Terimakasih Padamu Petani

Pagi ini tadi sebenarnya saya berniat untuk jalan-jalan pagi selepas shubuh sambil menikmati udara segar, namun tidak jadi karena ada beberapa hal yang mesti saya lakukan. Selain itu, saya juga tidak bisa berlama-lama jalan-jalan karena pagi ini saya harus segera berangkat ke Surabaya. Tidak jadi jalan-jalan, saya memutuskan untuk naik motor keliling persawahan dengan adik. Alhamdulillah, bisa menikmati suasana pagi dan udara segar juga.

Pagi-pagi semua sudah berada pada aktivitasnya masing-masing. Ada rombongan ibu-ibu yang dengan pakaian lengkap lengan panjang plus caping di kepala. Mereka akan pergi ke sawah, entah memanen kedelai atau kacang hijau. Ada juga beberapa bapak-bapak yang mengunjungi tanaman mereka, sekedar melihat-lihat, memantau perkembangan, atau juga merencanakan kapan akan memanen tanaman.

Alhamdulillah, di daerah saya ini para petani setahun bisa panen tiga kali. Dua kali padi di musim hujan dan kemarau kemudian satu kali tanaman selain padi yang ditanam setelah panen padi musim kemarau seperti sekarang ini. Apa saja yang ditanam? Macam-macam, ada kedelai, kacang hijau, jagung, semangka, blewah, kadang juga wijen. Paling banyak kedelai karena memang perawatannya cenderung lebih mudah, harga saat panen juga relatif stabil.

Bila teman-teman suka makan tahu, tempe dan aneka olahan lainnya dari kedelai, dari sinilah kedelai-kedelai itu dihasilkan.

image
Hamparan tanaman kedelai yang mulai menguning.

ini dia biji-biji kedelai yang tidak lama lagi bisa dipanen, tinggal nunggu kering.

image
Biji kedelai dilihat dari dekat

Kedelai di sini umurnya beragam sampai panen, ada yang 75 hari ada juga yang sampai 90 hari, tergantung varietas kedelainya. Biasanya petani lebih suka kedelai yang berumur pendek. Selain lebih cepat panen, juga untuk menghindari hama tikus bila telah turun hujan karena biasanya tikus mulai menyerang tanaman kalau sudah turun hujan. Mungkin mereka kedinginan makanya butuh makan πŸ™‚

Selain kedelai, ada juga kacang hijau. Mungkin ada diantara kita yang belum pernah lihat kacang hijau pohonnya seperti apa. Ini dia si kacang hijau πŸ™‚

image
Hamparan si kacang hijau

Jadi kacang hijau ini buahnya, eh bijinya maksudnya ada di pucuk batang. Kelihatan ada yang sudah berwarna hitam, berarti bijinya sudah tua, beberapa hari lagi bisa dipanen. Berbeda dengan kedelai, panen kacang hijau tidak bisa dilakukan sekaligus karena bijinya tidak tua secara bersamaan. Jadi gimana? Harus diambil biji-biji yang sudah tua dulu, dua tiga hari kemudian diambil lagi, dan seterusnya hingga panen selesai. Kebayang kan susahnya, apalagi biji-biji ini harus diambil pake tangan, macam orang metik teh gitu lah. Hehe πŸ˜€

Ada lagi jagung, kangkung, juga krai (sejenis mentimun) di sini.

image
Kangkung dan jagung yang hijau banget
image
Ini dia krai (bahasa indonesia bukan sih?)

Dari kangkung yang hijau menyegarkan mata, kita beralih ke hamparan semangka yang lihat buahnya yang besar-besar bikin kita seneng, meski ga ikut punya. Haha πŸ˜†

image
Hamparan tanaman semangka
image
Ini lebih kelihatan buahnya

Kalau semangka ini memang butuh perawatan ekstra. Disiram tiap hari, diberi pupuk, kalau sudah ada buahnya meski dipantau. Bahkan buahnya pun dibuatkan alas dari jerami, biar buah bisa berkembang dengan baik dan bentuknya bagus. Apalagi kalau menjelang panen, mesti dijaga siang malam. Ya maklum, kan semangka rasanya enak, biar ngga diambil orang iseng aja. Hehe. Salut deh buat para petani.

Melihat pemandangan ini membuat kita sadar bahwa semua bahan-bahan makanan kita dihasilkan melalui proses yang panjang. Ada banyak keringat dan tenaga yang dicurahkan banyak orang untuk menghasilkan itu semua. Padi yang kemudian menjadi beras, kacang-kacangan juga buah dan sayuran. Bahwa ada perjuangan mereka para petani yang menanam dan merawatnya hingga sampai di dapur kita dan kemudian ke piring-piring makan kita.

So, be wise with your food. Makanan bukan hanya tentang uang yang kita keluarkan untuk membelinya, namun juga tentang jerih payah mereka yang menanamnya, mengolahnya dan serangkaian proses lainnya hingga ia bisa terhidang di meja.

Terakhir, sudah sepantasnya bila kita berterimakasih kepada mereka para petani. Bapak dan ibu petani yang mendedikasikan hidupnya untuk banyak memberi melalui apa yang mereka tanam. Kebutuhan-kebutuhan pokok yang kita semua butuhkan. Semoga jerih payah mereka yang mungkin tidak banyak menghasilkan dalam ukuran dunia, menjadi tabungan pahala yang berbuah surga. Aamiin.
Terimakasih petani πŸ™‚

Iklan

5 thoughts on “Terimakasih Padamu Petani

      • Ismail Hasan Oktober 19, 2015 / 5:45 am

        di kampung saya, daerah Jombang, Jawa Timur. Bukan daerah pegunungan sih, dataran rendah, tapi kalau di persawahan apalagi masih pagi, udaranya cukup segar ditambah hijaunya pemandangan. πŸ™‚

      • winnymarch Oktober 20, 2015 / 9:29 pm

        kampung alid dong

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s