Tentang Membandingkan

Tak perlu membandingkan, bila itu membuat kita lekas tidak bisa mensyukuri apa yang telah Ia anugerahkan. Membandingkan hidup kita dengan orang lain. Merasa mereka lebih beruntung, hidup mereka lebih baik. Merasa mereka mendapatkan nikmat yang lebih dari apa yang kita dapatkan. Lantas mengeluh dengan hidup kita yang biasa-biasa saja. Tidak perlu.

Sungguh, kita telah diciptakan dengan perhitungan paling akurat. Bahwa apa yang terjadi, apa yang kita miliki saat ini, itulah sebaik-baik keadaan untuk kita. Kita mungkin melihat orang lain lebih rupawan, lebih cerdas, lebih memiliki kesempatan, atau lebih-lebih yang lain. Ingatlah, setiap diri kita tercipta dengan kelebihan sekaligus kekurangan sebagai satu kesatuan. Temanmu yang kau dapati ceria dan selalu tersenyum kala bertemu denganmu, yang kau pikir hidupnya baik-baik saja, mungkin masalahnya justru lebih banyak dan rumit dari apa yang kau keluhkan saat ini. Kita tidak benar-benar tahu keadaan seseorang bukan?

Sadarkah kita, di luar sana mungkin banyak orang iri dengan apa yang kita miliki saat ini. Keluarga, akses pendidikan, pekerjaan, dan anugerah lainnya yang kita punya yang terkadang kita lupa untuk mensyukurinya. Kita anggap biasa apa yang kita punya, yang mungkin bagi orang lain hanya bisa menjadi mimpi indah.

Apa yang kita terima dalam hidup ini, bukan untuk kita bandingkan dengan apa yang orang lain miliki. Namun untuk kita syukuri, dengan menggunakannya untuk kebaikan bagi kita dan orang-orang di sekitar kita.

Kita adalah manusia, dan ia bukanlah serupa deret angka yang bisa diranking, satu lebih tinggi dari yang lain dan seterusnya. Menurutku, kita lebih bisa diibaratkan sebagai kumpulan pepohonan buah. Apel, mangga, pepaya, jeruk, manggis, rambutan sampai kurma dan beragam buah lainnya. Ketika ada yang mengatakan buah yang satu lebih enak dari buah yang lain, itu adalah pendapatnya, menurut selera dan kesukaan dia. Bagi yang lain, belum tentu demikian kan?

Kita adalah serupa pepohonan buah. Khas dan memiliki keunikan masing-masing. Berbeda untuk saling melengkapi dalam keberagaman. Kita tidak perlu menjadi orang lain. Kita berubah, kita berbenah bukan untuk menjadi orang lain. Namun menjadi seseorang yang lebih baik dari diri kita sebelumnya.

Don’t compare your results to someone else’s. You can never be another person. You can only be a better version of yourself.

Anonymous

Namun demikian, terkadang membandingkan diri kita dengan orang lain perlu dilakukan. Bukan untuk mengeluhkan apa-apa yang ada pada diri kita. Namun untuk membangun semangat, menyadarkan bahwa kita sudah banyak tertinggal. Orang lain sudah banyak belajar, kita masih di sini duduk-duduk diam. Bukankah memang ada iri yang diperbolehkan?

Ya, kita boleh iri pada mereka yang Allah karuniai ilmu, lantas mengajarkannya pada manusia. Juga pada mereka yang Allah limpahkan harta benda, lantas digunakan di jalan-Nya. Kita boleh iri dengan mereka. Mengejar ketertinggalan kita, melombai dengan keunggulan yang kita miliki.

Betapa baiknya Tuhan kita, Allah Subhanahu wa Ta’ala yang membuat ibadah ini beraneka macamnya. Hal yang demikian, karena kita pun punya kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang Allah mudahkan baginya untuk rutin berpuasa sunnah. Ada yang Allah jaga untuk dapat senantiasa shalat malam. Yang lain Allah karuniakan penjagaan hati dan pikiran agar dapat menghafal kalam-Nya. Bagi hamba yang lain, Allah limpahkan kelembutan hati untuk berbakti pada orangtuanya. Sementara yang lainnya lagi, Allah karuniakan hikmah dan kesabaran untuk mendidik anak-anaknya. Dan sungguh tidak terhitung kebaikan-kebaikan lain yang Allah sediakan sebagai perantara kita meraih ridha dan surga-Nya. Masya Allah.

Semoga menjadi pengingat, sekaligus penguat untuk terus berusaha, terus melangkah sebagaimana tujuan awal penciptaan kita. πŸ™‚

Iklan

4 thoughts on “Tentang Membandingkan

  1. shiq4 November 29, 2015 / 3:57 pm

    Orang-orang baru menyadari bahwa sesuatu itu berharga ketika mereka telah kehilangan.

  2. Maliki Utama Putra November 29, 2015 / 11:50 pm

    membandingkan2 apa yg bukan milik kita cuma akan mengotori hati dan menghambat kemajuan diri..sepakat.

    Assalamu’alaikum, salam kenal Mas Ismail dari Maliki (Eki), blogger Palembang πŸ™‚

    • Ismail Hasan November 30, 2015 / 5:31 am

      waalaikumsalam,.
      iya mas benar,. salam kenal juga dari blogger Jombang yang tinggal di Makassar. Hehe πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s