Belajar dari Para Penyihir Fir’aun

119. Maka mereka dikalahkan di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina.
120. Dan para pesihir itu serta merta menjatuhkan diri dengan bersujud.
121. Mereka berkata,”Kami beriman kepada Tuhan seluruh alam,
122. (yaitu) Tuhan-nya Musa dan Harun.”

Q.S. Al-A’raf

Kita mungkin masih ingat, ketika kita diceritakan tentang kisah Nabi Musa alaihissalam. Entah oleh guru ngaji, guru agama di sekolah atau mungkin oleh ayah ibu kita sendiri. Kisah itu pun dimulai dari kelahiran Nabi Musa alaihissalam, keadaan mesir waktu itu dimana Fir’aun membunuh bayi laki-laki dan membiarkan bayi perempuan. Kemudian beliau dihanyutkan ke sungai oleh ibunya, dan seterusnya hingga beliau dewasa dan ditugaskan untuk mendakwahi Fir’aun.

Ada bagian yang sering terlewatkan. Ya, tentang para penyihir Fir’aun kala berduel dengan Nabi Musa alaihissalam. Bahwa ketika para penyihir itu kalah duel, kalah telak. Dan mereka tahu bahwa yang dilakukan Nabi Musa bukan sihir, melainkan sebuah mu’jizat yang nyata dari Allah. Subhanallah, mereka langsung menyatakan keimanan mereka kepada Allah. Mereka membenarkan apa yang dibawa oleh Nabi Musa alaihissalam.

Tidak ada gengsi, angkuh, sombong dan semacamnya. Mereka baru saja kalah duel dengan lawan mereka. Namun dengan hati yang lapang mereka tidak menolak kebenaran dan justru langsung menyambutnya. Tiada daya dan upaya melainkan karena pertolongan Allah dan Allah-lah yang memberi hidayah kepada siapa saja yang dikehendakinya.

Saya percaya, setiap manusia pasti ingin jadi lebih baik. Bagaimanapun keadaannya, bagaimanapun masa lalunya. Yang demikian, karena memang fitrah manusia mencintai kebenaran, mencintai kebaikan. Ungkapan lama, bahkan seorang pencuri pun tidak ingin sama sekali anaknya jadi pencuri. Ya, setiap orang pasti ingin jadi lebih baik. Mengapa? Karena hati manusia mendambakan ketenangan. Dan ketenangan tidak akan diperoleh kecuali dengan kebaikan.

Hanya saja, terkadang nasihat, petuah atau juga pelajaran hidup itu datang dengan cara yang mungkin kita tidak suka. Penyampaiannya tidak baik mungkin, atau yang menasihati masih banyak salah, dan sebagainya. Namun kita tahu, kebenaran tetap kebenaran, siapapun yang menyampaikan.

Semoga kita diberikan hati yang lembut. Hati yang mudah menerima kebenaran, hati yang senantiasa patuh. Hati yang mudah memaafkan sebagaimana kita juga ingin dimaafkan oleh Dzat Yang Maha Memaafkan.
Barakallahu fiikum.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s