Yang Tak Terucapkan, Namun Terajarkan

Bismillah,..
Penasaran dengan judulnya ya?,. Hehe. Insya Allah kali ini saya akan membahas tentang dunia pendidikan, pendidikan secara umum, baik di keluarga, sekolah formal ataupun pendidikan agama dan al-qur’an yang mungkin kita dulu pelajari di taman-taman pendidikan al-qur’an (TPA).

Saya mengawali bahasan ini dengan sebuah kisah, kisah nyata sewaktu saya masih kecil. Masa kecil saya saya habiskan di kampung, desa yang jauh dari keramaian yang hampir seluruh masyarakatnya hidup dari hasil pertanian. Alhamdulillah, saya diberikan kesempatan belajar al-qur’an dari kecil. Ya, di kampung saya ada sebuah TPQ (Taman Pendidikan Qur’an) yang bernama TPQ Al-Jihad. Sejak awal masuk SD, kalau sore hari pasti kami belajar di TPQ itu yang tak lain lokasinya adalah di masjid kampung. Kemudian suatu hari, saya lupa saat itu saya kelas 2 atau 3 SD, yang saya ingat waktu itu saya sudah Iqra’ Jilid 3, kami kedatangan ustadzah baru. Meski waktu itu, kami tidak menggunakan panggilan ustadzah, kami biasa memanggil ‘bu’ atau ‘mbak’, kami sesuaikan dengan usia.

Ustadzah saya ini masih muda sekali ketika itu, entah baru lulus SMP atau SMA saya kurang tahu. Hal yang saya tahu adalah beliau berasal dari kecamatan lain, dari MQ Al-Azhar (Madrasah al-Qur’an). Memang TPQ kami berada di bawah bimbingan MQ ini, bahkan seminggu sekali kami belajar dari Ustadz pimpinan MQ yang datang ke tempat kami (tentunya yang sudah tahap belajar Al-Qur’an, sedang saya waktu itu masih Iqra’). Sejak kedatangan beliau ini, banyak perubahan yang dilakukan dalam sistem pendidikannya. Jam masuk juga diganti seingat saya, kami masuk jam 2 siang, kemudian istirahat sholat ‘Ashar dan dilanjutkan sampai jam 5 sore. Wiih, lama ya?, memang. Dulu tidak ada istilah les seperti sekarang, sekolah ya sekolah, pulang ya sudah. Jadi waktu sore kami banyak dihabiskan di mesjid.

Satu yang menjadi perhatian ustadzah saya ini adalah menanamkan kedisiplinan. Jadi ketika jam masuk tiba, langsung berbaris. Kami membaca do’a-do’a, ikrar santri, dan yang lainnya kemudian beliau membuka majelis dan kami kemudian berkumpul membentuk lingkaran-lingkaran kecil sesuai tingkatan belajar. Ada yang Iqra’ 1, Iqra’ 2, sampai Iqra’ 6, kemudian Al-Qur’an 1,2, dan seterusnya. Ketika kami sudah berbaris, maka siapa yang datang setelah itu, ia terlambat. Saya ingat sekali hukuman bagi mereka yang terlambat adalah menata sendal di masjid itu. Sederhana mungkin, namun bagaimana pun, mereka yang salah harus dihukum. Minimal mereka ada perasaan malu sehingga tidak mengulanginya lagi.

Waktu kemudian membawa saya sampai pada tingkatan Al-Qur’an. Hal yang sering disampaikan oleh ustadzah adalah agar kami juga membaca al-Qur’an di rumah, jangan hanya di mesjid. Sehingga selain membuat bacaan kami semakin bagus (lancar), juga untuk membawa berkah pada rumah kami. Namun memang waktu itu membaca al-Qur’an di rumah belum menjadi budaya, jadi jarang sekali, apalagi santri laki-laki yang mengikuti nasihat ini. Itu pun kelihatan sekali dari bacaan kami di mesjid, teman-teman yang perempuan umumnya memiliki bacaan yang lebih bagus karena mereka rata-rata memang rajin. Oleh karena itu, maka ada sesi dalam mengaji itu, membaca bergantian satu waqaf (satu kali berhenti). Siapa yang dalam satu kali bacaan itu, ada yang salah, baik huruf maupun panjang pendeknya, maka harus diulang. Dan yang salah sampai tiga kali, berdiri. Berdiri? iya, berdiri. Ia dianggap gagal dan bacaan  giliran dia diberikan kepada teman selanjutnya. Tentu saja, ada beberapa yang berdiri, dan kebanyakan kami yang laki-laki,. Hehe. Dari situ kami belajar korektif, kami harus hati-hati dalam membaca al-Qur’an. Ustadzah sering menyampaikan alasan mengapa ini tidak bisa ditolerir, ya karena ketika bacaannya salah, huruf atau panjang pendeknya, itu sudah merubah makna yang ada di dalamnya. Jadi lebih baik perlahan asal benar.

Itu dari segi sistem yang diterapkan beliau. Kemudian, dari keseharian beliau yang saya tahu. Beliau tinggal di rumah pengurus TPQ yang letaknya di samping masjid. Sehari-hari beliau menghabiskan waktunya di situ, mungkin juga membantu pekerjaan rumah sehari-hari. Sering juga saya melihat, beliau menyapu rumah tersebut. Di mata saya, beliau adalah orang yang sangat ramah, apalagi terhadap ibu-ibu jama’ah mesjid yang lebih tua. Ketika mengajar, beliau sangat berwibawa, disiplin tinggi deh pokoknya. Namun demikian, tidak berarti beliau orang yang kaku, bahkan beliau orangnya supel dan terkadang juga suka bercanda, candaan cerdas tentunya,. 🙂
Dan tahukah teman-teman, saya belajar dan hidup sekampung dengan beliau,. Hehe, dari SD hingga SMP, dan selama itu tidak pernah saya melihat beliau tanpa hijab, atau kami dulu menyebutnya kerudung. Selalu memakai lengan panjang, juga bawahan panjang. Hanya sesekali ketika saya ada kepentingan ke rumah pengurus TPQ yang beliau tinggali, saya melihat sepintas beliau tanpa kerudung, namun tetap dengan pakaian panjangnya. 🙂

Mengapa ini saya ceritakan? saya ingin mengajak kita semua belajar dari beliau tentang cara mendidik. Ya, karena bagaimanapun, setiap dari kita adalah pendidik, bagi adik-adiknya, anak-anaknya, atau juga murid-muridnya. Apalagi bagi teman-teman yang kuliah di pendidikan (saya dulu juga 🙂 ), kita tahu bahwa pendidikan terbaik adalah dengan bimbingan, teladan dan pembiasaan. Bahkan boleh jadi seorang guru tidak harus banyak menjelaskan tentang bagaimana bersikap adil, berlaku sopan, berkata baik. Boleh jadi mereka tidak harus menjelaskan, namun hanya perlu mencontohkan, atau sederhananya, melakukan. Maka bagi kita semua insan pendidikan, mari kita melihat diri kita lagi, berkaca lagi. Juga mari kita renungkan sebuah ungkapan lama, seseorang tidak akan mungkin memberikan sesuatu yang ia sendiri tidak punya.

Majulah pendidikan Indonesia,.
Majulah generasi kita,. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s