Memilih Karena Apa?

Matahari bersinar cerah. Panasnya mulai terasa di pagi hari ini. Ah, selesai juga. Aku menggantung baju terakhir yang aku cuci di deretan baju basah lainnya. Kalau cuaca cerah begini, belum dzuhur pun biasanya baju sudah kering semua. Aku membuang sisa air di bak cucian dan membawanya bergegas masuk ke rumah.

Kulihat ibu sedang memotong sayuran di dapur. Kacang panjang, juga kecipir. Terlihat pula kecambah di sana. Aku meletakkan bak cucian di dekat kamar mandi, lalu menghampiri beliau.
“Mau dimasak apa Buk?”
“Ini, dibikin urap-urap. Tadi ibu beli ikan nila. Rencananya mau digoreng trus dibikinin sambel. Lebih seger kalau ada urap-urapnya.”
“Wah,. enaknya.”, aku menimpali. Ibu hanya tersenyum mendengarnya.
“Kelapanya sudah diparut?”, tanyaku.
“Belum, itu ada di tas.”
Aku bergegas mengambil parutan dan baskom di rak, lalu duduk di depan ibu yang masih memotong kacang panjang. Lalu perlahan memarut kelapa yang akan jadi bumbu utama urap-urap nanti.

“Buk?”, suaraku pelan terdengar.
“Iya?”, beliau menatapku.
Aku tersenyum, melanjutkan pertanyaan.
“Ayah pernah bilang ngga Buk, dulu memilih Ibu karena apa?”, ah, keluar juga pertanyaannya. Beliau tersenyum lebar, aku menunduk, malu.
“Pernah, Ayahmu pernah mengatakannya setelah kami menikah.”, suara beliau terdengar riang. Sekilas aku melihat kegembiraan di wajahnya. Mungkin bahagia, melihat anak laki-lakinya ini mengajukan pertanyaan demikian kepadanya. Setidaknya, ia tidak perlu membuka percakapan dari awal.

“Ayahmu bilang, aku ini anaknya pendiam. Kalaupun sedang bermain atau berkumpul dengan teman-teman yang lain, bisanya aku hanya ngobrol dengan satu dua teman. Tidak sampai tertawa-tawa saat teman-teman yang lain sedang bercanda. Kemudian, ayahmu juga mengatakan kalau aku dulu termasuk anak yang rajin. Aku dulu selalu ke masjid ketika shalat maghrib, isya dan subuh. Aku tinggal di rumah mbah, ada juga sepupuku yang tinggal di sana. Kami biasa berangkat ke masjid bersama-sama. Waktu itu, busana muslimah belum membudaya seperti sekarang. Kerudung paling hanya dipakai waktu bepergian, ke pasar atau kalau ada pengajian. Sehari-hari di rumah, biasa yang dipakai ya baju lengan panjang sama rok panjang. Seperti itu.”

“Iya.”, aku menimpali pelan. Parutan kelapa sudah tinggal separuh lagi. Ibu beralih ke kecambah. Membersihkan kulit-kulit bijinya yang masih menempel, lantas melanjutkan cerita.
“Iya sih, aku dulu pemalu sekali. Sering dulu itu, aku disuruh mbah buat beli camilan di warung, pisang goreng, ubi jalar atau lainnya. Warungnya ngga terlalu jauh, jadi ke sananya cuma jalan kaki. Sebelum sampai warung, biasanya aku lihat dari jauh. Kalau ada beberapa orang yang lagi nongkrong di sana, bapak-bapak, aku langsung pulang.”, ibu tertawa pelan.
“Ngga jadi beli?”, tanyaku.
“Ngga, pulang langsung. Nanti bilang ke mbah kalau warungnya belum buka. Hehe. Biasanya mbah cuma berujar pelan, masa’ jam segini belum buka. Begitu.”
“Oo,. nanti berarti disuruh lagi Buk?”
“Iya, tapi sepupuku yang tak suruh berangkat. Gantian. Apa ya? Malu aja sih, kadang kan suka ditanya-tanya. Terus ada juga yang kadang suka bercanda gitu. Jadinya ya mending pulang aja. Hehe.”
“Berarti nakal juga Ibu dulu nih.”, aku memberikan komentar yang kemudian hanya berbalas tawa pelan.

“Pernah juga dulu itu, aku ingat sekali. Waktu pertama kali diajak ayahmu makan di luar, di awal-awal pernikahan. Ngga tau kenapa, ayahmu ngajak makan bebek goreng. Ya kamu tahu kan, namanya makan bebek goreng berarti harus pake tangan. Kalau makannya di rumah sih ngga ada masalah, tapi ini kan di warung tenda pinggir jalan, banyak orang. Jadi waktu itu makannya agak susah juga soalnya cuma pake satu tangan. Apalagi daging bebeknya ngga terlalu empuk. Mau pake dua tangan malu, langsung digigit di mulut apalagi.”

“Kalau ayah sudah makan seperti biasa?”
“Iya, ayahmu mah langsung digigit di mulut. Ngga ada bedanya sama makan di rumah. Agak lama kemudian, ayahmu nengok ke piringku. Mungkin lihat masih banyak daging yang belum dimakan, beliau tanya begini, “Dagingnya ngga dimakan dek?”. “Iya, sudah mas.”, jawabku waktu itu. Padahal dalam hati ngedumel juga. Orang dagingnya susah buat diambil. Lagian kenapa sih makan di situ, mesti pake tangan. Kan bisa di tempat lain, makan yang berkuah atau apa gitu, yang bisa pake sendok.”

“Tapi akhirnya justru jadi kenangan Buk ya?”, timpalku.
“Haha, iya sih.”, ibu tersenyum lebar.
“Oiya, kamu tanya begini, sudah ada yang dipilih ya?”, lanjut beliau masih tetap dengan senyumnya.
“Mm,. ya minta doanya saja Buk.”, jawabku.
“Iya,. pasti Nak. Kamu ngga minta pun Ibu selalu doakan. Semoga yang ditakdirkan untuk mendampingi kamu nanti, yang menemani perjalananmu adalah dia yang shalihah, baik akhlaqnya, penyayang keluarga, selalu qanaah dengan apa yang diterima, dengan apa yang dipunya. Kamu pun harus belajar untuk jadi yang seperti itu kan?”
“Iya.”

Parutan kelapa ini akhirnya selesai juga. Ibu membersihkan sisa-sisa potongan sayur yang tidak terpakai. Lalu membawa sayuran yang selesai dipotong untuk dicuci. Memasak menu spesial hari ini, sembari menunggu ayah pulang kerja, juga adik yang masih di sekolah.

Iklan

11 thoughts on “Memilih Karena Apa?

  1. PRISTA Juni 20, 2015 / 2:49 pm

    so sweeeeeet abis ibu bapaknya :))

  2. shiq4 Juni 20, 2015 / 7:18 pm

    Wah sepertinya akrab sekali dengan ibunya. Bisa cerita panjang lebar. Saya jadi merasa iri tuh…

    • Ismail Hasan Juni 20, 2015 / 9:34 pm

      iya,. seorang ibu sebaiknya memang membangun kedekatan dengan anaknya, supaya anak lebih terbuka. 🙂

  3. Gara Juni 22, 2015 / 11:26 pm

    Amin, semoga yang diniatkan dapat terwujud :)). Fragmen obrolan ringan tapi ya dalam juga maknanya, habisnya menentukan pilihan adalah sesuatu yang sulit, tapi sebenarnya cukup sederhana juga, kalau dilihat dari sisi yang berbeda :hehe.

  4. winnymarch Juni 29, 2015 / 12:10 am

    keakraban dengan ibu itu menyenangkan ya

    • Ismail Hasan Juni 29, 2015 / 5:52 am

      iya mbak,. cerita-ceritanya itu lho, dari zaman dan sudut pandang yang berbeda.

    • Ismail Hasan Maret 23, 2016 / 9:54 am

      Hehe,. terimakasih sudah membaca 🙂

      Salam kenal 😀

      • coklatkismis Maret 23, 2016 / 10:07 am

        Salam kenal. Btw, menemukan akun saya di mana? 😀

      • Ismail Hasan Maret 23, 2016 / 10:11 am

        di blognya mbak cindi ya? riyanika 🙂

      • coklatkismis Maret 23, 2016 / 1:14 pm

        Oh, Mbak Cindi 🙂 Kirain di tumblrnya Mas Gun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s