saya waktu itu pun praktik sholat dengan melafalkan bacaan-bacaan sholat sebagaimana yang dia pelajari. Guru agama kami pun tidak mempermasalahkannya. Saat itu saya hanya berpikir, ya memang saya belajarnya begini, dia belajarnya begitu, makanya beda. Yang jelas, baik guru saya maupun guru dia pasti punya pegangan dan dasar tentang apa yang diajarkan ini.

Tahun demi tahun pun berlalu, hingga hari ini ternyata dari sedikit yang saya tahu, memang agama islam ini begitu luas. Beberapa kali ketika membaca di kolom konsultasi syariah di rumah fiqih indonesia, ternyata memang hampir di semua hal yang bersifat cabang (bukan pokok) ada pendapat yang berbeda di kalangan ulama. Dan para ulama pun sepakat bahwa perbedaan-perbedaan itu adalah hal yang diperbolehkan.

Adalah Umar bin Abdul Aziz yang diceritakan begitu gembira ketika mendapati para sahabat Nabi berlainan pendapat tentang sebuah perkara. Alasannya? karena dengan demikian, umat memiliki keluasan pilihan, juga kemudahan yang mungkin disesuaikan dengan kondisi dan keadaan. Alhamdulillah, betapa islam adalah agama yang mudah.

Satu hal yang saya garis bawahi tadi, bahwa berbeda bukan berarti salah. Sederhana, karena kita belajarnya begini, dan saudara kita belajarnya begitu. Maka kita amalkan yang kita pelajari, saudara kita pun mengamalkan yang dipelajarinya. InsyaAllah masing-masing Ustadz yang mengajarkan punya dasar dan pegangan. Maka sebagai muslim, pun wajib bagi kita untuk terus belajar dan belajar. Karena terlalu banyak hal yang kita tidak tahu, yang itu penting dan kita butuhkan untuk bekal kehidupan kita.

Ada perbedaan yang hanya memberi warna dan bukan sebab terpecah. Maka sebagai orang yang jauh dari kata faqih, mari kita tahan lisan kita dari mengomentari apa yang bukan menjadi keahlian kita. Karena apa yang kita tahu barangkali hanya dari satu sisi, satu rujukan sedang saudara kita memiliki rujukan yang lain. Jangan mudah mencap salah, mengatakan bid’ah karena bisa jadi ada begitu banyak pembahasan ulama yang mungkin memang tidak satu kata.

Berbeda itu bukan cela, namun berpecah tentu musibah. Ketika kita dapati hari ini, lisan kita terlalu ringan untuk berkomentar, bahkan mendebat dan saling menyalahkan. Padahal faqih bukan, ahli ilmu apalagi, hafal satu hadits sanad beserta matannya dalam bahasa arab saja tidak. Mari menyadari posisi, sebagai penuntut ilmu maka bersikaplah sebagai penuntut ilmu, bukan sebagai ulama. Arahkan semangat untuk beragama itu dengan belajar sebanyak-banyaknya. Bukan mendebat dan menyalahkan dengan selantang-lantangnya.

Menjaga ukhuwah, hal yang utama. Janganlah kita salah prioritas, meributkan hal-hal yang remeh temeh namun justru mengabaikan hal yang begitu penting dan utama, yakni persatuan umat. Betapa kita rasakan umat ini yang kian terkotak, kian tersekat. Semoga Allah lembutkan hati-hati kita untuk menjadi hamba-Nya yang bersaudara. Yang saling menjaga dan mendoakan, saling menasihati dalam kebaikan.

Di sini pun saya rasakan hal yang sama, ketika menghadiri pengajian, tabligh akbar misalnya. Ketika saya dapati secara penampilan, saudara-saudara saya di sini mungkin agak berbeda. Yang laki-laki kebanyakan mengenakan celana di atas mata kaki, begitu juga dengan istri-istri mereka, kebanyakan berpakaian warna gelap atau juga mengenakan cadar. Berbeda? iya, tapi bukan masalah. Begitulah yang mereka pelajari, yang mereka yakini keutamaannya. Dan kita pun tahu, bahwa yang sunnah akan tetap menjadi sunnah. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita tetap terikat sebagai saudara, saling menghormati, saling mendoakan dan mengharapkan kebaikan bagi saudara kita. Karena bersaudara tak mesti sewarna.

Semoga Allah persatukan hati-hati kaum muslimin. Semoga Allah jaga kaum muslimin. Semoga Allah balas makar mereka yang berusaha memecah belah kaum muslimin. Semoga Allah balas mereka yang berniat jahat pada kaum muslimin.

Terakhir, izinkan saya menuliskan kembali hal yang semoga menjadi pengingat bagi kita, khususnya saya sendiri. Bahwa mungkin kita memiliki peran yang berbeda, juga fokus yang berbeda. Namun bukankah itu berarti kita dapat saling melengkapi?

belajar memahami
belajar rukun
belajar melihat secara utuh
bahwa kita adalah umat yang satu
bahwa mukmin itu bersaudara
bahkan ibarat satu tubuh
adapun bila ada peran yang berbeda, barangkali memang disanalah Allah lebih memberi kemampuan untuk berkhidmah

Iklan

5 thoughts on “Bersaudara Meski Tak Sewarna

  1. Rissaid September 18, 2016 / 7:23 pm

    Aamiin. Semoga jauh dari perpecahan ๐Ÿ™‚

  2. rizzaumami September 26, 2016 / 8:12 am

    perbedaan adalah rahmat, semoga dijauhkan dari sikap saling menghujat dan menyalahkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s