Dia yang Datang Kemarin

Minggu pagi yang cerah. Mentari pagi perlahan mulai menampakkan teriknya. Ah, rasanya tidak ada yang lebih menyenangkan. Hari libur, rumah sudah bersih, pakaian juga sudah dicuci. Tinggal duduk manis menikmati buku bacaan yang telah separuh kutamatkan.

Kulihat ayah berjalan perlahan dari ruang tengah. Menghampiriku, lalu duduk di sebelahku. Wajahnya teduh. Ditambah semburat cahaya pagi dari jendela kaca. Semakin membuat beliau nampak lembut dan berwibawa.

“Gimana di sekolah?”, Ayah membuka suara.
“Alhamdulillah yah, semuanya lancar.”, jawabku kemudian.
“Aku bersyukur yah, bisa ngajar di sana. Melihat anak-anak yang riang, juga semangat belajar. Belum lagi bisa kenal sama guru-guru yang lain.”, jelasku.

Ya, sudah dua bulan ini aku mengajar di sebuah taman kanak-kanak. Menemani mereka belajar, juga bermain. Mengajari mereka doa-doa harian. Melihat mereka tertawa, atau juga menangis. Ada juga yang takut-takut karena baru pertama ketemu aku, gurunya kala itu. Ah, selalu menyenangkan bersama mereka.

“Temanmu yang datang kemarin, kamu suka sama dia?”, tanya beliau lagi. Aku sekilas memandang beliau.
“Belum. Tapi aku suka caranya menyampaikan.”, aku tersenyum. Aku merapikan ujung-ujung rambut yang mengenai mataku.

Dia. Aku juga belum begitu mengenalnya. Mungkin hanya sebatas tahu nama. Dia pun kemarin datang belum menyatakan apa-apa. Hanya meminta izin untuk bisa serius mengenal aku. Dengan harapan bisa menjadi bagian dari keluarga ini nantinya. Begitu katanya.

“Putri Ayah sudah besar.”, beliau tersenyum lebar, mungkin juga tertawa pelan. Aku ikut tersenyum. Sejenak mata kami bertemu.

“Kamu tahu, kami orangtua hanya ingin yang terbaik untuk anaknya. Apa yang membuatmu bahagia, kamipun ikut bahagia. Bahkan mungkin kami lebih berbahagia. Melihatmu tumbuh besar, tumbuh dewasa, hingga nantinya kamu berkeluarga. Membangun keluarga kecilmu sendiri.”

Aku hanya diam. Mengangguk pelan. Merasa itu adalah tanggapan paling pas yang bisa ku berikan.

“Berkeluarga itu saling. Saling memahami, mengerti, juga melengkapi. Dan yang paling penting menurut Ayah, adalah saling menerima. Menerima bahwa pasangan kita juga manusia biasa.

“Dia sudah datang ke sini, ke rumah kita. Dia sudah berprasangka baik kepada kita. Maka tahapan apapun yang sedang kalian jalani sekarang, jalani proses itu dengan sungguh-sungguh. Dan pikirkan matang-matang. Maka semoga apapun keputusannya nanti setelah kamu istikharah, meminta petunjuk juga kekuatan hati, itulah yang terbaik untuk kalian.”

“Iya yah, insyaAllah.”

“Dan satu hal lagi yang kamu perlu tahu. Orang-orang yang baik itu, yang awalnya terlihat biasa, lama-kelamaan akan nampak istimewa. Bukan karena wajahnya yang berubah. Namun karena kebaikannya telah mengubah hati orang yang memandangnya.”, beliau tersenyum jail. Aku rasa wajahku sudah bersemu merah. Ayah tertawa.

Iklan

13 thoughts on “Dia yang Datang Kemarin

  1. Yulia Maret 3, 2016 / 3:43 pm

    Aku pernah denger kata, dalam berumahtangga itu “saling” … dan sekarang aku membacanya disini πŸ™‚

    Semoga segalanya bisa berjalan dengan baik hingga mendapatkan hasil yang terbaik πŸ™‚

    • Ismail Hasan Maret 3, 2016 / 4:34 pm

      Hehe,. iya. Terimakasih.
      Btw,. ini cuma cerpen kok πŸ˜€

      • Yulia Maret 3, 2016 / 4:36 pm

        ooooaaalaahh…maafken,,, bagus cerpennya sampe dikira nyata hehehe *tutup muka malu*

      • Ismail Hasan Maret 3, 2016 / 4:40 pm

        aku kan laki-laki,. Haha

      • Yulia Maret 3, 2016 / 4:43 pm

        aaahhh iyaaa bener… maafken *ngumpet kekolong meja*

      • Dyah Sujiati April 25, 2016 / 6:30 am

        Owalah! Ini juga tadi saya kira juga empunya blog lagi curhat. Wakakakak. Untung sudah baca komeng-komengan yang ini. πŸ˜‚
        Salam kenal Pak..

      • Ismail Hasan April 25, 2016 / 6:35 am

        Haha,. iya mbak, salam kenal.
        Pak? sudah tua banget saya ya? Haha

      • Dyah Sujiati April 25, 2016 / 6:37 am

        Oh?
        Kalau belum tua, anggaplah paklik, bapak cilik. Wkwkwk

      • Ismail Hasan April 25, 2016 / 7:18 am

        Hahaha,. panggil Om aja.. πŸ˜†

  2. Prita Pdinata Maret 3, 2016 / 4:41 pm

    Hmmmm apakah ‘dia yang datang kemarin’ akan jadi ‘dia yang akan datang besok’?

    • Ismail Hasan Maret 3, 2016 / 5:30 pm

      Mm,. barangkali iya. Kan mereka baru saja memulainya. Semoga diberikan yang terbaik.

      • Prita Pdinata Maret 3, 2016 / 5:47 pm

        Aamiin, semoga yang terbaik!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s