Jika Suamimu Seorang Perantau DJP

Kau tahu apa itu Perantau DJP?
Yah, mungkin aku agak memaksakan istilah ini. Sebuah profesi biasa sebenarnya, tidak jauh beda dengan PNS yang lain, di kementerian yang lain. Perantau, ya, seseorang yang harus menjalankan tugas di tempat yang jauh dari keluarganya, jauh dari tanah kelahirannya, namun masih di bumi yang sama, Indonesia. πŸ™‚ Aku adalah satu dari sekian ribu rekan-rekan yang lain di institusi ini, Direktorat Jenderal Pajak yang merantau di tanah ‘orang’. Bukan tanah ‘orang’ sih, tanah saudara, teman, juga sahabat.

Hidupku biasa saja, dengan rutinitas keseharian yang juga biasa. Kerja lima hari seminggu, senin sampai jumat, jam setengah delapan pagi sampai jam lima sore. Alhamdulillah, aku punya dua hari libur di akhir pekan. Kita bisa manfaatkan itu untuk sekedar beres-beres rumah, membuat sesuatu di dapur, atau keluar jalan-jalan, ke toko buku atau ke taman-taman yang ada di kota ini. Sesekali, kita perlu jalan-jalan kan?

Oiya,. satu hal yang ingin kusampaikan. Bila menikah nanti, tentu saja aku ingin membawamu ke kota tempat aku bekerja. Dan itu mungkin membuat kamu harus meninggalkan orang tuamu, harus hidup jauh dari mereka. Dan (mungkin) kamu pun tidak bisa setiap saat menjenguk mereka karena (barangkali) kita terpisah oleh jarak beratus atau bahkan beribu kilometer dengan keluargamu di sana. Namun, tentu saja kamu masih bisa berkomunikasi dengan mereka kapanpun kamu mau,. kan sekarang zaman sudah canggih. πŸ™‚

Di kota ini, mungkin kita akan menyewa sebuah rumah kecil untuk tempat tinggal keluarga kita. Atau kalau misalnya ada, kita bisa menempati rumah dinas yang disediakan negara. Ya, di rumah kita sekarang, mungkin kita jauh dari orang tua, saudara, juga karib kerabat namun percayalah kita akan menemukan keluarga besar yang baru di sini. Kita punya tetangga, kenalan, juga teman-teman serta sahabat yang baru di lingkungan ini.

Oiya, aku belum menyinggung tentang tempat kerjaku ya,. ya di kantor pajak. Aku sendiri tidak tahu apa yang ada di benakmu ketika mendengar kata pajak atau pegawai pajak. Aku pun beranggapan bahwa masyarakat pun tahu, ketika dulu ada pemberitaan ini itu tentang pegawai pajak yang menyimpang, bahwa itu hanyalah oknum, segelintir oknum di institusi kami. Bahkan sekarang, kami lebih membuka diri dan kami sama-sama berbenah. Sistem diperbaiki, regulasi disempurnakan untuk meminimalisir kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan. Dan aku katakan padamu, korupsi bukan budaya di institusi kami. Kantor pajak itu baik, iklimnya ‘sejuk’, dan aku bersyukur bisa berada di instansi pemerintah yang insyaAllah sudah modern seperti ini.

Tentang penghasilan?,. Aku harap kamu tidak punya prasangka kalau pegawai pajak itu penghasilannya luar biasa. Hehe πŸ˜€ Biasa saja kok, namun insyaAllah cukup untuk kebutuhan kita sehari-hari, untuk makan, beli baju, sewa rumah, biaya si kecil :mrgreen: juga yang lainnya, kita usahakan juga untuk menabung nanti. InsyaAllah cukup, toh kalau dibandingkan dengan satpam yang ada di kantor, alhamdulillah, penghasilanku lebih besar. Mereka saja cukup untuk hidup sekeluarga, dengan anak-anak mereka, iya kan? Dan aku pikir kamu pun faham bahwa keberkahan dalam keluarga jauh lebih utama daripada sekedar pundi-pundi rupiah. πŸ™‚

Sudah ya,. mungkin itu saja πŸ™‚

-terinspirasi dari proyek menulis “Cerita Jika” yang ada di tumblr-nya masgun

Iklan

17 thoughts on “Jika Suamimu Seorang Perantau DJP

  1. Punggawa Borneo Januari 11, 2015 / 7:53 pm

    Haha, wanita mungkin masih banyak yg sudi diajak ke kota besar tempat anda, tp hanya wanita spesial yg berani menerima resiko di perasingan tempat saya. Ya, aku mencari yg spesial πŸ˜€ #salam #belantara #borneo
    Mudah2an kita ketemu lagi di acara lain DJP πŸ˜€

    • Ismail Hasan Januari 11, 2015 / 8:09 pm

      masyaAllah,.
      iya bro,. nyari yg spesial πŸ™‚
      btw, ini teman dari borneo siapa punya nama kah?

      • Punggawa Borneo Januari 11, 2015 / 11:08 pm

        Ketemu di masjid BKN, dan tenda DTU, temennya R*nd* πŸ˜›

      • Ismail Hasan Januari 12, 2015 / 5:51 am

        Hihi,. πŸ‘
        sip2.. boleh juga nih kayaknya ‘jika suamimu perantau djp’ edisi kedua,.
        buat temen2 yang lebih jauh akses penempatannya,. silahkan sumbang tulisan. πŸ™‚

  2. insugi Januari 12, 2015 / 2:51 am

    aku mikir, jika yg menjadi perantau DJP adalah istrinya, apakah mungkin dia bisa membawa suaminya ikut serta ke kota rantauannya? huhuhu 😦

    • Ismail Hasan Januari 12, 2015 / 5:53 am

      silahkan aja,.
      kalau suaminya mau,.
      tapi kalau suami istri sama” djp ya lain cerita.. hehe

  3. aulia bastino Januari 12, 2015 / 9:04 am

    Saya sudah mengalaminya dan alhamdulillah istriku sekarang hidup bersamaku di ende. Alhamdulillah juga walaupun biaya hidup disini selangit masih bisa nabung untuk beli tiket mudik dari gaji cpns ku.

    • Ismail Hasan Januari 12, 2015 / 12:44 pm

      masyaAllah,. πŸ™‚
      alhamdulillah mas,.
      semoga kita bisa tetap semangat

  4. elysia Januari 12, 2015 / 2:17 pm

    wah baca tulisan ini jd ingat suamiq vebrin subandrio pegawai pajak kpp sanggau kalbar hehehehehe….

  5. isti martha Januari 13, 2015 / 12:36 pm

    dear suamiku yg di KP2KP bungku, semangat kerja sayang. aku menunggumu pulang & mutasi ke jawa dan selalu mendoakanmu :-*

  6. wanriadi Januari 17, 2015 / 10:21 pm

    saya sudah menginjak tahun ke 10 di pulau sumatera. dulu istriku sempet mikir2 kalo aku ajak ke sumatera barat, dimana segala hal, seperti : budaya, kondisi, biaya, makanan, dsb, sangat jauh dengan yang biasa dia alami di jawa. tp setelah dia menginjakkan kaki di ranah minang ini, dia bisa memahami sikon yg ada dan llumayan enjoy. apalagi agenda kami yg bisa dibilang sering jalan2 waktu weekend ke berbagai kota di pulau sumatera ini. tidak jarang kota/daerah yg kami tuju berjarak sampai 16 jam via perjalanan darat. malahan skrg dia gak jarang menagih jalan2 lagi kalo dia lagi bosen di sumatera barat. hadeehh… tambah banyak pengeluaran dan makin menguras tabungan πŸ™‚ tapi gapapa lah… yg penting masih dalam tahap kewajaran, dan yg lebih penting lagi, istriku jadi lumayan enjoy hidup di sumatera barat ini … πŸ™‚

  7. bawangijo Mei 14, 2015 / 9:32 pm

    Kalo ditempatku udah pada biasa LDR karena kerjaan, atau kalo keluarga kecilnya ikut selalu siap berpindah-pindah dari rumah dinas satu ke rumah dinas lainnya di pelosok nusantara

    • Ismail Hasan Mei 14, 2015 / 9:38 pm

      iya,. pilihannya memang dua itu,.
      banyak teman-teman yang cerita juga bagaimana warna-warninya..

      • bawangijo Mei 14, 2015 / 9:40 pm

        Hidup adalah pilihan.. Saya cuma jadi pengamat aja di kantor, hehe

  8. adienesia Juli 25, 2015 / 5:51 am

    dan sekarang giliran saya merantau, hehe.
    salam kenal~

    • Ismail Hasan Agustus 5, 2015 / 11:47 am

      siap,. semangat mas.. πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s