Senangnya Memelihara Ikan

Saya ingat, saya pernah mencintai sesuatu dengan cinta yang begitu tulus dan mendalam. Ya, waktu masih kecil dulu, masa SD SMP,. saya punya hewan peliharaan berupa ikan-ikan hias kecil yang saya pelihara dalam sebuah kolam semen. Kolam saya ini berukuran kecil, saya sendiri yang membuatnya. Saya beli semen eceran beberapa kilo waktu itu, kemudian batu bata mencari di samping rumah, pasir saya minta pada tetangga. Hehe 🙂

Kolam saya ini berukuran panjang 70 atau 80 cm, lebar dan tingginya sekitar 40 cm. Di sana saya memelihara banyak ikan kecil. Kami menyebutnya ikan balon, ada juga ikan mawar (kadang disebut juga ikan melati). Saya suka sekali dengan dua jenis ikan ini, karena mereka cepat berkembang biak. Sekali beranak, bisa belasan atau seringkali juga lebih dari dua puluh ekor anakan. Beranak? bukannya ikan bertelur ya? Dua jenis ikan ini menyimpan telurnya di dalam tubuh induknya. Makanya disebut ikan balon karena bentuk ikan yang betina itu gemuk bulat dengan perut yang membesar. Kalau pejantannya berbadan lebih pipih dengan sirip yang lebar dan warnanya berkilau. Biasanya pejantan memainkan siripnya dengan meliuk-liuk saat pedekate dengan si betina. Haha 😀

Kita lanjutkan. Jadi, telur-telur itu tetap berada di tubuh induknya sampai nanti menetas dan siap dilahirkan ke dunia. Inilah yang selalu menjadi kejutan besar. Terkadang di pagi hari waktunya saya menjenguk kolam dan memberi mereka makan. Tiba-tiba sudah banyak anakan kecil yang berenang kesana-kemari. Alangkah bahagianya 😆 Lalu saya pun sibuk menghitungnya, memastikan semuanya terlahir sehat dan normal. Dan kebahagiaan itu bertambah kala melihat ada anakan dengan corak warna yang unik. 🙂

Sebagaimana saya katakan tadi, ikan-ikan ini berukuran kecil. Ikan balon dewasa hanya memiliki panjang dua hingga tiga cm. Ikan ini memiliki beberapa variasi warna, mulai dari putih bersih, putih dengan corak hitam, atau terkadang ada putih dengan corak oranye juga. Ada pula yang berwarna oranye muda dengan titik oranye tua. Ada pula yang hitam mengkilap keseluruhan. Adapun ikan mawar, kebanyakan berwarna merah darah, namun ada pula yang berwarna hitam. Terkadang dengan corak kuning muda.

Hampir seluruh jam bermain saya habiskan untuk mengurus kolam ikan. Pulang sekolah, setelah menyandarkan sepeda, di tengah hari yang panas, dalam keadaan penuh keringat dan kehausan. Makan, minum itu urusan nanti. Bahkan belum melepas sepatu, tas masih menggantung di bahu langsung menuju kolam ikan. Melihat-lihat ikan-ikan kecil di sana, batu-batu berlumut yang saya susun sedemikian rupa untuk jadi tempat persembunyian mereka. Kemudian menaburkan sedikit makanan ikan di atasnya. Karena ikan-ikan ini sedemikian kecilnya, butir-butir kecil makanan ikan ini tidak bisa langsung mereka telan. Mereka harus mematuk-matuk dulu hingga butiran itu menjadi lunak dan bisa mereka koyak dengan mulut mungil mereka.

Melihat ikan-ikan itu makan dengan lahap dan bersemangat saja merupakan kebahagiaan tersendiri bagi saya. Pun sebaliknya, ketika nafsu makan mereka kurang, saya juga yang langsung kepikiran. Kenapa ya? Apa karena kualitas airnya sudah kurang bagus? Jangan-jangan gara-gara terkena sinar matahari langsung, kepanasan ya? Kemudian saya juga yang mencarikan tambahan tanaman air yang mengapung untuk menambah kesejukan. Kadang minta ke teman sesama pemelihara ikan, atau kadang juga sama-sama nyari ke kali.

Ibu saya juga mengerti betapa saya sangat menjaga dan menyayangi ikan-ikan saya ini. Maka, kalau pas momong adik saya untuk melihat-lihat kolam. Beliau pasti berpesan, “Dilihat saja lho ya ikan-ikannya, tangannya ngga boleh masuk ke air. Nanti ikannya takut.” Memang, tidak ada yang boleh menyentuh air kolam selain saya. Bisa saja kan tangan mereka habis pegang krupuk yang berminyak. Wah, bisa tercemar kolam saya,. Hehe 🙂

Ya, saya pikir banyak nilai kebaikan ketika kita punya hewan peliharaan. Apalagi ketika kita masih kecil. Memelihara hewan atau juga merawat tanaman menumbuhkan rasa kasih sayang dan kepedulian. Juga mengajari tentang tanggungjawab. Bagaimana, ketika kita memutuskan untuk memeliharanya, maka saat itu juga kita berkomitmen untuk merawatnya dengan sebaik-baiknya. Memenuhi segala yang dibutuhkan, menghindarkan dari bahaya-bahaya yang mengancam. Mengerahkan apa yang bisa dilakukan agar mereka tumbuh sehat dan dalam kondisi yang menyenangkan. Tepat di saat kita membelinya dari sang penjual dan membawanya pulang, kita bertekad dalam hati bahwa kita akan menjaganya dengan sebaik-baiknya. 🙂

Kembali teringat kemudian, ketika saya memiliki kolam kecil dengan ikan-ikan yang menyenangkan seperti itu. Yang begitu saya cintai dan saya jaga. Ketika memutuskan untuk melepaskan beberapa, saya jauh lebih senang, lebih tentram dan lebih bahagia untuk memberikannya kepada seorang teman secara cuma-cuma, bukan hanya satu ikan, bahkan beberapa ikan terbaik yang saya miliki asalkan saya bisa memastikan bahwa teman saya ini bisa merawat dan menjaga ikan ini dengan sebaik-baiknya. Asalkan saya bisa memastikan bahwa minimal perlakuannya terhadap ikan ini sama baiknya dengan perlakuan yang saya berikan. Syukur-syukur bisa lebih baik, itu yang saya harapkan.

Pun sebaliknya, saya tidak akan rela untuk melepaskan satu ekor pun dari ikan yang saya miliki kepada seseorang, bahkan bila ia menawar dengan harga yang mahal apabila saya merasa dia tidak bisa merawat dan menjaga ikan ini dengan baik.

Kembali ke kondisi yang pertama tadi, ketika saya memberikan ikan kepada teman yang saya rasa bisa merawatnya dengan baik. Dan sebagai sesama pemelihara ikan, kami biasa saling berkunjung ke kolam masing-masing. Saling melihat keadaan, berbagi pengalaman. Mirip-mirip study banding lah. Hehe 😀 Kemudian saat saya mengunjungi salah satu kolam teman, ia mengatakan, “Itu ikan yang kamu kasih tempo hari.” Kemudian selintas saya lihat. Alangkah bahagianya ketika melihat ikan yang dimaksud semakin gemuk dan sehat. Itu kelihatan dari warnanya yang cerah dan mengkilap, juga geraknya yang gesit dan nafsu makan yang lahap. Ya, bahagia, meski saya tak lagi memilikinya. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s