Menikah Muda

Ada yang tahu pada umur berapa Ali bin Abi Thalib dan Fatimah dinikahkan oleh Rasulullah saw? Imam Adz-Dzahabi menuturkan bahwa usia Ali ketika itu adalah 21,5 tahun dan Fatimah 15,5 tahun. Mari berhenti sejenak, apa yang kira-kira ada di pikiran kita mendapati fakta ini?

Kebanyakan kita akan berpikir, “Ah, itu kan zaman dulu. Sekarang kan sudah beda.” Sungguh disayangkan, peristiwa yang begitu banyak hikmah ini kita sikapi demikian. Padahal intinya bukan pada ‘zaman dulu’ atau ‘zaman sekarang’ sebagaimana dijelaskan oleh Ustadz Budi Ashari, namun pertanyaan besarnya adalah, “Bagaimana menyiapkan generasi yang pada usia sebelia itu sudah mampu mengemban amanat dan tanggungjawab untuk membangun sebuah keluarga.”

Agaknya memang kita jauh, sangat jauh tertinggal dari generasi terbaik umat ini. Mereka yang masa kecilnya dipenuhi dengan al-Quran, kecintaan kepada Nabi saw, serta semangat dalam memperjuangkan agama islam.

Kembali ke bahasan nikah tadi. Pernikahan adalah tanggungjawab besar, tanggungjawab dunia akhirat. Maka menikah berarti menambah peran tanpa menghilangkan peran yang sudah ada sebelumnya. Peran sebagai anak, kakak, adik akan tetap ada ditambah dengan peran baru, suami atau istri. Menikah bukan pelarian atas beragam tanggungjawab yang belum selesai. Lari dari hubungan yang kurang harmonis dengan orangtua, atau mungkin tugas kuliah yang sering membuat sakit kepala. Hehe. Tidak usah terlalu serius bacanya ya, yang nulis juga belum mengalami soalnya 😀

Tentang judul yang saya pilih di atas, sengaja memang biar bikin penasaran 😆 Ya memang kan akhir-akhir ini banyak berseliweran beragam motivasi untuk nikah muda. Sebuah hal yang menggembirakan tentu saja mengingat begitu banyaknya pintu kebaikan yang terbuka dengan menikah. Namun tentu yang harus pula diperhatikan adalah bagaimana persiapannya. Karena mendukung untuk segera menikah bila tanpa ada persiapan sepertinya malah akan menimbulkan kekhawatiran.

Saya sangat setuju bila ada yang mengingatkan bahwa pernikahan bukan semata happily ever after sebagaimana dalam cerita-cerita dongeng yang dulu kita baca. Bahwa menikah berarti banyak belajar, meluaskan kesabaran, mengontrol ego dan seterusnya. Dan tentu saja di dalamnya akan banyak kejutan-kejutan yang bila kita tidak cukup ilmu dan mental dalam menghadapinya, mungkin bisa membuat pernikahan menjadi goyah. Namun bila kemudian kita bisa belajar memahami, memandang tidak hanya dari satu sisi, berbesar hati untuk bersabar, maka semoga kejutan-kejutan yang hadir justru akan membuat hari-hari semakin indah. Asli, ini ngayal 😆

Mempersiapkan, barangkali itulah yang menjadi pekerjaan rumah. Bahwa langkah nyata baru akan diambil bila memang sudah siap untuk mengemban tanggungjawabnya.

Bila memang ia telah mengetahui bahwa ada mutiara istimewa di tengah lautan sana. Namun ia sendiri belum memiliki kapal, peralatan selam dan ilmu yang cukup yang bisa ia gunakan untuk menjemputnya, maka apa gunanya bila ia hanya berteriak dari tepi pantai?

Maka meminjam istilah Mas Gun, tentang jarak samudera. Bahwa jarak yang tercipta haruslah seluas samudera. Tidak perlu tanggung-tanggung, dekat tidak, jauh juga tidak. Jauhlah sekalian, sebab jarak yang jauh dan rintangan yang besar akan membuat mundur mereka yang tidak punya keberanian. Namun bila ada yang berani datang, tolong dimudahkan ya,. Haha 😀

Karena berproses sebelum bersiap tidak akan membuahkan apa-apa. Apalagi bila dua pihak sudah saling menerima, namun pintu pernikahan masih jauh di depan sana, bahkan tidak tahu kapan datangnya. Kita khawatir bahwa hati kita terlalu lemah untuk menghadapi godaan-godaan yang membuat kita jauh dari ridha-Nya.

Dan di atas semuanya tentu saja tugas kita sebagai manusia hanya mampu berupaya dan berdoa dengan sebaik-baiknya. Adapun hasil tentu kita serahkan semuanya pada Sang Maha Pembuat Rencana.

image
tetap husnudzan ya 🙂

Tiba-tiba pengen nulis ini setelah tadi siang saya sempat main ke rumah seorang teman yang baru menikah beberapa waktu lalu. Saya main ke sana juga dengan teman-teman yang lain. Sesampai di sana, kami pun rame-rame ngobrol santai, karena memang dari kuliah dulu sudah teman sepermainan. Tiba waktu makan, ini masakannya istimewa, baru matang soalnya. Yang buat juga istri teman saya ini bersama istri teman satunya lagi yang sama-sama bertamu di sana.

Dan kami pun makan bersama, duduk bersila sambil ngobrol di depan tivi. Tiba-tiba dia nanya, “Enak mas?”

“Iya, enak banget.”, jawab saya segera.

“Tiap hari gini lo,” lanjutnya sambil tersenyum yang saya dengan jelas bisa menerjemahkannya.

“Alhamdulillah.”, ucap saya kemudian yang berlanjut dengan tawa.

Barakallahu laka, wa baraka alaika, wa jama’a bainakuma fii khair. Terimakasih untuk semuanya,. doakan kami juga bisa segera nyusul 😀 Pada teman-teman saya yang sudah menikah ini, saya teringat ketika Ustadz Salim A Fillah bercerita bagaimana berimprovisasi kala mengakhiri dongeng yang dibacakan kepada putrinya.

“Dan pangeran dan putri pun menikah. Kadang mereka diberi nikmat maka mereka bersyukur, kadang mereka diberi ujian maka mereka bersabar. Hidup senantiasa berusaha istiqomah hingga meninggal dalam keadaan husnul khatimah.”

Karena kebersamaan yang dinanti bukan hanya di dunia, namun hingga ke surga Allah Ta’ala

Iklan

20 thoughts on “Menikah Muda

    • Ismail Hasan Juli 24, 2016 / 9:46 pm

      pertanyaan legend.. tanpo tedeng aling-aling.. Haha 😆

      • praditalia Juli 24, 2016 / 10:25 pm

        Hahah… frontal… jawabannya mana mas wkwkw

      • Ismail Hasan Juli 25, 2016 / 5:45 am

        jawabnya ada di ujung langit 🙂

    • Ismail Hasan Juli 24, 2016 / 9:47 pm

      iya mbak,. muda yang penting persiapannya matang 🙂

  1. cinta1668 Juli 24, 2016 / 10:21 pm

    Aamiin aamiin, Cinta doain smga segera menyusul ya mas.

    Btw, ngomongin soal nikah muda ya mas, jd inget bukunya pak Ahmad Rifa’i Rif’an judulnya “Ya Allah siapa jodohku?” Di dalamnya juga disebut nama ustad Salim A Fillah ttg keberanian beliau melamar seorang gadis saat kondisi ekonominya blm bgtu mapan. Tp kahirmya valon mertuanya luluh. Ah pokoknya itu buku keren buanget mas, bener2 ngomporin nikah muda.

    Aaahhh Cinta jd mupeng 😁

    • Ismail Hasan Juli 25, 2016 / 5:43 am

      Aamiin.. terimakasih doanya..
      iya,. semangat mempersiapkan ya 🙂

      • cinta1668 Juli 25, 2016 / 7:34 am

        Sma2 😊

    • Ismail Hasan Juli 25, 2016 / 5:47 am

      aamiin,. semoga doa-doa terbaik juga kembali pada yang mendoakan 🙂

  2. _ef Juli 26, 2016 / 3:02 am

    Dek, kenalin sama temanmu yg istrinya jago masak itu. Kali aja bisa bertamu juga pas jam makan. 🙂

    • Ismail Hasan Juli 26, 2016 / 8:25 am

      Hehe,. iya kak.. bisa nanti bertamu sama-sama. tapi bukan tiap hari ketemu ya?.. 😀

  3. Maliki Utama Putra Juli 28, 2016 / 3:00 pm

    masyaaAllah mas…mempersiapkan logistik sebelum melarung d samudera pernikahan mungkin sm dengan nasehat Amirul mukiminin, Umar bin Khattab ra. untuk belajar sebelum tiba saatnya memimpin.

    smoga Allah berkenan menjaga hati kita smua sebelum hari-H ya.. 😀

    • Ismail Hasan Juli 30, 2016 / 4:09 pm

      hehe,. iya mas
      semoga selalu dalam penjagaan Allah,. semua akan indah pada saatnya. Haha 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s