‘Yang Bekerja’ atau ‘Yang di Rumah’

Sebuah tulisan menarik saya baca hari ini di salah satu blog yang saya follow. Sebuah tulisan dari mbak meutia halida berjudul ‘Dilema Para Ibu Bekerja’, silahkan baca tulisannya di sini. Bahwa iya, hidup ini selalu penuh dengan pilihan. Dan setiap orang tentu memiliki alasan, pun pertimbangan tersendiri ketika menentukan sebuah pilihan itu. Termasuk, pilihan seorang perempuan tentang masa depannya, menjadi ibu yang bekerja atau full ibu rumah tangga. Dan mungkin termasuk pula, pilihan seorang laki-laki, memilih istri yang bekerja atau yang full di rumah.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi. Sama sekali tidak. Kita tidak sedang berbicara tentang orang lain. Toh, kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang ada dalam sebuah rumah, dalam sebuah keluarga. Hanya saja, ini perlu menjadi pengingat, juga sebagai pertimbangan sebelum kita benar-benar menentukan langkah.

Saya kira, hampir semua laki-laki mendambakan istri yang berada di rumah. Apalagi bila telah ada anak-anak. Sederhana, ia akan lebih tenang meninggalkan anaknya di rumah. Di sela-sela pekerjaan pun, ia bisa menyempatkan sekedar bertanya kabar tentang istrinya, juga anaknya. Pun ketika pulang, ada yang memang ia rindukan. Ada seorang istri yang menunggunya, juga tatapan mata bening anak-anak yang menyambutnya. Rasanya tidak ada yang lebih membahagiakan daripada melihat binar wajah ceria mereka ketika ayahnya pulang bekerja.

Perempuan pun sepertinya demikian, setidaknya yang saya tahu. Dengan naluri perempuan yang dimiliki, tidak ada yang lebih membahagiakan bagi mereka seperti halnya menjalani kehidupan sederhana di rumah. Membangunkan anak-anak, memandikan mereka, menyiapkan sarapan, mengantar sampai depan pintu ketika suaminya berangkat bekerja, dan aneka macam kegiatan rumah lainnya. Ketika diberi pilihan, hampir bisa dipastikan bila hati kecil setiap perempuan mendambakan kehidupan yang demikian. Sederhana, namun mulia. πŸ™‚

Kita pun tahu, bahwa dalam hidup ini ada hal-hal yang tidak bisa terulang kembali, juga hal-hal yang tidak akan bisa terganti. Masa awal pernikahan, masa kecil anak-anak, tumbuh kembang mereka. Ketika anak baru belajar berjalan, berdiri dengan kedua tangan yang direntangkan demi menjaga keseimbangannya. Kemudian, dengan senyum lebar dan tatapan yang fokus ke depan, kaki kecilnya melangkah satu persatu dengan perlahan. Sesekali, tawa pun mengiringi. πŸ™‚

Atau juga ketika dia baru saja bisa mengucapkan satu dua kata. Kemudian, kian hari kian bertambah. Bahkan kita pun sampai kagum dengan perkembangannya. Pun ketika ia baru saja terbangun dari tidur siangnya. Kemudian, dengan suaranya yang khas, memanggil manggil ibunya. Meski dengan pelafalan yang belum terlalu kentara. Ya, betapa bahagianya seorang ibu yang memiliki sepenuh waktu untuk mendampingi anaknya, menjadi orang yang pertama kali mendengarkan celoteh riangnya, mengajarinya kosa kata baru, mengenalkannya pada dunia. Ya, menemaninya melalui masa kecilnya yang penuh tawa dan penuh ceria. πŸ™‚

Membangun sebuah keluarga, saya pikir seperti halnya melakukan sebuah perjalanan bersama. Perjalanan yang memerlukan bekal, peta, penunjuk arah, juga yang lainnya. Bisa saja perjalanan itu dimulai dengan sama-sama membawa ransel besar di punggung masing-masing, suami juga istri. Melangkah bersama, saling menguatkan, sesekali bergandengan tangan. Masing-masing dengan barang bawaannya. Tak apa, karena belum ada tangan-tangan kecil yang memerlukan uluran tangan mereka, belum ada wajah-wajah mungil yang membutuhkan perhatian mereka. Mereka baru berjalan berdua, dengan sebuah cita-cita besar di ujung perjalanan sana.

Langkah demi langkah pun mengantarkan mereka semakin menjauh dari titik awal perjalanan tadi. Kini, mereka tak lagi berjalan berdua. Telah ada si kecil yang kini ikut dalam perjalanan mereka. Si kecil yang antusias sekali dalam perjalanan ini. Bertanya tentang setiap apa yang ia temui, setiap tempat yang mereka singgahi. Menyenangkan sekali rasanya melihat wajah penuh rasa ingin tahu itu. Wajah yang kemudian berbinar tiap kali mendapat penjelasan, atau juga jawaban.

Barangkali sekarang sudah saatnya, bagi sang istri untuk menurunkan ransel besarnya. Terlalu lelah rasanya, bila harus terus membawanya sementara tangannya pun harus menggandeng tangan si kecil yang ada di sampingnya. Matanya pun tak boleh lepas dari mengawasi si kecil yang terkadang berlarian di sekitar mereka.

Barangkali benar, cukuplah bekal itu mereka simpan di ransel besar sang ayah. Cukup ayah yang membawanya. Mereka hanya perlu sedikit menyesuaikan kok, lebih bijaksana saja dalam memanfaatkan bekal yang mereka punya. πŸ™‚

Kalau misalnya sang istri pun tetap membawa tas kecil. Tak mengapa. Mungkin itu memang diperlukan, selama tidak membebani punggungnya, juga tidak memberatkan pundaknya. Barangkali memang sang istri membutuhkan tas kecil itu. Sekedar untuk membawa minuman juga makanan ringan, atau juga menyimpan saputangan yang sesekali bisa ia gunakan untuk mengusap peluh di wajah suaminya. πŸ˜€

Ya, saya pikir pilihan selalu ada. Menjadi ibu yang bekerja bukanlah sebuah harga mati. Toh sebenarnya, bekerja ataupun di rumah bukan hanya didasarkan pada keinginan semata. Bukan itu, namun lebih kepada mana yang lebih mendatangkan kebaikan bagi keluarga. Ada saat, atau juga situasi yang terkadang mengharuskan seorang ibu untuk bekerja di luar rumah. Selalu ada pertimbangan, selalu ada alasan. Ya, semuanya demi kebaikan.

Kita pun tahu, tugas utama sebuah keluarga bukanlah membawa sebanyak-banyaknya barang, mengisi penuh ransel besar mereka dan membawanya di sepanjang perjalanan. Bukan itu. Tugas mereka yang utama adalah memastikan bahwa setiap anggota keluarga, mereka semua yang ikut dalam perjalanan ini bisa bersama-sama melangkah hingga akhir perjalanan nanti. Bisa bersama-sama menggapai cita-cita mulia. Cita-cita yang bahkan sudah menjadi tujuan keduanya sebelum memutuskan untuk berjalan bersama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s