Makan di Luar, Benarkah Lebih Spesial?

Bagi sebagian orang, makan di luar mungkin lebih istimewa. Ya, maksudnya makan di warung, rumah makan, dan sejenisnya. Mengapa? untuk hal ini, saya cenderung lebih melihat dari sisi kebiasaan. Maksud saya, mereka yang menganggap makan di luar lebih istimewa itu, ya karena itu jarang mereka lakukan. Keseharian mereka lebih banyak makan di rumah, masakan rumah, baik itu masakan ibu, atau juga masakan istri. Sehingga ketika mereka makan di luar, hal itu terasa spesial karena berbeda dari kebiasaan dalam keseharian.

Lain halnya dengan mereka yang hari-harinya memang selalu makan di luar. Ya misalnya saja pekerja yang bekerja di luar kota, pekerjaan yang lebih sering di jalan ketimbang di rumah, sopir truk misalnya, apalagi yang antar kota antar provinsi. Emang ada truk begitu?, ya maksudnya truk2 besar yang kirim-kirim barang itu lho,. Trus lagi, misalnya mahasiswa yang di rantau, atau juga saya misalnya, bukan mahasiswa namun sudah bekerja dan memang berada di luar kota.

Bagi kami ini, makan di luar bukan lagi hal yang istimewa. Ya memang kesehariannya begitu. Sarapan di mana, nanti siang di mana, sore di mana. Meski tidak selalu seperti itu sih,. Makan kan tidak mesti tiga kali sehari. Ya seperti itu memang kesehariannya,. Terkadang ada perasaan malas untuk keluar, apalagi mesti bawa motor dulu, beli makan. Kurang bersyukur mungkin, bagaimana tidak, tinggal beli aja malas padahal mungkin di tempat lain ada yang memang benar-benar tidak bisa (beli) makan.

Ya, makan. Urusan yang sederhana. Tidak perlu dibuat rumit, ribet. Toh, pada dasarnya makan itu memang kebutuhan tubuh kita. Tubuh kita punya hak untuk diberi makan. Intinya memenuhi kebutuhan, menegakkan badan, biar tidak loyo, atau sakit gara-gara telat makan, mungkin juga makan yang asal-asalan.

Sederhana saja, ingat esensinya bahwa yang butuh makan itu tubuh kita. Tidak menjadi perkara kita makan di mana, menunya apa. Yang penting halal, aman, matang, udah. Hehe. 🙂

Kembali ke topik makan di luar tadi. Bagi kami yang memang kesehariannya seperti itu, justru yang kami rindukan adalah masakan ibu di rumah, atau istri bagi yang sudah menikah. Bagi saya sendiri, yang memang berada jauh dari keluarga, ketika pulang ke kampung pun tidak bisa berlama-lama, tentu masakan paling spesial di dunia ini adalah masakan ibu di rumah,. 🙂 Sederhana saja, lebih spesial karena tidak setiap saat bisa dinikmati, jarang sekali bahkan. Masakan yang amat spesial, yang biasa saya tunggu prosesnya sambil menemani ibu, sekedar menjadi teman berbincang atau membantu sekedarnya. Memarut kelapa atau apalah. Menjadi pencicip pertama atas masakan-masakan itu. Kemudian dengan wajah agak serius ibu menatap sambil bertanya
“Enak?”
“Iya, enak bu”, jawabku.
“Asinnya, sudah pas belum?” tanya ibu lagi.
“Pas kok. eh, ngga’ tau sih bu, kalau menurut saya sih pas, hehe”
Saya memang selalu tidak bisa merasakan, ini sudah pas atau belum. Bagi saya, asal masakan ibu yaudah pasti enak. Saya juga mungkin orang yang kurang sensitif terhadap rasa masakan,. Hehe 🙂 Ada makanan apa, ya dimakan. Kalau ada beberapa, ya pilih yang sekiranya pengen. Udah ngga’ pake komentar. Udah syukur alhamdulillah dimasakin, iya kan?

Selalu menjadi saat-saat yang dirindukan memang.

Nanti pun ada saatnya, insyaAllah. Ketika keseharian saya tidak lagi seperti ini, mikir sarapan dimana, kemudian siangnya, dan selanjutnya. Akan ada saatnya nanti, dimana saya menikmati masakan yang juga spesial. Bukan dari ibu memang, tapi seseorang yang lain, yang menemani makan sambil berbincang, yang tersenyum ketika saya memuji masakannya. Memang, mungkin masakan ibu tidak terganti, namun yang satu ini juga memiliki kedudukan yang spesial di hati. #Eh, ke situ lagi,.. Haha :mrgreen:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s