Tentang Kucing dan Kelucuannya

Siapa di antara teman-teman yang suka kucing? cat lover? šŸ™‚ Setuju ngga sih kalau misalnya saya bilang kucing itu binatang paling imut. Sudah macam gadis berlesung pipit saja. Haha, abaikan šŸ˜† Ngga tau ya, kenapa sih di beberapa novel, penulis seneng banget menggambarkan sosok perempuan cantik dan imut itu pake lesung pipit. Ya, walaupun emang ngga salah sih, novel-novel mereka. Okelah, bukan itu bahasannya.

Tentang kucing. Dari kecil memang saya termasuk di antara mereka yang suka dengan kucing. Namun, saya tidak pernah memelihara kucing di rumah. Ngga dibolehin sama orangtua. Bikin repot, belum lagi kalau dia buang air besar sembarangan. Seingat saya, pernah beberapa kali saya mohon ijin ke orangtua untuk melihara kucing dan selalu ditolak. Bukan secara sengaja sih mau melihara, biasanya karena ada kucing yang suka main ke rumah. Ngga tahu kucing siapa. Mungkin juga kucing yang dibuang orang. Tiba-tiba saja dia kelihatan main-main di sekitar rumah. Takut-takut mendekat ke dapur. Biasanya saya kasih apalah gitu pas saya makan. Hari-hari berikutnya dia jadi sering datang. Sekali dua saya usap kepalanya, dia juga suka main-main di kaki. Terus saya bilang sama ibu, “Buk, kita pelihara ya?”. “Ngga, ngga usah.” , begitu biasanya jawab ibu. Begitu dia masih sering datang, terus biasanya tiba-tiba saja dia hilang entah kemana. Ngga pernah datang lagi. Mungkin benar juga sih, seperti halnya pertemuan yang ngga pernah direncanakan, begitu pun dengan kepergian. Haha šŸ˜€

Banyak sih kemungkinannya buat dia. Mungkin saja ada orang lewat, terus lihat dia lagi jalan-jalan. Orangnya nanya warga itu kucing siapa, dijawab kucing liar, ngga ada yang punya. Lantas orang itu punya niat baik untuk membawanya pulang. Atau juga misalnya dia berkelana entah kemana, demi mencari kehidupan yang lebih baik. Yang jelas, semoga dia baik-baik saja. šŸ™‚

Lain di keluarga saya, lain di keluarga ibu saya dulu. Maksudnya di rumah nenek. Nenek saya suka banget sama kucing. Dari waktu ibu saya masih anak-anak, di rumah nenek memang banyak kucing. Sampai ibu saya menikah, sampai saya besar masih ada peliharaan kucing nenek saya. Nenek saya sampai sering beli ikan asin khusus buat kucing-kucingnya. Ya kan kucing kampung, paling banter makan kepala ikan. Hehe :mrgreen: Tapi kucing nenek gemuk-gemuk dan sehat. Juga jago nangkap tikus šŸ˜€ Ya, salah satu tujuan punya kucing bagi nenek saya adalah untuk alasan keamanan. Menjaga dapur, juga ruang penyimpanan padi biar ngga diganggu tikus.

Pernah ibu saya cerita. Dulu sempat peliharaan kucing nenek banyak sekali jumlahnya. Alasannya, sang betina produktif sekali beranak. Sekali lahiran anaknya banyak, tidak lama hamil lagi. Mungkin juga si jantan lagi semangat-semangatnya. Haha šŸ˜† Maka ketika itu diputuskan untuk mengasingkan (baca: membuang) beberapa kucing agar mereka mencari kehidupan sendiri. Kakek saya lah yang bertugas dalam misi ini. Kucing-kucing dimasukkan ke dalam karung dan kakek saya berangkat dengan berjalan kaki. Singkat cerita kucing-kucing itu dibawa kakek sampai ke desa sebelah. Setelah dilepaskan semua di sana, kakek saya memastikan bahwa beliau tidak diikuti kucing. Dan beliau mengambil jalan pulang yang berbeda. Beliau pulang lewat pematang sawah. Sesampainya di rumah, nenek saya berkata,” Buruan dibuang itu kucing-kucingnya”. “Kucing apa? Wong barusan sudah kubuang kok”. “Lha yang di dapur itu apa?” Rupanya, kucing-kucing yang tadi dibuang telah tiba di rumah dengan selamat dan lengkap semua jauh sebelum kakek saya tiba. Memang penuh misteri mereka ini. Haha šŸ˜†

Dan tahu ngga sih, kucing itu sering mengekspresikan rasa sukanya sama kita dengan ndusel-ndusel di kaki. Kucing nenek saya juga begitu. Nenek saya ke dapur, ikut ke dapur. Masuk ke ruang tengah, ikut juga. Pas nenek saya lagi ngatur apa gitu di meja makan, pasti dia berputar-putar di kakinya. Bahkan mungkin terkadang agak nyrimpeti, if you know what i mean. Itu kucing disuruh menjauh, masih juga nyeruduk-nyeruduk kaki. šŸ™‚

Saya jadi ingat waktu di Surabaya dulu. Waktu masih magang di sana. Pernah ketika di masjid, waktu melepas sepatu saya melihat kucing dan dia pun melihat ke arah saya. Lalu ia takut-takut mendekat. Dari tatapannya, kayak orang yang pengen kenal. Eh, kucing yang pengen kenal maksudnya. šŸ˜€ Saya pun tersenyum, terus saya dekati. Saya usap kepalanya dan dia pun langsung nyeruduk-nyeruduk di telapak tangan saya. Saya usap lagi sampai dia terguling dan kelihatan bulu perutnya yang putih. Lalu saya tinggal wudhu. Nah pas saya keluar mesjid, ternyata dia masih di situ, di dekat sepatu. Demi melihat saya, dia langsung bergegas menyambut. Saya pake sepatu kanan, dia nyeruduk, putar-putar di kaki kiri. Pas pake sepatu kiri, gantian ndusel di kaki kanan. Setelah saya usap kepala dan punggungnya, saya bilang,” Sudah, aku mau balik dulu.” Saya jalan ke kantor dan dia ternyata ngikutin. Sampai saya di pintu masuk dia tetap ngikutin. Akhirnya saya suruh dia pergi. Saya hush hush. Tetap saja ngga mau. Tapi emang saya sendiri ngga tega sih ngusir. Saya maunya dia pergi, tapi saya ngga ingin dia sakit hati. Saya cuma ingin dia ngerti kalau sekarang bukan saatnya bagi kita untuk bersama. Apaan sih. Oke, ini pembawaannya lebay. šŸ˜† Akhirnya dia mau pergi dan langsung saya tinggal lari masuk ruangan.

Intinya begitulah, kucing itu makhluk yang lucu. Juga bisa jadi teman yang baik. Nih, saya kasih bonus foto-foto mereka yang unyu pol. Oiya, teman-teman juga suka kucing?

image
ciluk ba šŸ™‚
image
mungkin dia lagi rindu
image
suka kalo merem gitu šŸ™‚
Iklan

14 thoughts on “Tentang Kucing dan Kelucuannya

  1. ira i / ira noor Februari 26, 2016 / 11:25 pm

    Suka…baru aja kemarin saya nulis tentang kucing yang dipelihara di rumah šŸ™‚

    • Ismail Hasan Februari 27, 2016 / 6:34 am

      Hehe,. iya mbak. Comel sangat upin ipin kata šŸ™‚

    • Ismail Hasan Februari 27, 2016 / 6:35 am

      Iya, meluk sambil merem kayak nyaman banget gitu.. Jadi iri, eh. :mrgreen:

  2. Rissaid Februari 27, 2016 / 4:27 am

    Aakk senyam senyum spanjang baca post ini. Ga kebayang lucunya mendapati kucing2 yg justru dluan tiba drumah hihi.

    • Ismail Hasan Februari 27, 2016 / 6:37 am

      Haha, iya. Padahal sudah jauh-jauh dibuangnya šŸ˜€

      • Rissaid Februari 28, 2016 / 9:11 am

        Dan hati menuntunya kembali pulang #eakk

  3. praditalia Februari 27, 2016 / 1:06 pm

    Jiahahaha… kocak banget pas bagiam ngusir kucingnya… setengah baper wkwkwkw… saya pribadi bukan penyuka binatang… termasuk kucing tp ya ga benci juga… ya biasa-biasa saja

    • Ismail Hasan Februari 27, 2016 / 8:34 pm

      Hahaha,. baper itu tergantung yang baca šŸ˜€

  4. chlova Maret 1, 2016 / 6:58 pm

    Digambarnya emang lucu-lucu ya.
    Tapi rada2 takut jadinya kalo diikutin sama kucing pas malam2, pernah jga tuh lagi ziarah ke makam ehhh kucingnya tetiba nongol entah darimana terus ngikutin. Untungnya gak diikutin smpe rumah hehehe.

    • Ismail Hasan Maret 3, 2016 / 4:33 pm

      Hehe,. itu takutnya karena perasaan sendiri aja. Wong kucingnya juga ngga gigit. šŸ˜€

  5. Sekar Mei 6, 2016 / 8:37 pm

    saya bersin-bersin tiap deket kucing šŸ˜¦

    • Ismail Hasan Mei 6, 2016 / 9:06 pm

      alergi berarti sama bulunya,. kayak kak ros di upin ipin šŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s