Takut Kehilangan

Mungkin memang sudah tabiat manusia, suka menggenggam sesuatu dengan erat. Apa yang ada dalam tangannya, sulit baginya untuk melepaskannya.

Hal yang demikian juga ada pada masalah hati dan perasaan. Bagi laki-laki, seringkali muncul kekhawatiran dan kegelisahan dalam hatinya ketika ia sudah menjatuhkan pilihan. Bahkan mungkin belum sepenuhnya tepat bila disebut sebagai pilihan. Hanya sebuah kecenderungan yang kemudian menumbuhkan benih-benih harapan. Ya, bagaimanapun hati seorang laki-laki memiliki kecenderungan kepada perempuan.

Apa yang dikhawatirkan? Bisa jadi banyak. Khawatir saat melihatnya terlihat dekat dengan laki-laki. Saat melihat dia sedang tersenyum, bercanda atau sekedar berbicara dengan laki-laki di luar sana. Saat melihat ia ada dalam sebuah foto bersama dalam acara makan-makan dengan teman-temannya. Atau juga kekhawatiran yang lainnya, yang semua itu bermuara pada kekhawatiran dan ketakutan akan kehilangannya.

Kehilangan? Bahkan belum tepat kan bila disebut sebagai kehilangan? Ketakutan, kekhawatiran itu ada karena ia sendiri yang menumbuhkan harapan terlalu besar. Ia menyadari bahwa ia belum bisa mengambil langkah, namun ia sendiri juga yang banyak berangan-angan tentangnya. Nanti kalau sudah lulus, insyaAllah saya akan minta izin ke orangtuanya. InsyaAllah tahun depan, kalau sudah bekerja, saya akan sampaikan ke dia melalui fulanah, kemudian bicara ke orangtuanya. Atau juga, insyaAllah 2 tahun lagi, ketika urusan saya selesai saya langsung melamarnya. Subhanallah, apakah kita yang menuliskan skenario kehidupan kita ini? Apakah kita sang pembuat cerita, hingga kita sampai memiliki gambaran tahap demi tahap yang akan kita lalui nanti, meletakkan sebuah pernikahan indah di sana yang kemudian melahirkan keluarga bahagia. Kita, bersamanya, yang bahkan kita sekarang tidak tahu orangtuanya siapa. Kenal juga baru kemarin, Hehe. Terlalu jauh kan bila kemudian kita membayangkan membangun rumah tangga sakinah, mawaddah, warahmah bersamanya.

Tidak ada yang salah dengan harapan, dengan keinginan. Tentu saja tidak salah bila kita mendambakan keluarga yang bahagia. Bahkan Allah mengajarkan doa dalam al-Quran, agar kita dikaruniai istri-istri dan anak-anak yang menjadi penyejuk pandangan mata. Ya, keluarga yang membuat kita bahagia.

Hanya saja, ketika yang kemudian muncul adalah angan untuk membersamainya, seseorang yang kini dirasa begitu istimewa. Inilah yang perlu menjadi perhatian. Jangan sampai hati kita disibukkan dengan pikiran tentangnya, kekhawatiran akan dirinya hingga kita merasa gelisah, tidak tenang. Seolah kita lah yang bertanggungjawab untuk melindunginya, membimbingnya. Seolah kita adalah satu-satunya orang yang peduli terhadapnya.

Barangkali kita juga harus melihat ke dalam diri kita sendiri. Mungkin keimanan kita akan takdir dan ketetapan-Nya perlu dibenahi. Mungkin prasangka baik kita kepada-Nya perlu diperbaiki. Bukankah kita tahu, bahwa pengetahuan kita sedikit dan Dia-lah yang Mengetahui Segalanya. Bukankah kita tahu, ia yang teramat istimewa bahkan tampak sempurna belum tentu yang terbaik bagi kita. Kita pun menyadari bahwa Dia-lah yang berkuasa atas segalanya. Bila Allah yang mempertemukan kita dengannya, maka Allah pun bisa kemudian mengambilnya atau memisahkan kita dengannya. Atau juga, Allah pun bisa menghadirkan seseorang yang lain dalam hidup kita, bukankah selalu ada orang baru yang kita temui setiap harinya?

Takut kehilangan, mungkin memang tabiat manusia. Namun selama ia punya keyakinan kuat akan takdir Tuhannya, juga selalu berprasangka baik terhadap-Nya. Bahwa apa yang ia inginkan, mungkin itu baik. Namun apa yang Allah tetapkan, pastilah yang terbaik. InsyaAllah hatinya akan lebih lapang, bebannya akan menjadi ringan. Ia tidak akan terbebani dengan pikiran-pikiran yang tidak perlu. Bahwa yang ada untuknya, adalah apa yang ada di hadapannya. Bahwa ketika ia memutuskan untuk belum mengambil langkah menjemput ia yang istimewa, tak perlu ia melakukan hal-hal untuk mengikatnya. Baik yang secara terang-terangan, melalui penuturan kata-kata juga sikap yang berbeda. Maupun melalui perhatian kecil yang mungkin tak terlihat secara kasat mata, namun tetap dapat dirasa. Tidak perlu, karena bukan dia sekarang yang ada di hadapannya. Adalah keluarga, ayah, ibu, saudara dan kerabatnya juga teman, tetangga dan sahabat yang sekarang ia punya. Mereka lah yang harus ia perhatikan, kepada mereka lah kebaikan-kebaikan harus ditebarkan. Dan ya, apa yang ada untuknya, adalah apa yang ada di hadapannya.

Iklan

One thought on “Takut Kehilangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s