Lebih Baik dari Nonton Berdua

“Mau kemana Mas?”, tanyaku melihatnya merapikan rambut di depan cermin.
Yang ditanya menoleh, sejenak mata kami bertemu.
“Mau kemana?, ngga’ kemana-mana. Aku nyisir rambut aja ditanya kemana. Aku kan juga pengen kelihatan rapi, kelihatan tampan di depan kamu.”, jelasnya sambil tersenyum lebar, masih dengan tatapan yang sama. Aku ikut tersenyum, setengah tertawa kemudian menundukkan wajah. Merah sudah muka ini rasanya.
***
Di luar masih gerimis. Rintik airnya membasahi rumput-rumput di halaman, juga beberapa bunga dan tanaman yang ada di pot-pot kecil di sana. Tampias air juga mengenai jendela kaca besar yang ada di ruang tamu ini. Membuat pemandangan di luar semakin terlihat sejuk. Ia membiarkan salah satu jendela terbuka. Membiarkan masuk hawa dingin dan udara segar untuk menemani kami berdua.

Aku meletakkan buku yang kubaca, lalu mengambil cangkir teh yang ada di meja. Menyeruputnya pelan. Alhamdulillah, segarnya.
“Mas,..”, ucapku pelan.
“Iya?,.”, ia menoleh, tersenyum menatapku.
“Pengen ngga’ Mas, nonton film, yang lagi hits banget itu.”, aku bertanya hati-hati. Sebisa mungkin agar tidak terdengar sebagai sebuah permintaan. Ia menutup bukunya setelah meletakkan pembatas di halaman yang ia baca.
“Kamu pengen nonton?”, tanyanya.
“Ngga juga sih Mas, tapi kalau Mas mau nonton, saya temani.”, aku tersenyum menjawabnya. Jujur, kalau dibilang pengen banget lihat film ini juga ngga. Walau ngga bisa dipungkiri, keinginan itu tetep ada. Sekedar pengen lah.

“Film genre begitu, biasanya ada adegan ininya.”, dia menjawab singkat, dengan senyumnya yang khas. Aku tahu maksudnya. Iya sih, film seperti itu sudah pasti, setidaknya adegan ciuman bibir pasti ada. Aku pun merasa risih kalau pas adegan yang begitu-begitu. Meski alur cerita secara keseluruhan menarik, tetap saja hal yang seperti itu tidak bisa dikesampingkan.

“Kamu ngga khawatir sama Mas. Harusnya kamu cemburu lho, aku aja cemburu. Hehe.”, lanjutnya.
“Mm,. Iya.”
“Maksudnya, kita diperintahkan untuk menundukkan pandangan itu kan bukan hanya di dunia nyata. Apa yang haram di dunia nyata, juga haram di layar kaca, hp, bioskop. Semuanya.”
“Iya,.”
“Apa kita akan nonton bareng, lalu mengatakan, hanya satu dua adegan begitu, wajarlah. Namanya juga film genre begitu. Tidak kan?”
“Iya, tidak bisa dianggap sepele memang.”, aku menanggapi. Ya, aku selalu suka caranya menjelaskan sesuatu.

“Sebagaimana aku malu, kalau adik perempuanku, yang paling kecil menonton yang demikian. Aku lebih malu dan cemburu, bila kamu yang melakukan. Dan sungguh, itu bukanlah perkara yang sederhana. Melihat aurat, dan bahkan naudzubillah, perbuatan zina. Betapa banyak penonton yang ketika melihatnya, ia membayangkan apa yang dilakukan pemeran yang ada di sana. Menikmati adegan-adegan itu. Naudzubillahi min dzaalik.”

“Iya,. masih banyak tayangan mendidik yang tidak kalah menarik, yang bahkan benar-benar menghibur. Hehe.” aku tersenyum menanggapi penjelasannya.

Di luar masih hujan. Lebih deras dari yang tadi. Titik-titik air tampak membasahi kaca jendela besar kami. Ia berdiri, berjalan menuju jendela kaca, menutupnya. Lalu membalikkan badan, sedikit meringis. “Aku lapar, bikin nasi goreng yuk. Aku pengen.”
“Ah,. nasi gorengku ga pernah bisa seenak buatan Mas.” timpalku.
“Haha,. Tapi apapun makanannya, ngga ada yang lebih enak daripada waktu makan bareng kamu.”
Aku tertawa, segera berdiri, berlari kecil mengejarnya menuju dapur.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s