Kamu Jadi Baik karena Doa Mereka

Sungguh, rizki itu bukan hanya uang
Kedua orangtua, terlebih doa-doa beliau berdua,
kesempatan untuk belajar, dari kecil dulu hingga sekarang
bertemunya kita dengan teman, kawan juga sahabat-sahabat yang baik
hingga pada kebaikan-kebaikan yang Allah mudahkan bagi kita untuk melaksanakan

Alhamdulillah

Saya ingat sekali dulu, waktu masih kecil, sudah SD kelas 1 sih :mrgreen: tiap hari saya diantar sekolah dan ditunggui oleh ibu. Waktu itu memang saya masih 5 tahun dan tidak sekolah TK sebelumnya, jadi ya masih takut-takut ketemu orang banyak. Karena terus-terusan seperti itu dan saya ngga mau ditinggal sama sekali, akhirnya diputuskan belajar di rumah dulu saja, tahun depan (saya sudah 6 tahun, usia ideal masuk SD) baru sekolah lagi.

Di rumah juga begitu, pas belajar nulis, berhitung, kan saya diajar ibu saya sendiri kalau di rumah, pasti ngeluhnya capek. “Udah buk, besok lagi ya..”, selalu rengek saya. Ya mungkin memang bawaannya anak pertama, belum punya adik lagi, manja πŸ˜€ Alhamdulillah, ya bisa belajar dikit-dikit, tulisan juga udah lumayan, lumayan ngga terlalu jelek maksudnya πŸ˜† Alhamdulillah πŸ™‚

Pas sorenya alhamdulillah di kampung saya ada TPQ, Taman Pendidikan al-Quran bertempat di masjid kampung. Semua yang sudah sekolah dihimbau agar belajar ngaji di situ. Ya pertama-pertama saya diantar ibu, hari pertama, kedua sampai kemudian berani berangkat sendiri. Alhamdulillah dari sejak kecil sudah dapat pendidikan agama seperti itu. Ya belajar mulai dari iqra, belajar wudhu sampai sholat, kemudian mulai membaca al-Quran, ada selingan juga hafalan surat pendek. Alhamdulillah dulu hafalan surat pendeknya mulai Ad-Dhuha, jadinya memang yang paling hafal sampai sekarang ya surat ini. Hehe. Ya kan biasanya yang pertama itu paling semangat, selanjutnya apalagi pas dapat surat yang agak panjang (read: al-‘Alaq), sudah mulai kena hukuman semua. :mrgreen: Semoga Allah balas kebaikan para Ustadzah saya dengan kebaikan yang berlimpah, Aamiin. πŸ™‚

Yang paling teringat juga dulu, adalah ketika kegiatan praktik sholat. Jadi ada jadwalnya, saya lupa tiap hari apa. Kami berbaris rapi di teras masjid, sampai beberapa shaf karena memang kami yang mengaji jumlahnya banyak. Dan mulai dari takbiratul ihram sampai salam kita baca dengan bacaan yang keras. Itupun harus pelan-pelan, ngga boleh cepat, sembari para Ustadzah kami membenahi gerakan kami, posisi kami yang kurang tepat. Sampai satu gerakan saja bisa lama dulu itu, gara-garanya masih banyak yang salah-salah. Maka hingga hari ini, bahkan hingga kami meninggal dunia nanti, pada setiap sholat yang kami lakukan, insyaAllah Allah hadirkan pula pahala untuk beliau-beliau yang dengan sabar memegang tangan kami, meluruskan punggung kami ketika ruku’, hingga pada bacaan sholat yang kami hafalkan. Apalagi bila kemudian kami, murid-murid beliau mengajarkan pula hal ini kepada anak-anak kami, atau siapapun itu, pun pahalanya akan sampai pula kepada beliau-beliau. Semoga Allah kumpulkan kita di surga-Nya, tempat yang jauh lebih baik dari keadaan kita di dunia.

Itu tadi baru setitik kebaikan beliau-beliau yang telah banyak berjasa pada hidup kita. Bagaimana lagi dengan orangtua kita. Ibu kita yang kita tumbuh dan hidup dalam rahimnya selama sembilan bulan, yang air susunya menjadi nutrisi utama pembentuk tulang dan daging kita, yang dengan kasih sayangnya merawat kita dengan penuh cinta, mengenalkan kata pertama hingga kita bisa ini dan itu. Sungguh, kita di mata ibu tetaplah anak kecil yang baru kemarin digendongnya. Maka pun kita sungguh memohon agar Allah mengaruniakan kebersamaan dengan orangtua kita, mereka yang kita cinta, bukan hanya di dunia, namun hingga ke surga-Nya.

Sungguh, orangtua kita telah mengupayakan segalanya demi kebaikan kita. Memberikan pendidikan yang terbaik bagi kita, yang barangkali kita jarang berfikir bagaimana kesusahan beliau untuk dapat selalu memenuhi apa yang kita butuhkan, bahkan terkadang sekedar apa yang kita inginkan.

Berbuat baik kepada keduanya.
Berbuat baik kepada keduanya.
Berbuat baik kepada keduanya.

Rendahkan diri kita di hadapan keduanya.

Ketika dengan sedikit pendidikan yang lebih tinggi, lebih banyak mengerti, atau misalnya sudah ngaji dan lebih paham dalam agama ini lantas membuat kita memandang orangtua dengan pandangan yang kurang hormat atau bahkan pandangan merendahkan. Sadari bahwa ada yang salah dengan pendidikan kita, ada yang salah dengan ngaji kita.

Semoga Allah mudahkan kita semua untuk menjadi anak yang berbakti kepada orangtua kita, yang dapat membahagiakannya, di dunia dan di akhirat kelak.

Salah seorang menasihatkan, “Apapun yang ibuku inginkan dan aku bisa memenuhinya niscaya akan segera aku penuhi. Karena ada saatnya ibuku menginginkan sesuatu, namun aku tidak bisa mewujudkannya.”

Terimakasih sudah membaca. Selamat berakhir pekan. Jangan lupa mengunjungi orangtua, atau menelponnya. Kehadiran kita, meski hanya berupa suara adalah kado terindah bagi mereka. πŸ™‚

Barakallahu fiikum πŸ™‚

Iklan

4 thoughts on “Kamu Jadi Baik karena Doa Mereka

    • Ismail Hasan Agustus 21, 2016 / 11:41 am

      iya Mbak,. sama, buat self reminder juga πŸ™‚

    • Ismail Hasan Agustus 22, 2016 / 9:10 pm

      iya mas,. touching banget itu videonya.. T.T

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s