Kamu Tidak Sendiri

Lampu kamar sudah kumatikan. Dalam remang, pandanganku menatap pada langit-langit kamar. Menggurat apa saja yang ada di kepala, melukiskannya dengan jelas di sana.

Kami sudah sama-sama berbaring. Aku dan ayahku. Berjarak sekitar satu meter, kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Oiya, beliau sengaja datang jauh-jauh ke sini. Mengunjungiku, mengunjungi anaknya. Sebagai orangtua, tentu beliau ingin tahu dimana anaknya tinggal, juga bagaimana kondisi di sini.

“Kamu hidup di sini sendiri. Jauh dari ayah, jauh dari ibu. Semua pilihan dan keputusan ada di tanganmu. Sederhananya, kamu mau jadi seperti apa di sini, ya dari diri kamu sendiri. Jauh dari orangtua, hidup di kota besar, punya uang. Itu ujian. Kamu diuji dengan kemudahan. Ayah dan ibu selalu berdoa untukmu. Kamu yang hati-hati, jaga diri di sini.”

“Iya.”, aku mengangguk pelan. Suaraku hampir tak terdengar.

“Kamu yang sabar. Toh kamu seperti ini hanya sementara. Nanti kalau sudah ada yang menemani di rumah, insyaAllah sudah ngga sepi lagi.”

Aku masih menatap langit-langit kamar. Memejamkan mata, menghela nafas pelan. Tersenyum. Kamu tidak sendiri, ada dan selalu ada doa mereka yang mengiringi.

Iklan

2 thoughts on “Kamu Tidak Sendiri

  1. yogisaputro November 29, 2015 / 3:41 pm

    Wah, kisahnya mirip dengan yang saya alami belakangan. Bedanya, saya belum dikunjungi orangtua aja nih hehe.

    • Ismail Hasan November 29, 2015 / 5:31 pm

      hehe,. 🙂
      iya, tetap semangat mas..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s