Foto Kita di Media Sosial

“Jangan banyak upload foto di socmed, nanti khawatirnya bisa jadi fitnah.”, seorang kakak menasihati saya suatu ketika.

Teringat kemudian akan ibu saya yang ada di seberang lautan sana. Ketika saya pulang beberapa bulan yang lalu, kami terlibat dalam sebuah pembicaraan ringan. Rupanya beliau mengetahui salah satu foto saya dengan latar pasir putih di sebuah pantai.
“Bagus fotonya, cerah, yang tanganmu terangkat dua-duanya.”, ujar beliau menjelaskan.
Saya yang sudah mengerti foto yang beliau maksud kemudian menjelaskan bahwa itu adalah foto waktu saya sedang di pantai tanjung bira, di kabupaten bulukumba. Kemudian saya bercerita juga tentang bagaimana liburan saya di sana, hingga akhirnya beliau berkata,
“Itu adekmu bisa dapat foto itu di internet, berarti orang lain juga bisa ngambil?”
“Mm,. iya”, jawab saya pelan sambil tersenyum.
“Oo,. eman lak’an..” ujar beliau pelan, kurang lebih artinya ‘sayang kalau begitu’. Saya cuma menanggapinya dengan senyum. 🙂

Saya bisa memahami apa yang beliau sampaikan. Walaupun sebenarnya juga, foto saya ngga ada masalah apa-apa. Cuma foto liburan biasa, dengan latar pantai yang indah.

Memang, kalau dibandingkan dengan generasi ibu saya dulu, jurang pemisah agaknya sudah begitu jauh. Di masa muda ibu saya, akhir tahun 80-an, foto adalah barang yang langka. Untuk foto saja, harus pergi ke desa sebelah atau biasanya juga ada, tukang foto keliling yang secara periodik menawarkan jasa fotonya. Mengambil gambar, sekaligus juga membawa hasil foto yang sudah jadi (gambar yang diambil seminggu sebelumnya). Bahkan, foto-foto masa kecil saya, ketika masih merangkak, naik apollo, kalau teman-teman tahu yang saya maksudkan, juga diambil dari jasa tukang foto keliling ini. 🙂
Ketahuan kan kalau tempat saya ini di kampung banget,. hehe 😀

Dengan demikian, foto adalah barang yang sakral. Tidak ada foto kecuali pada momen-momen tertentu saja, atau foto perkembangan anak, juga foto sekeluarga. Dan jelas, bahwa yang memiliki foto itu yang mereka sendiri sekeluarga. Biasanya dipajang di ruang tamu, atau juga di atas bufet. Kalau album foto keluarga, acara nikahan atau khitan berarti tersimpan rapi di lemari. 🙂

Sekarang coba kita bayangkan, kalau di masa itu misalnya ada seorang laki-laki yang datang ke sebuah rumah untuk suatu keperluan. Kemudian dia melihat di ruang tamu ada foto keluarga pemilik rumah, lantas ada anak perempuan di sana. Mungkinkah ia mengatakan, “Pak, boleh saya minta foto putri anak bapak?.” Atau seandainya ia mengatakan demikian, mungkinkah sang bapak akan mengatakan, “Oo, tentu.. Saya punya banyak fotonya, bagus-bagus.”
Mungkinkah? Tidak.
Paling tidak sang bapak akan bertanya-tanya. Apa keperluannya hingga sampai minta foto, untuk apa, dipakai apa nantinya. Kesemuanya itu adalah bentuk penjagaan terhadap kehormatan dan harga diri anaknya.

Namun, kita lihat yang terjadi sekarang ini. Seseorang berlomba untuk menampilkan foto yang terbaik, dengan aneka macam ekspresi wajah, dengan beragam senyum yang memesona. Diambil dari berbagai sisi, meng-explore setiap senti yang bisa ia tampilkan. Kemudian ia upload ke beragam media sosial yang ia punya. Tanpa merasa perlu tahu, siapa saja yang bisa memandangi fotonya. Tanpa merasa perlu tahu, apa yang bisa dilakukan orang di luar sana terhadap fotonya itu. Innaalillaahi wa innailaihi rooji’uun.

Tentu kita juga lebih bersedih lagi, bahwa yang demikian juga dilakukan oleh saudari kita para muslimah, bahkan yang sudah berhijab, sudah menutup auratnya.
Mari kita ketahui juga, bahwa benar wajah bukan aurat. Akan tetapi kita diperintahkan dalam al-Quran untuk menundukkan pandangan. Jika di dunia nyata, ketika berpapasan laki-laki dan perempuan mereka menundukkan pandangan bahkan sampai berjalan minggir sebisa mungkin, maka mengapa di dunia maya justru foto close up yang ditampilkan.

Ya, wajah memang bukan aurat. Namun sungguh wajah bisa dinikmati keindahannya. Manisnya senyuman, bibir yang kemerahan, beningnya pandangan mata, juga lentiknya bulu mata. Merinding kan,. bahkan belum semuanya saya sebutkan. Ya, wajah kalian bisa dinikmati kami kaum lelaki. Apakah kalian suka, kalau foto wajah cantik itu kemudian didownload oleh seseorang di luar sana, seseorang yang kalian bahkan tidak pernah tahu. Ia simpan dalam handphone, sebelum tidur ia buka, ia pandangi, ia perbesar sampai misalnya, naudzubillah, ia berandai-andai melakukan sesuatu yang haram dengan wanita dalam foto itu. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan makhluk-Nya.

Ya, segala sesuatu memiliki batasan dan hati kecil kita lah yang tahu dimana batasan itu. Segala sesuatu memiliki batasan, termasuk kala kita akan upload foto di media sosial.
Wallahualam,.
Barakallahu fiikum.

Iklan

4 thoughts on “Foto Kita di Media Sosial

  1. GADIS Mei 22, 2015 / 9:00 pm

    bulukumba? kupang ya kak?

    • Ismail Hasan Mei 22, 2015 / 9:26 pm

      bukan,.
      bulukumba itu di sulsel, sekitar 4 jam dari makassar.

      • GADIS Mei 22, 2015 / 9:57 pm

        iyaaa
        pokoknya sulawesi gt kan? :p rumahnya temen sih.

      • Ismail Hasan Mei 23, 2015 / 7:44 am

        iya,. di sulawesi selatan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s