Beban Cicilan dan Gaya Hidup

Pernah ada teman yang bilang, mumpung masih muda dan belum menikah, puas-puasin aja mau jalan-jalan kemana, atau mau beli apa. Soalnya kalau sudah berkeluarga bakal banyak kebutuhan yang lain, banyak cicilannya. Hehe

Sepakat sih dalam pikiran yang saya sesuaikan dengan keadaan saya. Maksudnya kalimat itu saya pahami versi saya sendiri. Menurut saya, puas-puasin di sini pun tetap harus ada kontrolnya, ada batasannya. Ngga pelit, tapi juga jangan boros. Tahu prioritas lah, mana yang memang kebutuhan pokok, mana yang dalam cakupan kesenangan tapi juga masih dibutuhkan, mana yang sudah menjurus ke menghambur-hamburkan.

Saya sepakat sih ketika ada yang mengatakan kebutuhan hidup itu selalu terpenuhi, keinginan dan gaya hidup tidak akan tercukupi. Lebih bijaksana saja dalam mengatur pengeluaran. Jangan pelit juga, apalagi sama diri sendiri. Kalau memang Allah beri kita karunia berupa kecukupan rizki, ya tunjukkan itu dalam penampilan dan perilaku sehari-hari. Tentunya dalam takaran yang wajar dan tidak mencolok. Ingat kan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah menegur salah seorang sahabat yang pakaiannya lusuh, padahal Allah sudah karuniakan kepadanya nikmat berupa harta. Dan merupakan salah satu bentuk syukur, yakni menampakkan sebagian dari karunia yang Allah berikan kepada kita.

Jadi, silahkan jalan-jalan, belanja pakaian atau beli apa saja yang diinginkan. Namun tetap ada batasan kewajaran, ada skala prioritas yang harus kita perhatikan. Masing-masing kita tahu akan hal itu.

Satu lagi yang menggelitik saya dari kalimat di awal tadi, yakni tentang cicilan. Ketika berbicara cicilan, bayangan kita langsung mengarah pada cicilan rumah atau cicilan mobil. Seolah itu memang sebuah hal yang lumrah dan wajar dalam pos pengeluaran sebuah keluarga.

Saya dibesarkan dalam keluarga sederhana yang tinggal di desa. Saya anak pertama, jadi saya mengalami keadaan dimana keluarga saya baru tumbuh dan memulai perjuangannya. Saya masih ingat, waktu kecil rumah saya (ini rumah pertama kami) adalah rumah semi permanen berbahan anyaman bambu (gedeg). Bahkan pernah, saat itu lagi ada acara pernikahan salah seorang saudara. Nah, ketika malam saya sudah minta pulang dan akhirnya saya pulang sama ibuk, diantar saudara lain. Ketika sampai di rumah, ternyata kunci gembok masih dibawa ayah, lupa diminta. Akhirnya kami (saya dan ibuk) mbrobos pintu dapur yang memang tidak bisa tertutup sempurna. Haha πŸ˜€

Dibesarkan dalam keluarga seperti itu membuat saya memiliki pola pikir yang sederhana. Bahwa jangan terlalu membebani diri pada hal-hal yang memang tidak bisa diraih. Ketika berkeluarga, yang diperlukan adalah tempat tinggal. Meskipun dalam wujud yang sangat sederhana, meskipun hanya rumah sewa alias ngontrak. Pun demikian juga dengan kendaraan. Kalau bahasa jawanya, isane nggo motoran ya motoran, isane ngontrak ya ngontrak, syukuri apa sing ana, ora usah neka-neka. πŸ™‚

image
syukuri wae lah

Sadar atau tidak, sepertinya kita memang sudah terpengaruh dengan gaya hidup serba pengen. Uangnya belum ada, banyak maunya. Akhirnya cicilan jadi pilihannya. Pola pikir kita dari dulu untuk bersabar dengan prinsip “hemat pangkal kaya” dan itu membuat kita termotivasi untuk menabung mulai digeser dengan prinsip “cicilan adalah solusinya”.

Sadarkah kita, ketika sekarang harga properti terus naik seolah tidak terkendali kita juga yang ikut berperan membuatnya seperti itu. Ingatkah kita saat pelajaran ekonomi kala SMP atau SMA dulu, bahwa harga komoditas itu berbanding lurus dengan tingkat permintaan pasar. Kini kita ‘ditakut-takuti’, bahwa harga rumah akan terus naik dan KPR adalah satu-satunya solusi. Lalu kita merasa was-was, kita belum punya tabungan tapi memaksakan diri untuk hutang bank buat beli rumah.

Belum lagi tuntutan gaya hidup lain, mobil. Padahal kemana-mana naik motor juga masih bisa. Kadang hanya keinginan atau juga mungkin sudah kebutuhan tapi uangnya belum ada. Ada sih sedikit, cukupnya buat beli mobil bekas keluaran lama. Ngga ah, beli baru aja, hutang dulu gapapa. Hiks.

Saya tidak anti cicilan. Pembelian secara kredit pun ada yang diperbolehkan. Namun yang saya sayangkan adalah terlalu memaksakan diri. Tidak cukup bersabar dengan apa yang sudah dipunyai. Selalu ingin lebih dan kemudian memilih jalan instan. Hidup ini hidup kita sendiri, kita yang jalani, kita yang nikmati, kita yang usahakan. Orang lain hanya melihat kita dari luar, tidak benar-benar tahu akan keadaan kita. Cukup syukuri, cintai, nikmati, juga usahakan dan perjuangkan dengan sebaik-baiknya. πŸ™‚

Iklan

8 thoughts on “Beban Cicilan dan Gaya Hidup

  1. NinaFajriah April 17, 2016 / 9:34 am

    Persis nasihat ibu saya yang bilang, kalau gaji 5 juta gaya hidupnya juga gaya 5 juta saja, boleh kurang asal jangan lebih πŸ™‚

  2. winnymarlina April 17, 2016 / 2:19 pm

    kalau biaya hidp sebenarnya murah gaya hidup yang mahal

  3. pradilamaulia April 24, 2016 / 9:00 am

    Waah… pengingat bangeet… terima kasih…
    Memang benar sekali lbh baik hidup apa adanya sesuai dgn tuntunan dari Rasulullah yg menganjurkan hindari hutang kecuali untuk kbutuhan yg bnar2 pokok, misal makanan

    Smoga ke depannya bisa tetap mmperthankan hidup sederhana ☺

    • Ismail Hasan April 24, 2016 / 9:06 am

      Iya,. benar.. Sederhana itu pilihan πŸ™‚

  4. Rissaid Juni 12, 2016 / 10:01 pm

    Sukak, terimakasih sudah d ingatkan kak Hasan πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s