Hati-Hati Kalau Mendaki

Pagi ini lihat berita duka di timeline facebook, musibah di Taman Nasional Gunung Merbabu. Seorang pendaki meninggal dunia saat sedang beristirahat di pos Watu Gubug. Musibah yang kembali membuat kita semua pecinta alam berduka. Innalillahi wa inna ilaihi rooji’uun. Semoga Allah mengampuni kesalahannya serta mencurahkan rahmat dan kasih sayang kepadanya. Semoga Allah tabahkan juga keluarga yang ditinggalkannya. Aamiin.

Saya belum pernah mendaki Merbabu. Teman saya bilang, memang cuaca di sana termasuk ekstrim kalau malam. Dingin sekali sehingga rawan akan hipotermia. Hipotermia inilah yang merupakan ancaman yang harus diwaspadai oleh semua pendaki. Apa itu hipotermia dan bagaimana cara mencegah dan menanganinya. Silahkan baca artikel di sini. Semoga bermanfaat.

Saya baru dua kali naik gunung. Terakhir di Gunung Bawakaraeng dan itu sudah lebih dari setahun yang lalu. Ya, sudah lama sekali. Saya cuma ingin cerita saja, karena waktu di Bawakaraeng pendakian tidak berjalan sesuai rencana.

Kami serombongan berangkat dari Makassar sabtu pagi. Sampai di lokasi (tempat berkemas sebelum naik) sudah agak siang. Mungkin hampir pukul 10.00. Kami segera repack untuk bersiap berangkat. Sekitar pukul 10.30 kami memulai perjalanan.

Alhamdulillah, perjalanan lancar. Di perjalanan itulah kemudian cuaca berubah. Gerimis mulai turun. Beberapa teman memakai jas hujan, sementara yang lain tetap bertahan pada jaket anti air-nya. Rintik gerimis terus menemani perjalanan kami sehari itu. Kadang berhenti sebentar, sempat juga terlihat matahari meski lebih sering tertutup awan dan kabut tebal.

Kondisi pakaian yang basah baik itu celana, jaket, juga kaos kaki dan sepatu membuat tubuh kami dingin. Ditambah beban keril dan kaki yang sudah lelah berjalan berjam-jam membuat beberapa diantara kami mengalami kram otot. Ketika itu perjalanan dari pos 6 ke pos 7. Saya termasuk yang mengalami kram ringan, alhamdulillah hanya butuh istirahat sebentar.

Perjalanan ke pos 7 inilah yang begitu terasa berat. Medannya memang cukup menanjak. Ditambah lelah dan juga basah. Beberapa kali perjalanan harus terhenti karena ada rekan yang mengalami kram. Belum lagi cuaca dingin dan angin yang bertiup cukup kencang.

Akhirnya, alhamdulillah kami sampai di pos 7. Keadaan semuanya sehat. Dengan berbagai pertimbangan kala itu, perjalanan tidak dilanjutkan. Kami memutuskan untuk istirahat dan mendirikan tenda. Keadaan fisik anggota juga cuaca yang ada saat itu tidak memungkinkan bagi kami untuk melanjutkan pendakian. Ditambah lagi hari sudah beranjak gelap.

Kami mendirikan tenda dengan susah payah. Ya, serius, susah payah. Anginnya kencang dan luar biasa dingin. Sendi-sendi kami rasanya susah untuk digerakkan. Dingin sekali pokoknya.

Selesai mendirikan tenda, kami sama-sama mengingatkan untuk segera mengganti baju yang basah. Di sini kegaduhan muncul dari tenda sebelah. Ketika mengganti pakaian, ada teman yang kram. Entah kakinya atau perutnya. Dia sampai jerit-jerit kesakitan. Teman yang lain heboh menolong. Ada yang kasih minyak tawon. Dan ternyata bukan hanya satu orang yang jerit karena kram. Ya namanya orang kram. Tanpa sebab apa-apa, sekedar geser posisi saja bisa nyeri luar biasa. Jadinya malah heboh ngga karuan. Sambil ketawa-tawa karena jeritnya lucu. πŸ˜€

Sempat khawatir juga waktu itu. Jangan sampai ada teman yang kenapa-napa. Alhamdulillah, setelah ganti baju semua, keadaan tenda sudah mulai hangat. Kemudian kami membuat makanan untuk mengisi energi sekaligus juga menghangatkan badan dari dalam.

Semula, kami berencana akan kembali naik dini hari bila cuaca sudah bersahabat. Namun ternyata angin dingin tetap berhembus kencang. Anggota juga masih banyak yang kelelahan. Akhirnya, kami putuskan untuk turun di pagi minggu itu. Ngga sampai puncak? Iya, kami belum berhasil kala itu. Kami tahu, pendakian bukan semata tentang mencapai puncak. Namun yang lebih utama adalah bisa kembali sebagai tim yang utuh dengan selamat.

Keterbatasan waktu dan logistik menjadi alasan utama kami untuk turun kala itu. Tidak mungkin kami menginap dua kali. Satu-satunya kesempatan adalah tadi malam dan itu sudah terlewat.

Meski tidak sampai puncak, saya sungguh menikmati perjalanannya. Tentang kebersamaan dan saling menguatkan. Saat berbagi makanan. Memberikan semangat, dan semuanya. Bahwa melakukan perjalanan bersama bukan tentang siapa yang paling cepat. Namun bagaimana kita bisa sama-sama melangkah, menyesuaikan langkah kaki dengan rekan seperjalanan.

Intinya ya kembali ke judul yang saya tulis di atas. Hati-hati kalau mendaki. Melakukan persiapan yang matang. Persiapan fisik dan juga kelengkapan kebutuhan. Juga yang paling penting tidak memaksakan keadaan. Tekad dan semangat itu penting, namun keselamatan kita jauh lebih penting.

image
nikmati perjalanannya

Kita mungkin merasakan, beberapa tahun ini memang mendaki gunung seperti menjadi sebuah tren anak muda. Mungkin tidak hanya mendaki gunung, namun wisata alam pada umumnya. Apalagi setelah film 5 cm, kemudian juga ada film Everest. Gerakan menjelajah alam seperti kebanjiran peminat baru.

Tentunya kita mengapresiasi antusiasme anak muda pecinta alam yang semakin tinggi. Dengan catatan bahwa menjelajah alam bukan semata buat gaya-gayaan. Bahwa memang benar kita menikmati perjalanan. Dan tentunya juga dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan serta mengutamakan keselamatan dengan cara persiapan dan pengetahuan yang matang.

Beberapa tahun terakhir juga barangkali, banyak kita jumpai pendaki perempuan. Ukhti-ukhti berkeril teman saya bilang πŸ˜€ Ya, mereka juga memiliki kecintaan terhadap alam dan penjelajahan. Terkadang saya agak heran juga dengan mereka ini. Bagaimana mereka meyakinkan orangtuanya ketika meminta izin berangkat naik gunung. Sedang saya yang laki-laki saja sering dikhawatirkan orangtua kalau pas pamitan. Hehe :mrgreen:

Yang pasti, setiap orangtua pasti punya kekhawatiran. Apalagi terhadap anak perempuan yang bukan hanya keselamatan fisiknya yang dikhawatirkan. Namun juga keselamatan hatinya dengan siapa dia berangkat, bagaimana dia nanti di tengah hutan yang jauh dari mana-mana. Ya, bahkan kalau saya nantinya punya anak perempuan, saya akan berpikir seribu kali untuk mengizinkannya berangkat menjelajah alam (dan saya pikir semua ayah seperti itu).

Mereka para ukhti yang diizinkan naik gunung ini pastilah memiliki sikap-sikap yang membuat orangtuanya yakin untuk memberikan kepercayaan penuh. Orangtua mereka yakin bahwa mereka bisa menjaga diri dengan sebaik-baiknya. Menjaga diri pun bukan hanya ketika berada di gunung kan?

Saya juga pernah naik gunung di Manado dulu. Ada satu anggota kami yang perempuan. Dan ketika seperti itu, kami para anggota laki-laki seperti mempunyai tanggungjawab tambahan. Memastikan keselamatan dia dunia akhirat. Abaikan πŸ˜†

Saya jadi teringat, salah satu teman perempuan yang sering camping bareng pernah cerita. Dia sering ditanya sama temannya kalau camping tuh ngapain aja, apa aja yang dilakukan dan seterusnya. Dia bertanya begitu dengan intonasi yang seolah-olah kami melakukan apaaa gitu waktu camping. Saya pikir kekhawatiran dia cukup beralasan. Dan justru seorang teman yang mengkhawatirkan keadaan temannya itulah sebenar-benar teman.

Barangkali memang dia sekali-kali perlu diajak camping bareng. Hehe. Bahwa kami di sana menikmati pemandangan, menikmati suasana sore, matahari terbenam. Lalu bareng-bareng menyiapkan makan malam seadanya yang itu juga sudah terasa enak luar biasa. πŸ˜€ Ya, cuma gitu aja. Oiya, dan tenda kami terpisah :mrgreen: Iyalah, kecuali yang berangkat sama keluarga. Ada? Ada, mereka satu tenda sekeluarga. πŸ™‚ Kapan-kapan kita gitu ya? (ngomong sama tembok). πŸ˜†

Kembali pada kekhawatiran seorang teman tadi. Mengapa saya katakan beralasan? Ya, karena manusia itu berbeda-beda. Kita tidak bisa membuat jaminan bahwa semua yang naik gunung, semua yang camping punya tujuan baik. Menenangkan pikiran, menikmati keindahan alam. Tidak kita pungkiri, ada juga yang merusaknya dengan tindakan tercela. Memanfaatkan keadaan yang sepi untuk melakukan hal yang tidak baik. Semoga Allah jauhkan kita semua dari yang semacam itu.

Menutup tulisan kali ini, bahwa melakukan perjalanan selalu menghadirkan cerita yang berkesan. Pada pepohonan hijau nan rindang. Jalinan akar dan pohon besar yang berlumut. Batu-batu tempat menjejakkan langkah. Bunyi gemericik air yang mengalun indah. Sampai pada butiran pasir yang terasa lembut di telapak kaki. Deburan ombak yang selalu membuat rindu untuk kembali. Ya, lakukanlah perjalanan dan semoga ada hal berharga yang kita bawa pulang. πŸ™‚

Iklan

10 thoughts on “Hati-Hati Kalau Mendaki

  1. Gara Februari 8, 2016 / 3:19 pm

    Suka deh tulisannya, mengalir tapi kaya makna dan tidak terkesan menggurui. Mendaki gunung memang bukan perkara mudah ya, mesti hati-hati dan banyak persiapan banget. Salah perhitungan nyawa jadi taruhannya. Lagi pula ini musim hujan tapi masih banyak saja yang mendaki, menurut saya kalau musim hujan jalur pendakian mestinya ditutup dulu ketimbang membahayakan. Menurut saya sih…

    • Ismail Hasan Februari 8, 2016 / 4:12 pm

      Hehe,. makasih mas..
      Bener banget mas, persiapan yang paling penting. Siap fisik, juga peralatan lengkap. Para pendaki umumnya sudah tahu persiapan ekstra kalau mendaki di musim hujan, jadi diharapkan memang semua sudah disiapkan. Ada bagusnya juga sih mas musim hujan, sumber mata air pas ada. Cuma ya tetap, kalau pas cuaca tiap hari hujan terus ya sebaiknya ditunda dulu. Keselamatan yang utama. πŸ™‚

      • Gara Februari 8, 2016 / 4:34 pm

        Oh iya ya kalau musim hujan tentu banyak sumber air :)). Iya Mas keselamatan itu yang utama.

  2. winnymarlina Februari 9, 2016 / 11:37 am

    kalau naik gunung asal jgn pas musim hujan aja ya ismail

    • Ismail Hasan Februari 9, 2016 / 1:27 pm

      hehe,.
      iya mbak,. asal intensitas hujannya ngga tiap hari ngga papa kok, dengan perlengkapan ekstra..

  3. meutia~halida Februari 15, 2016 / 2:53 pm

    “Kami tahu, pendakian bukan semata tentang mencapai puncak. Namun yang lebih utama adalah bisa kembali sebagai tim yang utuh dengan selamat.”

    Sepakat.. Pendakian bukan hanya soal mencapai puncak.

    Serunya mendaki, semoga suatu saat saya dapat merasakan keseruan yang sama πŸ™‚

    • Ismail Hasan Februari 15, 2016 / 6:13 pm

      Iya mbak, keselamatan yang utama.
      Seru sekali mbak, ini saja sudah kangen pengen naik lagi. Jangan lupa olahraga rutin (jalan atau lari) sebelum mendaki biar fisik ngga kaget πŸ™‚

  4. umisholikhah November 8, 2016 / 11:53 pm

    “Beberapa tahun terakhir juga barangkali, banyak kita jumpai pendaki perempuan. Ukhti-ukhti berkeril teman saya bilangπŸ˜€ Ya, mereka juga memiliki kecintaan terhadap alam dan penjelajahan. Terkadang saya agak heran juga dengan mereka ini. Bagaimana mereka meyakinkan orangtuanya ketika meminta izin berangkat naik gunung.Β ”

    Hehe.. saya termasuk kategori paragraf ini Mas. Sekedar share, awalnya memang susah minta ijin ke orang tua. Apalagi ibu (kalau keluarga saya ibu paling susah di nego, kalau bapak gampang soalnya setipe sama saya, suka petualang. πŸ˜€ )
    Sebenarnya dari SMA saya suka naik gunung, cuman ngantongin ijin dr ortu malah pas sudah lulus kuliah sih. Pasalnya ortu baru percaya anaknya bener2 sudah bisa dilepas ke rimba pas jaman2 kuliah, sudah bisa jaga diri. Tahu mana yang bahaya mana yang aman.

    Kalau masalah jaga diri, jaga hati .. orang tua akan lebih merasa aman kalau ada anggota perempuan lain juga yang ikut, kemudian peserta lainnya adalah orang2 yg sudah dikenal dengan baik oleh anaknya, bukan orang asing yg baru kenal beberapa hari, kemudian perlengkapan anaknya bener2 komplit, biar ortu ga khawatir kalau2 anaknya kedinginan di gunung.
    Ya intinya begitu sih..

    Maaf jd panjang XD

    • Ismail Hasan November 9, 2016 / 7:41 am

      Hehe,. iya Mbak.
      Terimakasih sudah share pengalamannya. Iya sih, kalau ada temen perempuan lainnya, teman2 yang ikut juga sudah kenal lama, apalagi orangtua juga sudah tau. InsyaAllah orangtua juga bakal lebih ‘tega’ buat melepas anak perempuannya. Tapi ya namanya orangtua, kekhawatiran itu pasti selalu ada. πŸ™‚

      • umisholikhah November 9, 2016 / 10:16 am

        Iya mas, betul sekali, yang namanya khawatir sekecil apapun pasti selalu ada πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s