Bagaimana Bila

Mungkin ini salah satu pertanyaan yang sering hinggap di kepala kita. Pertanyaan akan kekhawatiran, akan ketidakpastian masa depan. Ya, bagaimana bila nanti demikian dan demikian. Bagaimana bila … ?

Satu sisi, memiliki pertanyaan seperti ini menurut saya ada baiknya. Agar kita bisa menyusun rencana dengan matang. Menyiapkan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya, lengkap dengan rencana bila ada hal tak terduga nantinya. Bukankah memang kita harus mengusahakan yang terbaik?

Merencanakan itu penting. Saya contohkan ketika saya melakukan perjalanan pulang kampung misalnya. Mulai dari saya siapkan tas dan isinya, keperluan saya di rumah nanti. Kemudian jam berapa saya berangkat ke bandara, naik apa. Sampai di Surabaya nanti bagaimana. Apa langsung dijemput Ayah, atau naik bis saja. Semua harus sudah terencana, sehingga kita memiliki langkah yang jelas, tentang apa saja yang akan dilakukan.

Merencanakan itu penting, namun yang perlu diingat bahwa tidak selalu apa yang direncanakan itu yang menjadi kenyataan. Sederhana saja, pernah kan kita pergi ke toko buku. Niatnya mau beli buku apa, pulang buku apa yang dibawa. 🙂 Atau mungkin juga hal lain yang lebih besar. Ketika saya masih SMA, tidak sedikitpun pernah terpikir bahwa saya akan tinggal di Manado, lalu Makassar. Melalui keseharian dengan orang-orang yang tidak mengerti bahasa jawa. Hehe 🙂 Sekedar info, di rumah saya, hanya ada satu bahasa yaitu bahasa jawa. Kami mengerti bahasa indonesia, tapi memang tidak dipakai di rumah.

Apa ya? Seperti itu kita jadi lebih ngerti sih, bahwa hidup kita ini tidak sepenuhnya ada dalam kendali kita. Dan harusnya kita jadi lebih tenang. Karena yang mengatur hidup kita, adalah Dia yang Maha Mengetahui. Mengetahui yang terbaik untuk kita, hambanya. 🙂 Maka yang terpenting bagi kita, adalah bagaimana bisa tetap berprasangka baik dan berpikiran positif. 🙂

Pun demikian terhadap saudara kita. Orang-orang yang berada di sekeliling kita. Orang-orang yang Allah takdirkan kita berinteraksi dengan mereka. Ketika ada goresan, little scratch yang mungkin juga hanya sebuah kesalahpahaman. Ataupun bila memang benar ada permasalahan. Maka yang perlu dilakukan, adalah tetap berprasangka baik dan berpikir positif. Memberikan udzur dan pemakluman, juga berusaha memaafkan. Karena ketika ada yang salah dalam sebuah silaturrahmi, maka yang diharapkan dan diupayakan adalah untuk memperbaiki, bukan mengakhiri. 🙂

Iklan

10 thoughts on “Bagaimana Bila

  1. titintitan Maret 31, 2016 / 12:45 pm

    ah, ini jleb. thank you for sharing ^^

    • Ismail Hasan Maret 31, 2016 / 1:48 pm

      Hehe,. pengingat aja.. ada yang bilang “Aku tidak mengerti apa yang aku ucapkan sampai aku membaca apa yang aku tuliskan.” 🙂

      • titintitan Maret 31, 2016 / 3:35 pm

        mungkin itujuga kali yah, kenapa menulis itu seringkali menjadi solusi 😀

  2. GADIS Maret 31, 2016 / 11:08 pm

    bijaaaaaaaak ~ {}

  3. FUAD SAUQII April 2, 2016 / 5:51 pm

    Nice one, “Kesuksesan suatu rencana tergantung bagaiman cara kita mempersiapkan diri”

    • Ismail Hasan April 2, 2016 / 9:00 pm

      Yap,. benar sekali mas. Mempersiapkan diri harus dengan sebaik-baiknya 🙂

  4. cumilebay.com April 4, 2016 / 12:42 pm

    Kesuksesan haru di rencanakan dan di persiapkan
    tapi kalo gw demen nya dijalani aja, kalo ke banyakan rencana ntar pusing

    • Ismail Hasan April 4, 2016 / 5:21 pm

      Hehe,. iya mas. Percuma juga kalo banyak rencana ga ada langkah. Tapi harus ada rencana juga nuw, biar terarah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s