Membangun Empati

Masih dalam suasana idul fitri, izinkan saya mengucapkan minal aidzin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin 🙂 Masih dalam suasana syawal juga, mungkin banyak diantara teman atau justru sanak saudara kita yang menggenapkan separuh agama alias menikah. Memang ada sunnahnya menikah di bulan syawal. Bagi kita yang mungkin belum dipertemukan dengan jodohnya, semoga tetap sabar. Tentu juga dijemput dengan ikhtiar, bila kita memang sudah ada kesiapan. 😀

Bicara tentang kesiapan menikah, bagi kami laki-laki mungkin kadang yang lebih sering disoroti adalah kesiapan finansial. Sebabnya tentu saja karena setelah menikah, merekalah yang akan menanggung nafkah keluarga. Namun tidak jarang, ini juga kemudian menjadi penyebab para laki-laki minder duluan sebelum mengajukan diri (hanya) karena mereka belum memiliki pekerjaan tetap. Atau dalam bahasa sederhananya, belum mapan.

Pernah suatu ketika, Ustadz Salim A. Fillah ditanya tentang bagaimana menyikapi orangtua calon istri yang menanyakan perihal pekerjaan aka kesiapan finansial sedangkan mungkin kita yang mengajukan diri berada dalam posisi baru saja bekerja dengan penghasilan pas-pasan, baru merintis usaha, atau justru masih kuliah sembari nyambi bekerja untuk memenuhi kebutuhannya.

Dan jawaban beliau ketika itu agaknya penting untuk kita renungkan. Mari membangun empati kepada calon mertua kita, begitu beliau menyampaikan. Seorang gadis yang dibesarkan dari kecil, dididik dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Disekolahkan dari mulai jenjang paling awal hingga pendidikan tertinggi yang bisa diberikan. Selalu diusahakan untuk mendapatkan yang terbaik selama kedua orangtuanya bisa mengupayakan. Lalu, kita yang bukan siapa-siapa, datang untuk meminta, dengan pembawaan yang jauh dari kata meyakinkan. Bukankah itu memang mengkhawatirkan?

Ya, mari membangun empati pada beliau-beliau ini. Bahwa tidak ada yang mereka harapkan, kecuali yang terbaik bagi putri kesayangannya. Bahwa mungkin ketika kita berada dalam posisi mereka, kita pun akan mengalami kekhawatiran yang sama. Maka berusaha untuk meyakinkan orangtua si dia, adalah sebuah tahapan penting setelah berusaha untuk meyakinkan orangtua sendiri.

Dan apa sih yang terpenting bagi beliau-beliau ini, hal yang harus ada pada kita yang sedang mengajukan diri. Kesungguhan dan kemauan untuk berjuang, setidaknya itu menurut saya. Sebab ini adalah amanah yang besar, tanggungjawab yang tidak ringan.

Kalau dikatakan bahwa mapan adalah kondisi dimana kita sudah punya rumah, mobil, usaha maju atau penghasilan besar. Sepertinya kok bukan itu yang terpenting bagi para ayah kita, ini pun menurut saya. Kenapa? Ya karena untuk mereka yang seumuran kita, semua baru saja dimulai, baru diawali, baru bisa menabung sedikit-sedikit. Maka yang lebih penting adalah karakter, bahwa memang kita orang yang sungguh-sungguh, yang (dilihat akan) bisa menjaga putrinya dengan sebaik-baiknya.

Ditambah lagi, kebanyakan orangtua kita pun dulu mengawali membangun keluarganya tidak langsung sukses seperti sekarang. Mungkin ada beberapa yang mendapatkan banyak fasilitas dari orangtuanya, tapi kebanyakan mengawalinya dari tidak punya apa-apa. Maka para ayah kita ini juga yang paling memahami bahwa hidup adalah perjuangan. Dan yang terpenting bukan seberapa banyak hal yang bisa kita berikan sekarang, berapa banyak fasilitas dan kemudahan yang kita punya sekarang. Namun yang terpenting adalah beliau bisa melihat bahwa kita bisa menjaga putrinya, kita berjuang untuk berusaha memberikan yang terbaik bagi putri kesayangannya.

Dan kita pun harus ingat, kewajiban nafkah bukanlah satu-satunya kewajiban kita setelah menyandang predikat suami nantinya. Berusaha untuk mendidik anggota keluarga, berakhlak baik dengan mereka, membentengi dari hal-hal yang tidak baik, serta mengarahkan dan mengajak serta dalam kebaikan. Berusaha memastikan keselamatan seluruh anggota keluarga di dunia, terlebih nanti di akhirat. Berat ya wahai pemuda? Memang, makanya belajar 🙂

Mari membangun empati dan semoga para ayah kita juga memahami bahwa pemuda yang datang ke rumahnya adalah ia yang sudah berusaha untuk memberanikan diri.

Pada hati-hati yang berdebar
Pada keringat yang entah bagaimana tiba-tiba datang
Pada lisan, yang meski sudah berusaha tenang, tetap saja terdengar bergetar
Pada pikiran yang sibuk memilih kata yang tepat untuk disampaikan
Semoga para ayah semakin menjadi bijaksana, dan memudahkan langkah-langkah kita untuk menjemput buah hati mereka 🙂

Iklan

5 thoughts on “Membangun Empati

  1. praditalia Juli 14, 2016 / 7:57 am

    Serumit itu ya ternyata… yang datang ke rumah berarti benar2 orang yang gentle

    • Ismail Hasan Juli 14, 2016 / 12:11 pm

      memberanikan diri, berbekal harapan dan baik sangka 🙂

  2. Isnaini Juli 14, 2016 / 9:03 am

    heu…saya dulu sampai pernah survey ke temen2 cowok gegara fenomena ini. dan memang itu tantangan terbesarnya ya. yang sudah bekerja dan berkeluarga aja masih ngerasa berat nanggung anak orang..

    pernah pengen nulis ini dari sudut pandang perempuan tapi jadinya pasti subyektif banget..hehe..gak jadi deh sampe sekarang 😀

    • Ismail Hasan Juli 14, 2016 / 12:14 pm

      yang jelas tanggungjawabnya besar,. jadi ya memang harus mau belajar. sepertinya sih gitu,. lha belum ngalami juga.. hehe
      bagus mbak nulis begitu, jadinya kami tau apasih sebenarnya yang paling penting yang kalian lihat pada ia yang datang ke rumah. 🙂

  3. Shahfira Juli 18, 2016 / 11:02 am

    Ya ampun tulisan ini touching bangeet :’)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s