Fakta vs Prasangka

Suatu ketika, seseorang berjalan di koridor tempat ia bekerja. Ini sudah jam pulang kerja, namun sebagian pegawai di kantor tersebut masih berada di ruangannya. Biasa, mungkin masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, dari ruangan sana, ia mendengar suara yang cukup lantang. Suara yang ia kenali, namun tidak terlihat orangnya. Dari kejauhan ia hanya melihat seorang pegawai muda yang berdiri dengan bersandar pada meja sedang wajahnya tertunduk.

Ia masih mendengar, tidak terlalu jelas kata per kata. Namun ia bisa menangkap bahwa itu adalah kalimat-kalimat perintah, kalimat petunjuk untuk memberitahu sesuatu. Memberi instruksi sesuatu yang harus dilakukan. Tidak ada yang salah. Mungkin ia yang memang pegawai senior sedang mengajari pegawai muda itu melakukan pekerjaannya. Namun ia sempat bertanya-tanya. Haruskah dengan suara yang lantang seperti itu? Untuk ukuran sebuah ruangan yang kecil, hanya bicara berdua, bukankah dengan suara yang pelan pun bisa? Ditambah lagi pembicaraan seolah hanya satu arah. Pegawai muda itu hanya diam menunduk, berdiri di tempat yang sama.

Beberapa detik berlalu, ia kembali berjalan. Dari sudut ia melihat sekarang, ia bisa melihat sumber suara lantang itu. Ya, sang pegawai senior. Ia sedang duduk di depan komputernya, pandangannya tertuju pada layar yang tampilannya seperti sebuah aplikasi. Dan tangannya memegang handphone. Ia berbicara dengan seseorang di seberang sana, barangkali menjelaskan tentang aplikasi sebagaimana yang tampak di layar komputernya. Ia, sang pemerhati kita ini kemudian tersenyum. Betapa hal yang terlihat seringkali bukanlah seperti yang sebenarnya terjadi, ia bergumam dalam hati.

Ya, cerita seseorang di atas mengajarkan banyak hal pada kita. Bahwa pengetahuan kita terbatas, sangat terbatas. Bahkan ketika kita mengetahui suatu hal, kita hanya mengetahuinya dari satu sisi, dari satu sudut pandang. Sementara dari sudut pandang yang lain, kita tidak punya pengetahuan tentangnya.

Menyadari bahwa banyak hal yang tidak kita ketahui membuat kita berhati-hati. Tidak mudah bagi kita untuk mengatakan si fulan demikian dan demikian. Karena sejatinya kita tidak pernah benar-benar tahu tentang dirinya. Bukankah diri kita sendiri pun, banyak hal yang kita sembunyikan, yang tidak ada orang lain yang tahu, bahkan orang tua dan sahabat terdekat sekalipun. Iya, sebagaimana orang-orang mengenal kita. Mereka tidak mengetahui siapa kita yang sebenar-benarnya bukan? Pun demikian, kita juga tidak mengetahui benar-benar siapa teman-teman yang ada di sekeliling kita.

Maka, dalam ketidaktahuan itu, mari kita isi dengan prasangka baik. Sesuatu yang kita tahu tentang seseorang atau juga sesuatu hal adalah sedikit. Maka mari kita penuhi sisanya dengan pikiran yang positif. Ketika terjadi sesuatu yang kurang berkenan, atau juga sebuah kesalahan. Mari berusaha memahami, mungkin ada suatu hal, suatu udzur baginya yang kita tidak pernah mengetahuinya. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s