Pergi Bekerja

Aku meluruskan kaki dengan berdiri, lalu mengayuh sepeda tua ini lagi. Sudah lumayan capek. Sudah hampir tiga jam kami berempat mengayuh sepeda sejak berangkat dari kampung tadi. Tidak non stop sih, sempat beberapa kali kami istirahat sebentar.

Di sinilah aku, dengan tiga kawan lain yang sama-sama mengayuh sepeda. Berangkat ke kabupaten sebelah, mau jadi buruh tani di sana. Di sana sudah menjelang panen raya, banyak membutuhkan pekerja dari luar daerah. Ini bukan kali pertama aku ikut ke sana, meski dalam rombongan ini akulah yang paling kecil. Baru tahun lalu lulus madrasah tsanawiyah.

Dari kejauhan sudah terlihat terminal kedatangan. Yang kumaksud adalah perempatan cukup ramai yang digunakan sebagai tempat pertemuan. Pertemuan antara pekerja yang datang dan calon juragan. Sejenak aku teringat perkataan Cak Man waktu kami sedang duduk-duduk di teras masjid tempo hari.

“Pokoknya kalau nyari juragan, lihat yang pakaiannya rapi. Tampilan macam guru atau pegawai negeri lah.”, ujarnya mantap. Kawan yang lain serius menyimak.
“Intinya, mereka ngga bakal ikut ke sawah. Soal makanan juga lebih bisa diharapkan.”, tambahnya.
“Kalau orangnya dekil, hitam. Ya siap-siap aja nemenin dia berjemur terus di sawah.” Kami semua tertawa.

Aku memelankan laju sepeda. Lantas turun dan menuntunnya melewati beberapa orang. Mengikuti ketua rombongan kami, di depan. Suasana cukup ramai. Seorang bapak yang ku taksir usianya lima puluh tahunan menghampiri kami. Perawakannya gagah, kulitnya cukup putih untuk ukuran orang kampung, rambutnya disisir rapi, mengenakan baju batik. Dan lihat, ada arloji hitam melingkar di pergelangan tangannya.

“Berapa orang mas?”, beliau bertanya pada Cak Mat, ketua rombongan.
“Empat Pak.”, Cak Mat menjawab mantap.
“Oo iya, ayo ikut ke rumah saya saja.”, beliau menawarkan. Cak Mat menoleh pada kami, tersenyum penuh arti. Aku mengangguk pelan, setelah melihat dua kawan lain melakukan hal yang sama.

Sejurus kemudian, kami sudah kembali mengayuh sepeda. Mengikuti bapak tadi yang naik motor dengan pelan di depan.
“Wah, sudah dapat anggota Pak Lurah.”, seorang bapak-bapak di pinggir jalan menyapa.
“Iya, sudah. Mari Pak.”
Bapak di pinggir jalan tadi tersenyum pada kami, aku pun mengangguk sopan.

Oo, seorang lurah, semoga bisa kerja dengan baik dan betah di sana. Saat seperti ini kadang memang aku nantikan. Senang sih, kita kerja, makan sudah ditanggung yang punya sawah. Sehari makan tiga kali pula. Belum lagi biasanya juga dapat makanan tambahan. Pisang goreng atau yang lain, tidak ketinggalan juga teh atau kopi. Dengan begitu, upah kerja kami utuh. Bisa kami bawa pulang semua.

Matahari sudah meninggi, menjelang tengah hari. Terlihat beberapa anak berseragam abu-abu putih di pinggir jalan. Rupanya ada sekolah di situ. Sebuah SMA Negeri. Sambil mengayuh sepeda aku menengok. Ada lapangan upacara lengkap dengan tiangnya dan sang merah putih yang berkibar di sana. Beberapa siswa terlihat lalu lalang di depan ruang kelas mereka. Aku menghembuskan nafas pelan. Ah, mungkin memang belum rezekiku untuk bisa sekolah. Aku kembali bergegas, mengayuh sepeda.

Iklan

5 thoughts on “Pergi Bekerja

  1. Gara Maret 20, 2016 / 9:36 pm

    MUdah-mudahan bisa segera sekolah, ya :)). Selama ada kemauan pasti ada jalan; siapa tahu Pak Lurah adalah orang yang ditakdirkan untuk menyekolahkan si tokoh di sini :hehe :amin.

    • Ismail Hasan Maret 20, 2016 / 9:52 pm

      Hehe,. iya Mas.
      Bisa jadi sesuatu ditunda karena hendak disempurnakan, atau diganti dengan yang lebih baik 😀

      • Gara Maret 21, 2016 / 5:24 pm

        Setuju Mas :)).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s