Warna-Warni Menjadi Perantau DJP

Tulisan ini diniatkan untuk menjawab sebuah pertanyaan di ask.fm. Sekalian saja saya muat lengkap tulisannya di sini. Ada pertanyaan tentang bagaimana suka dukanya bekerja di DJP, apalagi jauh dari rumah seperti halnya yang saya alami (dan juga banyak teman-teman yang lain).

Tentang judul di atas, memang saya sengaja memakai kata warna-warni yang saya pikir lebih pas daripada suka duka. Meski mungkin kurang lebih maknanya sama. Ya, seperti halnya langit yang tidak selalu cerah. Terkadang berawan, mendung ataupun hujan. Namun tentu masing-masing memiliki keindahan yang beragam.

Menjadi pegawai DJP. Jujur saya belum mengalami bagaimana menjadi pegawai yang menjadi ujung tombak DJP, yang langsung berhadapan dengan Wajib Pajak, bertanggungjawab penuh dalam tugas penerimaan negara. Belum, belum seperti itu. Saya masih menjadi pegawai yang menjalankan tugas administratif dan tugas-tugas pendukung operasional kantor lainnya. Namun tetap saja, tanggungjawab untuk paham tentang aturan perpajakan juga harus ada. Sewaktu-waktu ada yang bertanya misalnya, setidaknya bisa sedikit memberikan penjelasan.

Kemudian, bagaimana dengan warna-warni ketika menjalani pekerjaan. Pastilah ada. Setiap pekerjaan saya pikir mempunyai tantangannya masing-masing. Memiliki kekhasan, pun memberikan pengalaman tersendiri. Di luar itu, saya sama dengan para pegawai yang lain. Kerja lima hari seminggu, dari jam setengah delapan pagi hingga jam lima sore. Ya seperti itu πŸ™‚

Tentang jauh dari rumah. Sejenak menengok ke belakang, ini sudah menjadi konsekuensinya. Bukankah dulu sebelum kuliah, sudah menyatakan siap ditempatkan dimana saja? Saya dulu juga sulit membayangkan. Namun ketika sudah dijalani, saya pikir jauh dari rumah bukan sesuatu yang harus dirisaukan kok. Ya intinya here I am. Inilah tempat kerja saya saat ini, dengan rekan, teman, kenalan juga sahabat yang baru. Seru kok, betulan.

Terkadang ada juga yang bertanya,”Terus seperti itu kapan bisa balik ke jawa?”. Saya pikir, ‘kembali’ bukanlah satu-satunya tujuan. Keinginan pastilah ada. Siapa sih yang tidak ingin kerja dekat dengan orang tua. Tiap weekend bisa pulang, ketemu ayah, ibu juga adik-adik. Ada yang bisa terus mengingatkan, diajak berunding dan seterusnya. Namun tentu saja, tiap orang punya perjalanan hidup masing-masing. Demikian juga dengan saya. Ada keinginan balik ke jawa, iya.Β  Kapan? Tidak perlu dipikirkan waktunya. Yang saya tahu, di sinilah saya sekarang. Di kota ini. Saya bersyukur bisa tetap berkomunikasi dengan keluarga di rumah. Mau bicara kapan saja bisa. Menghabiskan bonus telfon dengan ngobrol apa saja juga bisa. Tiap tiga empat bulan bisa pulang kerumah. Alhamdulillah, bisa berkumpul bersama. πŸ™‚

Itulah yang ada untuk saya saat ini. Dua tiga tahun lagi? Entah apa yang akan terjadi. Saya ikut tugas belajar di Bintaro, dipindahkan ke luar kota, atau justru sudah menggendong bocah dan bermain-main dengannya. Haha πŸ˜€ Atau juga beragam kemungkinan lain yang bahkan tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Hidup ini selalu penuh kejutan bukan? Berdo’a saja untuk yang terbaik. πŸ™‚

Iklan

3 thoughts on “Warna-Warni Menjadi Perantau DJP

  1. bawangijo Mei 14, 2015 / 9:29 pm

    Yang sabar ya, dinikmati aja jadi perantau DJP. *Pesan dari pegawai DJI* πŸ˜€

    • Ismail Hasan Mei 14, 2015 / 9:35 pm

      iya,. siap mbak..
      eh, DJI apaan ya?

      • bawangijo Mei 14, 2015 / 9:36 pm

        Ada dehh hahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s