Jangan Kehilangan Harapan

Nabi Adam alaihissalam tidak menjadi mulia karena Allah langsung yang menciptakannya. Ia juga tidak menjadi mulia tersebab malaikat yang diperintahkan sujud kepadanya. Namun ia mulia, melalui taubat dan pengakuan kesalahannya yang Allah abadikan dalam al-Quran.

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.
[Surat Al-A’raf (7) ayat 23]

Keduanya merendahkan diri di hadapan Rabb-Nya, mengakui dan menginsyafi kesalahannya, serta memohon dan mengharapkan ampunan dari-Nya. Itulah yang membuat ayah ibu kita menjadi mulia. Allah perkenankan doanya dan Allah terima taubatnya.

Akhlaknya yang baik terhadap Rabb-Nya, yang penuh adab terhadap Rabb Yang Maha Pemurah. Ya, Nabi kita Adam alaihissalam.

Adam alaihissalam dan iblis sama-sama melakukan kesalahan. Namun iblis punya akhlak yang buruk, juga jauh dari kata beradap terhadap Rabb-Nya. Lihatlah apa yang dikatakannya setelah Allah menetapkan keputusan-Nya.

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.
[Surat Al-A’raf (7) ayat 16]

Ia sama sekali tidak menyesali kesalahannya dan betapa buruk akhlaknya terhadap Rabb-Nya. Hatinya terhalang tersebab hasad, dosa pertama di langit dan di bumi. Dosa yang membuat iblis terlaknat hingga akhir masa, juga yang membuat qabil tega membunuh saudaranya.

Maka, mari belajar dari Nabi Adam alaihissalam. Siapa di antara kita yang tidak pernah salah. Betapa kagumnya kita dengan Abu Bakar as-Shiddiq, yang bahkan setan mengatakan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang beliau, “Sebelum ia bersamamu saja aku tidak bisa mendekatinya, apalagi setelah berdampingan denganmu.” Atau juga terhadap Sultan Muhammad al-Fatih rahimahullah yang Rasulullah memujinya sebagai sebaik-baik pemimpin. Kita mungkin tidak bisa mengikuti jejak-jejak mereka. Namun jangan kehilangan harapan.

Ya, jangan pernah kehilangan harapan. Bukankah kita mengenal Nabi Adam alaihissalam, juga pada sosok-sosok yang kita kenal pernah memusuhi islam, melakukan kesalahan sampai pada kisah sang pembunuh seratus nyawa. Namun mereka berhasil menutup lembaran kehidupan dengan indah, dengan pertaubatan dan berbalik arah. Mari belajar dari mereka, karena Allah tidak menuntut kita agar menjadi sempurna, hanya agar kita terus berusaha dengan sebaik-baiknya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s