Keluarga Berencana yang Bagaimana?

Bukan, saya tidak akan membahas panjang lebar masalah itu. Saya hanya akan bercerita, tentang apa yang saya lihat dan alami. šŸ™‚

Saya baru punya adik ketika kelas 3 SD. Memang waktu itu di kampung saya sedang gencar-gencarnya program dua anak cukup. Sehingga memang pola kebanyakan keluarga di sana tidak jauh beda. Kalau melihat teman-teman saya pun, kebanyakan mereka baru punya adik ketika kelas 2 atau 3 SD dan umumnya hanya 2 bersaudara.

Adik saya laki-laki. Ketika saya kecil, memang kalau ditanya pengen adik laki-laki atau perempuan saya selalu jawab laki-laki. Pikiran anak kecil biasanya begitu, mereka ingin adik yang bisa mereka ajak main bersama. Menurut saya, juga karena waktu kecil mereka tidak ada ketertarikan apa-apa dengan lawan jenis mereka šŸ˜€

Nah, ketika saya kelas 6 SD dan adik saya berumur dua tahun lebih, ada sesuatu yang terjadi. Qadarullah, ibu saya hamil sementara beliau ngga tahu sama sekali. Seingat saya waktu itu ibu dibawa periksa ke bidan karena agak kurang sehat dan memang beliau merasa seperti ada tanda-tanda orang yang sedang hamil muda. Dan alhamdulillah ternyata memang benar ibu saya positif hamil. šŸ™‚

Kaget? Pasti. Bahkan waktu pulang dari periksa saat itu sempat saya lihat ibu saya menangis. Entah menangis karena apa. Mungkin beliau memikirkan adik saya yang masih kecil. Apalagi adik saya ini memang manja sekali, meski dalam artian wajar karena memang masih kecil. Apa-apa semuanya ibu, bahkan mungkin juga baru beberapa bulan disapih (berhenti minum ASI) ketika itu. Maka ayahlah yang menghibur beliau. “Alhamdulillah, kita dipercaya lagi untuk membesarkan dan mendidik anak. Udah, ngga usah khawatir. šŸ™‚ ”

Hari berganti, kandungan ibu saya pun semakin besar. Adik saya rupanya begitu excited dan girang sekali mau punya adik šŸ˜€

Saya tidak tahu persis berapa bulan usia kandungan ibu waktu itu. Seperti biasa, ibu saya melakukan pemeriksaan rutin ke bidan. Ketika itu bidan mengatakan kalau ada tanda-tanda bahwa janin yang dikandung ibu kembar. Beliau juga bertanya apakah ada garis keturunan kembar dari ayah atau ibu saya. Maka ibu saya menjawab bahwa memang ada garis keturunan kembar dari ibu saya. Ibu saya punya sepupu-kedua kembar. Anak salah satu sepupu ibu saya juga ada yang kembar. Bidan kala itu menyarankan agar melakukan USG untuk memastikan, juga untuk mengambil langkah persiapan. Bila memang kembar, maka persalinan harus dilakukan di rumah sakit untuk antisipasi dan memudahkan pemberian pertolongan bila terjadi sesuatu saat persalinan.

Ayah saya kemudian mengantar ibu untuk USG. Alhamdulillah, memang benar janin yang ada di perut beliau ada dua alias kembar. Laki-laki atau perempuan? Ayah saya ngga minta diberitahu dokter ketika itu. Dari awal ayah hanya ingin memastikan kembar atau tidak untuk mempersiapkan proses kelahiran nanti.

Bagaimana kondisi ibu saya? Entah, mungkin perasaan beliau nano-nano kali ya. Adik saya saja masih kecil, setelah ini mau punya adik 2 insyaAllah. Tetapi kembali ayah saya yang membesarkan hati beliau. “Sudah, ngga usah khawatir. Jangan terlalu dipikirkan. Alhamdulillah ngga papa kembar. Anak itu ada rezekinya masing-masing.”, kira-kira begitu yang selalu ayah saya sampaikan.

Alhamdulillah, si kembar pun lahir normal beberapa waktu kemudian di salah satu rumah sakit di Jombang. Dua bayi perempuan sehat itu diamanahkan Allah kepada ayah ibu kami. Dua bayi perempuan yang akan menjadi penyejuk hati kedua orangtuanya insyaAllah. šŸ™‚

image
ini nih si kembar sekarang šŸ™‚

Memang kalau saya perhatikan, apa yang terjadi di rumah. Bagaimana orangtua saya membesarkan adik-adik saya. Kesibukan mereka, kelelahan mereka adalah sesuatu yang pasti. Bukan hanya kelelahan fisik, namun juga pikiran dan perasaan. Bagaimana ketika salah satu adik saya sakit dan seterusnya. Kebutuhan akan dana juga bukan sesuatu yang sedikit.

Namun itulah mungkin bahagianya menjadi orangtua. Melihat tingkah anak-anaknya yang terkadang juga mengundang tawa. Menyaksikan mereka tumbuh besar. Mengajari mereka, mendidik mereka. Menjadi orang pertama yang dicari ketika mereka merasa takut atau menangis. Itu adalah kebahagiaan yang mungkin tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Tentang kesibukan tadi, ada sebuah nasehat yang ingin saya bagi untuk kita semua. Kelelahan, kesibukan, waktu yang tersita yang kita gunakan untuk mengurus keluarga, justru itulah yang harus kita syukuri. Karena kita tidak bisa menjamin bahwa ketika kita punya banyak waktu luang, kita bisa memanfaatkannya dengan baik. Karena kesibukan kita akan sesuatu yang bermanfaat adalah sebuah penjagaan yang Allah berikan kepada kita. Pun demikian dengan rizki yang Allah berikan yang mungkin pas-pas dalam mencukupi kebutuhan keluarga. Bersyukurlah karena kita pun tak bisa menjamin bahwa ketika Allah beri kita kelapangan rizki yang lebih mungkin justru kita akan menggunakannya untuk hal-hal yang kurang bermanfaat, atau bahkan sia-sia.

Iklan

7 thoughts on “Keluarga Berencana yang Bagaimana?

  1. adhyasahib Agustus 5, 2015 / 11:55 pm

    postingannya bagus sekali, terharu bacanya šŸ™‚

    • Ismail Hasan Agustus 8, 2015 / 11:11 am

      Hehe,. terimakasih mas..
      berbagi kisah saja, semoga ada manfaatnya šŸ™‚

  2. Gara Agustus 6, 2015 / 7:38 am

    Anak adalah rezeki yang harus disyukuri ya Mas. Syukurlah kedua adik kembar Mas itu lahir dengan sehat selamat. Saya setuju, Tuhan sudah merencanakan segalanya, pasti ada garis rezeki juga yang sudah Dia atur untuk adik-adik Mas itu. Untuk orang tua, I think once they’ve committed to take care of their children, they’ll do everything and eventually, it will work. :hehe.

    • Ismail Hasan Agustus 8, 2015 / 11:14 am

      Alhamdulillah, benar sekali Mas. Kehadiran mereka saja sudah merupakan anugerah, juga amanah tentu saja. Dan benar, bahwa masing-masing anak sudah ada rizkinya sendiri. Alhamdulillah, melihat adik2 saya sudah tumbuh besar merupakan kebahagiaan bagi ayah ibu kami šŸ™‚

      • Gara Agustus 8, 2015 / 6:37 pm

        Sangat bahagia membaca ini, Mas :)). Semoga bahagia selalu, ya :amin.

      • Ismail Hasan Agustus 8, 2015 / 8:18 pm

        masya Allah,. šŸ™‚
        iya mas, jazakallahu khoiro..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s