Tanpa Visi

Sejenak terpikir betapa pentingnya sebuah visi, sebuah tujuan. Ketika bersekolah dulu, tujuannya untuk belajar agar bisa lulus serta mendapatkan prestasi akademik yang bagus. Di sini kita bisa melihat, lain tujuan lain pula upayanya. Ada yang sekolah ya cuma sekedarnya, rutinitas harian biasa, yang penting nanti lulus. Ada lagi yang punya tujuan lebih, sekolah untuk benar-benar belajar, mencari ilmu, meluaskan wawasan dan interaksi pertemanan. Banyak mengambil kegiatan ekstra untuk menambah keterampilan dan pengalaman. Kesibukannya beda.

Saya dulu bukan termasuk aktivis sekolah (siswa yang aktif banget dan banyak kegiatannya). Ektra kurikuler juga ngga ikut, sempat ikut beladiri tapi tidak terlalu aktif juga, akhirnya vakum. Jadi ya sekolah biasa. Kalau belajarnya kadang saya belajar bareng sama teman-teman yang lain.

Apa ya? Memang beda sih hasilnya.Mereka yang cuma sekolah kayak saya dibanding teman-teman lain yang banyak sekali kegiatannya. Makanya saya sering bilang ke adik saya yang SMP biar dia banyak ambil kegiatan di sekolahnya. Kegiatan yang bermanfaat dan dia juga suka. Biar lelah asal bahagia. Tsaah, bijaksana banget yak. πŸ˜†

Jujur saya salut sama teman-teman yang banyak aktivitas. Waktunya habis untuk kegiatan yang bermanfaat. Apalagi kalau tidak hanya membawa kebaikan bagi diri sendiri, tapi juga bagi lingkungan sekitarnya. Semoga kita bisa belajar sama mereka πŸ™‚

Pun demikian sekarang ketika sudah di dunia kerja. Kesibukan kita juga sangat ditentukan oleh tujuan dan apa-apa yang ingin kita raih. Apa ya? Rasanya rugi kalau cuma kerja tok, sekedar melaksanakan tugas, terus pulang kerja ya langsung ke rumah. Ngga ada yang ekstra. Tapi memang sih, saya kan jam pulang kerjanya jam lima sore. Itu juga seringnya malah saya baru pulang ke rumah habis maghrib, kadang habis isya juga. Tapi nanti kalau sudah ada adek ya ngga gitu, jam lima aku langsung pulang. Halah, ngomong apa ini. Haha πŸ˜€ Males aja sih, kan masih macet juga jalanan. Kalau pas lagi rajin sih saya olahraga lari, sayang rajinnya jarang. Atau kadang pas jadwalnya main bulutangkis, ya bulutangkis dulu agak malam baru pulang.

Kegiatan ekstra itu kan pilihan ya. Dilakukan boleh, ngga juga gapapa, tapi rugi. Makanya memang kadang harus dipaksa. Baca buku aja misalnya, seringnya malas mengawali padahal bukunya bagus dan bermanfaat. Atau kadang juga mandek di tengah jalan, biasanya yang bukunya tebal. Tapi lain kalau novel, maunya cepet-cepet soalnya penasaran. Hehe.

Tapi yang jelas, harus lebih bisa memanfaatkan waktu. Mengisinya dengan kegiatan-kegiatan positif. Biar lelah sekalian ngga papa, daripada waktu kosong percuma. Tekuni hobi, selami hal-hal yang menarik minat. Syukur bila bisa berbagi manfaat.

Nulis ini soalnya lagi kangen ngajar. Sempat dulu waktu selesai lulus saya di rumah ngajar adik saya dan teman-temannya yang masih SD. Senang lihat mereka mencerna penjelasan, lalu antusias bertanya. Kadang juga di luar materi. Mungkin bagi mereka orang dewasa itu tahu segalanya. Ada beberapa juga yang semangat bercerita, tentang apa saja. Ada lagi yang pendiam, suka menyimak dan mendengarkan. Ah, istimewa memang.

Iklan

9 thoughts on “Tanpa Visi

  1. hannassiblog April 16, 2016 / 9:50 pm

    Sepakat!
    Dulu waktu jadi siswa seneng banget dengerin cerita pengalaman guru, suka tanya ini itu. Dan akhirnya sekarang aku sendiri merasakan serunya bercerita ke anak yg lebih muda, kadang merasa sok tau tapi seneng bisa memberikan wejangan pd mereka. Salah satunya ya itu, selagi masih muda sibukkan diri dg hal hal yg positif, berperan dalam organisasi dan bermanfaat bagi orang lain. hehee

    • Ismail Hasan April 16, 2016 / 9:56 pm

      Iya, bener mbak..
      Seneng rasanya kalau lihat mereka lebih semangat, optimis dengan masa depan dan cita-citanya. πŸ˜€

  2. mysukmana April 16, 2016 / 11:43 pm

    Apalagi sy jg berprofesi sebagai pengajar,cerita pengalamn blogging me mahasiswa aja mereka jd antusias bgt..sy jg seneng bbrp mhswa udah visa dapetin internet dari sini

    • Ismail Hasan April 17, 2016 / 6:33 am

      Iya Mas,. Memang mungkin sudah bawaanya, manusia itu suka melayani. Senang kalau bisa berguna bagi orang lain. πŸ™‚

  3. Gara April 16, 2016 / 11:44 pm

    Saya juga waktu sekolah dan kuliah termasuk siswa yang kurang banyak kegiatan Mas :haha. Akhirnya sekarang agak menyesal soalnya jaring-jaring kayaknya kurang lebar dan keterampilan kurang banyak :hihi.
    Betul, saat ini juga jadi banyak banget yang ingin dilakukan (mayoritas tentang meliterasi diri sendiri sih :hehe). Masih belajar juga buat mengelola waktu supaya tidak terbuang percuma. Semoga bisa melakukannya ya :amin.
    Ayo semangat!

    • Ismail Hasan April 17, 2016 / 6:36 am

      Hehe,. iya mas, jadi ngerasa rugi. Tapi harus tetap semangat πŸ˜€
      Selamat beraktivitas!

  4. shiq4 April 17, 2016 / 2:02 am

    Saya dari dulu nggak punya kegiatan yang berarti soalnya lebig milih tidur di rumah. Entahlah klo sifat malas saya usah keluar kerjaanya cuma tidur terus ha ha ha……..

    • Ismail Hasan April 17, 2016 / 6:37 am

      Wah,. harus lebih semangat lagi.. Banyak kegiatan yang lebih menarik lo ketimbang cuma tidur.. Hahaha πŸ˜†

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s