Mengharapkan Kebaikan Untuknya

bila benar kau mencintainya
kau tak akan mengucapkan selamat padanya
selamat atas apa?
“tidak beriman salah seorang dari kalian,” demikian Rasul bersabda
“hingga dia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri.”

tidakkah kau mengharapkan kebaikan untuknya?

Seperti tahun sebelumnya, menjelang perayaan hari besar umat agama lain seperti sekarang ini, kita disuguhi banyak tulisan tentang bagaimana seharusnya sikap kita sebagai seorang muslim.

Ada pendapat begini, ada juga yang kemudian menentangnya. Ada sudut pandang lain sebenarnya tentang bagaimana kita melihat masalah ini.

Sebagai seorang muslim, saya ingin menyampaikan hadist di atas. Sebuah perkataan yang indah sekali dari lisan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Bahkan setahu saya, hadist ini juga terkenal di kalangan non muslim. Biasanya digunakan sebagai quotes.

“Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ya, itulah kadar kesempurnaan iman seseorang. Ketika ia memiliki hati yang bening. Selalu mengharapkan kebaikan bagi saudaranya.

Ya, selalu mengharapkan kebaikan. Sebagaimana ia ingin dirinya dilimpahi anugerah, karunia, dan kebaikan lainnya. Ia pun ingin agar Allah mengaruniakan kebaikan yang berlimpah bagi saudara-saudaranya. Pun demikian sebaliknya, ketika ia sedih ditimpa musibah. Ia berharap agar orang lain tidak mengalami apa yang menimpanya. Bahkan ketika ia melakukan kesalahan, ia ingin agar tidak ada orang lain yang terjatuh di lubang yang sama.

Sebagaimana kita tahu, nikmat terbesar dalam hidup kita sebagai seorang muslim adalah nikmat iman dan islam. Bahwa kita dipilih oleh-Nya untuk menjadi umat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Pun dipilih oleh-Nya untuk menebarkan kebaikan. Juga untuk mengabarkan kepada dunia tentang keindahan islam.

Maka kita bersyukur kepada Allah. Dan tentu saja, kita mengharapkan kebaikan yang berlimpah Allah turunkan untuk saudara-saudara kita semuanya.

Menjelaskan hadist di atas, Imam an-Nawawi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan persaudaraan dalam hadist tersebut adalah persaudaraan secara umum. Mencakup saudara yang muslim (saudara seiman) maupun yang kafir (saudara sesama manusia). Kita mengharap kebaikan untuk semuanya. Bahkan beliau mengatakan bahwa dianjurkan bagi kita untuk mendoakan hidayah bagi mereka yang belum mengenal islam.

Mengutip sebuah status facebook yang banyak dishare. Tentang hati yang bening, dari Ustadz Musyaffa ad-Dariny hafidzahullah.

***

Sebagian dari mereka ada yang mengatakan, “Setiap kali aku melewati rumah seorang muslim yang megah, saya mendoakannya agar diberkahi.”

Sebagian lagi berkata, “Setiapkali kulihat kenikmatan pada seorang Muslim (mobil, proyek, pabrik, istri shalihah, keturunan yang baik), saya mendoakan: ‘Ya Allah, jadikanlah kenikmatan itu penolong baginya untuk taat kepada-Mu dan berikanlah keberkahan kepadanya’”.

Ada juga dari mereka yang mengatakan, “Setiapkali kulihat seorang Muslim berjalan bersama istrinya, saya berdo’a kepada Allah, semoga Dia menyatukan hati keduanya di atas ketaatan kepada Allah”.

Ada lagi yang mengatakan, “Setiap kali aku berpapasan dengan pelaku maksiat, kudoakan dia agar mendapat hidayah”.

Yang lain lagi mengatakan, “Saya selalu berdo’a semoga Allah memberikan hidayah kepada hati manusia seluruhnya, sehingga leher mereka terbebas (dari neraka), begitu pula wajah mereka diharamkan dari api neraka”.

Yang lainnya lagi mengatakan: “Setiapkali hendak tidur, aku berdoa: ‘Ya Rabb-ku, siapapun dari kaum Muslimin yang berbuat zalim kepadaku, sungguh aku telah memaafkannya, oleh karena itu, maafkanlah dia, karena diriku terlalu hina untuk menjadi sebab disiksanya seorang muslim di neraka’”.

***

Masya Allah, betapa butuhnya kita pada hati-hati yang demikian. Yang bahkan tak mengenal iri, dengki dan semacamnya. Yang ikut bahagia melihat orang lain bahagia. Pun ikut bersedih melihat kesulitan saudaranya.

Jadi, masihkah kita akan mengucapkan selamat?
Apakah kita bahagia melihatnya belum mendapatkan nikmat terbesar yang telah Ia anugerahkan kepada kita?

Toleransi adalah tentang memberikan kebebasan. Bahwa kita tidak diperbolehkan untuk memaksakan keyakinan kita pada mereka. Kita tidak mengganggu, kita tidak mempersulit. Kita tetap berbuat baik pada mereka dalam perkara dunia. Dan kita tidak membatasi mereka dalam beribadah dan melaksanakan ritual agamanya. Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku.

image
Sumber ada di gambar

Semoga bermanfaat 🙂
Referensi: Muslim.or.id Mencintai Kebaikan untuk Sesama

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s