Mobil Pick Up

Assalamualaikum,.
Apa kabar teman-teman? 😀
Saya mau cerita. Ya, tentang mobil pick up. Apa yang terlintas di pikiran kita saat melihat mobil pick up di pinggir jalan, yang biasanya ada tulisannya “Disewakan”. Tentu kita punya pengalaman atau juga kenangan yang berbeda tentang sebuah hal yang disebut sebagai pick up ini.

Pick up. Saya teringat belasan tahun silam. Halah, bahasanya :mrgreen: Ya, waktu saya kecil, ayah saya punya mobil pick up aka tepak L300 🙂 . Seingat saya, sebelumnya ayah kerja di koperasi. Kemudian, karena sepi akhirnya beliau mengundurkan diri. Dan saya ngga tahu bagaimana prosesnya, saya ingatnya ayah beli mobil itu. Bekas dan tampilannya juga ya begitulah. Namanya juga mobil angkutan barang.

Ya, inilah pekerjaan ayah saya yang baru. Jasa pengangkutan barang. Hehe. Paling sering pesanan pasir atau tanah urug. Kadang juga ngangkut batu bata. Pokoknya tergantung yang order. Jadi, tiap hari ayah saya berangkat berdua. Ciee. Ngga, sama kulinya 😆 Jadi ayah saya yang bawa mobil, temennya yang naikkan pasir sekaligus nurunin pasirnya kalau sudah sampai di tempat tujuan.

Saya ingat, dulu kalau pas libur sekolah sering ikut buat antar pasir. Mungkin waktu itu masih kelas satu atau dua SD. Saya pakai topi dan naik mobilnya selalu di bak belakang. Berdiri tepat di belakang ruang kemudi, dengan berpegang pada palang besi di belakang kepala mobil. Seru sekali, kena angin semilir. Tinggal dipeluk dari belakang sudah macam film Titanic. Haha. Abaikan. 😆

Dan sampailah kami di tempat penambangan pasir. Lokasinya di dekat sungai kali brantas. Saya jadi tahu bagaimana pasir diambil. Bapak-bapaknya bawa keranjang sebesar ember yang terbuat dari aluminium atau mungkin seng. Rangkanya dari bambu. Ada tangga bambu yang masuk ke air. Jadi, bapak-bapaknya turun tangga, menyelam sambil bawa keranjang. Beberapa detik kemudian, naik dengan keranjang yang sudah penuh dengan pasir. Terus naik ke darat dan ditaruh pasirnya.

Kalau sampai biasanya sudah ada gundukan-gundukan pasir yang siap dijual. Jadi, tinggal dibeli, naikkan mobil, terus dibawa ke pemesan.

Pernah suatu kali, ketika perjalanan. Seperti biasa saya berdiri di bak belakang ala titanic. Tengok sana tengok sini. Tiba-tiba di depan ada palang bambu/portal. Portalnya ini agak tinggi. Kalau yang lewat truk, portalnya harus dibuka. Namun kalau mobil kecil termasuk pick up, masih bisa lewat. Sedang santai tengok kanan kiri, tiba-tiba saya lihat depan dan palang bambu itu sudah berada di depan saya. Ngga, saya ngga kena. Alhamdulillah. 🙂

Beberapa saat kemudian, ayah saya seperti menyadari sesuatu. Sepertinya beliau nengok saya dari kaca belakang. Dan mungkin beliau lihat saya baik-baik saja. Tidak ada masalah. Waktu di rumah, baru beliau nanya, sekaligus cerita sama ibu. “Tadi aku lupa ngga ngasih tau kalo ada palang.”, wajahnya serius. “Iya, ngga papa. Tadi saya pas liat.”, saya jawab waktu itu. “Alhamdulillah, ngga kena.” Dan ibu saya pun ikut bicara, entah bicara apa.

Apa ya? Sederhana. Kita tahu dan merasakan seseorang itu begitu sayang sama kita ketika orang itu begitu mengkhawatirkan keadaan kita. 🙂

Thanks for reading :). Punya cerita tentang pick up?

Iklan

2 thoughts on “Mobil Pick Up

  1. winnymarlina Februari 5, 2016 / 4:53 pm

    pernah waktu pindahan kos sering nyari2 krna barangnya banyak bgt

    • Ismail Hasan Februari 5, 2016 / 4:55 pm

      itu kayaknya dulu yang belum pernah diangkut, barang anak kos. maklum, di kampung. Haha 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s