Ketika Anak Lebih Dekat dengan Pengasuh

Beberapa kali saya putar video itu. Saya melihatnya pertama kali di tumblr salah satu teman. Ya, tentang kenyataan dan fakta, mungkin tidak hanya di Singapura, bahwa seorang anak lebih dekat dengan pengasuhnya. Pengasuhnya lebih tahu tentang kebiasaan, kesukaan, teman atau juga cita-cita sang anak.

Rupanya video ini pula yang dilihat oleh salah satu rekan kerja saya beberapa hari yang lalu, seorang ibu dengan satu anak. Saat itu masih istirahat siang, ketika kemudian dia mengatakan, “Iya, pengasuhnya justru yang lebih paham,…” Saya tidak terlalu jelas mendengar suaranya, tapi saya bisa menangkap maksudnya.

Kemudian, sedikit banyak kakak ini bercerita, tentang ibu, anak dan pengasuh.
“Kau tahu, bahkan ada seorang temanku. Anaknya tidak mau tidur, bila tidak dengan pengasuhnya.” hening sesaat, kulihat matanya menerawang.
“Ibunya juga ingin tidur dengan anaknya kan. Jadi ya begitu, ia biarkan anaknya tidur dengan pengasuhnya dulu. Ketika sudah tertidur, baru dipindah ke kamar ibunya, ditidurkan bersama ibunya.”
“Kau tahu, bagaimana rasanya ibu seperti itu. Sakit sekali, pasti sakit sekali.”
“Aku ingat dulu dia waktu masih kecil juga sempat begitu.”
“Anak ta’ kak?”, tanyaku
“Iya. Jadi waktu itu langsung saya bilang ke pengasuhnya. Kalau ada saya di rumah, berarti waktunya dia untuk mengerjakan yang lain, jangan menampakkan diri, jangan mendekat.”

Saya dari awal memilih untuk mendengarkan. Beberapa kali mengangguk pelan, merasa itu adalah tanggapan paling pas yang bisa saya berikan.

“Kau bayangkan saja. Sejak pagi sampai malam anak itu ada bersama pengasuhnya. Yang memandikan, memakaikan baju. Kemudian juga yang menyiapkan sarapan, semuanya. Ketika ibunya pulang, hari sudah malam. Sang anak sudah lelah, mengantuk. Ya, tinggal sisa-sisa hari itu saja yang ada untuk ibunya.”

“Jadi, ya kedekatan itu, cinta itu harus benar-benar dibangun dari hati ke hati.”

“Mungkin ya harus benar-benar punya quality time kak.”, aku menanggapi.
“Iya.”
“Lebih sering mengajak anak bicara berdua. Sebelum tidur mungkin, sambil cerita-cerita.”, tambahku.
“Iya sih, saya juga begitu.”

Iya, saya pun bisa membayangkan. Ketika yang memandikan sang anak adalah pengasuhnya, kemudian memakaikan baju. Pengasuh pula yang menyiapkan sarapan, juga makan siang, sore, pun ia juga yang menyuapinya. Lalu, ketika sang anak malas makan dengan beragam alasan, pengasuh pula yang kemudian membujuk pelan-pelan. Mengerahkan segala macam cara yang penting sang anak mau makan.

Ketika sang anak bermain, masak-masakan. Membuat apa begitu, kepada pengasuhnya juga ia tunjukkan hasil masakannya, dengan wajah yang berbinar dan antusias, ia minta agar masakan itu dicicipinya. Lalu, dengan mulut yang pura-pura mengunyah, dengan ekspresi wajah yang dibuat seolah sedang merasakan sesuatu di mulutnya. Bersiap memberikan penilaian. Ketika wajah mungil itu semakin tidak sabar. Kemudian dengan senyum ceria sang pengasuh berkata,” Masakan adek memang mantap!”. Lalu, mereka berdua pun tertawa bersama.

Atau, ketika sang anak bermain dengan teman-temannya. Mungkin tetangga sebelah rumah. Lalu ada pertikaian kecil, namanya juga anak-anak. Mungkin rebutan sendok, bola bekel atau apalah begitu. Ia pun menangis, kemudian berlari ke dalam rumah. Maka, pengasuhnya yang kemudian memeluknya, membelai rambutnya, mengusap air matanya. Dan dengan wajah yang tersenyum, membisikkan kata-kata yang menenangkan, dan begitulah.

Kemudian juga, mungkin ketika matahari sudah agak condong ke sebelah barat. Ketika sang anak baru saja bangun dari tidur siangnya. Beberapa kali mengedipkan mata, kemudian memanggil sebuah nama. Siapa yang ia panggil? Tentu saja pengasuhnya. Kemudian, sang pengasuh dengan setengah berlari datang menghampiri. Berlagak pura-pura terkejut ternyata tuan putri sudah bangun. Lalu, dengan senyum khasnya, ia gendong sang tuan putri, atau mungkin juga sekedar ia tuntun. Menuju kamar mandi. Sekedar cuci muka mungkin, agar lebih segar untuk kembali menghabiskan sisa-sisa waktu di hari ini.

Iya, saya bisa membayangkannya. Saya bisa membayangkannya. 🙂

Iklan

4 thoughts on “Ketika Anak Lebih Dekat dengan Pengasuh

    • Ismail Hasan April 27, 2015 / 6:15 am

      iya,.
      mesti dipertimbangkan baik-baik memang.

  1. Yusuf Muhammad April 26, 2015 / 11:39 pm

    Sudut pandang lain.. Ternyata kebanyakan pembantu di Singapura adalah orang Indonesia.. 😥 #gagalfokus

    • Ismail Hasan April 27, 2015 / 6:16 am

      iya,. bukan hanya singapura kayaknya..
      karena kita punya banyak tenaga pembantu rumah tangga..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s