Cerita Hujan

Assalamualaikum..
Apa kabar teman-teman? πŸ™‚
Bagaimana cuaca di tempat kalian hari ini? Hari ini Makassar sedang sendu. Dari tadi malam, bahkan kemarin, hujan terus mengguyur. Gerimis, kemudian deras, agak reda, gerimis lagi, deras lagi. Begitu. Tulisan ini pun saya tulis di tempat makan pinggir jalan dengan ditemani rintik air.

Alhamdulillah. Allahumma shoyyiban naafi’aa. Hujan begini, sepertinya asyik kalau saya bercerita πŸ˜†

Begini, saya itu agak heran kalau mendengar ada orangtua yang bilang ke anaknya begini. “Nanti ya, kalau libur kita jalan-jalan ke mall.” Apa? mall? sambil alis sedikit naik. Maksudnya, ya jalan-jalan itu kan buat refreshing gitu ya. Taruhlah ke pantai, atau kalau ngga mau jauh-jauh, taman kota atau danau. Di kampus Unhas dekat sini juga ada danau kok πŸ™‚

Boleh sih ke mall, kalau memang ada keperluan dan ada yang mau dibeli. Tapi kalau sekedar jalan-jalan, saya pikir duduk-duduk di pinggir danau sambil bawa jagung rebus, menatap jauh ke sana. Riak-riak airnya, semilir anginnya. Itu bakal lebih menyenangkan guys. Asal jangan galau ya.. πŸ˜†

Asal tau saja, bagi saya waktu kecil, tempat paling membosankan dan paling tidak saya suka adalah mall. Maksudnya pasar. Ya kan waktu saya kecil di Jombang ngga ada mall. Sampai sekarang sih, haha πŸ˜€

Saya paling ingat dulu sering ikut ibu kalau belanja ke pasar. Bukan diajak, tapi sayanya yang ngga mau ditinggal. Hehe. Sudah jalan putar-putar. Pilih, tawar, ndak jadi, jalan lagi. Ya taulah ibu-ibu kalau belanja seperti apa. :mrgreen:

Kadang sudah memilih, lihat model dan warnanya. Kemudian menawar. Si pedagang menurunkan harganya, ibu saya menaikkan sedikit tawarannya. Dan harusnya setelah itu kan ada titik temu kesepakatan harga ya, tapi kadang ngga semudah itu. Entah apa yang terjadi, tidak ada kesepakatan. Ibu saya memilih untuk mencari di tempat yang lain. Bagi saya yang saat itu sudah pengen pulang saja, itu seperti kita sudah melihat titik terang, sinar harapan, pantai bahagia atau apalah πŸ˜† dan kemudian semua kandas begitu saja. Haha, lebay.

Namun kadang saya juga berpikir. Kenapa sih ngga ngalah saja lima ribu sepuluh ribu misalnya. Barangnya sudah jelas, mungkin warnanya juga kita cocok. Kalau selisihnya ngga seberapa, kenapa mesti mau repot nyari lagi. Belum tentu juga nanti dapat yang seperti itu. Atau memang beda ya pola pikir perempuan. Kalau laki-laki kan, dalam sebuah syair dikatakan, ” Betapa banyak tempat yang disinggahi oleh seorang pemuda, akan tetapi kerinduannya selalu pada tempat yang pertama.” Prok prok prok.. #ngga nyambung.

Tapi sebenarnya ibu saya ngga terlalu suka menawar kok. Menawar pun masih menawar yang wajar, bahkan beliau lebih senang memudahkan jual beli. Kalau cocok ya dibeli, ngga ya ngga.

Kembali ke cerita. Saya pun ikut saja digandeng sama ibu, malas-malas jalan. Capek, pengen pulang. Gitu ibu saya santai banget lagi ngomongnya. “Tuh kan, tadi di rumah saja sama mbah kan enak.” Saya lebih memilih diam, memasang wajah semelas mungkin. Berharap ibu saya segera menyelesaikan belanjanya dan segera pulang.

Tapi ya selalu begitu. Meski lelah, meski kecewa (entah bagaimana kecewanya anak kecil), namun saya tahu ibu saya melakukan itu semua karena alasan. Dan pasti itu adalah kebaikan. Saya pun kemudian ingat tentang sebuah perkataan, “Sakit itu adalah sebuah kepastian. Namun bagaimana kita menyikapi sakit, itu adalah pilihan.”

Pulang ah, ada riuh musik ga jelas dari seberang jalan. πŸ˜€

Iklan

14 thoughts on “Cerita Hujan

  1. Jejak Parmantos Desember 18, 2015 / 9:29 pm

    Tapi ada enaknya sih ikut ibu ke pasar, pasti dapet jajan πŸ™‚ atau minimal mampir warung bakso langganan… πŸ˜€

    • Ismail Hasan Desember 18, 2015 / 9:33 pm

      iya Mas,.
      tapi saya dulu memang suka ikut aja, ngga pernah minta apa-apa. Kadang disuruh di rumah saja, nanti kalo pulang dibawain apa gitu, tetep saja ngga mau. Mungkin efek anak tunggal waktu itu πŸ˜€

  2. ira i / ira noor Desember 18, 2015 / 9:43 pm

    Saya kadang ngajak anak2 main ke mall, kalau lagi nggak ada perlu beli sesuatu, kami di rumah bikin perjanjian sama anak-anak, kita jalan ke mall tapi nggak boleh belanja, main game, dan minta jajan ini berlaku unt saya juga. Kalo udah bikin perjanjian anak2 nggak rewel, kalo belum pasti mereka rewel ingin ini itu. Biasanya kalo ke mall dgn perjanjian, saya keliling2 cuma liat2 baju anak2 udah ngerti. Abis liat2 baju kami ke toko buku, liat2 buku sampai puas. Udah cuma liat2 aja πŸ˜€

    • Ismail Hasan Desember 18, 2015 / 9:50 pm

      bagus mbak, pembelajaran buat anak juga untuk bikin komitmen. saya dulu sering diajak jalan-jalan ke alun-alun. Jajan sambil liat-liat orang jualan. Lihat orang jualan mainan kadang lucu-lucu, meski ngga beli sih.

  3. rina Desember 18, 2015 / 9:46 pm

    Semakin besar anak2 biasanya mereka semakin bisa milih πŸ˜€

    Hore besok libur. Kita ke ….. ya bu. Kita ke …. ya Yah.

    Btw bintaro sudah sepekan ini nuansanya mendung-gerimis-ujan. Adeemmmmmm semacam di puncak… Alhamdulillah.

    • Ismail Hasan Desember 18, 2015 / 9:57 pm

      Iya Mbak,. jadi inget adik saya. Kadang cuma minta keluar jalan-jalan saja sama Ayah, dari awal sudah janji ngga minta apa-apa. Paling sama Ayah diajak keluar, menyusuri jalanan pinggir sawah, pas pulang mampir beli apa gitu. Itu mereka udah seneng banget.. πŸ™‚

  4. Rissaid Desember 18, 2015 / 10:43 pm

    Iya kak, wlu jauuuh dr brumah tangga, sy sdh niat utk jarang membawa ank ke mall..nanti minta ini itu, jd rewel..blm soal mainan krretaan… Emg lebih bagus main d alam…

    • Ismail Hasan Desember 19, 2015 / 8:31 am

      Iya, walau anak pun beda-beda. Adik laki2 saya misalnya, pemalu. Jadi ngga pernah mau naik kereta atau apapun itu,.
      Benar, memang lebih seru main di alam.

      • Rissaid Desember 27, 2015 / 11:35 am

        Bisa berbeda-beda sekali ya kak. Iya kak πŸ™‚

  5. shiq4 Desember 18, 2015 / 11:53 pm

    Dulu saya suka hujan. Waktu kecil pasti main hujan-hujanan. Semakin lama hujannya, semakin senang.

    Sekarang udah gede nggak suka hujan. Soalnya nanti nggak ada yang beli dagangan saya. Semakin lama hujannya, semakin sedih.

    Saya sejak kecil di suruh jaga rumah terus. Nggak pernah diajak ke pasar kwa ha ha….

    • Ismail Hasan Desember 19, 2015 / 8:32 am

      Hehe,. saya dulu malah ngga dibolehin hujan-hujanan. Rawan sakit mah saya waktu kecil, kena gerimis dikit udah demam. Alhamdulillah, sekarang udah ngga πŸ™‚

  6. Gara Desember 19, 2015 / 9:24 am

    Ibu saya berjualan di pasar sejak saya kelas 5 SD, jadi membantu-bantu di sana adalah sebuah kewajiban :haha. Yah, pertamanya memang kesal sih, jaga jualan, menunggu pembeli, terus menimbang-nimbang barang, tapi semakin ke sini, saya malah kangen bantu Ibu jualan di pasar: saya bisa mengamati sekitar, saya bisa banyak berinteraksi dengan orang, mendengar ceritanya, melatih kemampuan komunikasi juga. Banyak lho yang bisa dilakukan di pasar itu sebetulnya! :haha.

    Mall? Duh, nggak kenal tuh :haha.

    • Ismail Hasan Desember 19, 2015 / 11:58 am

      Haha,. iya banget kalimat terakhirnya.. πŸ˜†
      Dulu juga pernah waktu saya smp, ibu jualan sayur di depan rumah. Yang ke pasar ayah, sebelum subuh biasa sudah sampai rumah. Bongkar keranjang, sayur, tahu tempe, daging, segala macam ditata di meja. Pas habis subuh sudah banyak orang belanja, seru sekali.. πŸ˜€

  7. Anggita Cremonandra Desember 21, 2015 / 5:07 am

    Hujan memang selalu menyenangkan. Adem2 gimanaa gitu. Penuh keberkahan lagi :))

    Btw aku juga nggak suka kelamaan keliling2 untuk cari barang. Lebih suka harga pas biar cepet belinya πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s