Perempuan Berjilbab Biru

“Alhamdulillah, tidak ada yang roboh meski kemarin malam hujan turun dengan begitu lebatnya.”, bisikku dalam hati. Aku kembali melangkahkan kaki melewati sebuah jembatan kecil, masih ada sisa-sisa genangan air di saluran irigasi itu. Kakiku menjejak rumput, kemudian aspal jalanan desa yang sudah banyak berlubang di sana sini.

Langit cerah, warna biru terang dipadu jingga menawan menambah keindahan hamparan lahan padi siap panen di sepanjang mata memandang. “Alhamdulillah.”, gumamku lirih.

Sebuah sepeda motor matic memelankan lajunya. Lantas berhenti di seberang jalan, beberapa meter dari tempatku berdiri. Ia turun dari motornya, dan perlahan
melangkah menghampiriku. Ujung jilbabnya sedikit berayun diterpa angin sore.

“Assalamualaikum Bah.”, sapanya
“Waalaikumsalam,. nyari aku tho Nduk?”, jawabku sambil meluruskan lengan baju yang tadi kulipat sampai ke siku. Adalah dia, salah seorang warga desaku. Agaknya ada sesuatu yang penting hingga ia sampai menyusulku ke sini.

“Iya Bah, tadi ke rumahnya Abah, kata ibu Abah lagi di sawah. Ya, saya langsung ke sini.”
“Oo,. iya. Ada apa?”
“Saya malu Bah sebenarnya mau ngomong ini. Malu sama Njenengan. Saya mau ngasih tahu sekaligus juga minta tolong, kalau nanti ada surat perihal gugatan cerai saya dari pengadilan ke kantor desa, minta tolong disampaikan ke saya.”, jelasnya sambil tertunduk.
“Sebentar Nduk,. Aku ngga denger kabar apa-apa, kok sampean tiba-tiba ngomong surat gugatan. Ada apa sebenarnya?”
Abah belum denger tho? Ya,. suami saya sudah setahun lebih ini ndak pernah pulang Bah. Saya, kemudian juga anak saya tidak pernah diberikan nafkah apa-apa. Sudah setahun lebih.”
“Mm.. Ya, maksudku kalau masih bisa dibicarakan, sebaiknya dibicarakan dulu. Bagaimana nanti baiknya. Dulu waktu menikah, mbak yang milih sendiri kan, bukan dijodohkan orang tua.”
“Iya Bah.
“Kalau mbak sendiri tahu tidak, suaminya ada dimana?”, tanyaku hati-hati.
“Kalau saya sendiri tahu Bah. Cuma ya itu, dia sendiri juga tidak bisa lagi pulang ke rumah. Apalagi dia juga sering dicari orang, masalah pekerjaan, sangkutan utang piutang. Saya ikut orang tua saja. Kata beliau, mumpung anak saya baru satu, belum terlalu jauh, saya harus ambil keputusan apalagi dia juga tidak lagi bisa diharapkan.”
“Iya, iya. Kalau begitu ya saya cuma bisa mendoakan saja, semoga diberikan yang terbaik. Yang sabar Nduk, semua ini ujian. InsyaAllah pasti ada hikmahnya. Ya, nanti kalau ada surat buat sampean, tak kasikan.”
Inggih Bah, matur nuwun.”
“Ya, sama-sama.”
“Saya pamit Bah. Assalamualaikum.”
“Iya, waalaikumsalam warohmatullah.”

Aku menghela napas panjang. Berat. “Ya Allah, rasanya baru kemarin aku menjadi saksi pernikahannya. Menyaksikan kebahagiaan itu.Ya Allah, berilah jalan keluar yang terbaik menurut-Mu kepada keluarga mereka.”

Masih terlihat motornya yang melaju pelan di kejauhan. Jilbab birunya terlihat sedikit berkibar diterpa angin. Teringat olehku tanggungjawab besar yang kuambil dua puluh lima tahun silam. Amanah yang berat, tidak main-main. Ya, menikah. Menambah sebuah tanggungjawab disamping tanggungjawab yang sudah ada. Ya, sebagai anak, sebagai kakak, saudara. Dan kemudian sebagai suami. Alhamdulillah. Alhamdulillah ‘ala kulli haal.

Iklan

2 thoughts on “Perempuan Berjilbab Biru

  1. winnymarch Mei 10, 2015 / 2:33 pm

    semoga menjadi keluarga sakinah ya

    • Ismail Hasan Mei 10, 2015 / 4:06 pm

      iya,. semoga diberikan jalan yang terbaik.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s