Mainan Anak ‘Sekarang’

Saya kira kita tahu, perkembangan teknologi akhir-akhir ini banyak mengubah pola hidup kita sehari-hari. Bukan hanya kita, bahkan mereka anak-anak pun tidak luput dari dampaknya. Terus terang, saya merasa kasihan, ketika melihat mereka yang masih usia 9 atau 10 tahun, bahkan kurang namun apa yang menjadi mainan mereka, apa yang mewarnai hari mereka sehari-hari adalah smartphone, tab, ipad, blackberry dan semacamnya. Sementara saya ingat dulu ketika umur segitu saya lagi seru-serunya nguber layangan putus, kadang nyari ikan di kali, atau juga main entah kelereng atau apalah di halaman salah satu warga di kampung kami.

Mengapa saya kasihan?,. ya sederhana saja, usia segitu itu kan waktu yang tepat bagi mereka untuk meng-explore lingkungan sekitar mereka, menikmati alam sekitar karena ya kalau bukan waktu itu, terus kapan lagi,..
smartphone dan lain-lain itu memang perlu, tapi nanti bila sudah saatnya. Ketika itu memang sudah menjadi kebutuhan,. Kalau anak-anak, kita sepakat bahwa itu tidak mereka perlukan. Justru mereka butuh bermain dengan teman-temannya, bermain di halaman, di lapangan. Pertama, permainan seperti itu penting bagi perkembangan fisik mereka, perkembangan otot serta kemampuan gerak. Kemudian, tidak kalah penting adalah agar mereka bisa bersosialisasi dengan teman-temannya, mereka akan dihadapkan dengan aneka macam teman, dihadapkan pada permasalahan-permasalahan. Macam-macam tentunya masalah yang muncul ketika bermain, misalnya ada sedikit gesekan bahkan pertengkaran, atau ada yang curang. Mereka akan belajar mengambil sikap, mereka juga akan belajar tentang kejujuran, keadilan, juga bagaimana memperlakukan orang.

Saya ingat sekali dulu ketika pulang sekolah. Karena memang saya laki-laki, biasanya selepas pulang, sebentar di rumah, sudah langsung pergi main. Dulu juga memang, acara tv tidak seperti sekarang. Waktu itu, jam-jam pulang sekolah anak SD, paling acaranya film india yang tokohnya ya itu-itu aja, inspektur siapa lah namanya dengan kendaraan mobil jip tua,. Hehe. 🙂 Jadinya biasa langsung pergi. Apalagi kalau musim layang-layang, saya dulu paling suka nguber layangan putus. Bukan apa-apa sih, rasanya lebih bangga aja punya layangan hasil nguber daripada beli. Jadi dulu itu kalau nunggu layangan putus, kami (saya dan banyak teman-teman yang lain) duduk-duduk di pinggir kebu tebu karena di situ memang teduh. Di belakang kami hamparan kebun tebu sementara di depan terhampar tanaman padi di sawah.

Kami duduk sambil mengamati gerakan layang-layang yang akan diadu. Ketika dirasa benang sudah saling bertaut, dan layang-layang sedikit demi sedikit semakin tinggi karena benang yang diulur, kami langsung bersiap. Pandangan terfokus pada layang-layang, memperhatikan arah angin, ketinggian layangan, juga tak lupa tengok kiri kanan pada para pesaing,. Hehe. Segera mempercepat langkah, mencari tempat yang pas untuk start pengejaran dan kemudian, tash! layangan pun putus. Tanpa aba-aba, langsung kami semua berlari, sekencang-kencangnya, namun dengan tetap memperhatikan keadaan layangan yang putus, apakah benangnya panjang atau ngga’, juga kecepatan anginnya. Kira-kira bagaimana kemungkinan mendapatkan layangan ini.

Kalau dirasa kemungkinannya besar, diperjuangkan tentunya. Diambil keputusan, lari lewat pematang sawah yang mana, mentargetkan benang atau layang-layangnya. Saking bersemangatnya itu ketika berlari, kalau misalnya diberi satu permintaan saja, saya ingin waktu diperlambat. Jadi teman-teman yang lain lari seperti slow motion begitu, saya bisa lari cepat menjemput layang-layang. Haha 😆

Tapi begitulah, ketika layang-layang sudah ada yang menangkap, ternyata kami semua sudah berdiri di tempat yang jauh sekali dari titik awal. Dan tentu saja yang mendapatkan layangan hanya satu orang, sementara yang lain berdiri kepanasan, Hehe,. ya meski yang dapat juga kepanasan sih, tapi kan ada hasilnya 🙂
Namun, semangat kami tidak hilang, perjuangan belum berakhir. Satu-satunya yang membuat langkah kami tetap mengayun untuk kembali ke pos awal yang terlihat sangat jauh adalah harapan. Harapan akan adanya lagi layang-layang yang putus, yang bahkan kami tidak perlu berlari sejauh ini untuk mendapatkannya. Selain itu, ya memang tidak ada pilihan lain selain kembali, kecuali kalau memang mau berpanas-panasan di tengah sawah.. :mrgreen:

Ya, itu sepenggal cerita masa kecil saya. Maksudnya, ya masa-masa itu adalah masa dimana kita bersenang-senang, bermain dan mungkin kita tidak sadari, banyak nilai kebaikan yang ada di dalamnya. Saya sendiri bersyukur adik saya yang laki-laki masih bermain kelereng, bermain layang-layang, undil, kalau teman-teman tahu apa yang saya maksudkan. Begitupun adik perempuan saya yang masih bermain lompat tali, aneka macam obak, masak-masakan. Tentunya juga tidak hanya menghabiskan waktu untuk bermain, ada saatnya bermain, ada saatnya untuk yang lain. 🙂

Iklan

2 thoughts on “Mainan Anak ‘Sekarang’

  1. fasyaulia September 1, 2014 / 11:48 pm

    Gak bisa di salahin juga kalau mereka main yang berbau teknologi, karena zaman nya pun ya memang sudah beda. Di gadget pun ada permainan atau aplikasi belajar buat anak. Dan itu sangat positif. Hanya saja, perlu ada keseimbangan tentu nya. Kapan anak harus bermain yang membuat nya kreatif dan baik untuk motorik nya, kapan anak harus belajar/mengerti teknologi.

    • Ismail Hasan September 5, 2014 / 9:05 am

      Iya,. harus ada keseimbangan. Apalagi namanya anak-anak biasanya attensinya tinggi banget sama yang namanya teknologi. Bimbingan mutlak diperlukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s