Ayah dan Anak Laki-Lakinya

“Maka tidak ada sedikitpun rasa benci, apalagi dendam di hati ini kala itu. Nol. Sama sekali tidak ada. Aku tahu, akupun sadar, aku berusaha memahaminya. Seandainya aku berada di posisinya, barangkali akupun akan melakukan hal yang sama. Dan aku pikir, beliaupun bukan tidak suka denganku. Bukan, bukan itu.”
“Kakek hanya mengkhawatirkan puterinya.”, gumamku lirih menanggapi.
“Iya,. dan sangat wajar menurutku kala itu.”

Adalah dia, laki-laki pertama yang kukenal dalam hidupku. Ayah, yang berbagi kisahnya kepada anak laki-laki yang beranjak dewasa dan hendak menentukan langkah ini. Sudah hampir satu jam kami duduk bersama, ditemani secangkir teh dan sepiring gorengan hangat yang dibeli dari tetangga pagi ini. Masih terdengar rintik gerimis di luar. Tidak terlalu deras memang, namun cukup membuat orang-orang lebih nyaman untuk berada di rumah, menikmati suasana.

“Aku tahu, siapa aku kala itu.”, lanjut ayah.
“Aku hanya laki-laki biasa, pekerja kasar. Kerja ikut sebuah bengkel dan cuci mobil di kota, kadang ikut juga kerja di proyek bangunan. Ketika di kampung sedang musim panen, berarti waktunya aku pulang untuk ikut pergi ke sawah. Ya,. seperti itu. Tidak ada yang istimewa.”
“Maka, ketika waktu itu aku memang belum bisa diterima, akupun tidak menumbuhkan harapan yang terlalu besar. Ya kalau tidak bisa, berarti memang bukan takdirku untuk menjadi bagian dari keluarga mereka.”

“Bagaimana kemudian akhirnya kakek bisa mengizinkan?”, tanyaku.
“Ibumu sempat sakit. Ngga tahu sakit apa.”, jawab ayahku sambil tertawa pelan. Lalu mengambil cangkir tehnya dan meneguknya perlahan.
“Aku ngga tahu persisnya, mungkin banyak pembicaraan di antara mereka. Dan kita pun tahu, waktu bisa merubah seseorang kan?”, lanjutnya.
“Iya, waktu bisa merubah seseorang.”, aku mengangguk pelan.

“Dan mulailah kemudian, ibumu jadi sering rajin pergi ke sawah. Membantu ini itu, belajar menanam padi. Bahkan kemudian ketika sudah bisa, dia juga ikut bekerja di lahan orang lain, bukan hanya di lahan bapak. Dia menceritakannya setelah kami menikah. Alasannya sederhana, dia ingin belajar, ingin bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan dasar yang biasa dilakukan perempuan di kampungnya. Bila nanti setelah menikah dia harus turun ke sawah, setidaknya ia sudah biasa. Biasa melakukan pekerjaannya, juga biasa terlihat ke sawah oleh orang-orang di kampungnya.”

“Setelah menikah, aku ikut tinggal di rumah keluarga ibumu. Kau pun lahir di sana, sampai umur setahun sebelum akhirnya kita pindah ke rumah yang baru. Bapak orangnya baik, beliau betul-betul menerimaku dengan tangan terbuka. Beliau juga tipe orangtua yang bijaksana. Tidak pernah ikut campur urusan keluarga baru puterinya. Hanya sesekali menasihati. Sebagai keluarga baru, tentu saja kami sangat membutuhkannya.”

“Tahun-tahun pun berlalu. Banyak hal yang berubah. Pekerjaan berubah, kelahiran adik-adikmu. Sebagaimana yang kau lihat sendiri, waktu juga yang kemudian mengantarkan ayahmu ini menjadi salah satu menantu yang paling beliau cintai. Bahkan, di saat beliau sakit, beliau tidak mau ke dokter bila bukan aku yang mengantarnya.”

Aku hanya tersenyum sambil menyimak. Kulihat pandangan ayahku sesekali menerawang jauh. Di luar masih gerimis. Sesekali angin berhembus, membuat daun-daun pepohonan di halaman tetangga bergoyang perlahan.

“Pernah suatu ketika, dengan mata yang berkaca-kaca beliau meminta maaf. Mungkin beliau teringat awal-awal hubungannya denganku. Bagiku, tidak ada yang perlu dimaafkan. Tidak ada yang salah. Tidak ada yang salah bagi seorang bapak yang mencintai anaknya, mengkhawatirkannya, melindunginya. Melakukan tugasnya sebagaimana mestinya.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s