Kenangan Indah, Takkan Terlupa

Seperti biasa, malam-malam di akhir pekan seperti ini saya menelfon keluarga yang ada di rumah. Berbicara kesana kemari dengan leluasa. Menghabiskan bonus telfon yang saya punya, meski juga kenyataannya ngga pernah habis. Hehe πŸ™‚ Alhamdulillah, kami sengaja memakai operator yang sama, sehingga tidak perlu lagi ada batasan pulsa ketika berbicara.

Mungkin benar, bahwa saya, juga ibu, ayah hanya ingin saling mendengar suara. Kemudian saling bertanya kabar sebelum akhirnya pembicaraan melebar kemana-mana. Ya, walaupun sebenarnya cuma cerita kegiatan sehari-hari saja. Baru nanti kalau pembicaraan dirasa cukup, sebelum mengucap salam, ibu pasti menyempatkan untuk sedikit memberi nasihat. Berpesan agar saya selalu berhati-hati. Baik-baik di sini dan ya, begitulah.

Sejenak ingatan saya kembali pada potongan-potongan kenangan belasan tahun silam. Ketika saya masih lucu-lucunya,. πŸ˜€ , masih menjadi satu-satunya penyejuk mata ayah dan ibu. Sebelum kehadiran adik-adik saya ke dunia.

Masih teringat,..
Ketika hampir di setiap sore, saya yang sudah dimandikan, memakai baju yang bersih, kemudian bermain di rumah atau halaman, mendengar suara motor yang saya hafal betul derungan mesinnya, klaksonnya ketika melewati rumah tetangga. Ya, itu pasti ayah. Lalu, dengan langkah kaki kecil yang berlari, dengan semangat yang berlipat kala yang dilihat memang ayah di kejauhan sana. Persis sepuluh meter sebelum masuk halaman, motor itu berhenti. Kemudian dengan senyum lebar, ayah menaikkan saya untuk dibonceng di depan. Melewati halaman rumah kami, melambaikan tangan ke ibu di sana, berkendara hingga ujung jalan sebelum akhirnya kami berbalik arah untuk kembali pulang. πŸ™‚

Masih teringat,..
Saat saya diajak ibu untuk berkunjung ke rumah nenek. Duduk di boncengan belakang sepeda mini beliau. Kemudian, kaki saya diikat dengan kain, mungkin selendang atau apalah agar nanti di perjalanan tidak terayun kesana-kemari sehingga bisa masuk ke jeruji roda sepeda. Lalu, ketika sampai di sana, namanya juga anak yang bertemu ibunya, berkunjung ke rumahnya. Berbicara ini itu, bertanya ini itu. Kemudian ibu selalu berkeliling di halaman melihat pohon-pohon yang ada di sana. Mangga, belimbing, jambu juga jeruk bali. Apa saja yang sedang berbuah. Mengambil beberapa buah yang masak, mengupasnya sebelum kemudian kami makan bersama. πŸ™‚

Masih teringat pula,..
Kala saya pelan-pelan mengikuti ayah di belakang. Mengendap tanpa suara. Memperhatikan sapu lidi yang ayah pegang. Dan hap, satu capung lagi tertangkap. Pelan-pelan mengambilnya dari sela-sela lidi. Kemudian dikumpulkan di wadah bekas gelas plastik. Yap, capung yang kami tangkap ini digunakan untuk umpan memancing. Itulah mengapa, sampai sekarang saya selalu suka memancing, meski sudah tidak ingat lagi kapan terakhir melakukannya. Ya, saya selalu suka. Bahkan ibu saya bercerita, beliau dulu suka sekali ikut ayah mancing, menemani beliau bahkan saat ibu sedang mengandung saya. πŸ™‚

Masih teringat, tentu saja,..
Di bulan ramadhan, ketika kami berangkat sholat tarawih bersama-sama. Saya yang selalu saja bersemangat, berlari-lari kecil dengan gembira. Biasanya ayah sholat di shaff yang pinggir dan saya persis berada di antara beliau dan tembok masjid. Saya ikut sholat, lantas ketika sudah capek atau juga mengantuk, langsung merebahkan diri di atas sajadah. Bukan sekali dua saya akhirnya tertidur di sana, dan baru bangun di rumah esok paginya. πŸ™‚

Masya Allah,.. πŸ™‚
Terimakasih ibu,. ayah,..

“Wahai Tuhanku, Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil”
Q.S. al-Isra’ : 24

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s