Anak Ayam yang Terpisah dari Induknya

Pernahkah kita merasa seperti anak ayam yang terpisah dari induknya?,. kebingungan, gelisah, kehilangan arah. Bertanya-tanya sendiri mengapa semua ini terjadi,. mengapa melakukan ini semua.

Tahukah kita bahwa ada jawaban sederhana, ya, sungguh sederhana atas itu semua. Kembali. Tidak ada sesuatu yang lebih baik, yang lebih dibutuhkan oleh anak ayam itu, selain kembali kepada induknya. Kembali ke tempat yang seharusnya.

Ya,. ketika kaki ini sudah terlalu jauh melangkah. Jatuh berulang kali dalam kesalahan yang sama. Ketika kewajiban semakin mudah dilalaikan, ketika larangan kian gampang diabaikan. Ketika jiwa kian berat untuk taat. Kemudian, ada saat dimana kita menghela nafas panjang, bingung, sedih, putus asa. Kembali pertanyaan itu lagi, “mengapa semua ini terjadi?.”

Lalu teringatlah masa-masa kecil yang menyenangkan. Menghabiskan waktu tanpa ada beban. Berlari kesana-kemari dengan tertawa riang. Sungguh indah, alangkah senangnya bisa kembali ke masa itu. Kemudian tumbuh dari awal lagi, lebih hati-hati dalam menentukan sikap, mengambil tindakan dan semuanya. Ah,. tapi itu tidak mungkin kan?

Barangkali memang kita perlu kehilangan arah, seperti anak ayam yang terpisah tadi. Bukankah ketika kita salah jalan, kemudian berputar-putar sebelum akhirnya kembali menemukan jalan yang seharusnya, kita jadi lebih tahu tentang jalan-jalan itu. Lebih mengenal lika-likunya, gang-gang sempitnya. Mari kita ingat, bahwa sebaik-baik pilihan adalah pilihan Allah, sebaik-baik rencana adalah rencana-Nya.

Kembali. Ya,. kembali. Itulah satu-satunya hal yang kita butuhkan. Sebanyak dan sejauh apapun anak ayam itu pergi terpisah, tidak ada yang lebih menentramkan hatinya kecuali kembali kepada induknya. Kembali ke tempat dimana dia seharusnya berada.

Suatu ketika Rasulullah sedang bersama sahabatnya. Ketika itu, ada seorang wanita tawanan perang yang dilepaskan dan bertemu dengan anaknya. Maka sang ibu ini pun begitu gembira, ia memeluk dan menciumi anaknya sambil berurai air mata. Ketika itu Rasulullah bertanya pada para sahabat,.
“Bagaimana menurut kalian, apakah ibu ini akan tega melemparkan anaknya itu ke neraka?”
“Bagaimana mungkin Ya Rasulullah,. sedangkan ibu itu begitu mencintai anaknya.”
“Ketahuilah,. bahwa kecintaan Allah kepada hambanya jauh lebih besar daripada cinta ibu itu ke anaknya.”

Masya Allah,. tidak ada lagi yang perlu dilakukan,. tidak ada kecuali kembali kepada-Nya.

Pernahkah kita mengalami,. ketika akan melakukan sesuatu yang tidak baik, melakukan sesuatu yang tidak semestinya, kemudian Allah memberikan kesulitan, Allah memberikan hambatan dan rintangan agar kita urung melakukannya,. Itulah pertolongan Allah,. Ia mencintai kita, Ia begitu menyayangi kita. Allah tidak ingin kita terjatuh,. Allah tidak ingin melemparkan kita ke neraka. Allah ingin kita selamat,.

Begitu cintanya Allah pada hambanya,. maka sudah seharusnya kita juga mencintai-Nya kan?
Dan lagi, sejauh apapun kita telah pergi, Allah menunggu kita untuk kembali,. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s