Asyiknya Empat Bersaudara

Teman-teman punya berapa saudara? Satu, dua, tiga, empat, atau berapa,. Saat ini, teman-teman yang seusia saya mungkin tidak memiliki banyak saudara seperti halnya generasi orang tua kita. Orang tua saya sendiri deh, Ayah dan ibu saya sama-sama tujuh bersaudara, dan begitu pula teman-teman segenerasi beliau, kebanyakan punya saudara yang berlimpah,. Hehe. Berbeda dengan mereka, generasi kita kebanyakan hanya 2 atau 3 bersaudara. Ya, alasannya jelas, program Keluarga Berencana dari pemerintah kita dengan semboyan andalannya, ‘Dua anak cukup’.

Itupun terjadi pada keluarga saya. Meski tidak ‘Dua anak cukup’, orang tua saya juga ikut program pembatasan kelahiran ini. Jadi, jumlah saudara saya saat ini berhenti di angka tiga. Empat bersaudara, itulah saya,. 🙂 Ya, saya anak pertama yang punya tiga adik. Meski begitu, kalau diberikan pilihan, saya masih mau lho punya adik lagi. Hehe. Serius, punya adik itu menyenangkan,. Meski sering rame, berantem, tapi seru. Beneran, seru. Haha 😆

Salah satu hal menyenangkan, atau juga hal baik punya banyak saudara adalah kita bisa belajar banyak hal dari interaksi kita dengan mereka sehari-hari. Misalnya saja, belajar berbagi. Saya anggap empat bersaudara sudah lumayan banyak, jadi saya cerita dari pengalaman saya sendiri saja. Hehe,. Tentang belajar berbagi, sederhana saja, misalnya berbagi makanan. Ya biasalah, mungkin orangtua kami baru datang dari acara apaa gitu, misalnya acara walimah pernikahan trus pulang bawa oleh-oleh. Saya ingat itu, biasanya karena semua sudah pada antusias menyerbu,. Haha. Ibu pasti bilang, “Ngga’ boleh langsung ambil, dibagi dulu”. Setelah dibuka, kami lihat bersama. “Aku yang itu”, salah satu bilang sambil menunjuk kue yang ia suka, kemudian yang lain pun melakukan hal yang sama. Kadang-kadang, satu kue peminatnya ada dua. Wah, gimana nih?, Hehe. Ya, biasanya langsung ada yang ngalah,. 🙂

Ada satu lagi cerita menarik. Sebelumnya saya infokan dulu, walaupun empat bersaudara, namun rentang jarak usia kami tidak sama. Saya baru punya adik waktu umur sembilan tahun, dan kemudian punya adik lagi, dua sekaligus (baca: kembar) waktu umur dua belas tahun. Jadi, tiga adik saya inilah yang usianya berdekatan. Cerita ini terjadi ketika hari pembagian rapor siswa SD. Adik saya tiga-tiganya SD. Si kembar waktu itu baru kelas satu dan beranjak naik ke kelas dua. Ketika pulang sekolah, usai pembagian rapor itu si bungsu (kembar yang adik) setelah memarkir sepedanya langsung masuk ke kamar sambil menangis. Disusul kemudian dengan kakaknya (kembar yang kakak) masuk rumah dengan sedikit tergesa.

“Adik nangis ya bu?”
“Iya, kenapa?”, tanya ibu padanya
“Itu bu, tadi di sekolah pas penerimaan rapor, aku kan dapat ranking 2, adik ranking 7”
“Oo,.. ya ngga’ papa”, ujar ibu sambil berjalan menghampiri si bungsu yang sudah di kamar.
Di sana kemudian ibu memberikan pengertian bahwa bukan masalah ranking berapa, atau bagaimana. Yang penting, dia bisa mengikuti materi pelajaran dengan baik, menghormati gurunya di kelas, bersikap baik dengan teman-temannya. Ya, seperti itu. Namun, ya memang anak kecil, dia tetap aja masih nangis, ngga’ mau ngomong.

Saya pun datang menghampiri, sekedar ikut menemani. Kemudian dari ruang tengah adik saya yang pertama berbicara, “Ngga pa pa dik, aku dulu waktu kelas satu juga rangking 7. Ngga’ masalah rankingnya, yang penting kamu bisa di kelas aja, udah ngga’ pa pa.”
Setelah itu ibu saya kembali ke dapur karena waktu itu lagi masak,. Hehe. Lalu, mbaknya (kembar yang kakak) ikut masuk kamar.
“Dek, hadiahnya tadi dapat buku (tulis). Nanti kita bagi dua ya, kamu nanti pilih deh mau yang mana, gambarnya beda-beda”, usahanya menghibur adiknya. Jujur, saya sampai terharu mendengarnya,. 🙂 Memang ya walaupun masih sama-sama kecil, tetep aja dia seorang kakak, jadi sikapnya pun lebih dewasa. 🙂 Jadi, ceritanya di sekolahnya itu, yang ranking tiga besar di kelas diberikan semacam penghargaan dengan dipanggil ke depan dan diberikan hadiah. Ya, mungkin anak kecil, entah bagaimana pikirannya, melihat kakaknya mendapatkan ranking dua sedangkan dia ‘hanya’ rangking 7, mungkin dia sedih. Namun ia tidak ungkapkan kesedihan itu di sekolah, ketika sampai rumah, baru deh nangis,. Namun itulah juga enaknya jadi anak kecil, siang nangis, sore udah lari kesana-kemari main sama temen-temennya.

Itulah ke’asyik’an punya beberapa saudara,. Tentang Keluarga berencana tadi, setiap orang bisa saja punya pandangan yang berbeda-beda. Saya sendiri lebih suka dengan slogan Program Keluarga Berencana yang sempat diubah “Dua anak lebih baik”, namun tentunya dengan sedikit perubahan lagi, menjadi “Dua anak lebih, lebih baik”,.. Haha :mrgreen:
Ok, Sekian,..

Iklan

2 thoughts on “Asyiknya Empat Bersaudara

  1. Anggita Cremonandra April 19, 2015 / 10:58 am

    Wah sama aku jg berempat dan aku anak pertama. Seru memang. Rumah jadi rame, pada suka berantem bercandaan. Ngegodain adik yg masih kecil hehe

    • Ismail Hasan April 19, 2015 / 11:07 am

      iya kak,.
      alhamdulillah,. rame banget.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s