18 Tahun yang Lalu

Dibesarkan di lingkungan pedesaan, daerah persawahan dataran rendah yang jauh dari pegunungan membuatnya terpukau setiap kali menatap gunung yang menjulang tinggi di sana, di arah tenggara. Apalagi ketika waktu pagi, ketika udara bersih dan langit cerah. Pemandangan lereng-lereng lengkap dengan kilauan lampu-lampu yang masih menyala semakin menambah indahnya panorama. Hingga suatu hari ia berkata pada ayahnya, “Yah, kapan-kapan kita pergi lihat gunung yang di sana itu ya?”. “Iya, kapan-kapan kita jalan-jalan lihat gunung.”, ayahnya menanggapi.

Hingga pada suatu minggu yang cerah. Sang ayah bilang ke istrinya, “Dek, ayo kita jalan-jalan.” “Kemana mas?.” “Ya jalan-jalan aja naik motor ke selatan sana. Sambil lihat gunung-gunung. Ini, si kecil katanya mau lihat gunung.”

Maka berangkatlah keluarga kecil itu jalan-jalan membelah segarnya udara pagi ke arah selatan. Si kecil pun tak henti-hentinya memberitahu ibunya tentang apa saja yang ia lihat di sepanjang perjalanan. Burung-burung yang terbang, bangunan-bangunan putih yang terlihat di lereng pegunungan, sampai pada pembatas jalan yang berupa tabung -tabung dari beton setinggi sekitar setengah meter bercat putih dengan garis biru. Kalau kalian tahu apa yang kumaksudkan. Ia menyebutnya adik kecil. Setiap kali melewati jalan yang ada pembatasnya seperti itu, ia selalu berseru.
“Buk,. itu ada adik kecil, banyak.”
“Iya,. banyak.”
“Eh,. itu ada lagi.”

Tidak ada yang merencanakan mereka akan pergi kemana. Bahkan sang ayah pun tidak tahu, akan ke mana jalan-jalan ini nantinya. Ia hanya membawa motornya ke selatan, sembari mendengar celoteh anaknya yang semakin gembira bisa melihat gunung-gunung itu dengan lebih jelas. Padahal tetap saja jauh, orang baru beberapa menit meninggalkan rumah. Namun, karena mereka menuju selatan, gunung yang berada agak ke kiri di depan mereka seolah semakin mendekat.

Tidak terasa, sudah dua jam lebih keluarga kecil ini berkendara. Gunung yang tadi nun jauh di ujung mata, kini benar-benar ada di hadapan mereka. Melewati jalan yang berliku, lengkap dengan tanjakan dan turunannya. Bahkan, sang ibu sempat masuk angin karena hawa dingin yang menerpa. Mungkin juga karena tak terbiasa dengan kelak-kelok jalannya. Apalagi perjalanan ini dilakukan tanpa persiapan sebelumnya. Syukurlah, hanya masuk angin biasa. Hanya butuh istirahat sebentar.

Maka, tak lama kemudian mereka pun tiba di tempat tujuan. Tujuan? Iya, mungkin mereka merencanakannya ketika dalam perjalanan. Sebuah tempat wisata alam. Indah sekali, mereka berjalan bertiga beriringan. Si kecil benar-benar takjub dengan apa yang dilihatnya di sekitar. Ada sungai yang lebar membentang. Cukup deras air yang mengalir di bawah sana. Di atasnya, menggantung jembatan kecil panjang yang menghubungkan kedua sisi sungai itu. Entah karena tertiup angin atau gara-gara ada yang melintasinya, jembatan itu terayun pelan. Seketika, terdengar lengkingan suara-suara perempuan. Dengan wajah yang agak panik, mereka tampak berpegangan erat pada sisi-sisi jembatan.

Mereka kembali berjalan. Kali ini ada pemandangan yang berbeda. Setidaknya itu yang diperhatikan oleh si kecil. Dilihatnya ada sebuah genangan air yang besar. Airnya tenang. Mungkin sebuah bendungan, mana ia tahu kala itu? Ada banyak perahu-perahu kecil beraneka warna terapung di sana. Hilir mudik kesana-kemari, membawa penumpangnya masing-masing.

Rupanya ayah ibunya menggandeng tangan kecilnya ke deretan rumah-rumah kecil yang berjajar rapi. Mereka memesan makanan di sana. Maklumlah, perjalanan panjang pagi ini benar-benar menguras energi. Bahkan, ini pun hari sudah menjelang siang. Dan inilah menu mereka. Nasi putih hangat dengan lauk ikan goreng besar. Entah ikan apa. Lengkap dengan sambal dan lalapannya.

Hari yang indah bukan? Tentu saja. Hari yang sangat berkesan, terutama di hati si kecil itu hingga sekarang. 😀

Nb: Saya sebenarnya tidak ingat betul umur berapa saat itu. Pokoknya masih kecil. Tulisan ini hanya saya tulis dari memori kenangan yang masih ada dalam ingatan. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s